Seorang Teman Bisa Menikam di dalam Rumahmu!

Berat rasanya menulis cerita ini untuk dibagikan pada kawan semua. Saya takut tulisan ini menjadi gossip, pergunjingan atau sesuatu yang tidak mengenakkan di belakang hari. Tapi setelah mengonfirmasi ke teman-teman, terutama beberapa sahabat komunitas sastra di Lombok Timur, sepertinya berita ini harus saya sampaikan. Kali ini saya tidak bisa lagi memendamnya. Meski dihantui perasaan merasa bodoh, bersalah, sekaligus sedih, kali ini saya harus segera menyampaikannya. Maaf sebelumnya mengetag komunitas, penulis dan sastrawan di Lombok. Kita mungkin tidak tahu dan selalu berpikir baik. Tapi ancaman bisa datang kapan saja. Datang dari kawan dekat di dalam rumah kita.

***

Matahari segera akan tenggelam di Jogja. Beberapa orang sedang akan berbuaka puasa di hari pertama Nisfu Syakban ini. Seorang di antaranya mungkin Ramli Akhmad. Saya tahu dia rajin beribadah. Pagi-pagi di rumah Indie Book Corner (IBC), rumah di mana Ramli juga ‘tinggal’ sekitar lima bulan belakangan ini,  saya sering mendengar ia mengaji. Lantunan ayat suci kerap saya dengar di pagi hari atau malam hari sebelum tidur. Ramli sering saya lihat pakai baju koko dan jalan ke Masjid saat azan tiba. Mungkin ia akan berbuka puasa sore tadi. Seharian saya tidak melihatnya makan atau minum. Tapi di waktu orang berbuka puasa itulah saya harus mengusirnya dari IBC. Memintanya mengemasi barang, lalu berjalan keluar komplek perumahaan, menyusuri jalan menuju entah, mungkin sembari ditemani perasaan sedih, kesal atau mungkin marah pada saya.

***

Saya tidak akan semarah ini kalau saya tidak tahu saya dihianati. Diintip, ditunggu lengah lalu diakali. Saya merasa konyol. Dibohongi, dan merasa diperbodoh oleh orang yang selama ini menumpang makan, minum, tidur dan buang tinja di rumah saya.

Ketika Ramli datang ke Jogja, saya menerimanya dengan tulus. Membagi kamar, membagi makan minum, bacaan dan semua akses yang bisa ia jangkau. Termasuk internet, membolehkannya mengakses komputer redaksi, memakai printer dan lain sebagainya. Tapi ternyata Ramli melakukan ini. Ramli  menghianati semua kebaikan dan fasilitas yang saya berikan dengan tulus dan gratis.

***

Sore tadi (24/06/2013) saya diajak teman-teman IBC untuk mengambil merchandise IBC yang kami jual di Pasar Kangen Jogja. Ada block note, tas, kaus, dan dompet. Saya tiba-tiba teringat kejadian tadi pagi. Saya ingin membaca buku Catatan Orang Gila karya Lu Xun, tapi saya tidak menemukannya di rak buku. Saya cari dan tak kunjung ketemu. Sejak beberapa waktu lalu saya ingin membacanya, saya tak menemukannya di rak buku semula. Buku itu seperti hilang. Padahal itu salah satu buku cerpen yang saya sukai.

Buku itu memang tidak berada di rak semula. Sebuah tangan memindahkannya ke tempat yang tidak seharusnya ia berada. Dengan tidak sengaja saya menemukannya di tas Ramli yang setengah terbuka. Ada Lu Xun di sana, juga dengan buku terbitan IBC dan satu buku Erich Fromm yang juga rencana mau saya selesaikan. Akhirnya didorong rasa penasaran, saya membuka tas Ramli, saya menemukan 2 block note.  Dua block note tersebut adalah merchandise  yang kami jual dan kami pasarkan sebagai oleh-oleh buku di bawah label Koloni Kutu Buku. Ramli memilikinya, tanpa saya merasa pernah memberikannya. Ramli menyimpannya rapi dalam tas, meski saya juga tak pernah ingat kapan ia memintanya.

Hanya block note, apa itu jadi masalah? Bukankah harganya hanya beberapa ribu rupiah?

Satu block note terselip rapi dalam tas, satu lagi sudah kusam dan berisi tulisan. Ketika saya baca, ternyata ada daftar buku-buku yang dicatat. Sekitas 24 judul, dengan harga yang tidak sama dengan harga jual buku-buku IBC. Saya tentu hapal buku apa saja yang terbit di IBC selama ini. Apa saja buku yang tidak kami jual karena hanya dicetak terbatas dan hanya kami lebihkan 1 atau 2 saja untuk arsip.

Saya selalu memegang kode etik bahwa saya tidak menjual atau mengomersilakn buku yang dicetak lebih, selain untuk sumbangan ke rumah baca. Kata-kata ini sering saya sampaikan ke kawan penulis yang menerbitkan buku di IBC. Beberapa buku yang dicetak lebih saya sumbangkan dan saya arsipkan. Dan saya menemukan beberapa catatan buku yang “haram” kami jual itu di catatan si Ramli. Lengkap dengan daftar harga jual. Harga jual yang tidak sama dengan kesepakatan saya dengan penulis. Harga jual yang ngawur karena berbeda dengan Katalog yang kami punya.

****

Ramli pulang ke rumah, menunggangi motor saya. Barangkali ia usai buka puasa. Akhirnya saya bertanya:

“Kenapa bisa ada block note IBC di tasmu?” Wajah Ramli mendadadak berubah, antara senyum dan takut. Dia masih bertanya block note yang mana? Di mana? Tas apa? Seolah tidak tahu bahwa saya sedang menggiringnya mengakui dosa. Saya jelaskan lagi. “Ada block note kosong di tasmu, merchandise IBC yang harganya tak seberapa. Kenapa bisa di tasmu?” Kami berdebat, suara saya masih pelan dan tentu saja ingin bertanya baik-baik.

Ramli menganggap block note itu tidak terpakai. Dia ambil dan taruh di tasnya. Ia menganggap block note itu barang nganggur. “Oh, jadi barang yang nggak kepakai di rumah ini bisa kamu ambil semaumu?” Ramli diam. “Kamu nyolong? Kamu ngambil?” Dia tidak bersuara, hanya mengangguk pelan. Wajahnya mulai berubah. Lirih ia minta maaf. Telinga saya sepertinya mulai kehilangan fungsi.

“Itu yang pertama. Yang kedua, kenapa bisa ada catatan buku-buku yang berbeda dari nota buku yang kamu bawa pulang ke Lombok bulan lalu?” Ramli mulai membela diri. “Yang mana, Bang?,” tanyanya. Lalu saya menunjukkan block note berisi catatan ngawur, palsu dan sembarangan yang ia bikin. Kami berdebat. Saya bertanya, Ramli mengelak. Setelah lelah dengan alasan ‘yang mana, buku apa, catatan apa’ suara saya mulai meninggi. Saya dengan sadar mulai mengasah lidah untuk kalimat-kalimat yang makin ingin mengiris dan menusuk. Merasa terpojok, Ramli banting setir dengan membuat pengakuan. Catatan itu adalah catatan buku yang di bawa Fatih Kudus Jailani sekitar akhir tahun 2011 sepulang dari TSI di Ternate. “Kamu bohong! Beberapa buku baru juga kamu catat dan Kudus nggak pernah membawa buku itu!” Ramli diam. Tapi diam bukan berarti menyerah.

Beberapa jurus kemudian, dengan cepat Ramli mengalihkan pembicaraan dan mengganti alasan. “Itu buku yang dipesan teman-teman di Lombok. Saya catat. Mereka mau pesan.”

Saya balik bertanya. “Kenapa bisa harganya ngawur? Kenapa bisa buku yang tercantum buku yang kami nggak jual? Kenapa bisa buku-buku arsip kamu jual? Dari mana mereka tahu ada judul buku itu? Beberapa buku yang nggak dimuat di website, nggak dipublikasikan kenapa bisa dipesan orang?”Antologi pertanyaan makin deras dan Ramli tidak bisa membendungnya. Ia kembali diam. Ramli tidak bisa berkelit, ia mulai terdesak. Ia mengaku. Buku yang ia bawa itu tanpa sepengetahuan saya, atau kru IBC yang lain. Ia bawa pulang ke Lombok. Ramli minta maaf. Telinga saya sepertinya tersumbat.

Rupanya Ramli sudah merasa menjadi pemilik IBC. Menjual buku semaunya. Menjual buku arsip, menjual buku Pringadi, Ragil, Hemi, Ami, dan beberapa penulis  yang tidak melakukan kerjasama penjual dengan saya. Buku kawan-kawan yang lain yang saya simpan untuk arsip, untuk sumbangan ke beberapa taman bacaan.

“Kamu begini sama aku ya? Orang yang kamu tumpangi rumahnya berbulan-bulan. Orang yang menjemputmu di bandara saat pertama ke Jogja.” Ramli diam lagi.  Saya tidak menyangka seorang teman yang sama-sama merantau menghianati dan menipu temannya. Teman yang didatangi di Jogja, setelah hanya dua kali bertemu di Lombok. Saya merasa terpukul. Terlebih jika mengingat lagi rentetan pristiwa sebelum titik kulminasi sore hari itu mencapai puncaknya.

****

Ramli mencetak bukunya “Lelaki Pantai” akhir April lalu. Setelah sebelumnya saya menyarankan ia mengendapkan puisinya, memasak ulang dan mematangkannya.  Memperbaiki kalimat, menyusun ulang puisi-puisi yang ragu dan tergesa-gesa ia tulis.  “Saya harus pulang dan bawa buku, Bang.  Ayo segera terbitkan.” Kalimat itu yang sering dikatakan Ramli. Tentu sembari menagih hasil editing saya, meminta Uki membuatkan cover untuknya.  Saya sengaja menunda mengedit, sebenarnya ingin bilang pada Ramli untuk memikirkan matang-matang puisi-puisinya yang masih banyak berkalimat ambigu. Tapi Ramli memang benar-benar terburu. Setelah saya memberinya layanan editing, layout dan cover gratis atas nama pertemanan, bukunya naik cetak. Ramli pulang ke Lombok akhir April. Waktu itu saya sedang di Jakarta. Ramli pulang, terburu-buru beli tiket pesawat. Bukunya belum selesai di goreng di percetakan. Ia tergesa-gesa, laptopnya tertinggal di Jogja.

Ia membawa tas dan kardus buku-buku yang kami catat di nota untuk ia jual di Lombok sebagai penambah pemasukannya. Saya percaya. Apa untungnya tak percaya pada teman sendiri?

Tapi saya tidak pernah tahu, ia mengisi kardus yang lain dengan oleh-oleh disatukan dengan buku-buku lain yang tidak ia laporkan. Juga kaus, merchandise, block note dan barang lain lagi yang saya tidak tahu. Saya masih di Jakarta. Ramli pulang tanpa membayar bukunya serupiah pun. Saya percaya dia, karena saya memang percaya ia boleh tinggal di rumah ini. Menganggap saya sebagai saudaranya, makan, minum baca buku apa saja di rak pribadi yang saya susun dari buku-buku dengan mengencangkan ikat pinggang selama menjadi mahasiswa. Beberapa buku saya tidak terdeteksi keberadaannya. Tapi saya tidak mau berburuk sangka. Saya teledor. Mungkin dipinjam teman, mungkin juga memang hilang dimakan setan.

Coba bayangkan. Seorang teman meminjam sebuah barangmu. Lalu ia akan menggantinya dengan menjual barangmu yang lain. Barangmu. Tanpa sepengetahuanmu! Di titik ini saya merasakan kata-kata “jahat” berada dan menguasai sebuah hubungan pertemanan.

****

Saya kembali teringat dan kembali merasa sesak di dada. Bagaimana Ramli tidak mau menjawab BBM saya waktu dia di Lombok. Bagaimana beberapa hari kemudian ia membalas “maaf  belum ada pulsa, ” padahal sebelumnya sudah ada simbol “R”  di pesan dan PING!!! yang saya kirimkan. Mungkin Ramli ingin berbohong, tapi ia belum bisa menjadi pembohong yang ulung. Layanan BBM bahkan belum ia pahami. Ia berbohong dengan cara yang konyol. Ia kurang banyak menonton film detektif. Ia harus mendengarkan lagu Cow Boy Junior: Kenapa D lagi D lagi D lagi kok nggak R R, nggak RR.

“Uangnya ada Bang, tapi saya malas ke bank, nih,” katanya suatu hari saat saya tagih. Kalimat itu ia ucapkan dengan gembira. Ia tidak tahu, kalimat malas ke bank itu menyakitkan dan sangat tidak sopan bagi saya.  “Uangnya kemarin ada,  tapi udah habis. Saya kalah taruhan PILKADA kemarin. Hahaha…” tulis Ramli di BBM suatu hari saat saya menagih lagi untuk melunasi pembelian kertas, mencetak buku penulis yang lain. Ramli mungkin tidak merasa bersalah, menjawab pertanyaan saya dengan kalimat-kalimat lucu yang ia tak pahami tingkat ketidaksopanannnya. Ia terlalu polos untuk memahami sarkasme yang ia sampaikan dengan gaya becanda.  Ia mungkin belum baca Anton Checkov.

Namun ketika ia kembali awal Juni kemarin ke Jogja, saya masih menerimanya. Membukankan pintu, memberinya kamar, mengizinkannya masuk ke ruang baca pribadi saya. Membiarkan ia memakai motor meskipun sesekali saya harus mendorong motor atau membeli bensin dengan motor lain karena Ramli memarkir dalam keadaan bensin yang kosong. Atau saya harus mencucikan bekas makanannya setelah ia makan masakan yang saya masakkan di rumah yang ia tempati. Saya tak pernah memarahinya. Sesekali memberikan kode bagaimana cara bersikap. Bagaimana cara agar tidak menyerobot komputer kerja saya untuk facebookan ketika saya sejenak istirahat mengedit naskah. Saya memberi kode-kode halus, Ramli sepertinya belum paham. Ia mengabaikan intuisi untuk menangkap metafora yang bukan kata-kata.

****

Saya merasa berat untuk marah. Saya tidak suka bertengkar dan kerap kali menyesal saat memarahi atau berucap ketus pada seseorang. Apalagi seorang teman. Tapi kali ini sudah saatnya. Ramli memang harus diberi tahu dengan cara yang tidak mengenakkan; Menjebaknya pada pertanyaan-pertanyaan yang membuat aibnya terbongkar sendiri.

Ramli harus dihukum. Diajari dan diberi tahu. Ia harus merasakan bahwa merantau itu butuh banyak sekali pengorbanan; mencari angkot untuk menuju suatu tempat karena mungkin motor yang harus dipinjam dipakai berkerja, bukan dengan beralih ke motor lain dan menghabiskan bensinnnya. Membeli makan dan membaginya, bukan membeli makan sendiri sementara yang lain belum makan.

Ramli sudah dewasa, mau ambil kuliah S2 di UGM. Ramli harusnya tak perlu dimarahi, ia sudah sarjana dan ia menulis banyak puisi untuk ia bukukan. Ia lulus mahasiswa, dia memasuki kancah penulis muda Indonesia. Tapi Ramli belum merenungkan semuanya.

****

Dengan terpaksa senja kali ini menjadi senja yang murung. Bukan senja manis yang diculik Sukab untuk kekasih yang menolaknya di cerpen Seno Gumira Ajdidarma. Mungkin seharusnya Ramli sedang berbuka puasa, bersyukur lalu mengaji dan menyejukkan rumah dengan lantunan pembacaan Qurannya yang fasih seperti biasa. Tapi kali ini saya terpaksa mengusirnya. Memintanya mengemasi barang-barang dan pergi. Mengahancurkan perasudaraan, persahabatan dan banyak hal yang kita rencanakan bersama.

Ramli harus belajar, dan Ramli harus tahu, saya tidak mendendam dan sudah tidak marah, bahkan ketika ia sedang dengan sedih mengemasi barangnya, mungkin sembari merutuki kesalahannya mengambil barang teman untuk ia jual dan melunasi hutang sebelumnya. Menjadikan dirinya lebih jahat dari kapitalisme yang banyak di tolak generasi muda seusianya.

Saya tidak marah. Sebuah kaca yang pecah bisa disatukan kembali dengan lem kaca. Tapi selalu ada bekas pecahan yang tak membuatnya menjadi kaca utuh seperti semula. Nasi sudah jadi bubur, kaca sudah pecah, kesakitan hati karena dihianati sudah tak bisa lagi dikembalikan menjadi hubungan yang biasa saja seperti semula. Meskipun dendam tak ada, maaf sudah diucapkan, ingatan kejadian menyakitkan susah sekali dilupakan.

***

Saya tidak suka bermusuhan. Apalagi untuk mengucapkan perpisahan menyakitkan bagi seorang teman. Saya takut meninggalkan dan ditingggalkan. Bahkan sampai saya menulis catatan ini, saya bersedih dan merasa menyesal. Untunglah ada Charles Bukowski menghibur saya. Ia mengingatkan saya lewat film Bar Fly; bukankah kita sama-sama orang asing sebelumnya?

Saya sudah memaafkan Ramli. Saya akan menganggap Ramli orang asing. Orang yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Dengan cara itu saya bisa menghibur diri dan mengobati kekesalan sekaligus rasa bersalah saya.

Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya.

 

Jogja, Juni 2013

———————————–

Catatan ini saya pindahkan dari note facebook saya: https://www.facebook.com/notes/irwan-bajang/r-akhmad-dinedja-menghianati-saya-menikam-saya-di-dalam-rumah-saya-sendiri/10151673704699658 dengan judul “R Akhmad Dinedja Menghianati Saya, Menikam Saya di Dalam Rumah Saya Sendiri”. Profil R. Akhmad Dineja (Ramli Ahmad) bisa dilihat di sini: https://www.facebook.com/ramlycoim

Catatan ini saya pindah ke sini, bukan sebagai daftar panjang pembagian dan penyebaran masalah. Tapi hanya sebagai arsip belaka.

Beberapa komentar di facebook juga saya sertakan di bawah:

Comments