November yang Basah, Desember yang Lembab

November yang basah telah usai, dan inilah aku, aku yang akan menghadap pada bulan di ujung tahun.

Seperti biasa, kita akan merutuki waktu yang selalu terasa berlalu cepat. Dan aku, adalah orang yang selalu merasa banyak sekali telah tertinggal. Tertinggal oleh laju waktu, tertinggal banyak jejak, tertinggal oleh kenangan dan tertinggal ratusan harapan. Bagaimana harus kuceritakan padamu? Adakah bahasa yang layak, adakah kalimat yang jangkau? Lihatlah, inilah aku: manusia yang kehilangan diri. Manusia yang berjalan menyusuri malam yang patah hati, dan hari-hari yang basah oleh harapan! Seperti November yang basah, Desember yang lembab, dan tahun-tahun yang akan segera dijelang banyak orang.

Di luar, seperti biasa, hujan membasahi Desember yang lembab. Orang-orang berkejaran menarik jemuran, membawanya masuk rumah, membiarkannya berangin-angin di ruang tengah. Mereka akan segera berkumpul. Di meja ada teko dan cangkir-cangkir teh hangat. Mereka lalu menyalakan televisi, menertawai mimpi, menghiba pada iklan-iklan. Dan begitulah, aku tetap di simpang jalan ini, berteduh sembari menghimpun tenaga. Tapi tak pernah lepas dari kerinduan.

Desember yang lembab, meneteskan hujan bercampur kenangan. Sementara aku, hanya bisa mengigaumu dalam rasa kehilangan yang makin dalam.

Andai saja jarak bisa kuhitung. Akan kuhitung semuanya, biar kutagih untuk kita bayar dengan kerinduan saat tiba datangnya pertemuan! Tapi, adakah yang bisa menghitung jarak kehilangan? Panjang harapan dan jauhnya kerinduan? Ah, Aria. Telah banyak cerita aku tuliskan atasmu yang hilang dan kisah atas kepergianku yang malang.

Tak tahukah kau, kafe yang kerap kita datangi telah empat kali berubah pemilik, empat kali berubah menu dan delapan musim juga aku kehilanganmu. Kapal-kapal telah pergi, berlalu jauh. Rumah semakin jauh, dan jarak kaki kita semakin panjang. Apalagi yang lebih menyakitkan selain perpisahan, jarak dan masa lau, juga kerinduan yang tak bisa diselam?

Banyak sekali kalimat ratapan aku tulis di jalan-jalan. Banyak sekali kalimat putus asa aku coret di buku harian. Tapi apa hasilnya? aku masih saja kehilangan!

Tahun baru akan segera datang. Orang-orang telah memasang kalender-kalender baru, tanggalan-tanggalan lama akan segera dicopot. Lalu, tahun-tahun lama akan segera dilupakan. Sementara aku, masihkan harus tetap kehilanganmu?

Malam semakin dingin, November yang basah telah aku lalui tanpamu, begitu juga Desember yang lembab ini. Aku masih sendiri di sini.

Jogjakarta, 7 Desember 2010

**Tulisan ini pernah saya posting di blog yang lama. www.sketsabajang.blogspot.com/ Sebab pindah ke blog ini, beberapa tulisan lama saya muat kembali di sini. Sebagai dokumentasi, juga pengingat bagi saya sendiri. 

Comments

Komentar

  1. Steven mengatakan:

    I see a lot of interesting articles on your blog. You have to spend a lot of time writing, i know how to save
    you a lot of work, there is a tool that creates unique, SEO friendly posts in couple of
    minutes, just search in google – k2 unlimited content