

Label “International Best Seller” dengan dasar penetapan yang masih abu-abu, juga statement Andrea tentang sastra Indonesia yang tak kunjung mendunia selama kurun kurang dari seratus tahun sepertinya membuat Damar geli dan membuatnya harus menulis dan memublikasikan tulisannya tersebut.
Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah Pulang ke teduh matamu Berenang di kolam yang kau beri nama rindu Aku, ingin kembali Pulang menghitung buah mangga yang ranum di halaman Memetik tomat di belakang rumah nenek.
Membaca kalimat yang dibuat anak kecil tadi, saya jadi teringat sebuah kutipan menarik dari Afrizal Malna: “Menulis itu seperti hidup di luar nama-nama.” Juga sebuah pernyataanya yang unik tentang menulis bagi Afrizal adalah sebuah upaya untuk melupakan kata-kata.
Banyak orang yang ragu, ketika menempuh jalan indie. Mereka menganggap buku indie adalah buku tidak layak, atau buku yang belum memenuhi kriteria untuk dipasarkan. Siapa bilang? Selama semua proses produksinya dilewati dengan lengkap, baik edit, proof, cover yang bagus dan layout yang menarik, buku indie tidak ada bedanya dengan buku konvensional lainnya.
“Ketika semua orang bisa memproduksi bukunya, mungkin kita sudah gak butuh penerbit lagi.” — Irwan Bajang, #Twitteriak Juli 2012