Kepulangan Kelima: Padamu Hatiku Berpulang

Seorang pembaca Kepulangan Kelima, Iyut SF membuat sebuh puisi untuk mengapresiasi Album Puisi, Ilustrasi dan Musik tersebut. Iyut adalah seorang aktivis buku dan orang yang konsen dalam komunitas perbukuan di Indonesia, dan juga pemerhati marketing komunikasi, khusunya untuk buku. Puisi ini diambil dari blog pribadinya. Selamat menikmati.

——————————–

entah sudah berapa lama kita diam-diam menyesapi kenangan satu sama lain.
kau ingat tidak, kita seringkali duduk berhadapan tanpa memperdulikan mata hati kita yang saling memeluk.
bahkan tak jarang mata kaki kita sering beradu pandang saat mata kepala kita tak kuasa menatap satu sama lain.

tak banyak kata, hanya bunyi cangkir dan ujung cawan yang beradu ketika senja kita habiskan dengan menikmati jingga.

dalam diam terasa banyak makna tersirat,
dalam diam gejolak rasa kita berpeluh yang kemudian bersenyawa menjadi satu.
hati yang kerap berpindah haluan, berpindah rumah. berpindah majikan.

Hati ini kemudian lelah seperti kota ini yang sebegitu tergesanya,
berpacu seakan-akan hendak menyepikan semua hiruk untuk rasa yang mulai bernapas lega.

Hati yang lega meski waktu menghimpit.
Hati yang lega meski kamu kelak menghilang.
Hati yang lega karena padamu, ia berpulang.

——–

PS. Selamat atas terbitnya buku Kak Irwan Bajang yaitu Buku Kepulangan Kelima ini. Sukses yaa………

 

Rahasia di Balik #KepulanganKelima karya @IrwanBajang

Seorang pembaca Kepulangan Kelima dari Aceh Yelsafahziani sepertinya penasaran sekali dengan sampul buku ini. Ia mencoba mengurai apa saja misteri di balik sampul buku. Bagaimana penerawangannya? Berikut ini sebuah catatan saya ambil di blog pribadinya. Selamat menebak-nebak juga! :D

 

kepulangan kelima#KepulanganKelima adalah album puisi, ilustrasi  dan musik karya Irwan Bajang, Penulis sekaligus Direktur Penerbitan buku indie yang baru saja saya kenal pada jejaring sosial. Berawal dari percakapan insomnia melalui BBM bersama bang Esvan, mahasiswa yang merantau ke Magelang. Awalnya ia memperkenalkan saya pada #eminialbum karya Bagustian Iskandar. Setelah merasa puas mendengar suaranya, akhirnya saya memberanikan diri ngubek-ngubek tab following akun twitter @esvanpan dan menemukan akun Bagustian Iskandar.

Setelah beberapa minggu mengikuti akun mas Bagus, yang baru saja saya ketahui sebagai seorang geliryawan di Indie book corner mempromosikan sebuah buku puisi. Setelah beberapa kali melihat photo yang di-twitpict mas bagus, saya merasa tertarik hendak memilikinya. Desain covernya yang berbeda tarlihat menarik dan memikat. Seakan mengedipkan mata kepada saya untuk segera memilikinya.

Pada akhirnya saya berhasil mendapatkan buku puisi ini dalam waktu yang tidak lama, padahal Jogja – Aceh bukan jarak yang dekat. Tetap saya berterima kasih kepada pengirim yang benar-benar mengirim.

– – –

Entahlah, ada perasaan berdesir yang aneh pada ulu hati saat melihat sampul depan buku ini. Seperti ada nyawa yang melekat erat pada permukaannya. Yang saya tahu pada saat itu adalah saya harus segera membaca dan meresapi kepiluan penulisnya.

– – –

Benar saja, sampulnya membuat saya seolah terkena terhipnotis. Beberapa hari ini saya selalu diliputi penasaran, terlebih pada jam yang menunjukkan pukul 10.00. Apa yang terjadi pada pukul 10.00 yang berkaitan dengan buku ini? Pikiran saya saat itu.

Akhirnya setelah beberapa kali bertanya kepada penulisnya langsung, saya mengetahui bahwa lambang yang tertera pada sampul depan, beserta ilustrasi yang ada pada tiap lembar puisi tersebut memiliki hubungan yang erat. “Sebab semua simbol mewakili beberapa rahasia yang ditabur dalam puisi” kata mas Irwan Bajang kepada saya. Rasa penasaran saya memberontak ingin mengetahui apa makna dibalik simbol-simbol yang sengaja ditekankan mas Irwan pada sampul buku puisinya tersebut, sehingga terciptalah tulisan ini.

Saya mencoba membongkar rahasia sampul buku puisi Mas Irwan disini. (Ps. Mas Irwan, ampunkan saya kalau ada kesalahan. Hehe) :

***

Dimulai pada puisi pertama #KepulanganKelima bait pertama;

Melewati depan rumahmu

lampu desa yang remang mengejekku

halimun turun perlahan

menjadi selimut sepi yang menakutkan

membawa lari

rinduku pada perjumpaan

Adalah pada baris; lampu desa yang remang mengejekku ia menyimpan rahasia pertamanya. Tak ada keberanian yang muncul pada saat ia melewati depan rumah perempuan itu, jalanan begitu lengang. Yang setia berdiri hanya lampu desa, lampu yang seolah mengejek kedatangannya namun tak berani bertemu. Saksi bisu yang mengejek.

itulah sebuah arti yang tersembunyi pada gambar bolham lampu yang terdapat pada sampul depan #KepulanganKelima. Sebuah gambar yang melambangkan betapa memalukannya ‘aku’ saat melewati jalan itu namun tak mampu mempertemukan rindu dengan perjumpaan.

Seperti jalan Protokol

Pukul 10 pagi di Kuala Lumpur

Kau berkejaran, ingar bingar dikepalaku

Adalah simbolisasi jam yang menunjuk angka 10.00 pada sampul buku. Lebih besar pada gambar-gambar yang lain.

Namun sepertinya ingatan yang melekat bukan tentang Jalan Protokol Pukul 10 pagi,  justru kepada Kau berkejaran, ingar bingar dikepalaku. Jalan protokol pukul 10 pagi adalah jam-jam sibuk dimana ribuan manusia berlalu lalang seperti lautan yang dimainkan ombak.

adalah perempuan itu, ingar bingar dalam kepala sang Penulis, Otaknya dipenuhi segala ingatan tentang perempuan itu, seperti kilas balik sebuah cerita film. Perempuan itu menggaruk setiap ingatan yang dimilikinya, memaksanya kembali kemasa lalu dan mengingat semua. Kenangan indah, dan kenangan buruk itu.

Sampai pada bait ke 4 #KepulanganKelima, sebuah kenangan pahit tergores dalam bait ini.

Masih ku ingat kiriman surat terakhirmu

“kau selalu boleh berharap, tapi harapan dan kenyataan,

memang sungguh bukan rumus matematika”

Lalu kukirim balasan terakhir untukmu

“tak ada yang bisa mengkhianati kenangan

meski kita telah menyelamatkan perasaan masing-masing”

Adalah surat yang begitu menghancurkan hati siapapun yang menerimanya. Perempuan itu seperti berkata “Lupakan aku dan jangan pernah berharap banyak. Persoalan hidup adalah bukan hal yang pasti. Aku telah memilih hidupku sendiri, sekarang terserah kau. Terpaku pada aku yang tak memilihmu atau melanjutkan hidupmu.”

Saya seperti merasakan sendiri hati penulis yang hancur sebab surat terakhir yang menyayat hati tersebut, pastilah tak akan pernah dilupakan siapa saja yang mendapatkannya. Begitulah kira-kira makna surat dalam amplop yang disematkan pada sampul buku ini, sekedar pengingat luka. Bahwa ia pernah berusaha.

Jikalau diperhatikan lebih teliti, pada puncak jam terdapat seperti cerobong asap yang mengeluarkan asap hitam. Persis seperti cerobong kereta api. Saya pikir cerobong asap itu tidak memiliki arti, hanya perantara untuk meletakkan gambar yang lain.

namun pada puisi Rumah yang terbakar pada bait ketiga, saya menemukan sebaris kalimat yang membuat saya berpikir ulang;

lihatlah

serigala-serigala hutan dan serigala kota segera datang

memangsa kami

kemana lagi kami harus pergi?

kampung kami terbakar

tanah kami ditembok,

mengepullah asap dari cerobong

Adalah suatu ungkapan memilukan tentang Indonesia, Negara berkembang yang meletakkan segala pabrik sesukanya. Mengusir penduduk dari tanah kelahirannya, membuat mereka kehilangan tempat berteduh kemudian meracunnya melalui cerobong-cerobong asap beracun.

Tragis memang, namun itulah kenyataan yang benar-benar nyata yang mampu dideskripsikan oleh penulis.

Tersisa dua gambar, hati bertuliskan angka 02 beserta gambar sebuah obor. Dua gambar itu adalah gambar sulit saya temukan didalam buku. Entah berapa kali saya ulangi membaca keseluruhan buku. Namun tak ada kata tepat yang bisa menerjemahkannya.

Pada akhirnya, penulis -Mas Irwan Bajang- lah yang benar-benar tahu apa makna tersirat dari dua gambar tersebut. Namun dari keseluruhan isi, hanya ada dua nama perempuan yang disebutkan disana. Adalah Aria dan Rinjani: Perawan Bersungai susu, juga Bertelaga Segara. Membuatku berpikir, merekalah lambang hati yang memiliki angka 02 pada sampul buku. Dua orang perempuan yang tak terlupakan, memiliki kenangan masing-masing dalam benak dan hati penulis. Sungguh beruntung para perempuan itu.

Terakhir, gambar obor dengan nyala api merah. Sedikit saya ketahui tentang penulis, sempat menunda penerbitan buku #KepulanganKelima ini disebabkan beliau tengah bosan berpuisi. Entah karna insiden apa buku ini akhirnya bisa diterbitkan, dilambangkan dengan obor menyala. Seperti seorang pejalan ditengah hutan yang gelap gulita akhirnya mendapatkan penerangan dari sebuah obor yang mampu membuatnya tembus melewati hutan. Seperti mas Bajang yang akhirnya mendapatkan kembali ilham untuk melanjutkan produksi buku ini hingga menjadi buku favorit pada rak buku saya.

Terima kasih

 

Tidak Ditemukan Bidang.

Kepulangan Kelima: Pulang dan Rindu

Seorang kawan yang suka naik gunung dan bersepeda mengirimi saya sebuah sms pada suatu malam. Ia membawa Kepulangan Kelima naik gunung katanya. Di ketinggian Gunung Slamet ia bercerita tentang rasa yang ia dapatkan saat membaca dan mendengarkan puisi-puisi dalam buku ini. Ia adalah Ahmad Fikri Faqih, pembaca yang ulet dan pembelajar yang tekun. Ini adalah sebuah review yang saya ambil dari blognya, Another Heaven.

——————————————————————

kepulangan kelima

“Sewindu sudah lamanya waktu tinggalkan tanah kelahiranku

Rinduku tebal kasih yang kekal. Detik ke detik bertambah tebal,”

 Iwan Fals – Rindu Tebal

“Kapan kamu pulang? Kenapa jarang ada kabar ke rumah?” Bunda biasanya mengirimkan pesan singkat kala saya sudah tidak pulang dalam tempo waktu lama. Rumah merupakan tempat berlindung, bermimpi, bermanja, marah, sayang, melepas rindu dan bercinta.

Laki-laki kebanyakan memang melakukan perantauan untuk mendapatkan ilmu atau kehidupan yang lebih baik. Sejauh apapun pergi, mereka akan mengetahui jalan mana menuju rumah.

Belum lama ini saya melakukan pendakian ke Gunung Slamet bersama seorang kawan. Karena akan ada banyak waktu luang, saya memutuskan membawa dua buku puisi, Kepulangan Kelima karya Irwan Bajang dan The American Night karya Jim Morrison.

Alasan saya membawa kedua buku puisi ini karena memiliki beberapa bagian yang (menurut saya) sama, cinta. Tapi akhirnya saya hanya bisa menyelesaikan satu buku saja. Beruntungnya itu adalah Kepulangan Kelima.

Suasana yang sepi, tingin dan sejuk menambah hikmatnya membaca. Terkadang saya tertawa kecil. Dan sesekali terdiam dan memutuskan untuk membaca kembali. Hingga akhirnya hanya diam yang dapat mewakili perasaan kala itu.

“Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah. Pulang ke teduh matamu.

Berenang di kolam yang kau beri nama rindu”

Tak Ada Jalan Menuju Rumah – Irwan Bajang

Beruntungnya saya tidak menangis. Kalau sampai itu terjadi bisa jadi kawan perjalananku menertawai hingga sampai Jogja. Mas Bajang (panggilan akrabnya) sepertinya jarang pulang ya. Karena ada beberapa karyanya yang mewakili, dan itu (mungkin) bisa mewakili orang-orang yang sedang menuntut ilmu jauh dari rumah.

Entah sudah berapa lama Mas Bajang terpisah oleh keluarganya dan tidak pulang. Rindu yang sangat dalam sepertinya ingin disampaikan melalui buku ini. Jujur saja, saya bukan termasuk orang yang sering membaca puisi. Tapi, entah mengapa saya sanggup duduk terdiam lama ketika membaca dan membalik lembar demi lembar puisi rindu dan cinta.

“Kenangan, ia berjalanan pelan, dingin menulang di kepalaku.

Menanam risau-risau, menyemai rindu dendam dan berkisah tentang kepulangan”

Rindu yang Meranggas – Irwan Bajang

Buku ini tidak henti-hentinya memberikan kejutan. Sekali lagi saya harus mengelus dada, dan berbisik pada diri sendiri, “kalau ini terjadi padamu, apa yang akan kau lakukan?” Tiba-tiba saja rasa penyesalan yang coba disampaikan sangat mengena, ataukah mungkin saya punya pengalaman yang sama? Ah cukup saya dan Tuhan yang tau.

Sepertinya Mas Bajang memang orang yang sulit untuk berpaling ke tambatan hati lain. Kenangannya seakan terangkai satu persatu. Dimulai dari awal perkenalannya dengan seorang gadis, kenakalan remaja, perpisahan dan kerelaan. Wah, ternyata sangat romantis, tapi siapa yang tau dalam tindakannya. Pastinya dia romantis donk.

“Entah kenapa aku temukan setelah pertemuan itu

Aku semai jutaan benih di ladang yang kau sebut cinta”

Si Tua dan Cinta –Irwan Bajang

Tidak semua perjumpaan dan cinta itu berakhir dengan bahagia. Terkadang harus terjatuh. Terkadang harus karam dan tak terselamatkan. Manusia memiliki harapan, namun tak semua dapat terwujud. Sekali lagi Mas Bajang mewakili rasa yang sebenarnya sudah lama saya pendam dalam hati kecil. Memang dia salah satu sastrawan muda berbakat. Hancur sudah hatiku saat membaca karyanya.

“Kau menggandeng suamimu, lalu aku pulang menggandeng tangan bayangmu”

Pada Resepsi Pernikahan Itu – Irwan Bajang

Hai kawan tapi jangan samakan buku ini dengan buku puisi lainnya. Di dalam buku kita akan mendapatkan CD yang berisikan puisi yang telah diaransemen oleh Mas Bajang dan Ari KPIN. Bagaimana ide tersebut bisa tercetus saya kurang tau, tapi ini sangat langka dan cerdas.

Terdiri atas 10 susunan lagu, CD ini benar-benar bisa membuat kalian terkagum. Ini bukan berisikan puisi yang diringi oleh instrumen, melainkan puisi menjadi susunan lirik dan menyatu menjadi satu. Saya jadi teringat Tiga Titik Hitam milik Burgerkill. Menurut saya lirik yang dibawakan seperti puisi. Indah dan nyaman.

Perasaan paling berkesan buat pribadi saya adalah ketika mencapai track ke 7, Rinjani. Posisi saya saat itu sedang bersiap untuk bersilaturahmi ke Gunung Slamet. Suara gitar dan Ari KPIN mendadak membuat saya terduduk sejenak dan mendengarkan dengan hikmat.

Buku ini sangat baik untuk para perantau dan pecinta sejati. Sebaiknya buku ini ada dalam di rak buku koleksimu. Jangan sampai menyesal loh. Pesan di sini aja.

Made Dwi Kuzuma: Review Kepulangan Kelima

Berikut ini sebuah catatan sehabis pembacaan “Kepulangan Kelima” dari seorang penulis, ilustrator sekaligus musisi dari Bali; Made Dwi Kuzuma. Tulisan ini diambil dari blog pribadinya Ladang Stigma. Selamat menikmati.

——————————–

Om Swastiastu, 

Suatu hari, saat saya pulang dari bekerja, saya menemukan sebuah paket di atas meja. Setelah dibuka ternyata benar, isinya adalah sebuah buku, sebuah buku yang sudah saya tunggu-tunggu, yang saya pesan beberapa hari sebelumnya, buku kumpulan puisi dari Mas Irwan Bajang yang berjudul “Kepulangan Kelima”, buku yang wah dengan tiga perwajahan, yaitu puisi, ilustrasi dan CD album musikalisasi. Mas Irwan Bajang adalah seorang penulis muda dari Lombok yang saya kenal di dunia maya, cuma sekali saya pernah berjumpa di dunia nyata, pada saat beliau berkunjung ke Bali.

kepulangan kelima

Tak sabar rasanya ingin segera membaca buku tersebut, tetapi saya harus ganti baju, mandi dan makan malam terlebih dahulu. Setelah selesai makan dan usai menyeduh secangkir kopi, sayapun memulai membaca buku tersebut.

Dimulai dari puisi pertama yang berjudul “Kepulangan Kelima”.
Setelah menyelami bait per bait, baris per baris, saya mencium kekentalan aroma adat istiadat kampung halaman penulis berpadu dengan kegetiran cinta. Kebetulan saya juga punya teman dari Lombok yang sering bercerita tentang adat istiadat kampungnya, persis seperti dalam puisi tersebut,

kewajiban untuk merantau;
“tapi rantau, tak ada lelaki satu pun di desa kita yang bisa menolak rantau”

dan keharusan menculik sang wanita terlebih dahulu sebelum menikahinya;
“sebelum akhirnya, gerombolanku gagal menculikmu sebagai istriku”

Kegetiran cinta bersumber pada sebuah nama, yaitu Aria, nama yang diposisikan sangat spesial di buku ini, dibuat selalu hidup dalam kenangan oleh sang penulis di samping kerinduan terhadap kampung halamannya.

Kemudian saya lanjut membaca puisi berikutnya dan berikutnya lagi, sampai-sampai saking asiknya saya membaca, kopi tak sempat diminum dan dibuat lupa menyalakan rokok, ternyata dengan membaca buku ini sedikit menyehatkan, hehehe…

Kembali ke isi buku, saya tidak akan membahas semua puisi di dalamnya, bila ingin tahu lebih banyak, saya sarankan untuk memesan bagi yang belum memilikinya. Saya cuma bisa bilang, buku ini Lombok banget! Ada istilah “Sempengot” di puisi “Bocah Pencuri Buah”, ada kisah di Gunung Rinjani “Rinjani: Perawan Bersungai Susu, Juga Bertelaga Segara”, Pantai Senggigi dalam puisi “Rindu yang Meranggas” dan puisi-puisi lainnya yang tak kalah khasnya dengan beberapa puisi yang saya sebutkan tadi. Cinta, rindu, khayal dan mimpi, buku ini mampu menyentuh semua aspek tersebut.

Dari semua puisi yang saya baca, entah kenapa saya berpikir penulis tidak benar-benar pulang ke kampung halamannya, saya merasa kepulangan kelima itu belum terjadi, melainkan hanya “Kepul-angan” sang penulis berdasar dari kepulangan-kepulangan sebelumnya, ini salah satu keunikan yang saya dapat dari buku ini.

Satu catatan dari saya: andai saja buku ini memiliki alur yang berurutan dari puisi pertama sampai puisi terakhir, misalnya berkisah dari masa kecil penulis sampai ke dewasa (saat ini), buku ini akan menjadi sebuah masterpiece of life story. Tapi terlepas dari itu, saya akui buku “Kepulangan Kelima” ini sangat mengagumkan.

Mengenai ilustrasi yang dikerjakan oleh Mas Oktora Guna Nugraha, tak ada kata lain, selain jempol untuk interpretasinya terhadap puisi yang diguratkan ke dalam seni ilustrasi dan saya juga selalu kagum dengan orang yang pandai menggambar atau melukis.

Mengenai CD album “Kepulangan Kelima” yang digarap oleh Mas Irwan Bajang dan Sanggar Ari KPIN, saya tak bisa berkata apa-apa, selain berteriak “Keren!”. Suara Mas Ari KPIN sangat mirip dengan suara idola saya Iwan Fals, mendengar CD ini, serasa mendengarkan album barunya Iwan Fals yang berduet dengan Irwan Bajang. Track favorit saya dalam album ini adalah “Mari Berjabat Tangan dan Berbaikan Lagi, Tuhan”.

Last but not least, sebagai penutup, saya cuma mau bilang bahwa saya yakin buku ini dapat menyentuh semua kalangan pencinta seni, baik seni tulisan, visual maupun audio, sangat rugi jika belum memiliki buku ini, bagi yang belum segeralah memesan di sini, dan buku ini juga dibandrol sangat murah, cuma Rp 45.000,-, murah tapi tidak murahan, saya jamin.

Sekian review saya yang sangat sederhana untuk sebuah buku yang luar biasa.

Om Santi, Santi, Santi Om

Tidak Ditemukan Bidang.

(Review) Kepulangan Kelima dan Orang-Orang Terpilih

Berikut ini Review Kepulangan Kelima, Album Puisi, Ilustrasi dan Musik karya saya berkolaburasi dengan Octora Guna Nugraha (ilustrasi) dan Ari KPIN (musik). Tulisan ini dibuat oleh Nuran Wibisono, seorang travel writer dan pemerhati musik. Tulisan diambil dari blognya: Foi Fun! Tulisan ini juga menjadi makalah pada launching buku Kepulangan Kelima, bersama 9 buku lainnya dalam acara ultah Apresiasi Sastra 2 Mei 2012 di Jogjakarta. 

kepulangan kelimaSaya selalu percaya, puisi sangat erat kaitannya dengan musik. Seorang guru semasa SD pernah berujar pada saya, “lirik lagu itu puisi yang diberi musik, atau musik yang diberi puisi.” Saya mempercayainya sampai sekarang.

Ketika saya mengenal The Doors, saya semakin yakin kalau lirik musik itu sama saja dengan puisi. Puisi yang diberi musik. Apalagi saat saya terkesima dengan lagu “The End” (dari album The Doors, 1967). Di lagu sepanjang 10 menit lebih itu, Jim Morrison meracau seperti kerasukan arwah-arwah shaman. Di sana ia berkisah tentang bis biru, menaiki ular sepanjang 7 mil menuju danau purba, hingga bagian yang paling menggidikkan: tentang epos Oedipus yang membunuh ayahnya dan bercinta dengan sang ibu. Selain itu ada banyak lagu yang bertaburan metafora, layaknya sebuah puisi pada umumnya. Seperti “Break on Through” yang bercerita tentang kematian, atau “Light My Fire” yang bercerita tentang drugs dan seks secara implisit.

Kalau begitu, apa bedanya musik dengan musikalisasi puisi? Kebetulan saya tidak ahli puisi, apalagi ahli musik. Namun sepengamatan saya, entah ini benar atau tidak, perbedaannya ada pada proses penciptaan.

Kalau musik, kebanyakan liriknya akan dibuat menyesuaikan dengan musik. Kebanyakan musisi menciptakan musik terlebih dulu, lalu baru membuat liriknya. Itu yang terjadi pada, misalnya, Guns N Roses yang membuat lagu “Sweet Child O Mine.” Slash dan Izzy Stradlin membuat dulu musiknya, jam session, lantas Axl datang dan menambahkan lirik yang teramat puitis sekaligus romantis.

Sedang musikalisasi puisi seringkali lebih rumit ketimbang membuat lagu biasa. Hal ini disebabkan oleh musik yang harus “tunduk” pada kalimat. Seringkali juga, musikalisasi puisi muncul dalam wujud seperti ini: puisi lebih dulu ada, musik menyusul. Musik dalam musikalisasi puisi harus bisa menyesuaikan dengan jumlah kata atau bait dalam puisi. Hal ini masih ditambah rumit dengan cara pembacaan. Seringkali dalam musikalisasi puisi, ada keluputan antara ritme musik dengan cara pembacaan ataupun dengan pemenggalan kata dan bait. Teramat susah.

Dalam hemat saya, orang yang bisa melakukan musikalisasi puisi dengan baik adalah orang-orang yang terpilih. Kalau sekedar memainkan musik lalu ada orang yang membaca puisi dengan serampangan, itu hal yang biasa. Yang susah adalah menyatukan dua elemen: puisi dan musik.

The Doors pernah melakukannya dengan baik (dan hei, mereka memang orang-orang terpilih!). Saat Jim Morrison memasuki fase senjakala, ia ingin kembali ke habitatnya sebagai penyair. Maka ia membuat karya terakhirnya sebagai penyair, An American Prayer (direkam tahun 1969 dan 1970). Setelah ia meninggal, para anggota The Doors yang tersisa langsung membuat aransemen lagu berdasar rekaman Jim saat membacakan puisi-puisi An American Prayer. Dan hasilnya adalah sebuah album musikalisasi puisi yang teramat dahsyat. Musik dan puisi berhasil menyatu dengan padu. Selain itu, jika ditilik lebih lanjut, musiknya sendiri dibuat dengan sangat serius. Ibaratnya, tanpa puisinya pun, musik itu bisa berdiri dengan tegak, mandiri, enak didengar dan seringkali menyusupkan aura magis. Lanjutkan membaca

Tidak Ditemukan Bidang.

Pak Raden dan Kepulangan Kelima

Pak Raden si Tokoh di Balik Sosok si Unyil yang fenomenal itu. Pada acara pembukaan pameran sketsanya di Jakarta, saya diundang dan berbagi buku dengan beliau. Beliau senang karena di buku puisi ini, selain ada musik ada juga ilustrasi—katanya, Pak Raden senang ada yang menyukai ilustrasi dan mengawinkannya dengan puisi dan musik.

Berikut ini adalah beberapa foto pose Pak Raden dan #KepulanganKelima. Juga ada Bang Oddie Frente, sahabat saya. Seorang penulis yang produktif sekali.

Ada yang sudah berpose tapi belum upload? Saya tunggu ya.