Ode untuk Almarhum Ufo

Pagi ini saya mendapat kabar tentang UFO yang tewas di pos ronda. Sedih sekali rasanya. Tapi toh tak ada yang perlu disedihkan. Ufo memilih pergi sendiri. Sendirian. ~Sebuah Catatan di HP Saat Idul Fitri 2012.

Ufo datang lebih dari setahun yang lalu. Sekitar bulan Maret tahun 2011. Malam dingin di musim hujan. Ia datang tiba-tiba. Sebab kedatangan tiba-tiba itulah saya memberinya nama Ufo. Merujuk pada unidetificated Object. Nama ini mungkin aneh, apalagi untuk seekor kucing kecil nyaris putih polos yang kira-kira berusia tiga bulan waktu itu.

Ufo datang malam itu, masuk lewat pintu depan yang terbuka. Matanya nyalang namun malu menatap mataku. Kami berpandangan agak lama. Sejak itulah saya tahu, ia suka padaku. “Hei, sini…”  Aku memanggilnya. Ia mendekat. Kututup pintu agar ia tak lari. Lalu aku bergegas mencarikannya makanan di dapur. Makanan sembarangan dan seadanya. Ia menolak. Sebuah perkenalan yang tak begitu penting rupanya bagi si kucing ini.

Malam itu Ufo tidur di ruang depan, bersama buku-buku dekat rak besar koleksi bukuku. Aku khawatir ia akan berak atau kencing, sebab tentulah ia tak paham benar denah rumah, ke mana ia harus keluar, di mana pasir untuk pipis dan di mana makanan aku sediakan.

Bangun pagi-pagi, aku menemukan Ufo sudah kencing di dekat buku. Aih, baunya menyengat sekali. Aku tak menyalahkannya, aku pel sampai bersih. Sukurlah buku yang ia pipisi adalah buku-buku baru yang belum dibuka plastiknya. Buku aman dan Ufo belum kena damprat.

Saya bingung bagaimana memberi makan Ufo. Dulu waktu kecil nenek saya pernah punya kucing. Warnanya belang putih dan hitam. (Eh, loreng barangkali lebih tepat untuk menyebutnya.) Apa sajalah, yang jelas kucing itu kucing kampung. Nenek sepertinya tak pernah memberi nama dan aku tak terlalu akrab juga dengannya. Meskipun ketika menginap di rumah nenek saat akhir pekan, aku sering tidur bertiga; aku, si kucing dan nenek.

Kucing itu hilang dan kami tak pernah tahu kapan ia hilang. Nenek juga tidak tahu. Kata nenek, jika kucing meninggal, ia akan mencari tempat yang jauh dari majikannya. Ke hutan atau membuang diri di kali. Membiarkan dirinya mati tanpa diketahui.  Kucing itu mungkin mati, aku dan nenek tak pernah sedih.  Begitulah kucing, kucing pertama yang aku kenal.

Waktu bocah, aku juga pernah punya kucing. Agak lupa berapa lama memeliharanya. Aku hanya ingat si kucing itu mati dan ibuku menganjurkan untuk menanam di awah pohon pisang. Nanti pisangnya akan manis, kata ibuku, semanis kucing ini. Aku ingat, saat itu aku menggali tanah dengan pisau, lalu membungkus kucing itu dengan kain bekas dan menguburnya, memberinya sebuah pusara dari batu hitam. Tiap hari aku menyiraminya, sampai kemudian pusara itu hilang dan aku sudah lupa dengan si kucing itu. Oh ya, waktu itu aku masih berusia sekitar lima atau tujuh tahun. Aku lupa.

Sebuah pepatah inggris mengatakan There are no ordinary cats. Mungkin maksudnya semua kucing istimewa, tak ada kucing yang biasa-biasa aja. Setelah berteman dengan Ufo, aku tahu pepatah itu benar adanya.

Aku tinggal di sebuah rumah yang sekaligus kujadikan kantor. Di sana setiap hari saya dan teman-teman bekerja. Ufo, demikinlah kami memberinya nama, tak ada maskud lain selain hanya ingin memberinya nama. Sebab ia datang tiba-tiba, maka kuberi nama Ufo. Itu kalimat yang aku tulis dalam sebuah cerpen dengan judul sesuai nama kucing tersebut.

Pagi tadi saya mendengar berita tentang Ufo, katanya ia meninggal di pos ronda dan mayatnya dibuang di sungai. Sedih sekali rasanya.

Belakangan ini Ufo memang jarang sekali pulang ke rumah. “Kebanyakan main di jalan.” Ia tampaknya lebih senang bermain di tanah, tidur di rumput rumput kering, tidak seperti dulu saat ia masih rajin datang ke kamarku. Lari ke depan pintu saat mendengar suara motorku pulang. dulu ia juga sering tidur bersamaku. Ia menjadi kucing yang lucu dan menghibur kami yang bekerja. Ufo, Ufo, Ufo.

Ufo memiliki kulit bulu putih bersih, hanya sedikit hitam saja di kepalanya. Sebagai kucing jantan, ia tak bisa dibilang sebagai kucing yang tampan. Bahkan kami sering mengejeknya sebagai kucing anggota SMASH.  Agak melambai. Buntutnya panjang. Benar-benar kurang jantan. Hahaha

Aku ingat saat Ufo mulai beranjak dewasa. Ufo pertama kali menangkap cicak namun tidak langsung dimakan. Ia hanya memainkan cicak itu di kakinya. Menyiksanya sebagai binatang pertama uji coba kejantanan dan keahliannya berburu.  Lalu ia dapat kadal di depan rumah, ia perlakukan sama juga. Kadal itu dilempar-lempar rendah dengan kakinya, ia tendang, dorong dan mainkan. Ufo melemparnya ke tembok dan dengan gaya harimau kelaparan ia belajar menerkam. Bahkan ketika dapat tikus kali pertama, tikus itu diperlakukan sama seperti binatang-binatang malang sebelumnya tadi. Tikus, Kadal dan Cicak itu mati, namun Ufo tak memakannya. Membirakannya tergeletak begitu saja, sampai kami datang membersihkan. Ah Ufo, kalau ingat itu, aku suka senyum sendiri. Betapa lugunya Ufo.

Aku juga ingat saat Ufo beranjak dewasa dan ingin belajar kawin. Suaranya yang agak parau dan kecil membuat ia tak terlihat jantan. Auuung…. Auuung, begitu suaranya. Bukan meeeeooong… seperti kucing jantan kebanyakan. Ia mendekati ceweknya, Si Belang anak tetangga. Tapi ketika cewek sudah terlihat horny dan membuka diri, Ufo malah ragu dan pergi. Apakah Ufo enjakulasi dini? Apakah Ufo butuh ke On Clinic lalu bernyanyi untuk ditertawakan? Aih Ufo. Ia harus nonton serial film Californication atau sedikit film porno Jepang, di mana percintaan kelamin cepat sekali terjadi.

Begitulah, Ufo juga kadang suka sekali caper kalau ada tamu. Terutama kalau tamu perempuan datang ke kantor. Ufo akan datang, lalu pura-pura melintas dengan gaya keren, bolak-balik beberapa kali di tengah gerombolan orang yang mengobrol. Biasanya ia menggaruk-garukkan kepala di kaki orang. Ufo manja dan suka cari perhatian!

Ia juga suka datang kalau kita sedang kumpul makan. Ia tak suka makanan apa pun, termasuk ikan dan daging, kecuali minum susu. Saya sering membayangkan si Ufo adalah reinkarnasi dari seorang pemuda pemalu yang patah hati di zaman kerajaan-kerajaan dulu: Suka mengintip dan cari perhatian, tapi selalu gagal dalam bercinta.

Kini Ufo sudah pergi meninggal banyak sekali cerita, kenakalan dan keluguannya. Juga tentu saja dua anak nakal di luar nikah! Anak-anaknya menjadi kucing kampung liar yang suka mengobrak-abrik isi dapur.

Aku tidak ingin bersedih. Kematian mungkin akan membebaskan Ufo dari segalanya.

Ufo mungkin akan jadi malaikat seperti dalam cerpen yang pernah aku tulis. Atau Ufo akan menjadi air, atau hidup di perut perut ikan yang menyantap tubuhnya di sungai. Atau ia akan menjadi nutrisi bagi pohon. Atau air sungai Gajah Wong dekat rumah akan menjadi air PDAM yang kita minum. Atau mayatnya hanyut, lapuk dalam air, berpencar dan terus mengalir ke Parang Tritis.  Pantai Selatan. Menuju Samudera Hindia dan menyebar ke seluruh dunia.

Ah Ufo! Selamat berlayar. Sampai jumpa pada suatu masa yang tak kita ketahui.

Aku merindukanmu. Kami semua merindukanmu. Puuus, Ufo… Puuus…

Jogjakarta, Agustus 2012 

Comments