Meraba Peta Buku Generasi Baru

Pada awal tahun 2011, Borders, salah satu toko buku terbesar di Amerika Serikat resmi mengalami kebangkrutan. Menurut harian The Washington Post, bangkrut parah ini memaksa Borders melakukan pengajuan pailit pada Februari kepada pengadilan setempat. Tak tanggung-tanggung imbasnya, toko buku berusia 40 tahun ini harus menutup 30 persen gerainya yang waktu itu sudah mencapai 600an gerai. Ribuan karyawanpun terpaksa dipulangkan dari tempat kerja. Ditenggarai penyebabnya adalah perubahan selera konsumen perbukuan. Konsumen di Amerika saat ini lebih suka membeli dan membaca ebook dibandingkan buku-buku konvensional (kertas). Peralihan selera ini juga berimbas pada jumlah kunjungan ke toko buku. Saat ini, para pembeli lebih banyak melakukan transaksi pemesanan buku lewat internet.

Ada tiga faktor besar yang sangat berpengaruh pada jatuhnya toko buku ini. Faktor pertama adalah ketidakpekaannya terhadap perkembangan buku kontemporer.  Borders tidak peka terhadap ebook. Setelah Amazon sukses menggempur banyak gerai toko buku dengan menciptakan tred belanja buku online, toko buku online terbesar ini juga sukses menumbangkan banyak pesaingnya dengan mengeluarkan Kindle. Kindle adalah sebuah ebook reader produksi Amazon yang memudahkan pembeli ebook untuk membeli dan membaca buku digital. Kindle yang sekarang sudah dibandrol kurang dari US$ 100 (hanya Rp. 900.000) sudah sukses menyedot banyaknya konsumen ebook di Amerika. Tingkat penjualan Kindle berbanding lurus dengan jumlah buku yang terjual setiap tahunnya di Amazon. Dan ditahun ini, penjualn ebook telah jauh  melampaui jumlah penjualan buku kertas dengan sukses memberi sumbangan 8 persen dari total penghasilan Amazon.

Bencana bagi toko buku konvensional semacam Borders ini diperparah lagi dengan banyaknya perusahaan gadget seperti Apple yang mengeluarkan Ipad, Samsung dengan Galxy Tabnya dan beberapa jenis perusahaan pembuat ebook reader lainnya. Ya, tingkat kelarisan gadget ini berbanding lurus dengan tingkat kesuksesan mereka menjual ebook. Bahkan beberapa toko buku juga melounching gadget baru untuk mendukung kenyamanan pembaca buku dari konsumen mereka. Barnes & Nobles sebuah toko buku saingan Borders mengeluarkan Nook (eReader versi Barnes & Nobles). Borders sempat melihat fenomena ini dan ingin mengikutinya dengan mengeluarkan ebook reader Kobo, namun ia terlambat. Musuh sudah mengepung dari segala penjuru, dan tinju bersamaan itu sukses membuat Borders roboh dan susah bangkit kembali.

Faktor kedua, Borders tidak peka pada usaha lain yang berdekatan dengan buku. Selain buku, toko buku biasanya diiringi dengan penjualan beberapa produk lain, misalnya musik dan film, CD tutorial dan sejenisnya. Lapak CD & DVD Borders juga digerogoti oleh adanya iTunes & NetFlix. Dengan iTunes, orang bisa membeli lagu yang mereka sukai secara eceran. Harganya tentu saja jauh lebih murah daripada belanja satu keeping CD berisi 12 atau 20 lagu lagu. Pengurangan biaya produksi keping CD juga menjadi penyebab turunnya harga penjualan lagu seperti jauh lebih murahnya harga ebook dari harga buku. Penikmat musik hanya tinggal mendownload, menyimpan di perangkat itunes atau ponsel mereka dan memutarnya kapan saja mereka mau. Kalau butuh lagu baru tinggal beli lagi eceran. Jika penikmat musik hanya suka satu atau dua lagu, mereka hanya akan membeli lagu yang disukai itu. Tidak harus dipaksa membayar satu keeping CD yang mahal untuk beberapa lagu yang barangkali tak nyaman ditelinga.

NetFlix adalah layanan berlangganan sewa DVD. Orang hanya tinggal memilih  DVD yang mereka mau, membayar sewanya dari website NetFlix, kemudian DVD tersebut akan dikirim ke alamat. Penyewa akan mengembalikan saat masa sewa berakhir. Dan jangan kaget, pengantaran dan pengembaliannya pun gratis, sebab mereka telah bekerjasama dengan kurir, jasa ekspedisi yang setia mengantar jemput. Menyewa DVD lewat NetFlix jauh lebih murah dan praktis dibanding membeli DVD yang mahal di toko buku dan atau toko kaset.

Borders mempunyai banyak sekali toko, termasuk di luar Amerika. Borders yang paling dekat dari Indoenesia berada di Singapura dan Australia. Tentu saja untuk toko yang sangat besar dan banyak ini, Borders mengeluarkan biaya yang juga besar. Apalagi jumlah dan luas toko akan berimbas pada jumlah karyawan dan inventory yang tak sedikit. Padahal,  pilihan di toko buku juga sangat terbatas dibandingkan dengan pilihan di internet, seperti di Amazon.com.  Faktor inilah yang menjadi faktor ketiga kolapsnya toko buku ini.

Di era internet ini, sebuah toko buku online bisa saja dimulai oleh seorang mahasiswa dari kamar kosnya. Atau segerombolan anak muda di sebuah rumah kontrakan pinggir kota. Cukup menyewa hosting  untuk database buku yang ia jua, bikin website, akun paypal dan beberapa rekening bank yang dipakai untuk transaksi online. Harga oprasional yang dikeluarkan sebuah toko buku online akan jauh lebih mahal dibandingkan menyewa ruko sebagai tempat menjual buku.

Bagaimana Nasib Buku di Indonesia

Fenomena ini tentu saja sudah diendus banyak toko buku dan penerbitan di Indonesia. Namun, beberapa orang memang masih mananggapi pesimis fenomena ini. Jika berdiskusi tentang perkembangan ebook, maka tak jarang akan muncul banyak komentar yang tidak responsif. “Membaca buku di komputer atau smartphone tidak seasik membaca buku kertas.” Atau ada juga yang bilang harga gadgetnya terlalu mahal, aroma kertas tak tergantikan aroma Ipad, dan beraneka ragam jawaban lainnya. Kita bisa saja berapologi seperti itu. Namun, jika kita mau serius menyimak, perkembangan zaman dan teknologi adalah sebuah perkembangan yang bisa dibilang sebuah keniscayaan.

Banyangkan, sepuluh atau lima belas tahun yang lalu orang masih menunggu kiriman surat lewat kantor pos, tapi ponsel dan internet menggeser masa tunggu yang bermingu-minggu tersebut lewat sms dan email yang bisa dikirim dalam kedipan mata. Belum lagi yahoo mesennger, skype dan layanan chat lainnya bisa menghadirkan orang yang jauh di luar negeri sana di hadapan kita dalam layar laptop yang terkoneksi internet. Orang tak perlu lagi mengantri menelpon di wartel, karena harga ponsel dan pulsa semakin murah dan bersaing. Bahkan warnet mulai sepi lantaran modem semakin murah dan internet sudah bisa dinikmati nyaris di semua jenis ponsel.

Lihat saja perkembangan PC menuju laptop yang sungguh tak butuh waktu lebih dari sepuluhan tahun. Di awal tahun 90-an, memiliki PC di rumah barangkali mimpi besar banyak orang. Termasuk mimpi banyak penulis yang ketergantungan pada mesin ketik modern ini.  Harganya yang sangat mahal membuat penulis dengan honor standar hanya bisa menumpang mengetik di rental komputer dekat kampus. Tapi bagaimana setelah tahun 2003, atau 2005? Jangankan PC, laptop bisa kita temui di lokasi nongkrong anak-anak gaul di kafe-kafe tengah kota. Atau seorang penulis cerdas sudah mengakali waktu dan lokasi dengan mengetik di ponselnya.

Perkembangan generasi kertas saja memang memakan waktu yang cukup lama, mulai dari manusia menulis di dinding gua, batu, kulit kayu lontar sampai buku seperti saat ini. Tapi toh pada akhirnya semua berjalan jauh lebih cepat dari yang kita bayangkan. Mungkin kita bisa bilang tidak terbiasa dengan cahaya layar komputer. Laptop terlalu berat untuk ditenteng ke luar kota atau naik gunung. Berat dan ukurannya mungkin bagi banyak orang tidak membuatnya fleksibel. Tapi bukankah sekarang sudah ada komputer  yang bisa dilipat? Bukankah Ipad sudah jauh lebih ringan dari sebuah novel dengan tebal 200 halaman? Kindle sudah bisa bertahan dengan kekuatan baterai selama satu bulan. Dunia berkembang begitu cepat dan kebanyakan dari kita merespon terlalu lambat.

Semakin banyaknya kemunculan toko buku online, di luar toko buku online besar seperti Amazon bisa jadi membuat sebuah perubahan besar dalam peta bisnis perbukuan dunia dan Indonesia. Bahkan persaingan layanan jasa ekspedisi pengiriman barang yang kian ketat makin memudahkan seseorang untuk mengakses buku kendatipun berada jauh dari pusat kota. Biaya pengiriman buku dari New York ke Jakarta atau dari Singapura ke Jogjakarta sudah tidak semahal dulu. Bahkan, koran lokal di Indonesipun sudah menjual layanan langganan bulanannya secara online dengan harga yang jauh lebih murah dari langganan koran fisik. Anda bisa berlangganan  sebuah majalah di Inggris sana selama satu tahun hanya dengan membayar 8 dollar saja.

Di indonesia, memang belum ada toko buku atau penerbit yang bangkrut karena toko buku online. Meskipun banyak toko buku online, namun belum ada kabar jumlah omsetnya melampaui total penjulan di toko buku atau bahkan lapak-lapak buku dekat kampus. Tapi ini bukan berarti tidak ada yang peduli dengan isyu ini. Gramedia sudah mengambil ancang-ancang dengan menyediakan layanan Gramedia for Ipad dan Samsung Galaxy Tab dan akan segera merilis software untuk Android. Dan diluar dugaan, aplikasi-aplikasi ini malah sudah diunduh lebih dari 1500 kali oleh para calon pemakai. Barangkali mereka hanya menunggu penerbit dan toko buku di Indonesia mengeluarkan ebook mereka dengan harga murah dan pembaca akan menyedot buku lebih banyak dari mereka.

Respon untuk isyu ebook di Indonesia juga belumlah besar. Setidaknya hanya ada satu toko buku online yang konsentrasi pada penjualn ebook, Papataka.com. Jumlah dan judul bukunya pun masih didominasi buku luar dibandingkan buku karya penulis lokal. Meskipun konon Papataka sudah menggandeng 40 penerbit di Indonesia.

Para penerbit di Indonesia barangkali tak perlu terlampau risau dan buru-buru mengambil langkah. Masih ada penerbit dan toko buku besar yang mungkin akan ragu mengubah mainstream bisnis buku mereka menuju ebook. Investasi besar penerbit Gramedia, Bentang atau toko buku lainnya tentu saja tidak akan dengan mudahnya mereka pakai untuk putar haluan. Ada jutaan buku di toko mereka dan ada banyak pangsa di luar kota-kota besar yang masih susah mengakses internet atau laptop dan e reader. Mereka tidak mungkin membiarkan hantu Amazon menggerayangi produk mereka dengan cepat. Namun bisa saja ini adalah sebuah alarm merah, bahwa dunia perbukuan memang sudah jauh berubah dan kita sedang diambang dunia buku digital di mana buku akan makin gampang diproduksi, makin murah dan menyebar dengan sangat cepat.

Bersambung…

Comments

Komentar

  1. Kuli pelabuhan berkata:

    Rumah baru yang kumuh. ugghhhh

    1. Irwan Bajang berkata:

      wah, dasar kau bung Indrian Koto, bukannya komentar malah nyampah komentar!

  2. kuli pelabuhan berkata:

    gileeee…. blog boleh baru dan dotcom, isi juga penting coi…

  3. Di mana sambungannya, Mas?

    1. Irwan Bajang berkata:

      tunggu mas, khrisna. elum saya posting lanjutannya :))