Doa untuk Berkencan dengan Kuntilanak

“Astaga. Untung kamu enggak mati!” Begitu ujar ibu tercinta usai mendengar saya bercerita. Saya sudah menyaksikan ibu geleng-geleng tidak percaya sejak saya baru memulai menuturkan kisah yang mengagumkan itu. Di tengah cerita, wajah ibu saya terlihat khawatir, bahkan ibu berkali-kali menyayangkan kenapa saya tidak bercerita dari dulu-dulu. Tampak jelas ia sangat ketakutan kehilangan anaknya yang tampan dan paling berbakti ini. Kehilangan apa saja boleh. Kehilangan saya? Ibu seolah kehilangan dunia seisinya. Begitu kata-kata yang saya baca dari mata ibu yang teduh itu.

Saya selalu tertarik dengan dunia hantu dan segala cerita seputarannya. Bagi saya, dunia hantu adalah dunia yang seru. Dunia di mana ada Om Jin dan Jun, sahabatnya. Atau berisi Tuyul-Tuyul konyol di sekeliling Mbak Yul. Sejak kecil, saat kami masih ingusan dan belum bisa kencing lurus sambil menggambar mural di Sekolah Dasar, kami punya tradisi saling bercerita pengalaman horor masing-masing.

Ada teman saya yang menemukan pisang satu sisir subuh hari di halamannya, rangkaian pisang itu seolah tersenyum dan memamerkan gigi yang susunannya sama dengan milik teman saya itu. Ada teman saya yang melihat manusia cebol sebesar botol air mineral dengan telinga panjang menjulang dan mata yang membara. Ada yang dikejar monyet putih hingga depan rumah. Mendengar cerita mengagumkan itu, saya selalu hanya bisa melongo. Ada yang sedang main sore hari lalu diculik nenek tua dengan buah dada menjuntai sebesar Pepaya Bangkok Purba, ia dipaksa makan apel yang dikerumuni ulat. Continue reading

Selamat Tahun Baru, Denny JA

Selamat tahun baru 2016, Denny JA, King Maker yang tak pernah salah. Anda mungkin tidak sempat membaca tulisan dan ucapan selamat dari saya ini. Tidak mengapa, kalaupun tidak Anda baca, anggap saja saya sedang menulis untuk diri saya sendiri. Atau siapa saja yang berkenan membacanya.

Ketika kalimat-kalimat ini saya tuliskan, Anda mungkin sedang merayakan gemerlap tahun baru, entah di mana. Mungkin di luar negeri bersama keluarga, mengusir penat usai rapat panjang akhir tahun dengan tim di kantor Anda. Tahun baru, sebagaimana harapan semua orang, Anda pasti punya harapan yang besar akan kebaikan, kesehatan, kebahagiaan, bisnis yang lancar, karir yang makin gemilang. Seperti juga harapan Anda, saya juga berharap itu bagi diri saya sendiri.

Ketika tulisan ini saya mulai, mungkin Anda juga sedang kecewa. Ada ribuan trompet yang dianggap menistakan agama sedang disita. Para penjual terompet terpaksa bermuramdurja dan tahun baru mereka tidak bahagia. Anda mungkin ikut merasakan duka mereka. Sebab sebagai mana semua orang tahu, Anda pembela manusia dan kemanusiaan. Pembela gigih gerakan antidiskriminasi dan pendukung demokrasi. Semoga Anda tetap konsisten dan tidak pernah kehabisan tenaga untuk itu semua. Continue reading

Badai Senjakala Media Cetak Memang Sudah Dekat, Kapten Bre Redana

Usai membaca Inikah Senjakala Kami… tulisan Bre Redana yang saya dapatkan dari tautan dinding facebook seorang teman, saya segera menjentikkan jari ke tombol share tulisan tersebut. Tak lupa saya sisipkan tulisan pendek untuk ngeksis sekaligus sebagai status facebook saya; “Ya gimana nggak ditinggalkan, esai di koran ini bahkan tidak ngomong apa-apa. Astaga! Bahkan di titik krusial ketika sedang membicarakan senjakala dan ketertinggalan dirinya sendiri. Parah.”

Tulisan pendek tersebut mungkin terkesan emosional. Dan saya akui memang iya. Meskipun sebenarnya status pendek itu lebih pantas saya klaim—karena itu tulisan saya sendiri—sebagai sebuah bentuk rasa heran dan ketidakpercayaan. Kok bisa tulisan seperti itu dimuat di kolom ‘khusus’ sebuah koran nasional dan di hari minggu pula. Hari di mana konon koran tidak selaku hari biasanya, sehingga koran minggu perlu ditambahkan rubrik sastra, rubrik hahahihi selebririti dan foto-foto yang aduhai jepretannya. Saya heran, di samping isi esainya yang menurut saya tidak berbicara secara tajam, tulisan ini ditulis oleh seorang seorang penulis cum jurnalis yang sudah malang melintang publikasi di koran cetak. Dan sialnya lagi, tulisan buruk ini ada di hari minggu. Hari di mana lebih enak bangun siang lalu sarapan yang enak dibanding baca koran. Apalagi kalau tidak langganan dan harus keluar ke perempatan.

Oh ya, kalau Anda belum tahu, saya baca tulisan ini di koran minggu edisi cetak yang didaringkan. Jadi bisa dibaca malam hari, sebab layar ponsel pintar tidak mungkin dijadikan bungkus pecel. Aha! Continue reading

Bermain Layout Ebook

Belakangan saya rajin baca dan belanja ebook. Terutama di google play. Walaupun sehari-hari saya bekerja di dunia buku cetak, saya tidak bisa menolak bahwa memang ada beberapa hal yang ditawarkan ebook dan tidak saya dapatkan di buku cetak. Harga jauh lebih murah, bisa baca di mana saja dan kapan saja, kecuali saat renang dan berkubang, atau sudah terlelap tidur. Ada fitur pencarian kata atau bagian tertentu, bisa diubah warna kertasnya, bisa diubah ukuran fontnya dan masih banyak lagi kelebihan lain. Tentu sebaliknya, ada banyak hal dari buku cetak yang tak bisa digantikan ebook. Terutama bagi pembaca buku aliran ultraortodoks.

Belakangan, aktivitas membaca saya memang kerap terganggu. Bekerja di dunia buku membuat saya selalu cerewet bukan hanya pada konten, tapi juga penyajian. Bagaimana sampul, bagaimana layout dan apa font yang dipakai. Sial. Hal-hal ini tidak penting banget bagi pembaca sejenis saya 6 tahun yang lalu!

Setahun belakangan saya mulai bermain ebook. Sementara baru fokus di google play. Alasannya jelas. Upload naskah segampang posting blog, dan buku bisa dipasarkan berbarengan dengan semua aplikasi android. Jika ada orang mau mengunduh game Clash of Clan atau Duel Otak, si ebook bisa nyangkut dan siapa tahu bisa dibeli. Jadi kalau Anda sedang main di goole play, ketik saja nama saya dan beli bukunya. Hehehe. Continue reading

Menyeberangi tiga samudera ia meninggalkanmu

Menyeberangi tiga samudera ia meninggalkanmu
Menyeberangi awan yang serupa kapas
ia pergi meninggalkanmu

Usia menua
Bisa saja ia lupa
Bumi menua
Tuhan tidak selalu
meberikan senyum pada nasibmu

Tiga samudera ia pergi
dan barangkali melupakanmu
Usia menua dan kau tak pernah tahu,
barangkali ia mencoba menghapus bekas pelukanmu
di dadanya

November 2015