Aku Ingin Bermain, Tapi di Luar Hujan!

Beberapa waktu lalu Rudi sakit parah dan akhirnya harus dibawa ke dokter. 5 hari lamanya Rudi mendekam dalam kandang, kakinya dinfus dan ia harus diterapi minum obat setiap harinya. Hari-hari yang melelahkan bagi Rudi, si kucing kecil yang periang. Sepulang dari rumah sakit, Rudi ingin bermain. Tapi di luar hujan.

 

 

Menulis Adalah Melupakan Kata-Kata

Minggu tanggal 18 November lalu saya mendatangi sebuah panti asuhan di daerah Sleman Jogjakarta. Persisnya di Dusun Ngemplak di Panti Asuhan sekaligus Pondok Pesantrean Al-Mujib. Panti tersebut menampung lebih dari empat puluh anak anak asuh yang sekaligus menjadi santri. Di sanalah saya mengisi sebuah pelatihan menulis, atau tempatnya bincang dan berbagi tentang dunia tulis-menulis. Saya di minta oleh teman-teman yang kebetulan KKN dan membantu mengurus panti tersebut.

Beberapa hari sebelum acara, saya sudah menyiapkan materi untuk bahan obrolan. Saya membuat sebuah mini magz atau sebut saja zine dengan judul “Beguru pada Penulis Dunia”, isinya tentu saja bagaimana menulis, membuat kalimat yang bagus, menarik minat pembaca, dan publikasi. Tapi sehari sebelum acara dimulai, saya tahu, saya membuat sebuah zine yang salah. Lanjutkan membaca

Ode untuk Almarhum Ufo

Pagi ini saya mendapat kabar tentang UFO yang tewas di pos ronda. Sedih sekali rasanya. Tapi toh tak ada yang perlu disedihkan. Ufo memilih pergi sendiri. Sendirian. ~Sebuah Catatan di HP Saat Idul Fitri 2012.

Ufo datang lebih dari setahun yang lalu. Sekitar bulan Maret tahun 2011. Malam dingin di musim hujan. Ia datang tiba-tiba. Sebab kedatangan tiba-tiba itulah saya memberinya nama Ufo. Merujuk pada unidetificated Object. Nama ini mungkin aneh, apalagi untuk seekor kucing kecil nyaris putih polos yang kira-kira berusia tiga bulan waktu itu.

Ufo datang malam itu, masuk lewat pintu depan yang terbuka. Matanya nyalang namun malu menatap mataku. Kami berpandangan agak lama. Sejak itulah saya tahu, ia suka padaku. “Hei, sini…”  Aku memanggilnya. Ia mendekat. Kututup pintu agar ia tak lari. Lalu aku bergegas mencarikannya makanan di dapur. Makanan sembarangan dan seadanya. Ia menolak. Sebuah perkenalan yang tak begitu penting rupanya bagi si kucing ini.

Malam itu Ufo tidur di ruang depan, bersama buku-buku dekat rak besar koleksi bukuku. Aku khawatir ia akan berak atau kencing, sebab tentulah ia tak paham benar denah rumah, ke mana ia harus keluar, di mana pasir untuk pipis dan di mana makanan aku sediakan.

Bangun pagi-pagi, aku menemukan Ufo sudah kencing di dekat buku. Aih, baunya menyengat sekali. Aku tak menyalahkannya, aku pel sampai bersih. Sukurlah buku yang ia pipisi adalah buku-buku baru yang belum dibuka plastiknya. Buku aman dan Ufo belum kena damprat. Lanjutkan membaca

November yang Basah, Desember yang Lembab

November yang basah telah usai, dan inilah aku, aku yang akan menghadap pada bulan di ujung tahun.

Seperti biasa, kita akan merutuki waktu yang selalu terasa berlalu cepat. Dan aku, adalah orang yang selalu merasa banyak sekali telah tertinggal. Tertinggal oleh laju waktu, tertinggal banyak jejak, tertinggal oleh kenangan dan tertinggal ratusan harapan. Bagaimana harus kuceritakan padamu? Adakah bahasa yang layak, adakah kalimat yang jangkau? Lihatlah, inilah aku: manusia yang kehilangan diri. Manusia yang berjalan menyusuri malam yang patah hati, dan hari-hari yang basah oleh harapan! Seperti November yang basah, Desember yang lembab, dan tahun-tahun yang akan segera dijelang banyak orang.

Di luar, seperti biasa, hujan membasahi Desember yang lembab. Orang-orang berkejaran menarik jemuran, membawanya masuk rumah, membiarkannya berangin-angin di ruang tengah. Mereka akan segera berkumpul. Di meja ada teko dan cangkir-cangkir teh hangat. Mereka lalu menyalakan televisi, menertawai mimpi, menghiba pada iklan-iklan. Dan begitulah, aku tetap di simpang jalan ini, berteduh sembari menghimpun tenaga. Tapi tak pernah lepas dari kerinduan.

Desember yang lembab, meneteskan hujan bercampur kenangan. Sementara aku, hanya bisa mengigaumu dalam rasa kehilangan yang makin dalam. Lanjutkan membaca

Kafe: Manusia Pejalan

Aku sedang duduk di sebuah meja kafe. Setengah batang rokok di tangan akan habis dalam dua atau tiga kali hisap lagi, dan aku tak ingin segera menghabiskannya.

Orang-orang di sekelilingku, mereka berbicara masing-masing, dalam topik yang asing, suara yang samar dan tak ingin aku ketahui. Apa yang harus kulakukan di tengah bising dan hiruk mereka ini? Buku? Beberapa lembar baru saja aku mulai, tapi begitulah, aku adalah seorang pembosan. Kuhisap lagi setengah rokokku, sisa dua hisapan lagi. Sementara kopi di gelas putih di atas mejaku akan segera tandas dalam satu atau dua teguk. Aku tidak ingin beranjak. Aku tidak ingin mengakhiri duduk sore di kafe ini. Kukeluarkan biskuit bekal jalan-jalanku dari dalam tas. Kunikmati sendirian. Kuhisap lagi hisapan terakhir sebelum hisapan penghabisan.

Apa yang pantas dirindukan oleh aku, seorang pejalan jauh, selain nama-nama kota, belokan jalan dan wajah-wajah asing manusia yang kutemui dalam perjalanan. Hidupku dari hotel ke hotel murah pinggir kota, tepi pantai, atau losmen-losmen dekat terminal singgah, stasiun atau pelabuhan. Kekasih? Jangan kau tanya! Aku banyak menyimpan cinta, tapi cinta yang sebatas harap. Aku lelaki pergi, yang tak tahu dan selalu ragu untuk mengurai lalu menyimpan cinta. Adakah cinta yang pantas untuk seorang pejalan abadi layaknya aku ini? Adakah satu saja nama yang abadi untuk seorang lelaki pergi?

Ini adalah hisapan rokok terakhir. Kututup bukuku dan kumasukkan dalam tas, biar kubaca lagi nanti ketika aku ingin. Kopiku juga sudah tegukan terakhir. Cepat sekali si waktu. Adakah memang yang bisa menghambat laju waktu? Kopi yang mendingin dan akan tandas, rokok yang sudah habis? Ah, waktu. Jika aku punya banyak uang, ingin rasanya membeli waktu. Biar kusimpan sendiri, kupakai semauku.

Sore mulai turun. Daun bringin di samping kafe telah berhenti berguguran, sebab panas dan matahari harus berpindah ke belahan dunia lain. Kubayar segelas kopi, lalu kulanjutkan perjalanan. Aku lelaki pergi, manusia pejalan, bahasaku kaki dan rumahku jalan.

Jogjakarta, November 2012

*Tulisan ini pernah saya posting di blog yang lama. www.sketsabajang.blogspot.com/ Sebab pindah ke blog ini, beberapa tulisan lama saya muat kembali di sini. Sebagai dokumentasi, juga pengingat bagi saya sendiri.

 

PANTAI PINK: Ceceran Bahan Bangunan Surga di Lombok Selatan

Muara di dekat Pantai Rambang. Di sana kami istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Obyek wisata paling terkenal di Lombok Timur barangkali adalah Gunung Rinjani, sebab di Sembalun Lawang yang terletak di kabupaten inilah jalan masuk menuju puncak bagi pendaki Rinjani berada. Selain itu, sepanjang jalan menuju Sembalun akan banyak ditemui  plang menuju air terjun, mata air, kolam renang, pemandian dan wisata air lainnya. Sebut saja Otak Kokoq, Lemor, Joben, Pemandian Pesanggrahan sebagai contoh wisata air yang ada di sana. Tapi kali ini, perjalanan saya adalah menyusur pantai sepanjang jalur timur ke selatan Lombok, bukan wisata air tawar, tapi air asin, laut dan pantai.

Kali ini saya sebagai tuan rumah membawa banyak sekali tamu, teman kantor dan teman kampus yang sudah lama sekali merencanakan perjalanan ke Lombok. Tiga orang sudah melanjutkan perjalanan ke Bali, usai mereka berlibur bersama di Gili Trawangan Lombok Barat. Kali ini, bersama lima teman lainnya, saya menyiapkan sepeda motor untuk berangkat. Maklum, jalur yang ditempuh lumayan akan panjang. Tak ada jeep, motor matic dan bebekpun jadi!

Usai sarapan makan tradisional dari pasar dekat terminal Pancor, kami pun melajukan sepeda motor kami. Perjalanan yang sempat terhenti akibat ban bocor sempat mencemaskan. Perjalan akan jauh dan jalan yang dilalui akan lama; berpasir, berdebu dan berbatu. Tapi karena tekad yang sudah membara, kami pasrahkan semuanya pada tukang tambal ban dan bensin eceran yang semoga banyak kami temui di jalan nanti.

Perjalanan dimulai, melalui kota Selong, tembus ke Klayu dan melewati Tanjung, kami melewati Pantai Suryawangi, Pantai Labuhan Haji dan Pantai Rambang. Di Rambang, sebuah kawasan pantai yang sebagiannya dipakai sebagai landasan udara bagi Angkatan Udara, kami sempat singgah. Gersang dan panas memang. Namun pantai yang bersih, tidak begitu bergelombang membuat kami menyempatkan istirahat dan menikmati suasana di sana. Inilah Rambang, sebuah pantai dengan beberapa pohon bakau dan karang-karang di ujungnya. Pasir putih dan hitam agak tercampur. Pohon-pohon meranggas karena panas. Kami minum air dari botol yang kami bawa dan mengambil foto untuk bernarsis ria sejenak. Berfoto di muara yang mirip danau kecil dekat pantai. Setidaknya nanti bisa dipajang di dinding facebook atau sekadar untuk membuat iri teman yang tak ikut perjalanan ke Lombok. Lanjutkan membaca

Tidak Ditemukan Bidang.