Menulis Adalah Melupakan Kata-Kata

Minggu tanggal 18 November lalu saya mendatangi sebuah panti asuhan di daerah Sleman Jogjakarta. Persisnya di Dusun Ngemplak di Panti Asuhan sekaligus Pondok Pesantrean Al-Mujib. Panti tersebut menampung lebih dari empat puluh anak anak asuh yang sekaligus menjadi santri. Di sanalah saya mengisi sebuah pelatihan menulis, atau tempatnya bincang dan berbagi tentang dunia tulis-menulis. Saya di minta oleh teman-teman yang kebetulan KKN dan membantu mengurus panti tersebut.

Beberapa hari sebelum acara, saya sudah menyiapkan materi untuk bahan obrolan. Saya membuat sebuah mini magz atau sebut saja zine dengan judul “Beguru pada Penulis Dunia”, isinya tentu saja bagaimana menulis, membuat kalimat yang bagus, menarik minat pembaca, dan publikasi. Tapi sehari sebelum acara dimulai, saya tahu, saya membuat sebuah zine yang salah.Saya baru tahu kalau rentang usia peserta ternyata sangat beragam. Ada yang masih sepuluh tahun, ada pula yang kuliah semester awal. Agak kaget dan bingung juga bagaimana mengkondisikan cara bicara, materi dan model becandaan yang pas untuk mereka. Walhasil, daripada bingung di depan, saya melakukan improvisasi dengan mengajak mereka bermain dengan kata, ide dan kalimat.

Saya bersama teman-teman Independent School (sebuah sekolah gratis yang saya dirikan dan merupakan bagian dari Indie Book Corner) biasanya mengisi diskusi di kalangan remaja dengan rentang usia SMA hingga Perguruan Tinggi. Biasanya usia mereka berkisar antara 16-25 tahun. Biasanya saya mengajak diskusi peserta pelatihan dengan kondisi, ruang dan usia yang relatif sama. Peserta SMA dengan anak SMA lainnya, atau khusus kelas untuk anak kuliah. Tapi kali ini sangat berbeda. Usia beragam, jenjang pendidikan beragam membuat saya harus menyikapinya dengan pola komunikasi yang tak bisa diseragamkan.

Dari sebuah zine setebal 12 halaman, saya mencoba memasuki dunia mereka yang beragam tersebut. Saya mencoba mengajak mereka berinteraksi, menanyakan apa keluhan saat membuat kalimat atau tulisan. Selanjutnya, saya meyakinkan mereka bahwa mereka bisa menulis dengan metode-metode permainan yang saya lakukan mendadak di lokasi.

Dalam interaksi pertama, usai berkenalan, saya meminta peserta untuk menyebutkan kata apa saja yang mereka mau. Sepuluh kata saja. Dari sepuluh kata itulah saya meminta mereka membentuk kalimat dan merangkainya menjadi paragraf utuh. Saya juga menggunakan model sport jantung, tiga menit atau lima menit saja untuk menulis. Peserta diminta menulis dengan hitungan mundur. Peserta terbaik dan tercepat tak lupa saya berikan kejutan hadiah berupa beberapa buku yang sudah saya siapkan sebelumnya.

Dibandingkan dengan remaja usia tujuh belas tahun ke atas, bocah-bocah SD yang berusia sembilan sampai tiga belas tahun justru lebih cepat dan merasa lebih bebas berekspresi. Anak-anak tak tanggung tanggung membuat kalimat yang aneh dan mengejutkan saya. Sebagai contoh, seorang anak usia sepuluh tahun malah bisa membuat kalimat menakjubkan: “Seorang ibu memiliki anak tiri yang suka ke pantai. Anak tiri itu bernama Sigit. Sigit suka bermain, rakus dan nakal. Sehingga ibu tirinya nya memanggil dia dengan sebutan Predator!“ Wow! Kalimat ini luar biasa bagi saya. Saya sangat terkesima dengan kalimat yang dibuat oleh anak kecil tersebut. Berbeda dengan peserta remaja yang cenderung menulis kalimat biasa; seputar masalah cinta, anak yang suka jalan di pantai, ibu tiri yang jahat dan contoh biasa lainnya.

Saya memang tak bisa memberi diskusi banyak pada acara tersebut. Kondisi peserta yang sangat beragam membuat saya harus menyaring mana materi yang akan saya sampaikan dan mana materi yang diabaikan dan dilupakan saja. Kali ini cukup hanya belajar membuat kalimat, menggali potensi, menangkap ide, produksi tulisan dengan cara masing-masing, kalimat efektif dan sedikit metode dalam publikasi.

Membaca kalimat yang dibuat anak kecil tadi, saya jadi teringat sebuah kutipan menarik dari Afrizal Malna: “Menulis itu seperti hidup di luar nama-nama.” Juga sebuah pernyataanya yang unik tentang menulis bagi Afrizal adalah sebuah upaya untuk melupakan kata-kata.

Dalam dunia imajinasi anak kecil tadi, barangkali ia tak pernah memikirkan bagaimana kalimat menjadi masuk akal, manis, enak dibaca atau menjadi mirip dengan tulisan kebanyakan orang. Bukankah tidak lumrah jika seorang ibu menyebut atau memanggil anaknya dengan nama predator? Haha. Afrizal barangkali memaknai menulis sebagai sebuah upaya ‘bebas menjadi’ juga ‘bebas mencipta’. Bebas menjadi anak-anak kembali, bebas berjalan dalam dunia kata yang ingin ia tolak dan lupakan saat berkarya. Juga bebas mencipta produk tulisan dari bahan apa saja yang ia kehendaki.

Bagi saya sendiri, dalam menulis seseorang mestinya berani. Sebab menulis adalah pekerjaan merdeka dengan proses yang sangat pribadi. Pada kalimat-kalimat yang dibuat peserta tadi, saya banyak belajar, bahwa menulis adalah membebaskan imajinasi, menabrak apa saja yang selama ini dianggap tabu atau tak biasa bagi orang kebanyakan. Kelak, seorang penulis yang serius akan menemukan tangan dan kepalanya akan jauh membawa penulis tersebut ke banyak hal yang asing dan lain. Menulis akan membawa si penulis bertualang dalam rimba imaji dan kata-kata yang bahkan mungkin tak pernah ia bayangkan sebelumnya. @irwanbajang

Comments