UFO!

 Itulah yang membuatku takut. Ia datang begitu tiba-tiba.

Sesuatu yang datang cepat, biasanya akan pergi dengan cepat pula.

Ia datang padaku ketika aku sedang asik di depan televisi, menonton berita yang itu-itu saja. Korupsi, suap-menyuap, demonstrasi mahasiswa, penembakan oleh aparat, perceraian dan pernikahan artis sinetron. Juga presiden yang hobi sekali menyanyi dan merias diri. Saat itulah dan di situlah ia datang. Tanpa mengetuk pintu, tanpa mengucap salam. Ia hanya tersenyum. Lalu duduk manis di sampingku.

“Siapa namamu?”

Ia diam.

“Siapa namamu?”

“…”

Ia diam saja. Mungkin masih takut padaku. Mungkin ia tak gampang bergaul. Atau mungkin juga ia tak terbiasa berbicara dengan orang asing. Kubiarkan saja ia diam. Melamun sendiri. Bermain dengan pikirannya sendiri.

Sebenarnya aku juga lebih suka berdiam diri. Menghabiskan banyak rokok sambil menonton televisi. Aku tahu, tak ada yang menarik lagi di televisi. Bahkan jauh sebelum ini; televisi memang tak pernah membuat sesuatu yang berarti. Bagiku terutama. Tapi bagaimana lagi, dingin malam ini membuatku malas ke luar, menemui teman di warung kopi, berbincang hingga pagi. Malam ini dingin. Dan menghangatkan diri dengan selimut di depan televisi adalah pilihan yang paling bisa aku ambil.

“Hei. Siapa namamu. Jangan diam saja.” Ia masih saja bergeming. Menelungkupkan dirinya di lantai karpet berdebu dan ikut menonton televisi.

“Baiklah, kalau kau tidak mau diberi nama, biar aku carikan nama untukmu. Setuju?”

“…”

“Ah, dasar kau ini! Baiklah, hmmm, namamu… hmmm”

“…”

“UFO! Ya, namamu UFO!”

Ia tersenyum, mengedipkan mata beberapa kali. Aku tak tahu apakah ia menolak atau menerima. Setuju atau tidak. Hidungnya yang kecil tidak terlihat kembang kempis. Matanya, oh mata yang aku sukai, bagai bintang utara saat pukul setengah empat pagi. Mata itu menatapku sayu, berkedip sesekali dan suka terpejam agak lama, kira-kira hitungan satu sampai sepuluh anak kecil yang belajar berhitung.

“Kamu datang tak diundang, datang tiba-tiba. Dari itulah aku namakan kamu UFO! Kamu paham?” ia hanya tersenyum, sedikit sekali. “Ah, kau ini. Tapi sudahlah. Temani saja aku malam ini. Datanglah kapan pun kau mau. Meskipun tiba-tiba, tapi jangan pergi mendadak, aku tak suka kehilangan,” ucapku meyakinkannya. “Kalau kau mau pergi, jangan lupa pamit, ya?” Ia mengangguk. Tersenyum dan menatapku. Isyarat matanya menunjukkan, ia sepakat.

Ia yang manis, patut menerima nama yang manis. UFO! Bukankan nama itu nama yang bagus? Manis, manis dan sungguh manis.

Di luar, hujan turun deras, memercik ke jendela, membasahi daun dan batang pohon. Dingin. UFO, tertidur pulas di dekatku. Di bawah kakiku. Lanjutkan membaca

Tidak Ditemukan Bidang.