PANTAI PINK: Ceceran Bahan Bangunan Surga di Lombok Selatan

Muara di dekat Pantai Rambang. Di sana kami istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Obyek wisata paling terkenal di Lombok Timur barangkali adalah Gunung Rinjani, sebab di Sembalun Lawang yang terletak di kabupaten inilah jalan masuk menuju puncak bagi pendaki Rinjani berada. Selain itu, sepanjang jalan menuju Sembalun akan banyak ditemui  plang menuju air terjun, mata air, kolam renang, pemandian dan wisata air lainnya. Sebut saja Otak Kokoq, Lemor, Joben, Pemandian Pesanggrahan sebagai contoh wisata air yang ada di sana. Tapi kali ini, perjalanan saya adalah menyusur pantai sepanjang jalur timur ke selatan Lombok, bukan wisata air tawar, tapi air asin, laut dan pantai.

Kali ini saya sebagai tuan rumah membawa banyak sekali tamu, teman kantor dan teman kampus yang sudah lama sekali merencanakan perjalanan ke Lombok. Tiga orang sudah melanjutkan perjalanan ke Bali, usai mereka berlibur bersama di Gili Trawangan Lombok Barat. Kali ini, bersama lima teman lainnya, saya menyiapkan sepeda motor untuk berangkat. Maklum, jalur yang ditempuh lumayan akan panjang. Tak ada jeep, motor matic dan bebekpun jadi!

Usai sarapan makan tradisional dari pasar dekat terminal Pancor, kami pun melajukan sepeda motor kami. Perjalanan yang sempat terhenti akibat ban bocor sempat mencemaskan. Perjalan akan jauh dan jalan yang dilalui akan lama; berpasir, berdebu dan berbatu. Tapi karena tekad yang sudah membara, kami pasrahkan semuanya pada tukang tambal ban dan bensin eceran yang semoga banyak kami temui di jalan nanti.

Perjalanan dimulai, melalui kota Selong, tembus ke Klayu dan melewati Tanjung, kami melewati Pantai Suryawangi, Pantai Labuhan Haji dan Pantai Rambang. Di Rambang, sebuah kawasan pantai yang sebagiannya dipakai sebagai landasan udara bagi Angkatan Udara, kami sempat singgah. Gersang dan panas memang. Namun pantai yang bersih, tidak begitu bergelombang membuat kami menyempatkan istirahat dan menikmati suasana di sana. Inilah Rambang, sebuah pantai dengan beberapa pohon bakau dan karang-karang di ujungnya. Pasir putih dan hitam agak tercampur. Pohon-pohon meranggas karena panas. Kami minum air dari botol yang kami bawa dan mengambil foto untuk bernarsis ria sejenak. Berfoto di muara yang mirip danau kecil dekat pantai. Setidaknya nanti bisa dipajang di dinding facebook atau sekadar untuk membuat iri teman yang tak ikut perjalanan ke Lombok.Sejenak saja di sana, karena perjalanan masih jauh, kami pun berangkat, meyusuri jalan yang terlihat baru diaspal, membentang dari pantai-pantai Lombok Timur menuju Lombok bagian selatan. Hampir putus asa, sebab beberapa pantai yang kami temui sepanjang jalan itu belum satu pun yang merujuk Pantai Pink, pantai yang banyak dilihat calon pengunjung ini dari mention-mention di twitter dan cerita teman-teman yang pernah berkunjung ke sana. Saya bahkan sebagai penduduk Lombok Timur pun tidak pernah berkunjung. Dari beberapa info, patokannya adalah: pantai ini dekat Pantai Surga, Pantai Cemara dan Tanjung Ringgit. Beberapa nama pantai itu memang cukup familiar dan saya tahu jalurnya. Tapi karena Pantai Pink relatif menjadi tujuan yang baru, tak banyak info yang bisa didapatkan, bahkan di plang-plang jalan yang menuju pantai lain, Pantai Pink tidak ikut disertakan. Menurut penduduk yang kami jumpai di jalan, Pantai Pink bernama asli Pantai Tangsi, namun karena pasir pantainya yang berwarna pink, maka tenarlah ia disebut sebagai Pantai Pink. Okelah, apapun nama pantainya, kami lanjutkan saja perjalanan.

Sepanjang jalan terbentang perkebunan yang menguarkan aroma tembakau khas Lombok, juga beberapa pantai di kawasan panas yang dijadikan sebagai tempat pembuatan garam. Di sana kita bisa menyaksikan tumbuhan tembakau yang menghijau, atau tembakau-tembakau yang kering menguning dijejer dijemur di pinggir jalan. Lokasi belum juga ketemu, dan angin masih meniupkan aroma bacin dan asin laut. Beberapa kali kami bertanya, tapi jarak sepertinya masih jauh.

“Masih jauh, terus saja ikuti jalan.” Begitulah rata-rata jawaban yang diberikan ketika kami singgah bertanya. Kami hampir frustasi. Kami berbelok ke kiri dari jalan di pasar Kruak setelah pasar ikan di dermaga Labuhan Tanjung Luar yang sempat kami kunjungi. Baiklah, kita beli ikan sepulangnya aja, begitu kami bersepakat lalu menancap gas lagi menuju Pantai Pink.

Tiba di kecamatan Jerowaru, kami dihadapkan pada jalan batu, pasir dan debu. Inilah jalan panjang  menuju Pantai Pink seperti yang diterangkan warga yang kami jumpai di sepanjang jalan. “Silakan menyebarang sini”, ucap beberapa penduduk yang kami tanyai di jalan.

Jalan yang jelek tak jadi hambatan, kami laju terus, meski sesekali takut tergelincir dan ban pecah sebab tak mungkin ada penolong di daerah itu. Mata juga tak pernah luput dari hajaran pasir dan debu yang diterbangkan oleh kendaraan di depan kami, atau mobil dan motor yang sesakali melintas.

Setengah jam perjalan kami memasuki jalan yang sekelilingnya ditumbuhi pohon sejenis akasia. Pohon yang berderet rindang, rapi, seolah pengawal yang menujuk arah. Monggo, Den, masih terus lagi jalannya, sabar ya. Begitu kira-kira pohon-pohon itu berujar sambil memberi harapan.

Beberapa teman terlihat mulai putus asa dan bad mood, tapi saya percaya, ketika sampai di pantai, kami akan mengobati segala kelelahan dan kecapaian selama di perjalanan. Maka kami akhirnya menemukan plang kecil Pantai Pink, daaaaaaaaaaan, astaga! Kami harus menuruni jalan terjal berdebu untuk sampai pantai itu.

Dengan matic dan sepeda motor bebek, kami paksakan juga turun, sekitar duaratus meter di balik kepulan debu itulah Patai Pink terbentang.

Usai menuruni jalan berdebu menuju Pantai Pink

Jalan menuju Pantai Pink dikelilingi pohon-pohon Akasia

Dengan kaki penuh debu, motor berdebu, kami akhirnya menginjak pantai. Pantai Pink. Pantai yang kami buru sejak hampir dua jam yang lalu.  Memang sepi. Setidaknya hanya dua mobil parkir dan sisanya hanya beberapa motor di sana. Hanya ada satu warung kecil dengan persedian makanan seadanya, soft drink, air mineral dan tentu saja popmie. Jenis makanan yang selalu ada di daerah wisata, terminal dan stasiun.

Sebab kami datang agak siang, maka Pantai Pink memang tidak terlihat terlalu pink. konon kalau datang pagi atau sore, tempias sinar matahari yang agak jingga akan membuat pantai itu terlihat mencolok pink. Tapi memang betul, pantai ini berwarna pink. Berbeda dengan kebanyakan pantai di Lombok atau Indonesia. Koral-Koral berwarna pink yang terhempas ombak melebur dan bersatu bersama pasir. Jumlahnya yang banyak membuat campuran pantainya jadi terlihat pink! Dan benarlah, kelelahan kami di jalan tadi kini terobati. Air sedang surut, kami yang datang bisa langsung menuju tengah pantai, melihat tripang yang sangat banyak jumlahnya, mata air dalam laut yang terlihat unik, karang dan tanaman laut yang bisa dengan mudah diambil atau disaksikan. Juga tentu saja bintang laut yang mengingatkan kami pada Patric si cupu dalam serial kartun  Sponsbob! Hahaha.

***

Langit yang cerah mebuat suasana menjadi terasa segar dan damai. Di bibir pantai terlihat beberapa perahu kecil yang ditambatkan jangkar nelayannya. Karena laut tenang dan nyaris tidak berombak, sementara tebing-tebing dan gili-gili kecil di kejauhan seolah memangil-manggil, maka kami putuskan untuk menyewa perahu. Hasrat berkeliling pantai dengan naik perahu sudah tak bisa ditunda lagi. Dengan bahasa daerah sasak sebagai modal menawar, mencari belas kasih turis lokal, saya coba berkomunikasi dengan nelayan. Kami berenam, semantara perahu kecil ini biasanya hanya mengangkut empat orang dan tak lebih. Takut terbalik, begitu kata pak  nelayan. Dengan modal nekad dan alasan perjalanan jauh, maka saya berhasil membuat deal. Limapuluh ribu rupiah saja untuk berkeliling sepuasnya! Aha, waktunya jadi Jack Sparrow mengelilingi laut di selatan pulau Lombok!

Kami tak henti-hentinya takjub dengan pemandangan laut dan pantai di sekitar Pantai Pink, di balik karang tersembunyi pantai-pantai yang nyaris tak terjamah, tak ada warung tak ada kendaraan parkir. Seolah serpihan surga yang tercecer ketika Tuhan membangunnya untuk orang-orang soleh kelak. Saya membayangkan malaikat yang mengangkut tanah untuk bahan bangunan surga sedikit lengah, tanah itu tercecer, membentuk pantai dan pulau-pulau kecil di daerah yang sedang kami kunjungi ini.

Kami menuju Gili Tiga, gili tak berpenghuni, tak ada manusia atau binatang seperti anjing dan kucing di sana. Hanya ada kami para pendatang yang datang menempuh jarak dan berkali-kali bertanya menuju lokasi ini. Pantai di Gili Tiga berpasir putih pink dengan campuran bebatuan-babatuan kecil berpermukaan halus, nyaman diinjak dan tak membuat lecet kaki. Kami memasuki pulau, naik ke dataran yang agak tinggi dekat gua kecil di tempat itu. Di salah kami berfoto, mengambil foto dengan latar laut, pulau atau tebing yang bisa kami pilih semaunya. Jika saya punya uang barang lima milyar, ingin rasanya membangun rumah di sana, membeli pulau dan satu kapal boat.

Situasi di bibir Pantai Pink. Pasirnya berwarna pink.

Usai berkeliling pulau kecil nan indah dikelilingi laut tenang tak bergelombang itu, kami kembali naik perahu dan berputar di sekitar pantai yang lain. Pantai-pantai yang saya lupa namanya. Sulit rasanya menghapal beberapa nama pantai asing tesebut. Di tengah laut, kami merasa menyesal sebab tak membawa alat snorkling, ingin rasanya nyemplung dan menikmati pemandangan bawah laut yang indah tersebut. Akan nyaman sekali rasanya kalau saya tinggal dua tau tiga hari, membawa alat snorkeling atau diving. Saya pasti akan menikmati surga bawah laut yang tak banyak dilihat orang. Daerah ini terpencil, jauh dari wisatawan yang biasa berkunjung ke tempat-tempat wisata popular.

Bibir pantai di Gili Tiga

Melewati perairan laut yang dingin dan tenang serta jernih, kami bisa menyaksikan ikan-ikan saling berkejaran, bergerombol. Karang laut dan beberapa binatang seperti bintang laut yang ada di dasar laut juga bisa diamati dengan terang. Sembari  menyaksikan juga tebing-tebing dengan air yang surut, beberapa bongkah batu besar di tengah laut, atau pulau-pulau yang tak lebih dari dua puluh lima meter persegi.

Usai itu kami kembali ke Pantai Pink, kami sejenak menikmati kembali pantai, mengusir dahaga dengan minuman lalu berkemas bersiap pulang. Di perjalan pulang, kami berencana mampir di Labuhan Tanjung Luar untuk membeli ikan-ikan yang konon harganya sangat murah. Di sana, konon ikan-ikan dan cumi hanya dijual lima ribu rupiah saja.

Dalam perjalanan pulang, kami menyaksikan matahari berwarna jingga di atas pantai dan perkebunan tembakau. Kami sunset di atas motor masing-masing, sembari saya mengingat sebuah roman berjudul Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma. [IB]

Comments

Home

Komentar

  1. kelilinglombok berkata:

    mantabbb

    #LombokItuIndah

    1. irwanbajang berkata:

      makasih sudah mampir membaca….