Rahasia di Balik #KepulanganKelima karya @IrwanBajang

Seorang pembaca Kepulangan Kelima dari Aceh Yelsafahziani sepertinya penasaran sekali dengan sampul buku ini. Ia mencoba mengurai apa saja misteri di balik sampul buku. Bagaimana penerawangannya? Berikut ini sebuah catatan saya ambil di blog pribadinya. Selamat menebak-nebak juga! :D

 

kepulangan kelima#KepulanganKelima adalah album puisi, ilustrasi  dan musik karya Irwan Bajang, Penulis sekaligus Direktur Penerbitan buku indie yang baru saja saya kenal pada jejaring sosial. Berawal dari percakapan insomnia melalui BBM bersama bang Esvan, mahasiswa yang merantau ke Magelang. Awalnya ia memperkenalkan saya pada #eminialbum karya Bagustian Iskandar. Setelah merasa puas mendengar suaranya, akhirnya saya memberanikan diri ngubek-ngubek tab following akun twitter @esvanpan dan menemukan akun Bagustian Iskandar.

Setelah beberapa minggu mengikuti akun mas Bagus, yang baru saja saya ketahui sebagai seorang geliryawan di Indie book corner mempromosikan sebuah buku puisi. Setelah beberapa kali melihat photo yang di-twitpict mas bagus, saya merasa tertarik hendak memilikinya. Desain covernya yang berbeda tarlihat menarik dan memikat. Seakan mengedipkan mata kepada saya untuk segera memilikinya.

Pada akhirnya saya berhasil mendapatkan buku puisi ini dalam waktu yang tidak lama, padahal Jogja – Aceh bukan jarak yang dekat. Tetap saya berterima kasih kepada pengirim yang benar-benar mengirim.

– – –

Entahlah, ada perasaan berdesir yang aneh pada ulu hati saat melihat sampul depan buku ini. Seperti ada nyawa yang melekat erat pada permukaannya. Yang saya tahu pada saat itu adalah saya harus segera membaca dan meresapi kepiluan penulisnya.

– – –

Benar saja, sampulnya membuat saya seolah terkena terhipnotis. Beberapa hari ini saya selalu diliputi penasaran, terlebih pada jam yang menunjukkan pukul 10.00. Apa yang terjadi pada pukul 10.00 yang berkaitan dengan buku ini? Pikiran saya saat itu.

Akhirnya setelah beberapa kali bertanya kepada penulisnya langsung, saya mengetahui bahwa lambang yang tertera pada sampul depan, beserta ilustrasi yang ada pada tiap lembar puisi tersebut memiliki hubungan yang erat. “Sebab semua simbol mewakili beberapa rahasia yang ditabur dalam puisi” kata mas Irwan Bajang kepada saya. Rasa penasaran saya memberontak ingin mengetahui apa makna dibalik simbol-simbol yang sengaja ditekankan mas Irwan pada sampul buku puisinya tersebut, sehingga terciptalah tulisan ini.

Saya mencoba membongkar rahasia sampul buku puisi Mas Irwan disini. (Ps. Mas Irwan, ampunkan saya kalau ada kesalahan. Hehe) :

***

Dimulai pada puisi pertama #KepulanganKelima bait pertama;

Melewati depan rumahmu

lampu desa yang remang mengejekku

halimun turun perlahan

menjadi selimut sepi yang menakutkan

membawa lari

rinduku pada perjumpaan

Adalah pada baris; lampu desa yang remang mengejekku ia menyimpan rahasia pertamanya. Tak ada keberanian yang muncul pada saat ia melewati depan rumah perempuan itu, jalanan begitu lengang. Yang setia berdiri hanya lampu desa, lampu yang seolah mengejek kedatangannya namun tak berani bertemu. Saksi bisu yang mengejek.

itulah sebuah arti yang tersembunyi pada gambar bolham lampu yang terdapat pada sampul depan #KepulanganKelima. Sebuah gambar yang melambangkan betapa memalukannya ‘aku’ saat melewati jalan itu namun tak mampu mempertemukan rindu dengan perjumpaan.

Seperti jalan Protokol

Pukul 10 pagi di Kuala Lumpur

Kau berkejaran, ingar bingar dikepalaku

Adalah simbolisasi jam yang menunjuk angka 10.00 pada sampul buku. Lebih besar pada gambar-gambar yang lain.

Namun sepertinya ingatan yang melekat bukan tentang Jalan Protokol Pukul 10 pagi,  justru kepada Kau berkejaran, ingar bingar dikepalaku. Jalan protokol pukul 10 pagi adalah jam-jam sibuk dimana ribuan manusia berlalu lalang seperti lautan yang dimainkan ombak.

adalah perempuan itu, ingar bingar dalam kepala sang Penulis, Otaknya dipenuhi segala ingatan tentang perempuan itu, seperti kilas balik sebuah cerita film. Perempuan itu menggaruk setiap ingatan yang dimilikinya, memaksanya kembali kemasa lalu dan mengingat semua. Kenangan indah, dan kenangan buruk itu.

Sampai pada bait ke 4 #KepulanganKelima, sebuah kenangan pahit tergores dalam bait ini.

Masih ku ingat kiriman surat terakhirmu

“kau selalu boleh berharap, tapi harapan dan kenyataan,

memang sungguh bukan rumus matematika”

Lalu kukirim balasan terakhir untukmu

“tak ada yang bisa mengkhianati kenangan

meski kita telah menyelamatkan perasaan masing-masing”

Adalah surat yang begitu menghancurkan hati siapapun yang menerimanya. Perempuan itu seperti berkata “Lupakan aku dan jangan pernah berharap banyak. Persoalan hidup adalah bukan hal yang pasti. Aku telah memilih hidupku sendiri, sekarang terserah kau. Terpaku pada aku yang tak memilihmu atau melanjutkan hidupmu.”

Saya seperti merasakan sendiri hati penulis yang hancur sebab surat terakhir yang menyayat hati tersebut, pastilah tak akan pernah dilupakan siapa saja yang mendapatkannya. Begitulah kira-kira makna surat dalam amplop yang disematkan pada sampul buku ini, sekedar pengingat luka. Bahwa ia pernah berusaha.

Jikalau diperhatikan lebih teliti, pada puncak jam terdapat seperti cerobong asap yang mengeluarkan asap hitam. Persis seperti cerobong kereta api. Saya pikir cerobong asap itu tidak memiliki arti, hanya perantara untuk meletakkan gambar yang lain.

namun pada puisi Rumah yang terbakar pada bait ketiga, saya menemukan sebaris kalimat yang membuat saya berpikir ulang;

lihatlah

serigala-serigala hutan dan serigala kota segera datang

memangsa kami

kemana lagi kami harus pergi?

kampung kami terbakar

tanah kami ditembok,

mengepullah asap dari cerobong

Adalah suatu ungkapan memilukan tentang Indonesia, Negara berkembang yang meletakkan segala pabrik sesukanya. Mengusir penduduk dari tanah kelahirannya, membuat mereka kehilangan tempat berteduh kemudian meracunnya melalui cerobong-cerobong asap beracun.

Tragis memang, namun itulah kenyataan yang benar-benar nyata yang mampu dideskripsikan oleh penulis.

Tersisa dua gambar, hati bertuliskan angka 02 beserta gambar sebuah obor. Dua gambar itu adalah gambar sulit saya temukan didalam buku. Entah berapa kali saya ulangi membaca keseluruhan buku. Namun tak ada kata tepat yang bisa menerjemahkannya.

Pada akhirnya, penulis -Mas Irwan Bajang- lah yang benar-benar tahu apa makna tersirat dari dua gambar tersebut. Namun dari keseluruhan isi, hanya ada dua nama perempuan yang disebutkan disana. Adalah Aria dan Rinjani: Perawan Bersungai susu, juga Bertelaga Segara. Membuatku berpikir, merekalah lambang hati yang memiliki angka 02 pada sampul buku. Dua orang perempuan yang tak terlupakan, memiliki kenangan masing-masing dalam benak dan hati penulis. Sungguh beruntung para perempuan itu.

Terakhir, gambar obor dengan nyala api merah. Sedikit saya ketahui tentang penulis, sempat menunda penerbitan buku #KepulanganKelima ini disebabkan beliau tengah bosan berpuisi. Entah karna insiden apa buku ini akhirnya bisa diterbitkan, dilambangkan dengan obor menyala. Seperti seorang pejalan ditengah hutan yang gelap gulita akhirnya mendapatkan penerangan dari sebuah obor yang mampu membuatnya tembus melewati hutan. Seperti mas Bajang yang akhirnya mendapatkan kembali ilham untuk melanjutkan produksi buku ini hingga menjadi buku favorit pada rak buku saya.

Terima kasih

 

Comments

Home