Punk Tidak Perlu Dirazia

Razia di Aceh beberapa waktu lalu menuai komentar yang beragam dari banyak kalangan. Bukan hanya dari dalam negeri, komentar juga berdatangan dari komunitas internasional. Beberapa orang mengecam tindakan ini. Bagi mereka razia yang berujung pada penangkapan, Punkers (sebutan bagi penganut Punk) penggundulan paksa dan penceburan ke kolam oleh polisi adalah pelanggaran HAM. Selain itu, mereka yang terjaring razia dikondisikan di sekolah kepolisian dan dididik ala polisi. Sebuah model didikan rehabilitasi instan, jangka pendek yang tak masuk akal. Golongan lainnya beranggapan bahwa sudah sewajarnya anak-anak Punk jalanan di Aceh ditangkap dan diperlakukan demikian. Mereka berbuat anarkis, sering minta uang dan menggangu pemandangan jalanan di kota. Begitu tanggapan mereka.

“Di Aceh tidak boleh ada komunitas anak Punk, apalagi masyarakat kota Banda Aceh berkomitmen menjalankan hukum syariat Islam dalam kehidupannya sehari-hari.” Illiza Sa`aduddin Djamal, Wakil Wali Kota Banda Aceh.

Komentar Illza yang saya kutip ini, menurut saya adalah komentar paling menarik (baca: aneh). Komentar aneh ini juga adalah sekaligus komentar bodoh. Statement semacam ini menunjukkan bahwa tukang omongnya jelaslah sama sekali tak tahu apa-apa tentang Punk. Bukan rahasia lagi. Para pejabat Indonesia memang sering berkomentar seadanya. Komentar bodoh biasanya dilandasi oleh minimnya pengetahuan, sekaligus gaya angkuh dan ingin terlihat cerdas.
* *

Melihat Sekilas Sejarah Punk
Punk pada awalnya adalah sebuah subkultur yang lahir dan berkembang di London-Inggris. Subkultur ini muncul bersamaan dengan hadirnya beragam ketimpangan sosial dan politik yang salah satunya diakibatkan oleh Revolusi Industri. Gerakan ini diawali oleh sekelompok anak muda, diwakili oleh anak-anak kelas pekerja. Tak tahan dengan ketimpangan, termasuk kehidupan pekerja yang miskin, upah yang rendah, perlakuan yang berbeda dan hinaan dari kelas atas yang dominan membuat mereka membentuk sebuah kultur sendiri. Kultur yang berbeda: menolak dominan dan menjadi seperti orang kebanyakan.

Diskriminasi yang timbul akibat perlakuan kelas dominan, tentu saja membuat para Punkers ini memberontak. Mereka menunjukkannya dengan banyak cara. Cara yang paling dominan dan paling banyak dikenal adalah dengan mengemukakan dandanan, dan musik yang menonjol. Berbeda dari kebanyakan orang. Dandanan mereka bisa kita identifikasi dengan pakaian, perching, dan model rambut.

Salah satu diskriminasi yang kentara waktu itu adalah dilarangnya orang memakai jaket untuk masuk ke tempat umum. Mereka dilarang masuk ke tempat belanja, hiburan atau gedung pemerintahan. Jaket adalah lambang pekerja kelas bawah yang tak level dengan kelas atas; borjuis, tuan tanah dan pemilik perusahaan. Tanda-tanda protes terhadap hal seperti ini masih terekam jelas dalam dandanan anak Punk kontemporer hingga saat ini. Mereka bangga berjaket ke sana ke mari. Ini adalah simbol eksistensi mereka. Meskipun pekerja, tapi mereka juga manusia yang harus diperlakukan sewajarnya.

Mereka mencoba berbeda. Memakai pakaian yang tidak lazim dipakai banyak orang. Potongan rambut dan musik juga diubah sesuai kultur yang mereka bangun. Mereka protes. Tidak mau diseragamkan dan memunculkan semboyan DIY: Do It Yourself!

Idiologi Punk merambah Amerika yang penuh masalah ekonomi dan yang dipicu oleh kemerosotan moral para tokoh politik. Pengangguran dan kriminalitas yang tinggi diakibatkan salah asuh negara membuat segerombolan anak muda memberontak. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri. Melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana, mengandung sindiran dan protes. Beat yang cepat dan menghentak. Berbeda dengan trend Elvis atau The beatles yang merajai pasar musik di era itu. Mereka mabuk dengan menghirup lem sebagai bentuk protes atas bir yang mahal dan tak terbeli.

Yang paling mencolok dan terkenal dari Punk adalah fasion dan lagu. Padahal, seperti disebut di atas, Punk tentu saja bukan melulu soal dandanan dan musik. Ada banyak tipe Punk dan mereka tumbuh berkembang mewakili gagasan, idiologi dan permasalahan yang mereka alami di lingkungannya. Anarko Punk, Crust Punk, Glam Punk, Hardcore Punk, Nazi Punk, Marxist Punk, Oi, Street Punk, Queer Core, Riot Grrrl, Scum Punk, Strait Edge Scen, Skate Punk, Ska Punk adalah beberapa jenis Punk yang paling dikenal dan banyak komunitasnya di dunia.

* *
Jika kita melihat sekilas saja perkembangan Punk., kita akan segera tahu bahwa Punk sama sekali bukan hanya masalah dandanan. Melainkan sebuah sikap hidup dan idiologi. Meskipun, dandanan memang menjadi simbol paling kuat sekaligus cara mereka menyampaikan gagasan. Potongan rambut mohawk ala suku Indian memberi pesan perlawanan. “Kalau rambut saja bisa berdiri tegak, kenapa hati dan pikiran mau ditindas,” begitu kira-kira pesan yang ingin mereka sampaikan. Juga simbol solidaritas untuk orang Indian yang selalu ditindas. Rambut berdiri juga sebagai simbol keinginan mereka untuk tidak seragam. Mengejek model manusia yang selalu seragam akibat ulah pasar dan kapitalisme. Model rambut Feathercut, Spike dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, juga adalah bagian dari simbol-simbol yang mereka mainkan untuk tujuan menyampaikan gagasan.

Ada empat prinsip dasar yang dipakai Punkers sebagai acuan hidup. Prinsip Kemandirian, Persamaan, Antikemapanan dan Antipenindasan, serta Solidaritas. Ini adalah prinsip paling fundamental sebuah gerakan Punk. Makanya tak jarang Punkers membuat diri mereka bertahan dengan memproduksi CD, Zine yang bahkan banyak dibagi gratis, diproduksi dengan iyuran bersama atau membuat merchandise seperti kaos, emblem, topi dan lain sebagainya. Mereka menjual untuk bertahan hidup.

Singkatnya, Punk adalah sebuah gerakan perlawanan, disominasi oleh anak muda. Mereka melandaskan diri pada prinsip DIY. Penilaian Punk terhadap permasalahan biasanya tercermin dari lirik-lirik lagu yang kebanyakan bercerita tentang masalah sosial, politik, lingkungan, ekonomi, ideologi sampai agama dan kepercayaan.

* *
Alasan Tidak Islami Tak Masuk Akal

Salah satu alasan penangkapan ‘Punk Aceh’ adalah tuduhan tak berpakaian islami. Jika demikian, jelaslah bahwa sebuah tindakan berdasarkan ketidaktahuan bisa berimbas besar. Kekeliruan akibat salah kaprah membuahkan tindakan sepihak yang berargumen lemah. Apakah mereka tak pernah mengkaji hal paling sederhana dari sejarah Punk?
Apakah islam mengajarkan seseorang atau sekelompok orang melakukan penolakan pada situasi sosial politik yang tak berpihak pada mereka? Jika agama masih dipakai sebagai acuan hidup oleh pihak yang merazia, tentu saja hal sepele seperti ini tidak akan terjadi.

Apakah dandanan mempengaruhi watak dan karakter? Kalau saja mereka tahu arti lambang-lambang yang dipakai para Punkers, tentu tak semudah itu komentar-komentar tak masuk akal ini dikeluarkan. Apakah seorang dengan dandanan yang berantakan sudah pasti hidup berantakan, tak layak dan menjadi ancaman? Atau sebaliknya, apakah dandanan yang sopan, berkemeja dan berdasi sudah mencerminkan watak bersih, rapi, berpendidikan dan bermoral. Saya rasa tidak. Eh, maksud saya, tidak! (pakai tanda seru ya).

Image Punk diidentikkan dengan kotor, pemabuk, hidup tidak jelas dan hal negatif lainnya. Kenyataan tidak semua begitu. Di Bandung ada Punk Islami yang melandaskan perjuangan mereka dengan metode perjuangan berdasarkan ajaran agama mereka. Ada juga yang berproduksi dalam hal ekonomi. Membuat merchandise, musik, film dan assesoris. Mereka mempunyai basis ekonomi riil untuk bertahan hidup, bahkan membantu sesamanya. Melebur bersama masyarakat luas.

Punk mestinya dimaknai bukan hanya masalah tampang, tapi juga implementasi rasa kemanuisaan yang muncul dengan beragam cara.

Banyak orang bilang Punk kotor. Tapi mari kita bertanya, kotor mana Punk dibandingkan sistem politik kita yang carut marut. Sistem ekonomi pasar kita yang tidak pro pada rakyat kecil. Mereka yang berseragam rapi, wangi dan berdasi adalah aktor utama penggusuran, aktor perebutan lahan industri dengan merebut hak petani. Kalau Punk gembel ditangkap dan digunduli, lalu dimandikan, kenapa pejabat yang ketahuan korup, maling dan menipu tidak diperlakukan serupa? Kalau pun anak Punk, atau anggap saja beberapa gerombolan gelandangan dengan tampilan ala Punk adalah penyakit masyarakat, adilkan jika mereka dipaksa untuk mengubah dandannya dan menjadi sepeerti orang kebanyakan? Digunduli, dibersihkan, dan tidak boleh bertato. Tidak bolehkah sekelompok orang hanya berdandan berbeda dari orang kebanyakan?

Selayaknya pemerintah beserta aparaturnya bijak, cermat, dan hati-hati dalam menyikapi ataupun menentukan pola tindakan terhadap komunitas Punk. Bagaimanapun mereka adalah bagian dari realitas masyarakat yang kebetulan memiliki cara pandang dan perilaku yang berbeda jauh dengan lingkungan sosial masyarakat. Tak ada yang salah dan perlu dirisaukan. Merazia, menangkap dan “menyeragamkan” Punkers di Aceh adalah sebuah tindakan keliru. Apa pun yang terjadi terhadap anak Punk, biarkanlah itu menjadi fakta sosial. Sebuah fenomena yang hidup, berkembang dan terakui di masyarakat.

Jika mereka adalah Punk dan kemiskinan adalah masalah bagi tata kota, pemandangan, dan stabilitas, kenapa tak diselesaikan hingga pangkalnya? Saya rasa tak ada orang yang mau menganggur jika ada pekerjaan yang layak dan upah yang setimpal.

Atau jangan jangan, kemiskian dan ketimpangan sosial adalah aib. Aib yang membuat investor takut dan berimbas pada kepercayaan mereka untuk berinvestasi di tanah ini? Atau apakah bagi mereka Punk adalah sampah sampah yang mengakibatkan kota menjadi kotor, menurunkan omset bisnis pariwisata dan menggagalkan sebuah kota mendapatkan penghargaan Adipura?

Aha, seperti pemerintah Aceh yang banyak curiga dan seperti pemerintah Indonesia yang sama saja, sepertinya kita juga punya banyak peluang untuk curiga mereka!

Comments

Home

Komentar

  1. 666 itu asik berkata:

    Landasannya mungkin ini:
    Barangsiapa mengikuti suatu kaum, maka dia adalah kaum tersebut” dari al Quran lupa ayat surat apa.

    Kwkwkwkwkwk

    PUNK jelas attitude.
    seharusnya mereka itu menyanyikan lagu “YOU CANT BRING ME DOWN” lupa juga yang nyanyi… hehehehehe

    1. Irwan Bajang berkata:

      wah ini ayat alquran ya mas bro? bisa dikaitkan dengan teologi pembebasan :)

  2. Vira berkata:

    poinnya jelas: kekeliruan pada Punkers. mgkn mereka mengira semua yg berdandan punk di sana adlh bentuk lain “sampah masyarakat” yg meresahkan warga. mgkn saja memang pelaku kriminal di sana semuanya berdandan punk tanpa tahu arti filosofis dan sejarah dari punk itu sendiri. kebanyakan kita kan cuma ikut-ikutan. jadi, memang perlu diluruskan ya segala sesuatunya biar tak lagi keliru. :)

  3. prast berkata:

    ada juga yang memberikan kesaksian bahwa memang beberapa punk lokal sempat melakukan kericuhan di jalan2, sehingga masyarakat melaporkan hal tersebut ke keamanan setempat. makanya modelnya jadi generalisasi, punk lokal yang bikin masalah, punk lainya yang kena imbas…
    tapi untuk antisipasi, terlalu ekstrim..malah bisa bikin konflik antar agama…

  4. What is the reason behind my stomach pains?

  5. what's the very best no-cost web site on start a prosperous Dubai videog?

  6. Jubah Dress berkata:

    Walaupun sebelum ini saya agak kurang bersetuju dengan isu nie…
    tapi setelah mengkaji blog awak terutamanya pos nie..
    saya semakin yakin… idea awak ada benarnya… terima kasih…

  7. Reggie berkata:

    Can easily 1 become a mate at YouTube through copyright content on
    their web page?