Jam Dinding Tik Tok Tik Tok

TIK TOK TIK TOK
malam rabu yang basah, aku mendatangimu
kembang andarnyawa dalam jaketku
kering dan luruh

TIK TOK TIK TOK
jam dinding di kamar tamu
cicak jantan dan betina bercinta
kita tak ingin kalah bercinta

TIK TOK TIK TOK
aku pulang,
lampu kota telah laman menyala
jalanan desa berlubang
basah menggenang

TIK TOK TIK TOK
lampu kamarku padam
kita sama-sama bermimpi digigit ular

Desember, 2011

Seri Puisi Lucu #1

Dua Orang Kakek

tak ada yang lebih setia dari kepul asap tembakau
dan kopi hitam pahit
terutama di usia-usia tanah seperti kita
dan persahabatan yang panjang, kelak akan kita akhiri dengan usia

Silakan kalau kamu mau mengakhirinya dulu

 

Jogjakarta, Juli 2011

Tukang Sol Sepatu dan Pekerjaan

Beberapa hari yang lalu ketika saya ingin pergi, saya menemukan sepatu saya solnya sudah rusak dan agak tak nyaman untuk dipakai. Tentu saja ini mengganggu. Meski ada beberapa stok sepatu, sepatu ini adalah sepatu favorit saya. Saya ingin memakainya. Sebagaimana kebanyakan orang, tentu sepatu kadang-kadang menjadi hal atau kebutuhan tersendiri. Saat bepergian agak jauh misalnya, kita butuh sepatu yang nyaman, terlebih jika kita ingin jalan-jalan kaki agak lama dan jauh. Sepatu yang nyaman akan membuat kita lumayan nyaman juga dalam beperjalanan. Bahkan, dalam sebuah cerpen yang agak sentimentil, Seno Gumira Ajidarma pernah membuat cerpen Sukab dan Sepatu. Di cerpen itu SGA menulis sentimentil sekali tentang sepatu dan kesetiaan pemiliknya, hubungan setia antara sepasang sepatu, kiri dan kanan. Bukankah tak mungkin memakai sepatu yang berbeda ukuran atau warna? Kecuali atas dasar mode dan fesyen yang agak aneh. Hehehe. Agak berlebihan, tapi itu adalah cerpen yang bagus, setidaknya menurut saya. (Kalau mau baca di link ini aja, sebab saya sedang tidak membahas cerpen atau SGA).

Tanpa diduga, terdengar teriakan khas dari kejauhan dan makin mendekat ke halaman depan rumah. “Soool sepatuuu… Sool sepatuu…” begitu teriaknya. Tentu saja dengan nada yang susah sekali dijelaskan kalau hanya dengan tulisan. Saya tidak sempat merekamnya.

Pucuk dicinta ulam tiba. Sol sepatu rusak, tukang sol sepatu datang. Maka saya memanggilnya. “Pak, minta tolong, sol saya rusak,” begitu kira-kira obrolan kami. Lalu si tukang sol pun membuka tasnya, mengeluarkan alat jahit, lem, jarum, pisau, gunting. Maka didandanilah sepatu yang saya beli setahun lalu itu. Saya menunggu sampai selesai sambil mengajaknya ngobrol. Sekitar limabelas menit kemudian semuanya rampung. Kerja yang cukup berat dan teliti. Kalau saya disuruh mengerjakan sendiri tentu saya tidak bisa. Nah, ketika saya tanya berapa biayanya, si bapak tukan sol mematok harga Rp.10.000,- saja. Saya agak kaget, sebenarnya saya sudah menyiapakn dua kali lipat dari harga yang dia minta.

Sejenak saya berpikir, ternyata susah juga cari uang. Bayangkan, berkeliling perumahan, teriak-teriak, menekuni sesuatu yang pengerjaannya detail, dan ia hanya meminta bayaran seharga itu. Bayaran yang sangat tak seberapa dibanding konsumsi rokok sebungkus, paket internet atau pulsa sms dan telpon kita sehari-hari. Ah, saya kok suka berlebihan ya. Mungkin memang begitu tarifnya, atau memang begitu pantasnya. Saya juga tak paham. Ya sudah saya bayar aja. Jadi miris aja membayangkan berapa pengeluaran dan pemborosan saya setiap harinya. Hmmmm. Tapi tentu saja saya berharap si bapak tadi senang dan menikmati pekerjaannya. Seperti saya menikmati pekerjaan saya sendiri. Bukankah kadang kita tak butuh apa-apa dari sebuah pekerjaan, selain rasa lega sebab pekerjaan kita rampung. Atau beberapa orang yang melakukan kerja sekaligus hobi malah merasa tidak nyaman kalau tak melakukan kerjanya itu? Bersyukurlah orang yang bahagia dengan pekerjaannya. Saya jadi ingat sebuah kutipan dari Karl Max: “Keterasingan dalam pekerjaan adalah dasar segala keterasingan manusia”

Nah, ini saya potret si bapak sol dengan kamera HP seadanya, sekadar sebagai dokumantasi pribadi saya aja. Kalau Tuan Puan Pembaca berkenan, boleh dilihat dan diamati. Selamat menikmati pekerjaan Anda. Semoga semua senang dan bahagia. [IB]