#5BukuDalamHidupku: Ayah dan Kakek, Hemingway dan Lelaki-Lelaki Keras Kepala

lelaki tua dan laut

“Lelaki bisa dihancurkan, tapi tak bisa dikalahkan”

–Ernest Hemingway

 

Bau kapur barus meruap di hidungku. Aku ingin muntah. Itu kapur barus pertama yang aku hirup dalam hidupku. Sejak hari itu‑‑lalu hari-hari berikutnya sampai aku mati kelak–aku akan membenci aroma kapur barus, aroma yang meruap dari mayat kakekku yang kaku.

Sejak hari itu, pantai, ombak dan laut hanyalah kenangan masa kecil bagiku. Ayah tak pernah lagi mengajakku datang ke rumah mendiang kakek. Tak pernah juga aku diajak melaut oleh sepupuku, menjaring ikan atau terjun ke laut memanah ikan-ikan besar, membawanya pulang lalu dimasak atau dibakar di halaman. Rumah kami jauh dari rumah kakek. Aku tahu, ayah tidak suka dengan kakekku. Ada dendam yang ia semai. Ia tak lagi mengajakku ke sana, menemui nenek baruku yang masih muda.

Sebuah sore yang muram, aku menemukan diriku di sebuah makam bersama ayah. Aku bukan bocah ingusan itu lagi. Sudah bisa jadi pemimpin upacara di Sekolah Dasar. Bukan lagi bocah empat tahun yang harus digendong ke pantai untuk menangkap kerang yang bisa jalan kalau ditiup. Sore muram itu aku duduk di depan pusara bersama ayahku. Pusara kakekku, sang pelaut yang tak terlalu aku kenal, selain dari salam-salam tempel saat lebaran, atau sarungnya yang bau bacin ikan yang tak pernah aku pakai jadi selimut saat menginap di rumahnya.

Aku berdua saja dengan ayah. Aku diam, ayah juga tak mengajakku berbicara. Aku lihat matanya memerah. Hanya ada sederet kalimat tak terucap menggantung di matanya. Aku tidak paham. Aku hanya mengingat hari kematian kakekku, suatu siang yang ramai kudengar dua orang saling berbisik, menunjuk bapakku yang sedang duduk di teras: “Itu, itu dia, anaknya yang durhaka itu. Telinga kecilku merekam kata-kata itu hingga sekarang. Hingga kapanpun.

***

Ketika sudah dipasrahi sebuah sepeda motor, aku sering ke pantai itu sendiri. Tidak terlalu jauh sebenarnya. Hanya lima belas menit dari rumah. Bagi anak muda yang sedang suka sekali pergi dan kelayapan, pantai menjadi lokasi yang sering aku kunjungi. Di sana kubayangkan aku menjadi pemilik sebuah perahu. Terjun sendiri ke tengah ombak, membawa panah ikan yang dilesatkan dengan busur dari ban dalam bekas. Panah itu akan menancap di kepala si ikan. Lalu aku berteriak keluar dari air. Berteriak dengan ikan yang sudah ditangan. Bangga menjadi pemburu yang perkasa.

Tapi keluargaku tak jadi pelaut. Tak ada yang mewarisi jiwa kakek sebagai pelaut. Ayahku jadi pedagang, saudara ayahku juga memilih dunia kerja yang lain. Memancing, sesekali kami mancing, tapi tukang pancing sambilan tak bisa disebut pelaut.

 

Santiago, Kakek Tua yang Keras Kepala

Aku menemukan buku itu di perpustakaan. Lagi-lagi perpustakaan, sebab di rumah hanya ada buku-buku ilmu sufi, Al Hallaj, Jalaludin Rumi, Abdul Qodir Jaelani dan nama lain yang dikoleksi ayahku. Sebuah buku bergambar seorang tua memancing ikan yang besarnya jauh melampaui ukuran perahunya. Kupinjam buku itu. Siapa tahu bisa mengingatkanku pada kakek. Siapa tahu bisa mengingatkanku pada laut.

Maka kutemukanlah seorang kakek yang tak punya keluarga di dalam buku itu. Santiago tua yang malang. Sudah 84 hari ia tidak mendapatkan seekor ikan pun dari pelayarannya. Seorang bocah kecil sahabat Satiago dimarahi orang tuanya dan disuruh menjauh dari Santiago. Ia lelaki sial, hidup tua dan merana sendiri.

Tapi Santiago bukan lelaki tua sembarangan. Dalam dadanya selalu menyala dendam dan gairah hidup. Ia selalu ingin perkasa, seperti singa-singa di hutan Afrika. Ia pernah beradu panco dan hingga pagi hari hingga semua yang ada di kafe itu bubar. Pergelangan tangannya kaku, badannya lelah, tapi ia tak pernah mau menyerah.

“Lelaki bisa dihancurkan, tapi tak bisa dikalahkan”, Santiago menanamkan kata-kata itu di palung dadanya. Kata-kata itu ia terjunkan bagai jangkar berat dan berkarat menuju dasar samudra kelelakiannya. Ia keras kepala, kuat dan sendiri. Kutemukan kalimat itu terhimpit di halaman buku tua tentang orang tua itu.

Santiago pergi ke laut, menuju lautan yang luas dan memancing. Dua hari dua malam ia berkelahi dengan ikan marlin raksasa yang kena kailnya.

Hari ketiga perkelahiannya. Sang ikan tampak mulai kelelahan, ia mulai berenang mengitari perahu milik Santiago. Sang lelaki tua bahkan sudah hampir gila, kelelahan dan hampir pingsan. Tangannya yang tua sudah berkali-kali keram karena menarik senar pancing yang dengan tak tanpa ampun telah melukai tangannya. Sang ikan yang ditarik tapi tak kunjung menyerah akhirnya sekarat di ujung harpun yang ditancapkan Santiago di kepalanya. Ikan itu diikat di samping perahu. Tapi sial, darah ikan memanggil hiu-hiu haus darah yang akhirnya menjadi musuh perang yang tak kalah tangguh bagi Santiago. Hiu-hiu itu satu persatu tewas di tangan Santiago, harpunnya yang patah kini sudah digantikan pisau yang ia ikat di ujung dayungnya. Ia kehabisan tenaga, hampir mati kelelahan berhari-hari di laut. Seusai menghalau hiu, ia tertidur, angin laut membawanya ke pantai. Ia terkapar di rumah tuanya dekat laut. Wajah dan tangannya sudah lelah dibakar matahari. Ikan utuh tak bisa ia bawa pulang.

Keesokan harinya nelayan-nelayan berkumpul menyaksikan perahu kecil milik Santiago. Kerangka sang marlin raksasa masih masih terikat di perahunya. Hanya kerangka, sebab ikannya sudah ludes disikat hantu-hantu laut dari Teuk Mexiko. 18 kaki diukur dari moncong hingga ekornya, ikan ini jadi saksi perkelahian manusia tua dengan laut. Sementara itu, Santiago masih terlelap tenang di rumahnya yang tua, sendiri, sendiri, hanya ada Manolin, bocah yang datang di pagi hari, membawakannya minum, makanan dan koran berisi berita base ball. Santiago tidur, dalam tidurnya ia bermimpi melihat singa-singa yang gagah di padang Afrika.

***

Aku masih memandang ayah yang sendiri menyaksikan pusara ayahnya. Ia tak berdoa, tak ada bibir gemetar yang aku saksikan. Aku ingat sesekali ayahkupernah menjawab saat aku bercerita tentang tetangga yang pernah bilang ia anak durhaka. Ayahku hanya tersenyum. Aku tahu, sudah tak ada lagi dendam di matanya. Lelaki memang tak perlu bicara atau saling membentak, ia bisa bicara lewat diam dan sorot mata.

Aku membayangkan kakek berlayar sendiri menuju lautan. Makamnya yang berada di dekat pantai itu adalah sebuah lorong rahasia menuju pantai lain. Ketika dimasukkan ke dalam kuburan ia sesungguhnya sedang masuk ke pantai lain. Di sana ia berlayar sendiri menuju lautan yang sepi, sendirian. Menaklukkan hiu, menaklukkan ikan marlin dan merenungi dirinya yang sendiri.

Aku dan ayah adalah orang yang melepaskanya pergi.

Seusai membaca Lelaki Tua dan Laut, aku membayangkan kakek dan ayahku pergi melaut sendirian. Masing-masing. Sementara aku adalah Manolin yang gusar di pinggir pantai. Tak kusadari, Hemingway datang duduk di sampingku dan tersenyum. Tokoh-tokoh yang kuat akan lahir dari lelaki yang kuat, begitu ujarnya. Aku tersenyum, lalu masuk rumah dan menyiapkan nama-tokoh. Seorang tokoh yang sendiri dan keras kepala.

Jogjakarta, 15 November 2013.

 

Hari keempat #5BukuDalamHidupku

 

Comments

Komentar

  1. veecla berkata:

    Ah.. saya lebih suka kalau 'a man' diartikan sbg manusia, jadi bukan laki-laki saja yang tak bisa dikalahkan. Hehehe..

    1. irwanbajang berkata:

      ini karena ambil sudut maskulinnya. karena aku senang jadi laki-laki. hahaha

  2. luckty berkata:

    "Aku menemukan buku itu di perpustakaan. Lagi-lagi perpustakaan, sebab di rumah hanya ada buku-buku ilmu sufi, Al Hallaj, Jalaludin Rumi, Abdul Qodir Jaelani dan nama lain yang dikoleksi ayahku."

    –> Wah, ternyata perpustakaan menympan kenangan mendalam yaaa… :))