Andrea Hirata, Distorsi Sikap dan Informasi

Saya sudah akan beranjak tidur ketika menyiapkan keluar dari akun twitter saya. Namun karena melihat sebuah link yang diposting oleh sebuah akun twitter, saya mengurungkan niatan saya. Penulis Laskar Pelangi Berencana Perkarakan Blogger. Tanpa membuka link itu pun saya bisa menebak, blogger yang dimaksud tentu Damar Juniarto, yang sebelumnya menulis “Pengakuan Internasional Laskar Pelangi: Antara Klaim Andrea Hirata dan Faktanya”. Andrea Hirata si penulis Laskar Pelangi berencana memerkarakan Damar Juniarto, seorang blogger, pemerhati media dan aktivis perbukan. Saya benar-benar tak jadi tidur dan sepertinya saya harus ikut merespons.

Setelah membaca kembali tulisan Damar, saya meyakinkan diri dan mengambil kesimpulan tetap seperti sebelumnya; Damar sama sekali tidak punya pretensi sedikit pun untuk merongrong integritas kepenulisan Andrea Hirata, penulis yang sedang mengampanyekan bukunya yang konon mendapat brand Best Seller di beberapa negara ini.

Damar sama sekali tak terlihat sedang menjadi orang jahat yang menghakimi dan memojokkan si penulis dan karyanya. Saya tak bisa menemukan alasan yang pas mengapa Damar harus dibawa ke meja hijau. Tak ada yang difitnah, tak ada juga yang harus dituntut karena pencemaran nama baik. Miris rasanya ketika membaca berita, seorang penulis akan memerkarakan secara hukum tulisan penulis lain tanpa membela dengan tulisan. Seolah kekuatan tulisan dari profesi menulisnya tak cukup untuk membela diri atau setidaknya melakukan klarifikasi.

Respons untuk sebuah karya adalah hal yang sangat wajar dalam dunia sastra atau dunia tulis-menulis. Sebuah publikasi karya kemudian akan direspons oleh banyak pihak. Dengan memulai sebuah pekerjaan, maka tentunya seseorang harus siap dengan segala konsekuensinya. Tak mungkin hanya akan ada pujian, sebab dengan hanya adanya pujian dan tanpa cemoohan atau apresiasi negatif dari pihak lain, maka sebuah karya tentu tidak akan mengalami dialektika untuk membuktikan bagaimana sebuah karya itu hadir, dibaca, diterima dan bertahan sampai waktu tertentu.

Label “International Best Seller” dengan dasar penetapan yang masih abu-abu, juga statement Andrea tentang sastra Indonesia yang tak kunjung mendunia selama kurun kurang dari seratus tahun sepertinya membuat Damar geli dan membuatnya harus menulis dan memublikasikan tulisannya tersebut.

Pernyataan sensasional pastinya akan mendapat respons dari banyak orang. Respons tak bisa seragam, angkat topi dan tepuk tangan. Ada yang mencibir, ada yang meragukan dan ada pula yang kritis. Nah, Damar sepertinya mengambil posisi kritis. Dan itu sangat wajar. Kewajaran ini tidak perlu dijelaskan di sebuah negara yang kebebasan ekspresinya sudah mendapat jaminan hukum. Terlebih kepada seorang penulis lulusan luar negeri, dengan pekerjaan penulis yang (mungkin) identik dengan rajin membaca, riset dan hal-hal intelektual lainnya.

Lalu kenapa Andrea Hirata harus tersinggung? Padahal, jika membaca dengan jeli, Damar tak punya sedikit pun tujuan untuk menyinggung lewat tulisannya. Saya tidak menemukan satu pun kalimat dalam tulisan Damar yang membahas tulisan Andrea Hirata. Mengejek atau mendiskreditkannya. Pembacaan mestinya terfokus pada apa yang ditulis Damar, yakni klaim internasional Andrea Hirata dan statement tentang 100 tahun sejarah sastra Indonesia tersebut.

Sebenarnya dalam beberapa waktu dan kasus, Andrea Hirata terlihat tidak tegas dan cenderung plin-plan. Kabar yang beredar sebelumnya, buku Andrea Hirata menjadi nominasi sastra terbaik dalam ajang anugerah sastra Jerman, TB Buchawards 2013. Lalu tiba-tiba muncul fakta lain, bahwa bukunya dinominasikan sebagai buku fiksi untuk pariwisata seperti yang diungkapkan Berthold Damshauser, pengajar bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Bonn.

Menurut  Berhold, penghargaan di Jerman untuk novel “Laskar Pelangi” kurang atau tidak bersifat sastra, melainkan “pariwisata”, seperti yang diberitakan di tempo.co 15 Februari lalu. Selain itu, dalam sebuah pemberitaan, Andrea Hirata menolak disebut sastrawan  padahal informasi sebelumnya, bukunya menjadi nomine untuk penghargaan “buku sastra”. Mungkinkah seorang yang bukan sastrawan masuk nominasi penghargaan sastra? Atau kalau Andrea Hirata tak mau disebut sastrawan, kenapa ia membiarkan bukunya masuk sebagai kandidat peraih penghargaan di ajang anugerah sastra?

Penolakan sebutan sastrawan,  forum penghargaan sastra, label sastra terlaris sepanjang sejarah sastra Indonesia (seperti yang pernah terlihat di sampul bukunya) dan beberapa informasi lain yang simpang siur sepertinya memang harus diurai, agar semuanya bernas dan jelas. Maka wajarlah, (sekali lagi sangat wajar) jika distorsi informasi ini menimbulkan polemik dan pertanyaan dari banyak pihak, termasuk oleh Damar.

Melihat track record Damar dalam dunia perbukuan, Damar  tentu tidak punya pretensi untuk menjadikan dirinya penghambat sebuah karya sastra untuk menuju pentas karya sastra dunia. Damar banyak bergiat justru mempromosikan buku banyak penulis, membuat acara talk show online via twitter, youtube dan review buku di komunitas Goodreads. Bukankah beberapa usaha dan kegiatan Damar selama ini yang dikenal sebagai aktivis buku juga tak kalah pentingnya?

Sangat berlebihan rasanya jika menyebut usaha pencarian fakta yang dilakukan Damar lewat tulisannya dianggap sebagai upaya untuk menghalangi dan tidak mengapresiasi usaha dan nama Andrea yang sedang mendunia. Damar mewakili pembaca yang merasakan akibat dari distorsi informasi ini. Pembaca perlu tahu banyak fakta, agar paham, tak terbodohi dan tahu mana info yang benar.  Sungguh tak layak penulis membawa seorang penulis lain ke meja hijau akibat dari tulisan yang notabenenya hanya mencari informasi dan meminta penjelasan. Sejarah sastra kita dipenuhi banyak intrik, kritik dan perseteruan, tapi baru kali ini saya melihat metode penyelesaian yang tidak “tulisan lawan tulisan”.

Klaim Andrea tentang selama seratus tahun tak ada karya anak bangsa yang telah mendunia dan dimulai dengan Best Seller-nya buku Laskar Pelangi seperti yang ditulis Damar dalam artikelnya bisa saja dibalas Andrea dengan tulisan konfirmasinya. Agar klaim ini tidak menjadi bumerang baginya dan dianggap sebagai wujud sikapnya yang berlebihan (kalau tidak megalomaniak) dan buta sastra Indonesia.

Pramoedya, NH Dini, Mangun Wijaya dan beberapa penulis Indonesia lainnya sudah jauh lebih dahulu mendunia. Bahkan diterbitkan oleh penerbit King Penguin yang dianggap sebagai penerbit besar dunia, juga kandidat kuat peraih nobel. Tapi toh tak ada satu pun dari mereka yang pernah mengklaim dengan berlebihan prestasi itu. Beberapa bulan lalu seorang penyair yang saya kenal diundang ke luar negeri, dibahas karyanya dan diterbitkan bukunya tanpa agen melainkan diminta langsung karena prestasi dan idenya. Tapi toh itu bukan hal yang harus selalu disebut, dan dijadikan patokan sebagai capaian. Biarlah dunia yang tahu bagaimana sebuah buku menjadi abadi dibaca oleh pembacanya. Seperti kata Pramoedya, sebuah buku adalah anak rohani yang punya nasib dan usianya masing-masing.

Buku akan menemui dan menyentuh pembacanya dengan atau tapa label Best Seller, pujian endorsement dan atau bahkan makian sekalipun.

Dalam dunia sastra, sudah merupakan hal lumrah sebuah karya ditelisik, dituding, diapresiasi postif atau negatif. Hukum yang berlaku di dalam dunia sastra itu adalah “tulisan dibalas tulisan.” Saya rasa, siapa pun pembaca, penggiat media, blogger atau siapa pun berhak mengemukakan pendapat, menanyakan beberapa hal yang belum jelas dan jadi kegelisahan. Damar, demikian juga dengan pembaca lain, berhak membuat interpretasi tulisan seperti itu, karena posisinya (kalaupun tidak dapat dibilang sebagai kritikus) sebagai pembaca yang mengapresiasi karya.

Jika Andrea merasa tersudutkan, maka tulislah esai yang sebanding. Sangat tidak perlu rasanya mengadakan konferensi pers, merasa diri sudah menjadi penulis dunia dan tak merasa penting untuk membalas tulisan Damar dengan tulisan sendiri.

Ketika Andrea Hirata mengatakan Indonesia butuh kritikus, maka sesungguhnya Andrea Hirata sedang menunjukkan kelemahan pengetahuannya tentang situasi kritik di Indonesia. Ia mungkin tidak jeli melihat beberapa buku kritik sastra yang telah terbit, meskipun dalam jumlah yang belum bisa dibilang memuaskan. Selama tradisi kritik dilandaskan pada bacaan, standar akdemis dan fakta yang ada, maka sebuah tulisan kritik tak punya dosa apa pun untuk dihadapkan pada hadapan hukum positif yang bersifat tuntut-menuntut dan salah atau benar.

Sayang sekali, Andrea seperti menyederai dirinya dengan berlaku demikian. Bukankah di bukunya ia banyak menulis tentang mengedepankan persahabatan, dialog yang baik dan kerukunan. Tapi dalam sebuah mekanisme komunikasi pun ia sudah melakukan jalan pintas; keluar dari jalur komunikasi ala profesi yang ia geluti sebagai penulis.

Damar sama sekali tak mendiskreditkan apalagi menurunkan prestise Andrea sebagai penulis. Tapi Andrea Hiratalah yang melakukan hal tersebut untuk dirinya. Ada ribuan orang berkicau di twitter menentangnya, dan bahkan muncul wacana penggalangan dukungan untuk Damar. Hal ini membuktikan secara gamblang bahwa Damar dibela oleh banyak sekali pembaca, dan pembaca Andrea Hirata tak menginginkan jalur-jalur non-penulisan dilakukan.

Mengabaikan hal itu, Andrea seolah menjelma menjadi sosok yang seolah antikritik dan tak bisa dikonfirmasi lewat tulisan. Seolah apa yang  keluar dari dirinya dan manejemen kepenulisannya (kalau ada) tak patut dipertanyakan ulang apalagi dikritisi. Padahal jika menghadapinya dengan bijak, Andrea bisa meraih simpati pembacanya dengan bereaksi wajar, membalas tulisan dengan tulisan.

Bukankah penulis besar tumbuh bersama kritik, pembaca, apresiasi dan segala dunia di sekelilingnya?

 

Apakah Ada yang Zalim dan Menzalimi?

Jika di awal saya bilang tak ada kalimat yang saya temukan mendiskreditkan integritas Andrea Hirata, saya juga tidak menemukan kalimat yang merendahkan penerbit seperti yang dikatakan Andrea atas tuduhannya pada Damar yang telah pula pula melecehkan Sarah Crichton Books dan begitu banyak penulis bermutu yang telah diterbitkan di penerbit itu.

Menurut Andrea, seorang penulis harus mempertahankan integritas karyanya dan hal itu bersifat sangat prinsip. Okelah. Dalam hal ini saya sepakat. Tapi integritas yang mana dulu? Integritas macam apa yang diganggu Damar?

Merunut pada pernyataan Andrea Hirata dalam pemberitaan rencana untuk memerkarakan Damar, Andrea Hirata berstatement telah memberi dampak yang amat positif bagi nama Indonesia dalam peta buku internasional. Sehingga apa yang dilakukan oleh Damar Juniarto sangat melemahkan upaya keras Andrea untuk mengangkat harkat dan martabat Indonesia melalui dunia buku. Juga anggapannya bahwa tulisan Damar bisa menjadi preseden yang buruk bagi para penulis Indonesia lainnya yang tengah bersusah-payah untuk menerbitkan buku di luar negeri. Tentu saja Andrea salah besar. Ia tampaknya harus membaca ulang dengan teliti bagaimana Damar menulis dengan rapi, lembut dan tertata bagus. Tidak ada yang zalim dan dizalimi sejauh yang saya baca.

Memang ada banyak orang yang tidak sadar bagaimana posisinya di peta sastra negaranya. Dengan klaim laris dan jumlah eksemplar yang laku maka ia bisa serta merta merasa diri menjadi seorang penulis besar dan bagus. Padahal, tak pernah ada kata sepakat di mana pun bahwa laris sama dengan baik, atau baik sama dengan laris. Demikian juga ukuran standar Best Seller yang sampai sekarang tak pernah ada ukuran pastinya. Lepas dari itu, yang terpenting adalah keharusan seorang penulis untuk sadar profesi dan pekerjaannya menulis. Jika ada masalah yang ditimbulkan oleh menulis, maka menulis berikutnya bisa jadi cara untuk menyelesaikan masalah. Lucu rasanya seorang penulis menanggapi tulisan dengan bukan tulisan.

@irwanbajang

Comments

Home

Komentar

  1. dee berkata:

    Menarik artikelnya, pak. Ini juga jadi pembelajaran saya dalam bersikap. :)

    1. irwanbajang berkata:

      sepertinya jika semua terbuka dan nggak dilebih2kan, nggak akan perlu banyak yang dipertanyakan. tapi ya dari polemik ini kita makin tahu kita butuh makin banyak kritikus :)

  2. MT berkata:

    Terima kasih telah menjelaskan dengan jeli. Atas nama penggemar, AH sepantasnya bersikap lebih dewasa dan lebih pantas.

    1. irwanbajang berkata:

      makasih, silakan dibaca dan dibagikan :)

  3. The Bitch berkata:

    man.. nggak percuma kamu jadi kuli buku!

    1. irwanbajang berkata:

      hehehe…. hehehehe

  4. huda tula berkata:

    saya rasa juga begitu. tulisan dari Damar sama sekali tidak mendiskreditkan AH. Kaget juga sama reaksinya AH yang mau memejahijaukan.

    1. irwanbajang berkata:

      saya tak menemukan sama sekali tuduhan2 semacam itu…hehehe

  5. patta berkata:

    bernas..sudah saatnya jadi kritikus mas Irwan :). sy sudah baca di kompasiana tulisan mas Damar. dan tak bijak jika tulisan seperti itu dimeja hijaukan. tulisan lawan tulisan lebih bagus (disertai fakta).

    1. irwanbajang berkata:

      waduh, kalau jadi kritikus saya harus belajar metode ilmiahnya, boleh sih, tapi butuh belajar banyak

  6. idrus bin harun berkata:

    AH telah berbuat yang dia mampu. dengan menuliskan biografi dalam bentuk novel. ini patut diacungi jempol.

    namun, sikapnya dalam menikmati popularitas sangat tidak bijak. dan itu sangat disayangkan.

    sukses AH adalah sukses sastera indonesia harusnya. namun, AH tidak ingin hal itu terjadi dengan berkuasa atas kesuksesannya.

    soal sastera atau tidaknya karya AH bukanlah permasalahan. kerana AH berstatemen penuh kontoversi, maka itu tak lebih sebagai 'iklan gratis'. namun, sayangnya beliau seperti mencoreng diri sendiri di muka umum.

    artikel yang mencerahkan.

    1. irwanbajang berkata:

      sikap bung, sikap selama ini yang selalu harus kita jaga. itu adalah bagian dari integritas yang disebut sendiri oleh andrea terhadap si damar

  7. Melvi Yendra berkata:

    Sangat mencerahkan, Mas Irwan.

    1. irwanbajang berkata:

      trims, selamat membaca dan mengajak yang lain membaca

  8. Anonim berkata:

    AH hebat, sayang pengetahuannya tentang sastra Indonesia begitu ceteknya. Dan sekarang, menyedihkan cara dia menerima kritik!

    1. irwanbajang berkata:

      saya belum menemukan dukungan untuk hal itu, ini kririk manusiawi dari banyak sekali orang

  9. Amanat Gesang berkata:

    Saya jadi ingat ujaran lama: "Yang merasa telah mendirikan bukit, sesungguhnya ia hanya menggali parit." terima kasih atas artikel yang apik ini.

    1. irwanbajang berkata:

      nah, itulah…. sering lupa untuk bergaya sederhana. hehe

  10. ragil berkata:

    Jangan-jangan memang karena takut rahasianya dalam upaya menerbitkan/memasarkan bukunya di luar negeri terbongkar

    1. irwanbajang berkata:

      nah, yang ini jangan jangan juga..hehehe

      1. dian berkata:

        bisa2 tulisan ini juga akan dimejahijaukan..:)

        1. irwanbajang berkata:

          siapa yg memejahijaukan? saya ngapain memangnya?

        2. yuyu berkata:

          setuju mba dian…. biar mas bajang dimejahijaukan juga… biar masuk tipi dan ngetop :D

          1. irwanbajang berkata:

            hahaha, saya kan gak punya menejer, mas… nanti pekerjaan saya terbengkalai deh

  11. leo berkata:

    mantabs bosss

  12. iLenk rembulan berkata:

    Aq dulu pernah berpolemik soal kritikan atas karya AH di milis bentang saat buku dia terbit, dan tulisanku itu sepaham dng apa yg ditulis oleh Prof Jakob S. dan aq masih menyimpannya.

    Saat itu aku dikeroyok oleh penggemar AH yg membabibuta tanpa melihat dng jernih kekuarangan karyanya yg memang ada. Bagaimana seorang penulis bisa menjura hanya kepada yg memuji tanpa memperhatikan yg mengkritik?

    Bukankah karya yg bagus juga lahir dr kritikan-2 yg bagus yg bukan dilandasi oleh ketidak-sukaan dr pembacanya krn pembaca tsb memang melihat detail per detail dr cerita yg ditulis penulis? seharusnya seperti itu

    Berbanggalah penulis dng karya yg semakin banyak dilirik pembaca yg kritis demi untuk pembaharuan teknik menulis apapun dr penulis tsb. Sayangnya sikap AH jauh dr hal-2 terpuji itu.

    1. irwanbajang berkata:

      <strong>Berbanggalah penulis dng karya yg semakin banyak dilirik pembaca yg kritis demi untuk pembaharuan teknik menulis apapun dr penulis tsb.</strong><strong>
      saya sangat sepakat! semua orang memang harus tak antikritik, kritik itu mendewasakan, sekaligus juga jadi pengumuman ke banyak orang, agar karya tersebut tersiar dan apembaca tahu, ia membaca apa, ke arah mana, dan bagi yang belum membaca juga tahu akan bersikap: mau membaca atau tak jadi membaca

      so simple kok! hehehe
      trims sharenya

  13. Saut Situmorang berkata:

    Katanya Indonesia butuh "kritikus yang kompeten", eh baru diladeni dengan esei-investigatif si Damar itu, Andrea Hirata udah berkaing-kaing kayak anjing buduk dipatuk cicak rumah! Ckckck…

    Itulah contoh novelis pop yang tak tau posisinya di dunia budaya pop negerinya sendiri. Parah!

    Eh, ngomong-ngomong siapa, Irwan, penyair kawanmu yang ke luar negeri itu? Keren kayaknya tuh orang, euy! Pengen aku ajak ngebir di Bintang, hahaha… :p

    1. irwanbajang berkata:

      hehehe, analogiya kayak puisi ya, bang. mungkin memang kritikus beneran harus turun tangan, biar kita makin gampang mendudukkan permasalahan yang tumpang tindih akibat distorsi informasi yang bising ini.

      penyair yaang keluar negeri itu nggak mau disebutkan namanya, dia juga gak pengen terkenal kok, tapi karyanya sih terkenal. sayang, nggak punya menejer, jadi nggak jadi artis deh. hehehehe. kapan2 doi kita palak untuk minta traktiran. hehe

      1. Saut Situmorang berkata:

        Mirip kayak orang-orang TUK dan para cecunguknya yang bilang isi jurnal sastra "boemipoetra" cumak Fitnah dan Dengki! Begitulah nasib para pembongkar kebusukan bestseller!

        1. irwanbajang berkata:

          hehehe, sodorin jurnal boemipoetra aja ya :)
          kita tunggu beberapa kritikus turun tangan. tapi bukannya kritik itu turun untuk naskah yang merasa layak atau pantas didiskusikan? yang setidaknya punya nilai atau rasa lebih dari yang lain? lah kok LP nggak banyak dikritik ya? hehehehe

  14. Melly Feyadin berkata:

    artikelnya 'adem' banget, pak.

    1. irwanbajang berkata:

      seduh teh hangat di beranda rumah

  15. […] KLIK DISINI: SEJAK SANG LASKAR PELANGI MENGGUGAT BLOGGER […]

  16. Anonim berkata:

    kalo kata Gie:

    "Guru tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah"

    Artikel yg bagus kawan, suka sekali membacanya berulangkali… :)

    1. Kendi berkata:

      Bagi saya, Bastian Tito adalah penulis besar. Coba hitung berapa kopi buku Wiro Sableng yang telah terjual.

      1. irwanbajang berkata:

        sepakat! itu penulis idola saya. buku yasin sama kitab suci kok gak dilabeli best seller ya? hihihi

    2. irwanbajang berkata:

      semoga artikel saya gak dibuang ke tong sampah. hehehe

  17. anotherorion berkata:

    saya setuju dengan artikel ini, tidak seharusnya andrea memperkarakan sebuah kritik, apakah ini bagian dari mulai mewabahnya virus para artis yang dikit2 lapor polisi klo ada yang nginjek kakinya??? ah semoga hanya pendapat saya saja :)

    1. irwanbajang berkata:

      hehehe, orang kalau merasa besar biasanya begitu. semoga kita terhindari dari sifat begitu. :)

  18. tuteh berkata:

    Setuju, Irwan. Tulisan dibalas dengan tulisan, fakta dibalas dengan fakta. Setelah membaca tulisan mas Damar, tidak ada sedikitpun tulisan yang merendahkan Sarah Crichton Books. Mas Damar hanya menyampaikan fakta. Dan sampai ketika mas Damar menelepon orang Bentang Pustaka, itu adalah langkah mutlak untuk memperoleh fakta-fakta, bukan hanya sekadar menulis. Saya rasa wajar-wajar saja tulisan mas Damar tersebut …

  19. In cultures around the world a single can see a stunning array of regular Muslim dress. Traveling through countries Africa, the Middle East, South Asia, the Malay archipelago and South Eastern Europe – a beautiful diversity of colour, patterns, prints and components greet the eyes. Traditional Muslim clothes not merely reflects the culture from the people and creativity of the clothiers, it comes from a time honored tradition of using locally grown supplies, organic dyes and is in particular suited towards the climatic conditions of every region. Within this substantial selection of style is a simple unifying principle – modesty.