Kepulangan Kelima

1
Melewati depan rumahmu,
lampu desa yang remang mengejekku
halimun turun perlahan
menjadi selimut sepi yang menakutkan
membawa lari
rinduku pada perjumpaan

Seperti jalan protokol pukul 10 pagi di Kuala Lumpur
Kau berkejaran, hingar bingar di kepalaku

Ini adalah kepulangan kelima
sejak tumbuh jakunku dan mulai bersemi kumisku
sejak takdir remaja desa
mewajibkan kami yang belia, merantau
mencari makan di tanah orang Lanjutkan membaca

Tidak Ditemukan Bidang.

Rayap, Paradoks Ekosistem dan Pakaian Saya

Beberapa hari ini saya sedang dibuat kesal oleh binatang yang bernama rayap. Pasalnya, ketika saya memeriksa pakaian di lemari, koloni rayap banyak sekali di sana, mereka menggerogoti pakaian saya. Sekitar dua bulan yang lalu, hal serupa pernah terjadi. Saya berhasil mengusirnya dengan membersihkan rumah yang mereka bangun, menyapunya dan menabur kapur barus di seputaran lokasi yang dikuasai rayap.

Padahal saya benci sekali dengan kapur barus. Kapur barus mengingatkan saya pada kematian kakek waktu saya kecil. Waktu itu saya berusi sekitar enam tahun, kakek saya sakit keras dan meninggal. Mayatnya, atau mungkin kain kafannya ditaburi (entahlah, mungkin juga dioleskan kapur barus, saya kurang paham). Sejak itu saya tahu, bahwa semua orang meninggal yang dikuburkan, selalu disertai dengan kapur barus. “Biar nggak gampang dimakan rayap,” begitu kata beberapa orang. Sejak itu, setiap ada orang yang meninggal, saya selalu waspada. Saya selalu mencoba menjauh. Saya benci mencium aroma kapur barus. Kapur barus saya identikkan dengan aroma kematian.

Banyak orang bilang kapur barus aromanya biasa saja. Mereka menaruhnya di lemari, agar baju tidak apek. Tapi saya tetap saja tidak setuju, kapur barus, sekali lagi mengingatkan saya pada kematian kakek saya. Kapur barus adalah aroma kematian. Meyeramkan! Dan bayangkanlah (wahai pembaca yang mau membaca tulisan saya ini), permusuhan saya dengan kapur barus, ternyata harus berakhir akibat kumpulan makhluk kecil bernama rayap.

Rayap di lemari ternyata tak hanya menghabisi banyak pakaian saya yang jarang dipakai, tapi juga menggerogoti buku-buku, refrensi satu kardus untuk sebuah novel saya yang belum rampung. Bagian inilah bagian yang paling menjengkelkan. Satu kardus referensi berupa fotokopian yang saya dapat dari keliling banyak perpustakaan, nyaris rusak dan tak terbaca akibat ulah rayap-rayap itu. Saya jengkel. Saya harus berperang dengan rayap. Dua hari yang lalu, saya kembali membersihkan tanah dalam lemari, memindah pakaian dan juga memindah lemari. Tentu saja menabur kapur barus yang aromanya memuakkan. Dengan harapan, rayap itu tak datang lagi ke lokasi baru lemari saya.

Berbicara tentang rayap, rayap merupakan makhluk prasejarah. Ia berfungsi sebagai pengurai kayu dalam ekosistem kehidupan. Tanpa kehadiran mereka, bumi ini pasti akan penuh oleh sampah kayu yang membusuk. Rayap sebenarnya memiliki peran penting, tapi bagi sebuah bangunan yang sengaja dibangun bukan untuk limbah kayu, rayap adalah musuh yang mengganggu. Lanjutkan membaca

Sastra, Punk dan Media Alternatif

Punk dan Media Alternatif

JIKA kita berbicara tentang media alternatif, maka kita tak bisa lepas dari sejarah dan perkembangan gerakan punk di dunia. Mungkin punk selalu identik atau popular dengan potongan rambut mohawk, pakaian berantakan, musik berisik dan tradisi nyeleneh lainnya. Namun ada tradisi penting lain yang menjadi identitas punk, yakni Zine!

Tradisi Zine Punk, meskipun tidak murni berasal dari kalangan Punker* (sebutan bagi penganut ideologi punk), namun di kalangan punkerlah zine mendapat tempat yang kian luas dan berkembang. Zine dimulai oleh sekelompok anak punk yang memulai menyebarkan gagasan lewat potongan-potongan kertas berisi protes terhadap situasi. Potongan kertas ini kadang dilipat dengan model tertentu. Satu lembar dilipat 8 atau 16 lipatan bolak-balik untuk menghemat ruang kertas. Selain dilipat, zine ini juga ditempel berupa poster, selebaran dan lain sebagainya. Sistem pengerjaan media alternatif ini adalah dengan memakai sistem cut and paste, yakni mengumpulkan bahan dari koran, majalah atau selebaran, kemudian disusun kembali pada selembar kertas kosong, ditempel dengan lem sehingga membentuk sebuah media yang menarik.

Dalam pengerjaan zine tersebut, punker mengusung semangat DIY, Do It Yourself. DIY tidak hanya dipakai dalam hal zine, tetapi juga musik, film, bahkan pakaian. Mereka menyebarkan gagasan dengan kerja-kerja personal atau kerja kelompok kecil dan membaginya ke banyak orang. Dengan zine, sesungguhnya mereka menemukan sebuah cara yang kreatif bukan hanya dalam menyebarkan gagasan, tapi juga menggandeng banyak orang di sekitar mereka untuk bekerjasama. Dengan landasan kerja DIY, yakni Do It Yourself, mereka mencoba melepaskan diri dari banyaknya ketergantungan kerja, juga ketergantungan pada banyak orang. Mereka mandiri dalam melakukan banyak hal dan tidak harus terkekang pada akuran-aturan baku yang dibuat banyak orang. Lanjutkan membaca

Tidak Ditemukan Bidang.

Bank untuk Penulis

Saya sudah banyak sekali membeberkan rahasia tentang bagaimana menerbitkan buku secara indie, self publish atau dengan nama sederhana menerbitkan sendiri buku yang ditulis. Bersama teman-teman, saya bahkan sudah medirikan Indie Book Corner, sebagai wadah untuk membantu segala hal tekhnis mengenai menerbitkan buku.

Menerbitkan buku itu gampang! Semua sudah saya jelaskan. Tapi ada satu hal yang masih menjadi beban saya. Bagimana buku itu selain gampang diproduksi, tapi juga harus murah memproduksinya. Nah, jawaban inilah yang belum ketemu hingga sekarang. Banyak penulis yang saya jumpai, menemukan kesulitan dalam pembiayaan karyanya. Maksud saya pembiayaan menerbitkan karya tersebut. Semua proses sudah dialalui: menulis, menyunting, mendesain dan lain sebagainya. Tinggal mencetak. “Saya nggak ada modal buat cetak!” begitu bisanya mereka mengeluh. Lanjutkan membaca