Made Dwi Kuzuma: Review Kepulangan Kelima

Berikut ini sebuah catatan sehabis pembacaan “Kepulangan Kelima” dari seorang penulis, ilustrator sekaligus musisi dari Bali; Made Dwi Kuzuma. Tulisan ini diambil dari blog pribadinya Ladang Stigma. Selamat menikmati.

——————————–

Om Swastiastu, 

Suatu hari, saat saya pulang dari bekerja, saya menemukan sebuah paket di atas meja. Setelah dibuka ternyata benar, isinya adalah sebuah buku, sebuah buku yang sudah saya tunggu-tunggu, yang saya pesan beberapa hari sebelumnya, buku kumpulan puisi dari Mas Irwan Bajang yang berjudul “Kepulangan Kelima”, buku yang wah dengan tiga perwajahan, yaitu puisi, ilustrasi dan CD album musikalisasi. Mas Irwan Bajang adalah seorang penulis muda dari Lombok yang saya kenal di dunia maya, cuma sekali saya pernah berjumpa di dunia nyata, pada saat beliau berkunjung ke Bali.

kepulangan kelima

Tak sabar rasanya ingin segera membaca buku tersebut, tetapi saya harus ganti baju, mandi dan makan malam terlebih dahulu. Setelah selesai makan dan usai menyeduh secangkir kopi, sayapun memulai membaca buku tersebut.

Dimulai dari puisi pertama yang berjudul “Kepulangan Kelima”.
Setelah menyelami bait per bait, baris per baris, saya mencium kekentalan aroma adat istiadat kampung halaman penulis berpadu dengan kegetiran cinta. Kebetulan saya juga punya teman dari Lombok yang sering bercerita tentang adat istiadat kampungnya, persis seperti dalam puisi tersebut,

kewajiban untuk merantau;
“tapi rantau, tak ada lelaki satu pun di desa kita yang bisa menolak rantau”

dan keharusan menculik sang wanita terlebih dahulu sebelum menikahinya;
“sebelum akhirnya, gerombolanku gagal menculikmu sebagai istriku”

Kegetiran cinta bersumber pada sebuah nama, yaitu Aria, nama yang diposisikan sangat spesial di buku ini, dibuat selalu hidup dalam kenangan oleh sang penulis di samping kerinduan terhadap kampung halamannya.

Kemudian saya lanjut membaca puisi berikutnya dan berikutnya lagi, sampai-sampai saking asiknya saya membaca, kopi tak sempat diminum dan dibuat lupa menyalakan rokok, ternyata dengan membaca buku ini sedikit menyehatkan, hehehe…

Kembali ke isi buku, saya tidak akan membahas semua puisi di dalamnya, bila ingin tahu lebih banyak, saya sarankan untuk memesan bagi yang belum memilikinya. Saya cuma bisa bilang, buku ini Lombok banget! Ada istilah “Sempengot” di puisi “Bocah Pencuri Buah”, ada kisah di Gunung Rinjani “Rinjani: Perawan Bersungai Susu, Juga Bertelaga Segara”, Pantai Senggigi dalam puisi “Rindu yang Meranggas” dan puisi-puisi lainnya yang tak kalah khasnya dengan beberapa puisi yang saya sebutkan tadi. Cinta, rindu, khayal dan mimpi, buku ini mampu menyentuh semua aspek tersebut.

Dari semua puisi yang saya baca, entah kenapa saya berpikir penulis tidak benar-benar pulang ke kampung halamannya, saya merasa kepulangan kelima itu belum terjadi, melainkan hanya “Kepul-angan” sang penulis berdasar dari kepulangan-kepulangan sebelumnya, ini salah satu keunikan yang saya dapat dari buku ini.

Satu catatan dari saya: andai saja buku ini memiliki alur yang berurutan dari puisi pertama sampai puisi terakhir, misalnya berkisah dari masa kecil penulis sampai ke dewasa (saat ini), buku ini akan menjadi sebuah masterpiece of life story. Tapi terlepas dari itu, saya akui buku “Kepulangan Kelima” ini sangat mengagumkan.

Mengenai ilustrasi yang dikerjakan oleh Mas Oktora Guna Nugraha, tak ada kata lain, selain jempol untuk interpretasinya terhadap puisi yang diguratkan ke dalam seni ilustrasi dan saya juga selalu kagum dengan orang yang pandai menggambar atau melukis.

Mengenai CD album “Kepulangan Kelima” yang digarap oleh Mas Irwan Bajang dan Sanggar Ari KPIN, saya tak bisa berkata apa-apa, selain berteriak “Keren!”. Suara Mas Ari KPIN sangat mirip dengan suara idola saya Iwan Fals, mendengar CD ini, serasa mendengarkan album barunya Iwan Fals yang berduet dengan Irwan Bajang. Track favorit saya dalam album ini adalah “Mari Berjabat Tangan dan Berbaikan Lagi, Tuhan”.

Last but not least, sebagai penutup, saya cuma mau bilang bahwa saya yakin buku ini dapat menyentuh semua kalangan pencinta seni, baik seni tulisan, visual maupun audio, sangat rugi jika belum memiliki buku ini, bagi yang belum segeralah memesan di sini, dan buku ini juga dibandrol sangat murah, cuma Rp 45.000,-, murah tapi tidak murahan, saya jamin.

Sekian review saya yang sangat sederhana untuk sebuah buku yang luar biasa.

Om Santi, Santi, Santi Om

Comments

Home