Pada Resepsi Pernikahan Itu (Cerpen Apresiasi Kepulangan Kelima)

Seorang Penulis bernama Catastrova Prima menulis sebuah cerpen yang katanya terinspirasi dari puisi “Pada Resepsi Pernikahan Itu” di Album puisi, musik dan ilustrasi saya “Kepulangan Kelima” . Bagaimana Prima menulis cerpen yang berangkat dari puisi? Mari kita simak bersama. (Tulisan ini diambil dari blognya Kamera Kata)

_______________________________________________________________________

Taksi warna biru berhenti di depan hotel dengan mendadak. Menyisakan suara decit ban yang terngiang di telinga dan debar jantung. Lelaki berjaket kulit itu turun dengan tergesa-gesa setelah mengucapkan terima kasih pada sopir taksi yang menggerutu dalam hati lantaran hampir menabrak penyeberang jalan. Ia menggaruk-garuk kepalanya sambil memandangi hotel yang menjulang menembus malam. Diliriknya jam tangan sekilas, lantas bergegas masuk.

Begitu memasuki lobi, ia disambut tiga karibnya dengan pelukan erat, tawa, dan umpatan. Seperti dulu, ia hanya mampu tersenyum, sesekali mengumpat, tanpa banyak bicara. Dia hampir menangis. Pertemuan dengan karib semasa kuliah ini sudah lama ia nantikan. Namun, baru hari ini semesta berbaik hati mengabulkan, di acara pernikahan Leo yang akan dilangsungkan besok pagi di hotel ini.

Tahun-tahun sebelumnya ia selalu absen. Di pernikahan Sam, ia tak bisa pulang lantaran harus dikirim ke Peru untuk membuat liputan tentang Machu Picchu. Tahun berikutnya, saat Haidar mengundang mereka ke acara pembukaan rumah makannya di Jakarta, dia harus terbang ke Sulawesi sebagai wali nikah adiknya. Sedangkan tahun lalu saat Irwan menikah dengan Alia, ia juga tak bisa datang karena dikirim ke Bali untuk meliput Konferensi Pemuda Internasional. Ia melewatkan banyak momen penting di mana empat karibnya selalu memelihara harapan akan kehadirannya.

“Dinda, mana Sam?” tanya lelaki itu.
“Wah, repot kalau diajak. Dinda hamil 7 bulan.”

Lelaki itu tersenyum. Hatinya bungah, namun juga canggung menghadapi pertemuan ini. Sam yang dulu kutu buku dan jarang mandi, kini wangi dan modis. Jam tangannya Rolex. Kemeja dan celananya juga bermerek. Tapi, tak banyak yang berubah selain persoalan penampilan. Sam tetap rendah hati dan selalu antusias bila ditanya perihal sepak bola. Tahun ini barangkali ia resmi dipanggil ‘bapak’. Begitupun Irwan. Lelaki paling tampan dalam geng mereka itu masih mata keranjang, suka menggoda perempuan cantik, apalagi bila si perempuan jual mahal, seperti yang baru saja dilakukannya pada seorang resepsionis. Namun, di tengah-tengah obrolan mereka, Irwan menelepon Alia yang sedang di rumah, mengingatkan untuk makan malam dan minum vitamin. Irwan jadi suami yang perhatian. Lelaki itu tertawa kecil ketika Irwan menutup telepon. Sedangkan Haidar, ia masih banyak bicara dan belum menikah, padahal sudah hampir sembilan tahun pacaran dengan Citra. Tampilannya tak jauh beda dengan Bob Sadino, pengusaha kaya yang jadi idolanya. Masih gandrung dengan celana pendek dan kaos oblong di mana pun berada.

“Kawinlah, Man!” Irwan menepuk-nepuk bahunya. Ia menanggapi dengan tawa. “Leo saja bisa kawin. Masa kau tidak? Ngg.. atau jangan-jangan kau..” Irwan menunjuk wajahnya dengan curiga.

“Ah tidak, dia masa lalu,” lelaki itu menimpali seolah-olah ia tahu apa yang dimaksud Irwan, “sudah jangan dibahas, sudah kawin juga.”

Seketika meja menjadi riuh. Lelaki itu seperti dipaksa membaca lagi buku harian yang bertahun-tahun lalu ia tulis. Ia memikirkan gadis bergigi gingsul yang kerap menculiknya dari ruang kuliah. Aria. Perempuan yang dikenalnya melalui Leo pada suatu sore yang hangat di lapangan basket kampus.

**

Lelaki itu memasang dasi kupu-kupu pada lehernya, lalu membetulkan letak kacamatanya di depan cermin. Rambutnya tak kalah mengkilat dengan ujung sepatu yang baru saja disemir. Jas yang ia kenakan membuatnya sedikit tidak nyaman. Maklum, ia jarang memakai pakaian resmi. Hampir setiap hari ia hanya memakai kaos dan celana jin dalam berbagai acara. Kemeja ia kenakan sesekali saja. Itupun sebagai penutup kaos.

“Buruan, Man!” teriak Haidar dari pintu.
“Oke!” Sekali lagi, lelaki itu membetulkan letak dasi kupu-kupunya yang menurutnya miring, lantas meninggalkan kamar hotel.

Mereka berempat masuk ke dalam barisan keluarga mempelai pria. Lelaki itu berdiri di sebelah Sam. Irwan dan Haidar berdiri di belakang mereka. Ia tampak tegang di antara kerumunan keluarga mempelai pria. Sebetulnya dia tidak begitu suka prosesi seperti ini. Sejak dulu. Pertama kali dia mengikuti prosesi upacara pernikahan, saat adik semata wayangnya menikah. Ia menjadi wali nikah lantaran ayahnya sudah meninggal. Detik-detik sakral yang membuatnya tidak nyaman terpaksa harus dilalui demi sang adik. Dan selama prosesi berlangsung ia hanya berharap acara lekas selesai.

“Nggak usah tegang gitu, Man!” bisik Irwan.

Ia tertawa renyah. Kemudian memandang berkeliling untuk mengalihkan kebosanan. Ruangan resepsi disulap begitu megah dalam nuansa ungu dan perak. Bunga-bunga yang diimpor dari luar negeri bertebaran di mana-mana. Pesta ini rupanya dirancang khusus untuk sanak saudara dekat dan teman-teman baik Leo. Tak sembarang orang bisa masuk ke dalam ruangan ini.

“Saatnya makan!” bisik Haidar.

Lagi-lagi ia tertawa. Mempelai sudah duduk di singgasana. Keluarga dan tamu mulai berpencar. Lelaki itu menghentikan pramusaji, mengambil segelas minuman. Dia berdiri di dekat vas bunga besar, meneguk minumannya. Beberapa teman yang ia kenal datang menghampiri, begitu juga sebaliknya. Sesekali ia menyambut teman lama yang datang, berbasa-basi, lalu saling berlalu.

“Man! Man!” Sam menepuk pundaknya saat ia hendak mengambil makanan kecil. “Lihat, Man!”

Lelaki itu menoleh, dan tertegun. Dari pintu masuk, seorang perempuan bergigi gingsul berjalan sambil mengamit lengan seorang lelaki. Keduanya mengenakan batik senada. Perempuan itu perutnya mulai buncit. Si lelaki tak kalah buncit tapi bukan karena hamil. Aria. Ia membiarkan dirinya terpaku bersama tamu-tamu yang lain. Hanya Aria yang melenggang di karpet itu. Kulitnya yang pualam, rambutnya yang legam panjang, lehernya yang jenjang, dan senyumnya yang serupa malaikat itu membuat seisi ruangan tiba-tiba hitam putih.

Sam berjalan menghampiri Aria di tengah jalan, menjabat tangannya, juga tangan suaminya yang berperut buncit seperti Santa Clause. Lelaki itu berjalan kemudian. Ia tersenyum menatap Aria. Aria juga tersenyum.

“Hai, Man!” sapa Aria dengan mata berbinar.
“Hai!”

Keduanya bersalaman, lalu ia menjabat tangan suami Aria dengan santun. Dadanya bergemuruh setelah keduanya berlalu. Matanya tak bisa lepas dari Aria. Namun buru-buru ia berpaling. Lima tahun berlalu dengan cepat dan ia merasa hatinya tak jua pergi ke mana-mana. Aria masih menjadi penghuni tetap lorong-lorong gelap yang berusaha ia ungsikan.

Sekali lagi, saat keduanya bersitatap, lelaki itu menangkap seraut wajah yang ia rindukan tiap malam. Yang ingin ia kecupi sampai subuh tiba dan kokok ayam membangunkan seisi alam. Ia tiba-tiba ingat ciuman pertama mereka di balik pohon dekat kampus. Aria memberinya kabar gembira. Gadis itu lolos sebagai kandidat mengikuti pertukaran mahasiswa ke Amerika. Sebuah ciuman yang tergesa-gesa dan kilat. Lalu ia mengulanginya dengan lebih bermakna. Aria tersipu lalu mengajaknya pergi ke kantin untuk makan siang.

“Hai semua, aku pulang dulu ya!” Aria tiba-tiba menyentuh punggungnya.
“Yah, kok buru-buru? Sekalian reuni lho ini,” ujar Irwan.
“Ah, kalian main-mainlah ke rumah!” kata Aria. “Kamu ni ngilang ke mana aja sih, Man?”

Lelaki itu gugup dengan pertanyaan yang baru saja keluar dari bibir Aria. Ia hanya tersenyum, berusaha menjalin kata-kata agar tak membelit lidahnya.
“Dia sibuk cari calon istri,” bisik Sam lalu terkekeh.
“Aku di Surabaya.”
“Oh di Surabaya.. Pantes kayak ditelan bumi!”
Mereka tertawa.
“Oke, sampai ketemu lagi, bye!” Aria melambaikan tangan dengan riang.

**

Esoknya lelaki itu pulang, diantar salah satu karibnya sampai bandara. Haidar yang kali ini mengantar.

Di dalam pesawat, sesaat setelah pesawat tinggal landas, lelaki itu menulis.

pada resepsi pernikahan sahabat kita itu
kuingat ciuman pertama kita, Aria

perutmu sudah buncit lima bulan

kelak, kau akan menamai anakmu berbeda
melupakan nama-nama
yang pernah kita rencanakan di masa muda

kau menggandeng suamimu
lalu aku pulang menggandeng tangan bayanganmu*

*) Puisi ‘pada resepsi pernikahan itu’ karya Irwan Bajang #KepulanganKelima

 

Comments