Sastra, Punk dan Media Alternatif

Punk dan Media Alternatif

JIKA kita berbicara tentang media alternatif, maka kita tak bisa lepas dari sejarah dan perkembangan gerakan punk di dunia. Mungkin punk selalu identik atau popular dengan potongan rambut mohawk, pakaian berantakan, musik berisik dan tradisi nyeleneh lainnya. Namun ada tradisi penting lain yang menjadi identitas punk, yakni Zine!

Tradisi Zine Punk, meskipun tidak murni berasal dari kalangan Punker* (sebutan bagi penganut ideologi punk), namun di kalangan punkerlah zine mendapat tempat yang kian luas dan berkembang. Zine dimulai oleh sekelompok anak punk yang memulai menyebarkan gagasan lewat potongan-potongan kertas berisi protes terhadap situasi. Potongan kertas ini kadang dilipat dengan model tertentu. Satu lembar dilipat 8 atau 16 lipatan bolak-balik untuk menghemat ruang kertas. Selain dilipat, zine ini juga ditempel berupa poster, selebaran dan lain sebagainya. Sistem pengerjaan media alternatif ini adalah dengan memakai sistem cut and paste, yakni mengumpulkan bahan dari koran, majalah atau selebaran, kemudian disusun kembali pada selembar kertas kosong, ditempel dengan lem sehingga membentuk sebuah media yang menarik.

Dalam pengerjaan zine tersebut, punker mengusung semangat DIY, Do It Yourself. DIY tidak hanya dipakai dalam hal zine, tetapi juga musik, film, bahkan pakaian. Mereka menyebarkan gagasan dengan kerja-kerja personal atau kerja kelompok kecil dan membaginya ke banyak orang. Dengan zine, sesungguhnya mereka menemukan sebuah cara yang kreatif bukan hanya dalam menyebarkan gagasan, tapi juga menggandeng banyak orang di sekitar mereka untuk bekerjasama. Dengan landasan kerja DIY, yakni Do It Yourself, mereka mencoba melepaskan diri dari banyaknya ketergantungan kerja, juga ketergantungan pada banyak orang. Mereka mandiri dalam melakukan banyak hal dan tidak harus terkekang pada akuran-aturan baku yang dibuat banyak orang.

Punker generasi itu tentu saja tidak memiliki banyak alat produksi, seperti komputer dan mesin cetak untuk penggandaan. Oleh karena itu, zine yang sama bisa muncul dalam banyak versi, dengan gambar yang berbeda, layout dan media yang berbeda pula. Niat mereka yang terbatas oleh alat, tak mematahkan semangat berekspresi mereka. Tradisi kreatif cut and paste mereka terapkan. Dengan hanya bermodal gunting, lem dan koran bekas, mereka berhasil membuat media sendiri. Belakangan zine bukan hanya menjadi tradisi punk, tetapi menjadi tradisi popular di kalangan banyak orang hingga saat ini.

1970 adalah sebuah tonggak baru bagi media aternatif semacam zine. Perkembangan teknologi makin massif dan akhirnya sampai pada sebuah terobosan baru, yakni fotokopi. Dengan ditemukannya mesin fotokopi, maka perubahan besar dalam duplikasi dan penyebaran zine pun mengalami transformasi besar. Zine yang sudah dibuat masternya makin gampang diproduksi, digandakan dan diperbanyak. Perkembangan ini juga berimbas pada media-media lain seperti misalnya kelahiran penerbit-penerbit alternatif yang melahirkan buku di luar mainstream masyarakat kebanyakan.

Sebelumnya, apa yang disebut penerbitan independent sebenarnya masih bersifat dependen, para penerbit masih tergantung pada teknologi mesin cetak yang masih terbatas pada waktu itu. Harga yang mahal dan pengerjaan yang memakan waktu lama membuat independensi penerbit alternatif susah maju dan berkembang. Tapi dengan menggunakan mesin fotokopi, pembuatan dan penggandaan zine menjadi lebih mudah, cepat dan rapi hingga pembuatan media sendiri menjadi lebih mudah lagi. Belakangan, para pembuat zine dan penerbit mandiri kontemporer menciptakan medianya dengan bantuan software grafis seperti corel draw, pothoshop, indesign dan lain sebagainya. Fotokopi pun makin berkembang ke arah yang lebih sempurna dalam membantu perkembangan media-media ini.

Sekarang zine semakin berkembang dengan pesat. Bentuk-bentuk yang ada selama ini, tidak lagi seperti di awal kelahirannya. Banyak zine yang kini lebih mirip mini majalah dengan sentuhan personal. Banyak juga yang beredar lebih luas dan mulai dikelola secara profesional. Tapi hal yang tetap dipertahankan dari perkembangan yang ada adalah semangat di awal kelahirannya, sebagai media alternatif. Banyak zine yang berubah menjadi webzine di antaranya, Boingboing, Dead Sparrow, Noise Attack. Ada juga yang berbentuk e-zine. Zine-zine ini tidak lagi membutuhkan kertas, gunting, koran bekas, lem dan tinta. Hal yang membedakan antara webzine dan e-zine adalah webzine berbasis website dan tampilannya hanya bisa dilihat di internet, sedangkan e-zine bisa didownload dan dicopy sebagai file data.

Media Kontemporer Saat Ini

Semakin berkembangnya kehidupan masyarakat, menciptakan sebuah sistem kehidupan yang kian kompleks. Munculnya banyak aktor lain dalam tata kemasyarakatan, juga makin banyaknya persoalan tentu saja menjadikan makin banyak isyu yang berkembang dan harus disikapi. Perkembangan media dengan banyak ragam kepentingan juga menjadikan sebuah kasus atau isyu makin bisa ditinjau dari banyak perspektif.

Perkembangan dunia yang kian maju, terutama dalam hal teknologi informasi dan komunikasi makin membuat arus isyu makin cepat. Bahkan jejaring sosial dan web 2.0 menjadikan sebuah berita langsung datang ke hadapan pembaca, sekaligus mengajaknya berkomunikasi dua arah. Pembaca berita online bisa membaca, dan berkomentar bahkan merespons balik sebuah berita atau opini. Semua itu dilakukan saat itu juga. Langsung dan singkat. Create and Publish!
Fenomena kerusuhan di Inggris beberapa waktu lalu yang merebak melalui jejaring sosial twitter bisa menjadi contoh, betapa cepatnya media berkembang, betapa makin derasnya informasi yang langsung masuk kepada konsumen dalam waktu yang sangat singkat. Kasus Prita Mulyasari, fenomenalnya Shinta dan Jojo adalah contoh paling dekat yang sempat menjadi konsumsi publik kita belakangan ini. Berkembangnya web 2.0 dengan model citizen jurnalistik banyak sekali memberi kelonggaran masuk bagi kita untuk berkontribusi menyampaikan fakta dan gagasan untuk dibaca banyak orang.

Peran Sastra dalam Perkembangannya

Sastra adalah sebuah cara lain menyampaikan gagasan dan mempengaruhi banyak orang. Sejarah sastra ‘biasanya’ selalu ikut berkembang mengikuti fenomena masyarakat saat itu. Di zaman perang, biasanya muncul sastra-satra dengan genre perang, heroisme dan genre lain yang serupa. Begitu juga dengan masa krisis politik, masa kejayaan sebuah negara dan lain sebagainya. Secara sederhana, setidaknya perkembangan laju masyarakat, bisa dianalisa lewat perkembangan karya sastra dan genre yang berkembang dari waktu ke waktu.

Dalam contoh beberapa kasus perkembangan media seperti di atas, sastra seharusnya semakin mendapat banyak ruang apresiasi. Terutama sastra dalam dunia semodern saat ini. Dalam kancah dunia digital yang bahkan telah jauh meninggalkan dunia fotokopi dan print on demand, penyebaran gagasan bukan lagi masalah rumit yang harus dipikirkan. Kita tak perlu lagi harus menulis opini, cerpen atau puisi hanya kepada media mainstream seperti tv, majalah dan koran raksasa di Indonesia. Media sudah ada di depan mata, ada di genggaman kita, bahkan berupa ponsel dan gadget lain yang bisa dibawa ke mana saja.

Permasalahan sastra saat ini bisa terjadi akibat kurangnya gagasan. Atau reproduksi ulang gagasan sastra kita yang tidak sekreatif atau secepat media berkembang seperti paparan di atas. Oleh karena itu, transformasi gagasan yang lebih maju dan cepat penting sekali dalam merespons perubahan, isyu terkini bahkan sekaligus memberi sumbangan pada laju zaman yang semakin bergerak ke depan.

Dunia maya yang menghadirkan portal-portal dan website 2.0 bisa jadi adalah sebuah media baru yang paling bisa dipakai secara gencar memajukan perkembangan kesusastraan kita. Hal ini juga akan memberi peluang besar pada kemandirian kita dalam bersastra, tanpa ada tendensi atau tekanan pihak lain yang menginginkan seorang pelaku sastra tidak menulis sesuai hati nuraninya.

Di dunia instan semacam ini, produktivitas memang kerap kali menjadi bumerang bagi banyak penggiat sastra. Tak ada penyaring yang kuat, juga akses yang gampang menjadikan sebuah gagasan bisa berseliweran tanpa terkontrol dengan rapi. Kita bisa menulis apa saja dan membaca apa saja secara bersamaan. Kualitas hanya bisa dinilai secara personal oleh pembaca. Dengan makin banyaknya layanan tersebut, bergabung di milis sastra, website atau portal yang banyak membicarakan bahasa dan sastra bisa jadi ruang apresiasi baru bagi pelaku sastra. Publikasi akan makin luas dan gampang. Efeknya adalah penemuan banyak genre atau bahkan bentuk baru dalam dunia sastra kita. Jejaring sosial dan semacam twitter bahkan telah memunculkan genre sastra baru, misalnya fiksi mini. Dan barangkali setelah ini akan lahir model ekspresi dan apresiasi baru, juga tema dan genre yang akan terus berkembang.

____________

*Zine berasal dari kata Fan Zine yang pada awalnya lahir di kalangan para penggiat fiksi ilmiah. Mereka memiliki kemampuan di atas rata-rata tapi mempunyai kemampuan komunikasi yang rendah. Zine dipakai untuk melarikan diri dari realita yang mengucilkan mereka.

Comments

Home

Komentar

  1. Ayu Abdillah berkata:

    Zine memang identik dengan perkembangan musik independent meski awalnya dimulai oleh bangsa Punk. Sekarang, punk agak lebih jarang menelurkan zine, kecuali kalau di luar negeri. Di Indonesia sendiri, zine yang berkembang dominan berkecimpung di grunge, noise rock, dan experimental saja. :)

  2. Irwan Bajang berkata:

    ayo, kita mulai lagi tradisi ini untuk membuat media2 alternatif lain terutama dalam hal tulis menulis. kan asik tuh satu orang punya satu zine masing2 :)

  3. gilang pratama berkata:

    death metal juga masih

    1. Irwan Bajang berkata:

      beberapa band indie metal dan punk memang masih rajin bikin zine, terutama dalam bentuk poster dan selebaran. namun beberapa sekarang memakai media online juga untuk publikasi. mereka membuat e-zine :D

  4. y berkata:

    Kalok ngomon soal zine, cobak kau kontak Adin Hysteria, doi jadi semacam badan dokumentasi zine alternatif yg dipakek beberapa disiplin, seperti musik, punk, dan sastra.

    1. Irwan Bajang berkata:

      kalau masalah zine2an dan media alternatif, Adin Mbuh memang orang yang tepat untuk dijadikan referensi. doi rajin dokumentasi zine-zine.

  5. wong edan berkata:

    *nyimak cek melu pinter*

    suwun mas’e

    1. Irwan Bajang berkata:

      woke bung wong edan

  6. Ayu Abdillah berkata:

    Bang, yang komen di atas, si gilang pratama itu penulis artikel zine juga bareng Ayu. Kami punya zine namanya Quovadis yang sekarang dah dibredel sama orang gak tau malu namanya A.M. Nah, trus masih ada online-nya :D

    ini ==> http://quovadiszine.wordpress.com/

  7. Irwan Bajang berkata:

    @Ayu: wihh, keren donk.. kenapa bisa diberedel tuh? jaman Orba ya..hehehehehe :)) ayo bikin zine lagi. saya baru aja bikin jumat kemarin. tentang tulis menulis sih :))

  8. rusydi berkata:

    jadi inget pas SMP, saya cenderung ke musik punk. bukan karena ikut2an perkembngan kota, tapi nalar dan jiwa saya dulu lebih condong ke dunia bawah tanah dan out frame

    1. Irwan Bajang berkata:

      @Rusydi: wih, anak punk juga rupanya bung, saya kira anak dangdut dulunya :)

  9. Anonim berkata:

    nyimak.

  10. doby berkata:

    Mas Bajang.. ulasan tentang media alternatif dan sastra ini sangat menarik.. tp aku rasa ada beberapa uraian yang mas Bajang mungkin lupa mencamtumkan sumbernya.. aku rasa perlu dikoreksi lagi mas.. hehe.. sekadar saran.. maturnuwun mas :)

    1. irwanbajang berkata:

      terima kasih, yang mana aja yang saya kurang kasih penjelasan, kalau saya keliru kabari ya :)

      1. doby berkata:

        Aku dulu pernah blogwalking, dan nemu tulisan tentang zine yg ada kemiripan dengan tulisan ini..
        Coba cek http://fantasixliar.blogspot.com/2012/01/stuff.html
        Nah aku pikir mas Bajang yg ambil referensi dr blog itu.. ternyata aku yang salah dan kurang teliti.. ternyata blog itu yg comot tulisan mas Bajang tanpa nyantumin sumbernya.. mungkin bisa dilihat dr tanggal postingnya, Mas Bajang duluan posting baru blog itu hehe..
        Maafken mas hihi..
        Oya, kalo tulisan mas Bajang ini aku tampilkan di terbitan zine kami bolehkah? Makasi mas Bajang sebelumnya :)

  11. Udo Indra berkata:

    Afriza Review juga dulunya sebuah zine lho, disebarin di kalangan remaja mesjid al-huda, pokoke sangat tidak mainstream deh..

    1. irwanbajang berkata:

      mantap, Udo. Begitulah, harus ada banyak media tandingan :)

  12. Faliq Ayken berkata:

    Ulasan yang menarik. Semoga bisa belajar di Jogja. Penasaran sama penulis ini. Suwun, Mas Irwan.