Irwan Bajang: “Menerbitkan Buku Itu Mudah”

Ini adalah petikan wawancara saya tentang buku inide dan Indie Book Corner bersama Sunde, seorang blogger dan pembuat Zine yang sangat produktif. Ia juga beberapa kali menerbitkan bukunya secara indie. Kali ini saya kutipkan wawancara tersebut yang diambil dari blognya salamatahari.com/ Selamat membaca :D

————————————————————————-

Bermula dari keinginan untuk menerbitkan bukunya sendiri, Irwan Bajang dibawa waktu kepada gagasan mendirikan Indie Book Corner (IBC). IBC adalah sebuah penerbitan independent di Yogyakarta yang ia kelola bersama kekasihnya, Yayas.

Pada Salamatahari edisi “Berkas” ini, Irwan Bajang membagi semangat literasinya yang menyala-nyala. Ia berharap kelak setiap penulis dapat menerbitkan karyanya dalam bentuk buku. “Menerbitkan buku itu mudah,” ujar Irwan Bajang optimis.

Halo Mas Irwan … cerita dikit, dong, tentang awal mula berdirinya “Indie Book Corner”
Hmmm … mulainya dari mana, ya? Dari ide dulu, ya. Awalnya tahun 2006 sebenernya. Waktu itu saya lagi rajin-rajinnya menulis puisi dan ingin menerbitkannya menjadi buku. Nah, karena saya baru aja beberapa bulan di Jogja, saya sama sekali buta bagaimana menerbitkan buku. Akhirnya saya browsing internet, cari di mbah google, dan ketemu beberapa kontak penerbit. Saya tawarkan buku puisi saya ke mereka. Kok gak ada yang respon ya? Jawaban mereka sih, konon buku puisi nggak laku. Ya sudahlah, akhirnya saya bikin aja sendiri.

Caranya?
Waktu itu saya punya komputer dan printer, serta seorang temen yang pinter desain. Materi puisinya saya layout sendiri, saya edit dan print. Lalu saya potong dan jilid. Jadilah ia buku, buku pertama saya yang saya kerjakan dari menulis sampai jadi berbentuk semacam buku. Itulah buku saya pertama yang memperkenalkan saya pada dunia “buku indie”. Judulnya: Sketsa Senja.Jadi pas itu, ya, lahir Indie Book Corner?
Belum. Tahun 2008 saya punya naskah novel dan diterbitkan di sebuah penerbit di Jogja. Setelah itu sedikit demi sedikit saya ngintip proses penerbitan buku. Dari situ saya kenal apa itu editing, proof reader, bagaimana mengkonsep cover, ilustrasi dan model kerjasama dengan distributor. Akhirnya tanggal 9 bulan 9 tahun 2009 saya bikinlah weblog Indie Book Corner (IBC) di www.indiebook.co.cc sekarang di www.bukuindie.com/ bersama Anindra Saraswati (Yayas) setelah sebelumnya mempraktekkan menerbitkan buku indie dengan beberapa teman dan sempat bekerja setahun di sebuah penerbitan di Jogja. Sejak itulah IBC resmi berdiri dan membuka layanan self publish ala buku indie. Saya mulai rajin mencari tahu percetakan yang murah dan bisa cetak sedikit. Bergerilya dari satu percetakan ke percetakan yang lain. Kebetulan juga waktu itu ada temen kos yang punya percetakan. Sekarang kita udah kerjasama dengan Quantum Printing dan punya percetakan sendiri. Cetak-mencetak sudah bukan masalah lagi bagi IBC!

Asoy! Jadi udah nerbitin buku apa aja, nih, dari taun 2009 itu?
Kami menerbitkan nyaris semua jenis buku. Naskah yang masuk ada naskah horror, komedi, cinta, novel religi, puisi perlawanan dan ada juga buku serius masalah ekonomi global, politik, bahkan tutorial dan text book bahasa Inggris.

Yang ngebedain IBC sama penerbit lainnya?
Sangat berbeda. Terutama dalam hal bagaimana memperlakukan naskah dan penulis. Di IBC semua penulis berhak menerbitkan buku. Semua naskah bisa terbit, dan tentu saja dalam jumlah terbatas, bahkan bisa dihitung jari. Pertama kali menerbitkan, kami hanya mencetak 10 eksemplar untuk satu judul. IBC tidak meberi royalti, tapi penulis menentukan royalti dari bukunya (kalau buknya dijual).

Sebenarnya Indie Book ini bukan penerbit, tapi lebih tepatnya sebuah “gerakan perbukuan/ gerakan buku indie”. Kami mengampanyekan bagaimana buku biar mudah diproduksi, diedarkan, dibaca dan diapresisi. Fokus kami bukan di industri perbukuan itu sendiri, tapi bagaimana menghadirkan sebuah “cara” menerbitkan alternatif, di tengah pusaran dunia perbukaun yang memang tak bisa terlepas dari “kapital”. Berbicara penerbitan konvensional atau penerbitan mayor, jelas tak bisa lepas dari bagaimana menimbang untung rugi, marketable atau tidak buku yang diterbitkan. Sebab menerbitkan 1000 atau 3000 buku jelas butuh dana yang tak sedikit dan tidak ada yang mau rugi. Nah Indie Book Corner coba keluar dari mainstream tersebut. Kami bukan saja melawan mitos 1000 atau 3000 buku sebagai standar jumlah minimal cetak buku, tapi kami memotong mitos menerbitkan buku itu susah dan berbiaya tinggi.

Indie Book berusaha memberi tahu, bagaimana cara menerbitkan buku. Jadi, kalau semua orang sudah tahu bagaimana cara menerbitkan buku, bisa jadi kelak IBC sudah tidak dibutuhkan lagi. Dan kami akan bahagia sebab cita-cita kami terpenuhi: semua penulis bisa menerbitkan karyanya dalam bentuk buku.

Waduh, cita-citanya mulia sekali. Terus, nih, kalau ada temen yang mau nerbitin buku lewat IBC, syaratnya apa dan ngirim naskahnya ke mana?
Persaratannya cuma satu. Punya tulisan. Nggak ada yang lain. Lalu kirim ke kami di Pajeksan GT 1/727, Yogyakarta (untuk info lebih lengkap klik http://indiebook.co.cc/) www.bukuindie.com/

Nanti sistem promosi-distribusinya gimana?
Kita sudah kerjasama dengan distributor untuk persebaran buku se-Indonesai Raya. Tapi itu untuk buku yang dicetak 500 atau 1000 dan jumlah di atasnya. Kalau di bawah itu, kita titip di kafe, distro, warung makan dan pasarkan sendiri via internet.

Boleh diedit dan layout sendiri, nggak?
Kami menyediakan jasa editor, tapi kalau penulis punya temen editor bisa minta bantuan tuh dan nggak perlu pakai bantuan IBC. Naskah bisa diedit sendiri, bikin cover dan layout sendiri (atau sama tim penulis) nanti cetaknya kami bantu. Tapi Sebisa mungkin buku harus diedit. Sebab bagaimana pun, penulis pasti punya kesalahan, minimal kesalahan ejaan atau istilah. Bahkan editor sekalipun pasti ada salahnya. Kami mau, buku jebolan IBC adalah buku dengan standar mutu yang tinggi, layaknya buku keluaran penerbitan besar.

Selama tahun 2010 kemarin apa yang menarik di perjalanan IBC?
Awal tahun seperti biasa wordpress.com mengirimi email untuk para pengguna blognya. Kebetulan blog IBC kan bernaung di wordpress tuh, nah mereka mengirimi kami statistik penilaian dan memberi ratting “WOW” untuk perkembangan blog kami. Pengunjungnya banyak, banyak yang bertanya dan banyak yang kami bantu. Senang sekali membantu banyak orang. Satu lagi, 2010 kami bisa menerbitkan lebih dari 30 judul, ini angka yang lumayan besar dan mengagetkan kami sendiri. Saya aja nggak sadar kalau kami sudah membantu menerbitkan buku penulis sebanyak itu.

Cihui, selamat, ya … terus apa target di taun 2011?
Targetnya adalah membantu semakin banyak penulis menerbitkan bukunya. Kalau bisa satu minggu satu naskah terbit. Jadi setahun kita nerbitkan 48 buku minimalnya.

Amin. Semoga tercapai. Terakhir, nih. Salamatahari minggu ini kan temanya “Berkas”. Apa yang ada di pikiran Mas Irwan pas denger kata “berkas” ?
Berkas itu kalau nggak salah artinya sekumpulan cahaya, atau bisa juga sekumpulan naskah atau surat. Hhhmmm. Berkas bisa jadi saya artikan sebagai sebuah kilatan ide. Kadang ada ide yang terlintas begitu saja, bagai seberkas cahaya yang tiba-tiba muncul. Nah, berkas ide itu perlu dicatat dan dikenang, siapa tahu nanti idenya bisa muncul lagi dan terwujud jadi kenyataan.

Widiiih … pas banget, dong, sama IBC. Nggak salah, nih, Dea milih Mas Irwan Bajang dan IBC buat penyalamatahari edisi pertama taun ini.
Kalau berkas yang kaitannya dengan naskah, surat atau kertas, saya jadi kepikiran banyak naskah numpuk di IBC dan saya butuh bantuan banyak orang menyelesaikannya.

Hahaha … ayo, Teman-teman, ada yang mau bantu, nggak, tuh …?

Seberkas harapan di dunia literasi bertumbuh bersama Indie Book Corner. Semoga kelak menjadi terang yang memberkati.

Teman-teman, mari berkumpul membawa berkas, menjadi berkas, kemudian tumbuh menerbit …

Sundea

Comments

Home