RADIO BUKU: Suara Hantu dari Balik Buku

radio buku

You had your time/ You had the power/ You’ve yet to have your finest hour/ Radioradio. Radio Gaga, Queen.

It has to start somewhere It has to start sometime/ What better place than here, what better time than now? Guerilla Radio, RATM

Ketika James Clerk Maxwell pertama kali menulis teori perambatan gelombang elektromagnetik pada tahun 1873  dalam paper-nya di Royal Society, ia mungkin tak pernah berpikir bahwa teorinya kelak akan menjadi sebuah revolusi komunikasi yang melampaui apa yang dipikirkan manusia sebelumnya. Tulisanya yang berjudul A Dynamical Theory of the Electromagnetic Field tersebut adalah cikal bakal lahirnya radio. Tiga belas tahun kemudian, Heinrich Rudolf Hertz, yang nama belakangnya diabadikan sebagai satuan gelombang radio, merumuskan persamaan gelombang untuk menangkap dan mengirim pesan. Sejak itulah radio kemudian populer dan menjadi kebutuhan vital manusia. Angkatan Laut, instansi pemerintah, komunitas, perusahaan komersil, dan semua orang yang berkepentingan memanfaatkannya. Hingga pada puncaknya, radio swasta makin berkembang dan populer, masuk ke jantung kebudayaan pop kultur umat manusia.

Jauh sebelumnya, buku juga telah mengalami evolusi yang panjang. Dimulai dengan penemuan kertas papyrus sebagai media menulis di Mesir, sampai China memproduksi kertas secara massal, dan ditemukannya mesin Gutenberg di Jerman.  Buku yang sebelumnya diproduksi dengan cara paling tradisional dan susah digandakan akhirnya menemukan sebuah era baru. Era mesin dan penggandaan yang lebih cepat dari sebelumnya membuat buku semakin populer dan menjadi konsumsi masyarakat luas.

Dua hal ini mungkin bukan segala-galanya bagi manusia. Bukan sesuatu yang paling penting dalam sejarah umat manusia di bumi.  Tapi tak bisa dipungkiri, radio dan buku telah mengikuti cerita panjang sejarah umat manusia. Hingga saat ini.

Perkawinan Ajaib Radio dan Buku

Maxwell  mungkin tidak membayangkan penemuannya itu akan sampai pada sebuah pelosok dunia di belahan bumi bernama Indonesia, lalu menjadi embrio sebuah komunitas buku di pojok Alun-Alun Keraton Jogjakarta. Radio menyitas sebuah media ekspresi dan komunikasi lain, kawin dan bermetamorfosis menjadi media baru. Media itu diberi nama Radio Buku oleh para pendirinya.

Di Jogjakarta, di pojok Alun-Alun Keraton terakhir Raja Jawa, hidup dan bergiat seorang anak rantau penuh ambisi. Konon ia datang ke Jogjakarta dari kampungnya yang jauh di pesisir Pantai Palu, Sulawesi Tengah, gara-gara sebuah kejadian memalukan di masa kecilnya. Kejadian memalukan tentang ketidaktahuan akan definisi ‘apa itu buku’ oleh seorang bocah kampung yang tak terdeteksi peta geografis kesejahteraan ala Orde Baru. Cerita memalukan itu terekam dalam buku “Aku Buku dan Sepotong Sajak Cinta”, sebuah fiksi memoar penulisnya yang terbit di awal tahun 2000-an, di mana Jogjakarta sedang berkembang menjadi sebuah ibukota buku pascareformasi. Saat itu—hingga sekarang—di setiap gang-gang Jogja bisa kita temui penulis, penerbit, dan komunitas perbukuan. Setelah hijrah ke Jogjakarta, ia tak bisa lagi melepaskan kutukan perjodohannya akan buku.

Dialah Muhidin M. Dahlan. Seseorang yang belakangan ini hari-harinya lebih banyak dihabiskan untuk menekuni arsip-arsip buku tua, koran dan majalah era kolonial, bau kertas, debu lembab, dan segala hal tentang buku. Selain tekun menjadi tukang arsip, ia juga mengepalai beberapa penelitian tentang buku, sejarah pers dan beberapa kajian yang selalu ada kaitannya dengan perbukuan. Di sebuah perpustakaan Jl. Patehan Wetan No. 3 Kecamatan Keraton Jogjakarta itulah, Muhidin dan beberapa tim yang kebanyakan adalah relawan menjalankan hari-harinya bersama buku. Fokus di Radio Buku dan Warung Arsip untuk mengabadikan banyak sekali peristiwa. Tulisan, Wacana, Manusia, Industri Buku, Komunitas, dan apa saja seputaran buku.

Muhidin bukan lagi mewakili manusia kolot yang hanya mengumpulkan buku tua, menjilidnya yang rapi, membeli berkantong-kantong kapur barus untuk menghalau wabah rayap menggerayangi arsip-arsip itu. Ia merekonstruksi arsip lapuk menjadi arsip modern, menjadikannya arsip digital yang disimpan di server-server hosting yang dijaga ketat para punggawa internet di beberapa belahan dunia. Sebuah revolusi arsip yang pastinya jauh lebih murah dan efektif dibandingkan cara arsip tradisional. Arsip-arsip itu lalu dikawinkan dengan perangkat-perangkat radio, menjelma suara-suara dan tidak hanya bisa terjaga dan terbaca, tapi juga bisa didengarkan. Arsip ini oleh Radio Buku disebut sebagai “Suara Buku”.

Arsip barangkali sudah menjadi ruh dalam diri Muhidin. Apa saja ingin ia arsipkan. Ia mengaku masih menyimpan esai pertamanya yang ia tulis saat di sekolah menengah dan diterbitkan di sebuah buletin pergerakan. Sebuah tulisan yang mungkin masih amburadul, di-layout, dan diterbitkan dengan selera yang buruk para redaktur muda dengan standar estetis yang menyedihkan. Ia mengoleksi semuanya. Menyusunnya sebagai mozaik ingatan dan dokumentasi kesejarahan diri yang manis untuk dikenang. Kekecewaan pada lembaga arsip negara yang nyaris tak bekerja apa-apa dan mengabaikan pentingnya dokumentasi, membuat Muhidin memulai gerak beratnya. Menyimpan rapi harta dunia paling berharga menurutnya: Buku.

Salah satu model pengarsipan yang agak berbeda dengan pengarsipan primitif adalah dengan mendirikan Radio Buku dan membuat arsip suara buku. Arsip kata-kata, dijadikan arsip suara.  Bagaimana caranya? Inilah keistimewaan Radio Buku. Merekalah manusia-manusia yang (mungkin) pertama kali melakukan revolusi arsip ini di Indonesia. Pengarsipan yang rapi, punya target, dan pola kerja yang teratur. Berbekal sedikit kemampuan elektronik yang pernah ia cicipi di bangku sekolah, Muhidin menanam cita-citanya untuk mengelola sebuah radio. Studio dengan jaringan kabel-kabel listrik yang berkelindan, juga perpindahan dan pertukaran informasi seperti yang diimajinasikan Maxwell sebelumnya. Ditambah bekal pergaulan dengan manusia buku, loncat dari satu penerbit ke penerbit lain selama masa kuliah yang tak rampung, jualan buku dan menulis untuk menghindari kelaparan di rantau barangkali cukup untuk bahan  bakar membuat sebuah radio yang menyiarkan buku.

“Radio Buku ngendon di pikiran sejak 2007 saat pertama kali membuat rundown selama sepekan untuk—allamak—‘televisi buku’.” Ucap Muhidin mengenang bagaimana ide ini pertama kali muncul. “Ditunggu dua tahun tak ada kabar, akhirnya diturunkan. Maksudnya, dihilangkan gambar, dan jadilah hanya audio. Visualnya dicoret,” ucapnya jenaka. Begitulah ia dan kawan-kawannya merintis sebuah radio buku di Jogjakarta. Sebuah radio komunitas yang sama sekali baru. Fokus pada buku. Buku dan buku.

Radio Buku dengan web resmi radiobuku.com diumumkan ke publik secara resmi pada 23 April 2011. 365 hari sebelumnya, ujicoba radio ini dititipkan di website indonesiabuku.com. Indonesia Buku sendiri adalah perpustakaan masyarakat sekaligus lembaga induk yang menaungi radio ini beserta beberapa kegiatan lain yang tentu saja kaitannya dengan perbukuan di Indonesia.

Radio buku berkonsentrasi pada kerja pengarsipan dan penyiaran arsip tersebut. Pengarsipan dan penyiaran suara buku. Dengan motto “Mendengarkan buku, membuka cakrawala”, Radio Buku telah menyusun agenda besar tentang pengabdian pada arsip dan penyiaran buku sebagai cara untuk membuka cakrawala bersama booklover, istilah untuk para pendengar radionya. Tentu saja kerja relawan Radio Buku bukanlah  bagaimana buku dibaca dan dijadikan suara semata. Tapi lebih dari itu, ia mengarsipkan segala hal tentang buku. Suara-suara menggebu generasi penulis dan komunitas perbukuan terbaru Indonesia, suara alay remaja terkini memandang buku, sampai suara marketing, bakhul buku dan suara parau nan sumbang dedengkot perbukuan Indonesia yang bertahun-tahun nyemplung dalam dunia buku yang penuh onak berduri. Suara gagal, suara orang-orang yang gugur di palagan perbukuan, suara optimis, dan suara keberhasilan yang gemilang, semua diarsipkan, direkam, dan diabadikan menjadi suara.

 

Radio Streaming, Murah dan Meriah

Radio komunitas buku ini disiarkan bukan melalui pemancar radio konvensional, tapi melalui jaringan internet.  Alasan ini bukan semata-mata dimaksud untuk mempermudah urusan teknik. Bukan hanya menghindari pembangunan pemancar penangkap dan penyampai gelombang radio yang akan memakan banyak biaya. Tapi juga bagian dari pembacaan atas zaman baru yang bergerak dengan sangat cepat.

Sebelum Radio Buku, radio streaming sudah menjamur. Radio dengan medio ini bukan hanya dibidik pelaku alternatif radio komunitas, tapi juga radio-radio swasta komersil dan populer. Hampir semua radio swasta memakai jalur daring di internet. Selain murah meriah, jumlah pemakai internet yang kian melonjak adalah pasar basah industri lintas media saat ini. Radio komunitas konvensional yang selama ini cenderung dianggap terbelakang karena lebih banyak muncul di kampung terpencil, atau dengan isu lokal, atau sebatas isu untuk komunitas itu sendiri sekarang sudah mulai menjadi bagian dari kultur pop yang lambat laun akan terus berkembang. Mereka masuk dan malih rupa menjadi radio streaming dengan target pendengar yang lebih luas.

Perkembangan jejaring sosial menjadikan siapa saja bisa menjadi pemberi kabar. Juga termasuk semua orang bisa menjadi broadcaster, publisher secara personal menjadi pemberi berita bagi banyak orang lain. Informasi bukan lagi menjadi monopoli media besar, tapi sudah jatuh ke tangan-tangan personal yang kreatif dan punya visi yang unik. Inilah era di mana segala sesuatu bisa dikerjakan dalam waktu yang singkat, tanpa anggaran super besar. Layanan murah dan bahkan sampai gratis para penyedia server internet memberi keluasan bagi banyak media untuk memindahkan induk persebaran informasi mereka ke internet.

Momentum gegap gempita internet dan jejaring sosial inilah yang disusupi dan diinvasi Radio Buku. Internet dipilh dan dikembangkan masuk bergabung dengan teriakan hore para pelaku jejaring sosial. Radio Buku akhirnya dibikin dan disiarkan lewat internet, bukan dengan membangun radio konvensional yang mahal dan mulai kehilangan pendengar. Suara buku disiarkan daring dari Selasa sampai Sabtu, pukul 13.00-17.00 dan 19.00-21.00 WIB. Info yang diwartakan di radio ini adalah berita sekitar buku, harga buku, isi buku, dan kajian-kajian buku. Info ini disampaikan lewat radio komunitas daring yang disiarkan lewat koneksi internet dan bisa didengarkan oleh seluruh masyarakat yang tersambungkan dengan internet.

Book Lovers dan Interaksi Komunitas

Jumlah Booklovers yang terdeteksi semakin hari semakin banyak. Medium berbasis internet ini tentu tidak bisa tidak melibatkan jejaring sosial terbaru seperti facebook atau twitter. Dari dua medium raksasa jaringan pertemanan inilah, Radio Buku melakukan gencatan kampanye buku dan memperdengarkan suara buku yang mereka arsipkan. Di jejaring sosial ini berdatangan para pendengar buku yang bukan hanya penduduk Indonesia. Kemampuan menyeberang jaringan internet membuat buku bisa didengarkan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja, selama ada jaringan internet.  Interaksi itu terjalin terus-menerus, bahkan ketika radiobuku sedang offair, mention di twitter dan facebook kerap datang dan mengajak berinteraksi. Perkembangan pendengar lintas jejaring ini juga terlihat dari banyaknya Booklovers yang ingin menjadi narasumber dan juga mengirimkan buku karya mereka ke radiobuku.

Berjalan dan masuk dalam dunia gegap gempita internet dan jejaring sosial membuat Radio Buku harus terus berbenah. Selain memutar suara buku, tentu saja Radio ini tidak ingin jadi hambar dan terkesan terlalu serius. Radio Buku juga memutar lagu-lagu. Pada jam regular di siang dan sore hari, siaran suara buku juga diselingi lagu-lagu yang menghibur dan bisa dipesan lewat jejaring sosial. Lagu-lagu ini, selain lagu populer juga adalah lagu-lagu arsip lawas yang dipelihara untuk mengantarkan siaran suara buku sesuai temanya. Juga tentu saja lagu-lagu terbaru band-band indie yang juga di-support oleh radio untuk bertahan dan didengarkan. Dengan menyiarkan suara buku, radio ini pernah kedatangan tamu tunanetra, dan ia merasa bersyukur karena buku tak hanya dibaca, tapi juga didengar.

Dengan menargetkan seribu jumlah suara, dalam perjalanannya selama dua tahun ini, Radio Buku telah mengarsipkan seratus lebih suara manusia buku menjadi keping padat cakram CD, dan masih seratus lebih lagi yang dalam proses penyimpanan ke CD. “Target suara yang akan diarsipkan sejumlah 1000 keping. Dan sekarang baru 100  yang terasipkan dalam kepingan cakram. Sudah ada 100-an lagi yang siap dijadikan CD,” ujar Muhidin yang juga sebelumnya menulis buku kontroversial “Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur” di tahun 2013 ini. Buku sebagai sumber ilmu memiliki kisah yang luar biasa di belakangnya. Dan orang-orang yang berada di baliknya adalah pahlawan yang jarang disebut-sebut. Di tingkatan inilah peran Radio Buku, menyiarkannya agar orang tidak mudah melupakannya.

Ada empat program utama yang dijalankan di Radio Buku dalam siaran hariannya. Katalog Seni, menampilkan komunitas atau bahasan karya seni dari pelbagai bidang serta bagaimana kedekatan para pengusungnya dengan bacaan. Angkringan Buku, dialog tentang buku atau isu dunia perbukuan tertentu. Selain menghadirkan penulis buku, juga individu atau komunitas pembaca yang membedah isi buku. Buku Pertamaku, menghadirkan cerita antara individu dengan keintiman atas buku. Semacam biografi suara yang mengulik kisah pribadi dan sedalam apa buku-buku memengaruhi kehidupannya. Dan yang terakhir adalah rubrik Komunitas. Rubrik ini merekam geliat komunitas-komunitas literasi. Selain merekam kisah sukses dan gagalnya, program ini juga menjadi serangkaian pendokumentasian ruang-ruang yang datang dan pergi dalam dunia perbukuan di Indonesia, seperti komunitas sastra, lembaga arsip, penerbit, perpustakaan, organisasi penulis dan pembaca, blogger buku, TBM, dan toko buku.

Di luar catur pilar program itu, ada program-program pendukung yang lain. Serangkaian program itu misalnya, Kanon Sastra, Leksikon Penulis, Filsafat Kaki Lima, Cerita Bersambung, Musik Indie, Jurnal Republik, Kronik Indonesia, dan Informasi Buku.

Pengabdian, Keras Kepala Vs. Pertahanan Hidup Komunitas

Sebuah komunitas yang bergerak dan menghasilkan produk tentu saja membutuhkan bahan bakar untuk melangsungkan kegiatannya. Bahan bakar ini yang nanti dipakai membiayai laju gerak komunitas dan akan membuatnya bertahan dari terpaan gangguan lambung para penggiatnya. Kondisi ini kerap menjadi batu sandung bagi banyak komunitas untuk bertahan. Ada yang kuat dengan model guyub kere yang dipelihara, ada komunitas yang beradaptasi dengan donatur, dan tak sedikit komunitas yang tergerus founding dan mengubah haluan komunitas mereka untuk menjaga dapur ngebul para pelaku komunitasnya.

Dalam dunia industri, buku mungkin bukan sebuah produk yang laku di Indonesia, meskipun beberapa judul buku memang ada yang laris sampai ratusan ribu eksemplar. Secara menyeluruh, jika dijadikan ukuran dengan jumlah penduduk Indonesia, tentu itu hanya sepersekian jumlahnya. Namun Radio Buku hadir bukan lagi hanya menyikapi fenomena tersebut. Radio Buku jadi wadah promosi buku dan penerbit dengan cara yang keras kepala seperti diakui Muhidin. “Mungkin ini disebut keras kepala. Radio Buku sudah selesai urusan bahwa buku laku atau tidak. Ini soal dokumentasi penghayat buku, komunitas literasi yang lahir dan tumbang, juga panggung buat booklovers untuk membaca karya secara mudah.”

Radio Buku memang tidak memfokuskan diri pada kegiatan komersil. Meskipun ada program iklan di siarannya, tapi tarifnya nyaris hanya serupa tarif untuk beli rokok dan kopi para kru. Semua aktivitas dijalankan bersama para relawan. Di radio ini relawan menjadi tulang punggung semua kegiatan. Relawan datang dari personal-personal yang menanamkan kecintaan mendalam pada buku, komunitas-komunitas, pers mahasiswa dan warga kampung sekitar. Tentu saja semua dilakukan dengan cara yang lagi-lagi keras kepala. “Pengelola utama yang siap-siap beraknya tak lancar,” ucap pendiri Radio Buku ini, sembari menjelaskan juga pendanaan dengan mengajukan proposal ke negara. Pengajuan proposal dan pada negara ini dikhususkan untuk pendidikan luar sekolah, untuk kerja sama program, misalnya pelatihan penulisan dan pengarsipan warga.

Sumbangan terbesar Radio Buku pada dunia literasi bukanlah semata bagaimana memperjuangkan buku ini sampai ke pembaca, menguntungkan penerbit dan para penggiat dunia perbukuan. Tapi lebih dari sekadar itu, dalam ceruk kosong budaya secara umum Radio Buku mengisi ruang kosong pengarsipan dunia buku, baik kliping, cerita berbasis audio, dan komunitas literasi.

Radio buku masih sangat muda. Zaman bergerak sangat cepat. Radio ini mungkin adalah sesuatu yang dibuat dengan penuh gairah. Kelak, dari balik ruang radio yang tak begitu luas dengan alat-alat sederhana ini, yang barangkali lebih kecil dari sebuah radio di kampus swasta yang dikelola jurusan broadcasting atau komunikasi itulah, akan terarsipkan suara suara yang beragam. Suara-suara itu kelak akan masih didengarkan sebagai arsip sejarah kebudayaan yang akan kekal bukan hanya lewat tulisannya, tapi juga oleh arsip suara manusia yang ada di dalamnya. Dari cakram-cakram yang entah beberapa puluh tahun lagi akan berevolusi menjadi wadah penyimpanan lain, akan keluar suara lolongan-lolongan hantu manusia buku. Lolongan yang akan terus abadi mengikuti perkembangan zaman dan makin beranak-pinaknya manusia menyesaki punggung bumi ini. [] @irwanbajang

*Dimuat di Majalah Voice+, Edisi Juli 2013

Comments