“Gerakan Buku Indienesia” – #Twitteriak Season 3 Eps. 25 bersama @Irwanbajang (Irwan Bajang)

twt-irwanbajang

“Ketika semua orang bisa memproduksi bukunya, mungkin kita sudah gak butuh penerbit lagi.” — Irwan Bajang, #Twitteriak Juli 2012

SEJARAH pergerakan bangsa ini tidak bisa dilepaskan dari buku-buku “indie”. Apa maksudnya? Sementara mesin-mesin cetak dari kelompok penerbitan bermodal bekerja memproduksi buku-buku laris, ternyata ada segelintir kelompok yang dengan sengaja menerbitkan buku-buku dengan maksud yang bertolak-belakang dari misi para penerbit bermodal. Mereka hadir, ternyata bukan hanya hari ini saja, tetapi merasuk jauh ke masa-masa sebelum Indonesia mewujud.

Pada kurun waktu 1920-1926 terjadi banjir buku-buku “indie” yang mendapat sebutan “bacaan liar”. “Bacaan liar” ini hadir sebagai oposisi untuk melawan dominasi penerbitan barang-cetakan yang diproduksi oleh Balai Poestaka (BP). C.W. Watson (1971, 1982) dalam kajiannya tentang “bacaan liar” menunjukkan “bacaan liar” yang diproduksi oleh kaum nasionalis radikal dalam bentuk novel secara sadar atau tidak sadar merupakan ekspresi perlawanan terhadap ketimpangan kebudayaan. Semisal Raden Darsono yang melakukan perang suara (perang pena) dengan Abdoel Moeis dalam novel berjudul “Moeis telah mendjadi Boedak Setan Oeang” atau karya Darsono lainnya yang menentang peraturan kolonial yang berjudul “Pengadilan Panah Beratjun.” Tak lupa karya Semaoen berjudul “Hikayat Kadiroen”, serta “Student Hidjo” karya Mas Marco Kartodikromo.

Karya-karya “bacaan liar” ini ditandai oleh agitasinya dan kemampuannya merebut hati pembaca menggunakan bahasa Melayu pasar untuk membibitkan kesadaran kolektif kebangsaan. Balai Pustaka di lain pihak, berada di posisi penerbit bermodal yang melakukan perang wacana tentang bacaan yang baik. Balai Pustaka menerapkan bahasa Melayu tinggi untuk semua karya tulisannya dan menyuburkan cerita-cerita roman percintaan. Standar bahasa ini “dibakukan” Prof. Charles van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi gelar Sutan Makmur dan Moh. Taib Sultan Ibrahim pada 1901. Hasil pembakuan itu dikenal dengan Ejaan Van Ophuijsen. Kepada buku-buku liar, Balai Pustaka menyebut karya-karya itu menggunakan “Bahasa Melayu Rendah”, “Bahasa Melayu Gado-Gado”, “Bahasa Melayu Kacau”, dan sebagainya.

Ada banyak nama yang hadir saat menyebut bacaan liar. Seperti Tirto Adhi Soerjo, penulis yang dengan sadar memproduksi bacaan-bacaan fiksi dan non-fiksi di Soenda BeritaMedan Prijaji, dan Poetri Hindia. Tokoh ini pula yang menyatakan pendapat ketaksetujuannya ketika pemerintah mendirikan BP pertama kali. Menurut Tirto, kenapa dana itu tak diberikan kepada rakyat saja untuk mengongkosi bacaan mana yang mereka butuhkan dalam kehidupan.

Apa yang dilakukan Tirto mendorong pribadi-pribadi lain mengikuti jalan “bacaan liar” ini, seperti Soeardi Soerjaningrat, Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, Tjokroaminoto, Abdul Muis, Mas Marco Kartodikromo, Misbach, Soerjopranoto, Abdul Muis, Semaoen, Darsono, dan aktivis pergerakan lainnya. Mereka semua menghasilkan bacaan-bacaan populer yang terutama ditujukan untuk mendidik bumiputra yang miskin (kromo). Bacaan-bacaan yang mereka hasilkan merupakan ajakan untuk mengobati badan bangsanya yang sakit karena kemiskinan, juga jiwanya karena kemiskinan yang lain, kemiskinan ilmu dan pengetahuan. Bacaan itu juga membeberkan pemahaman dan kesadaran politik kekuasaan kolonial.

Soal harga pun dibuat bersaing dengan harga bacaan Balai Pustaka (BP). Harganya rata-rata di atas f.0,30,- dan bahkan untuk Sjair Internationale yang diterjemahkan oleh Soeardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) pada 1921 menjadi Darah Ra’jat, dijual dengan harga f. 0,15. Jelas harga yang murah merupakan kesengajaan dari para penulis dan penerbit buku-buku “bacaan liar” agar bisa bersaing dengan BP. Dalam hal distribusi bacaan, pesan-pesan penerbit “bacaan liar” lebih dapat diterima oleh para pembaca.

Kemudian bacaan liar ini berevolusi dan kemudian kita mengenalnya dengan sebutan “buku indie”. Mengaku dipengaruhi oleh semangat gerakan ‘underground’ yang menyempal atau melawan hegemoni budaya mapan seperti industri kapitalisme, media, budaya pabrik, dan politik negara. Semangat menyempal ini diterjemahkan dengan membangun kreativitas, sikap independen, dan sikap otonom. Caranya dengan membangun semuanya secara mandiri. Jumlah mereka yang melakukannya dari tahun ke tahun bertambah banyak dan perlu untuk dipetakan.

Itulah sebabnya, sebagai pembuka Season 3 obrolan #Twitteriak bertema “Wajah Indonesia dalam Dunia Menulis dan Membaca”, secara khusus kami bahas topik “Gerakan Buku Indienesia”, yaitu upaya mencari wajah Indonesia dalam buku-buku indie dengan menghadirkan Irwan Bajang, penggagas penerbitan independen Indie Book Corner di Yogyakarta.

Irwan “Bajang” Firmansyah adalah pria kelahiran Aik Anyar, Lombok Timur, tahun 1987. Minatnya terjun ke penerbitan buku indie dimulai sejak 9 September 2009 bersama Anindra Saraswati. Irwan lebih nyaman menyebut Indie Book Corner bukan sebagai penerbit, tapi sebuah gerakan perbukuan. Cara kerja penerbitan buku indie berbeda dengan penerbit besar, begitu juga soal royalti penulis. Gagasan buku indie ini adalah refleksi saat Irwan sulit menerbitkan buku kumpulan puisi tahun 2006. Setiap tahun, Irwan lewat Indie Book Corner semakin banyak menerbitkan buku indie. Maka untuk tahu lebih banyak mengenai jalur buku indie, yuk simak obrolan seru bersama Irwan Bajang berikut ini!

#Twitteriak: Kita kenal film indie, musik indie, tapi buku indie apa definisinya? Bedanya apa dengan buku2 lain?
Irwan Bajang: Buku Indie adalah buku yang dibuat sendiri, tanpa melalui penerbit tapi dengan usaha sendiri penulisnya. Jadi buku indie adalah tulisan yang diusahakan sendiri menjadi buku oleh penulisnya.

#Twitteriak: Apa syarat-syaratnya buku diterbitkan secara indie?
Irwan Bajang: Syarat pertama adalah tulisan tersebut harus selesai. Baru naskah bisa didiskusikan dengan editor, desainer dan lain-lain. Nah, dengan diskusi bareng editor, layouter dan desainer, maka penulis bisa tahu potensi bukunya, berapa ukuran, tebal dan lain-lain.

#Twitteriak: Apakah buku indie sama artinya dengan self-publishing? Cerita sukses buku model DIY ini ada gak?
Irwan Bajang: Mungkin sama ya dengan self-publishing, hanya saja di model buku indie, penulis bebas kolaborasi dengan siapa aja. Keduanya sama-sama mencari celah dalam produksi Print-on-Demand (POD) yang memungkinkan buku bisa diproduksi dalam jumlah terbatas. Dan keduanya mungkin adalah cara lain menerbitkan buku di luar jalur penerbit konvensional.

#Twitteriak: Apa keterbatasan buku indie? Apa juga kelebihannya?
Irwan Bajang: Penulis bisa terlibat dalam segalanya, tentu dengan pertimbangan diskusi masukan dari editor, desainer dan tim lain. Sebab itulah produksi buku gak harus banyak, buku diproduksi sesuai dana aja. Dipasarkan, lalu cetak ulang lagi. Jadi jangan pernah jadi patokan bahwa buku harus dicetak masal 1000 atau 3000 tapi bisa aja cuma 10 atau 50 eksemplar.

#Twitteriak: Seberapa besar kepercayaan Irwan buku indie ini akan berhasil diterima masyarakat?
Irwan Bajang: Saya sangat percaya, bahkan ketika semua orang bisa memproduksi bukunya, mungkin kita sudah gak butuh penerbit lagi. Penulis gak harus hanya nulis, tapi belajar atau berjejaringlah dengan komponen pekerja buku lainnya (editor dan lain-lain).

#Twitteriak: Seorang Dewi Lestari pada akhirnya menerbitkan buku-buku di penerbit besar. Apa pendapat Irwan soal ini?
Irwan Bajang: Dewi Lestari adalah contoh awal penulis indie, mungkin setelah pembacanya meluas, makin banyak, Dee butuh kru yang lebih solid. Dibutuhkan jejaring yang lebih banyak lagi, agar tenaga penulis tidak habis karena merangkap penjual. Ketika besar, penulis gak bisa lagi berbuat seperti ketika bukunya hanya beberapa eksemplar.

#Twitteriak: Pernahkah buku-buku yang diterbitkan secara indie ini dipandang sebelah mata?
Irwan Bajang: Sering! Ingat buku yang diterbitkan di luar karena ditolak penerbit dalam negeri? Lalu muncul polemik karena buku itu indie. Buku indie sering dipandang remeh karena katanya gak ada pertimbangan dan penyaringan naskah. Padahal kalau diedit, didesain dengan sangat mendalam, gak ada bedanya dengan buku-buku dari penerbit besar. Semua buku kalo melalui prosedur yang lengkap, indie atau tidak indie akan sama aja kualitasnya.

#Twitteriak: Banyak yang bilang buku indie lemah di editing dan pemasaran. Benarkah begitu?
Irwan Bajang: Buku indie yang asal-asalan akan lemah, demikian juga dengan penerbit konvensional yang asal-asalan. Makanya diperlukan ketekunan dan keseriusan juga kerjasama dengan editor, atau mungkin manajer pemasaran juga. Intinya, buku, meskipun indie harus dikerjakan serius dan bertanggung jawab. Biar penulis dan bukunya bermartabat.

#Twitteriak: Sudah berapa banyak penulis yang menerbitkan buku indie lewat Irwan? Dan seperti apa kisahnya?
Irwan Bajang: Sampai sekarang (2,5 tahun) ada 150 judul lebih kami bantu terbitkan. Beberapa cetak ulang dan bukunya banyak dikenal orang. Beberapa memang pasarnya sempit, jadi hanya beredar terbatas. Tiap-tiap penulis punya niat dan ekspektasi yang berbeda tentang bukunya.

#Twitteriak: Jadi pilihan buku indie apa bisa dibilang hanya batu loncatan menuju penerbit besar?
Irwan Bajang:. Harusnya bukan batu loncatan. Sebab indie atau mayor sama aja, pengelolaan aja yang beda. Artinya, dibutuhkan ruang dan manajemen yang lebih rapi aja kalau seorang penulis indie makin produktif‪. Buku indie bukan batu loncat, tapi ‘cara lain’ publikasi dan distribusi buku. Beberapa komponen sama aja. Sebab nggak ada beda kualitas buku indie atau mayor, tergantung perlakuan penulisnya pada proses kelahiran buku.

#Twitteriak: Cita-cita gerakan @IndieBookCorner yang didirikan Irwan “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Apa maksudnya ya?
Irwan Bajang: Hahaha, setidaknya kami bisa berkontribusi pada persebaran wacana dari satu penulis ke banyak pembaca. Buku bagus, tapi mungkin gak marketable, jadi ditolak penerbit…. Nah, kami membantu gagasan brilian (yang mungkin gak propasar) itu tersebar luas ke pembaca.

#Twitteriak: Sebetulnya, apa kelemahan utama sistem penerbitan konvensional di mata Irwan?
Irwan Bajang: Kelemahan 1. Tidak bebasnya penulis mengatur sendiri naskahnya, ukuran, cover, oplah dll. Kelemahan 2. Kalau tidak marketable, sebagus apapun gagasan buku, tetap akan ditolak. Kelemahan 3. Meskipun tidak semua penerbit, tapi banyak yang “nakal” pada royalti, laporan dan hak penulis. Kelemahan 4. Penulis tidak akan seenaknya ambil buku, bikin acara kapan dan di mana saja. Sebab kontrol buku tak sepenuhnya di tangan penulis, maka segalanya harus dibawah koordinasi dan kesepakatan. Intinya, dengan buku indie, penulis merdeka ngapa-ngapain saja sama bukunya.

#Twitteriak: Gerakan indie biasanya gerakan perlawanan. Gimana hubungan Irwan dengan toko-toko buku yang jadi mata rantainya?
Irwan Bajang: Meski tidak berdandan Punk, hati saya Punk! Haha. Saya banyak belajar dr tradisi Zine anak-anak Punk Sejak kecil saya terobsesi membuat sendiri buku dari tulisan saya, saya jilid-jilid sendiri, seperti Zine-zine Punk. Nah, di Jogja kan banyak skali aktivis buku, jadi saya banyak belajar dari mereka, dan berkenalan dengan dunia buku. Tradisi publikasi mandiri juga banyak dilakukan anak-anak pers mahasiswa di kampus. Spirit itu saja yang saya kembangkan.

#Twitteriak: Agar gagasan buku indie ini semakin membesar, apa saja yang sudah dilakukan Irwan?
Irwan Bajang: Mengkampanyekannya dengan berbagai cara dan media. Socmed, tv, radio, koran dan kami membuat Sekolah Menulis Gratis. Kami bikin Independent School, keliling SMA dan mengajak mereka menulis dan nerbitin buku. Gratis. Selain itu ya saya menulis dan saya menunjukkan bahwa tanpa penerbit pun, saya bisa jadi penulis.

#Twitteriak: Dari 150 judul buku indie, buku mana yang seharusnya penting untuk jadi tonggak dunia buku kita?
Irwan Bajang: Wao, pertanyaannya menakutkan. Hmmm. Oke, saya sebut beberapa buku ya. Pertama, “Agonia” buku puisi 2 kota Jogja-Jember. Menghimpun 50 lebih penyair muda. Ke depan akan menjangkau kota-kota lain, dan kelak menjadi ruang komunikasi yang luas bagi banya penulis. ‪

“Pengantar Ilmu Politik” juga kami terbitkan, tapi bukan karya Miriam Budiharjo yang selama ini jadi satu-satunya referensi kuliah Fisipol. ‪Ada “Republik Rimba”, buku ini seperti Animal Farm karya George Orwell. Penting sebagai kritik berbangsa kita.

“Jebakan Liberalisasi” berisi catatan kritis tentang aset bangsa kita yang banyak digadai ke asing. Mungkin itu hanya beberapa judul dari beberapa buku yang layak dibaca banyak orang.

#Twitteriak: Gerakan buku indie ini seperti social entreprenuership, jadi kuat aspek sosialnya daripada bisnis. Inikah roh IBC? ‪
Irwan Bajang: Betul sekali. Malahan, intinya kami mau semua penulis bisa paham cara menerbitkan buku…. ‪Nah, kalau semua penulis sudah tahu dan bisa menerbitkan sendiri bukunya. Buat apa ada IBC? Bubar juga gak apa-apa. Banyak fakta perbukuan yang dirahasiakan, jadi ayo kita buka dan kita ketahui bersama!

#Twitteriak: Apa impian Irwan yang belum terwujud dalam membangun gerakan buku indie ini?
Irwan Bajang: Saya mau semua orang sadar: buku indie itu bukan buku nomer 2. Dan gaya indie itu bukan pelarian, apalagi batu loncat. Kesadaran itu kadang belum muncul, jadi pelaku indie harus PD dan yakin juga atas jalan yang ia tempuh. Satu lagi, saya mau buku itu murah, gak boleh mahal, tapi kesejahteraan penulis harus terjamin! Caranya? Itu yang sedang saya cari.

#Twitteriak: Apakah ada niat memperluas @IndieBookCorner ini sehingga tidak hanya di Yogya, tapi juga muncul di seluruh Indonesia?
Irwan Bajang: Indie Book Corner berniat sekali memperluas IBC. Di Batam, @bagustianiskndr sudah membuat Freedom Writer jadi jejaring. Buku sudah mudah produksi, murah yang belum. Itu penting untuk membumikan buku biar gak hanya dibaca kelas menengah.

#Twitteriak: Apa impian Irwan pada dunia membaca dan menulis di Indonesia? Apalagi menghadapi lesunya perbukuan sekarang ini?
Irwan Bajang: Mirip dengan kendala-kendala tadi ya. Saya maunya harga kertas murah dan buku bisa diproduksi murah, biar makin banyak yang akses. Selama ini buku-buku kita tebal dan mahal. Kalau bisa dipecah jadi kecil-kecil, mungkin daya beli akan naik, pembaca makin banyak. Selain itu, kami mau buat Bank Buku yang menyisihkan dan menampung buku untuk disumbangkan ke pembaca yang kurang mampu.

#Twitteriak: Apakah ada komunitas penerbit indie? Apa peluang terbesar yang dimiliki penerbit buku indie? (Pertanyaan @helvrySINAGA)
Irwan Bajang: Peluangnya adalah, kita bisa membuka jejaring penulis dan pembaca yang bisa saling mendukung distribusi buku dan wacana.

#Twitteriak: Soal pemasaran di toko buku. Penulis Indie, apalagi pemula, punya keterbatasan dalam hal ini. Apakah IBC bisa distribusikan? (Pertanyaan @namakuantok)
Irwan Bajang: Indie Book Corner bekerjasama dengan beberapa distributor, buku bisa masuk toko kalau produksi agak banyak. Tapi kalo buku diproduksi terbatas, kita bisa titip di kafe, distro atau jaringan komunitas-komunitas buku.

#Twitteriak: Dalam situs IBC, tersedia layanan promosi. Seberapa jauh layanan promosi Indie Book Corner sebagai jaringan indie? (Pertanyaan @namakuantok)
Irwan Bajang: Itu sedang dikonsep sama @renggodarsono jadi ke depan akan dibuat dan dibangun jejaring-jejaring lebih serius untuk distribusi terutama promosi.

#Twitteriak: Kalau boleh buka-bukaan, standard cetak satu buku di @IndieBookCorner itu berapa eksemplar? Atau ksepakatan? (Pertanyaan @fiksimetropop)
Irwan Bajang: Indie Book Corner gak ada standar oplah, berapa aja bisa. Cuma, kalau sedikit jatuhnya per buku jadi agak mahal. Nah, tapi kalo produksi sedikit dan distribusi non-toko buku, kita gak perlu sisihkan rabat buat toko. Jadi kalo dijual pun, tetap masih ada selisih harga dengan biaya produksi.

#Twitteriak: Menurut analisa Irwan, buku Indie sudah mengambil berapa persen pasar di dunia perbukuan? (Pertanyaan @nabilabudayana)
Irwan Bajang: Belum banyak ya, tapi punya pasar spesifik. Terutama di komunitas membaca dan menulis. Rencana ke depan, menambah terus jejaring perbukuan untuk kampanye buku indie. Selain itu, kami akan membuat promosi audio- video yang bisa diakses dan disaksikan banyak orang.

#Twitteriak: Secara kuantitas, apakah buku yang diterbitkan jumlahnya sesuai harapan? (Pertanyaan @tezarnet)
Irwan Bajang: Bukan sesuai harapan, tapi sesuai kemampuan penulisnya. Keuntungannya, jarang ada retur, segitu cetak, segitu habis.

#Twitteriak: Bagaimana perbandingan biaya buku indie sama major label apakah penulis harus keluar duit juga? (Pertanyaan @bukunya)
Irwan Bajang: Kalau di mayor kan gak ada biaya, tapi dapat royalti. Kalo indie, mau gak mau ada biaya, tapi semua keuntungan jualan ke penulis.

#Twitteriak: Berapa persen yang ditanggung penulis? (Pertanyaan @bukunya)
Irwan Bajang: Bisa semuanya, bisa juga kerjasama 50:50, bisa juga kita cari sponsor bersama untuk pendanaannya.

#Twitteriak: Apakah buku indie gak ada kewajiban untuk bayar pajak-pajak yang terkait penerbitan dan distribusi? (Pertanyaan @funkyinyang)
Irwan Bajang: Sejauh ini karena produksi sedikit jadi gak pernah ada tagihan pajak. Hahaha.

#Twitteriak: Bagaimana dengan hak produksi/memperbanyak? Siapa pemegang hak produksi untuk buku yang diterbitkan secara indie? (Pertanyaan @namakuantok)
Irwan Bajang: Segala hak apapun ada pada penulis, hak perbanyak, hak distribusi, copyright, dan semuanya.

#Twitteriak: Pernahkah Irwan menerbitkan tesis/disertasi? (Pertanyaan @helvrySINAGA)
Irwan Bajang: Pernah, ada beberapa.‪ “Jebakan Liberalisasi” itu tesis juga. Tapi harus dibuat bahasa populer dulu.

#Twitteriak: Kalau bayar sendiri kan berarti semua orang bisa menerbitkan buku. Lalu kualitas isinya bagaimana? (Pertanyaan @Anneshakka)
Irwan Bajang: Itulah pentingnya editor dan diskusi bersama penulis. Penulis harus sadar juga proses menulis itu panjang.

Demikian obrolan #Twitteriak tentang gerakan buku-buku Indienesia bersama Irwan Bajang. Semoga bermanfaat.

 

Comments