#5BukuDalamHidupku | Sang Penyair: Cinta Monyet Saya dan Cita-Cita Kepenyairan

Sang Penyair Sampul Buku Sang Penyair
Mustafa Lutfi al Manfaluthi
Fiksi
Navila
2012
Paperback
315

81336Apa lagi dibicarakan anak berusia 16 tahun yang duduk di bangku sekolah menengah, rencana bolos, PR yang menjemukan, Pak Guru yang genit, Bu Guru Tua yang judes dan seorang gebetan yang berencana dipacari? Bisa jadi, les, ekskul, buku paket yang mahal juga bagian dari perbincangan, tapi cinta, kerap kali menjadi bahan dominan dalam obrolan rahasia di kalangan terbatas. Obrolan curhat. Saya pernah SMA, dan saya pernah berada di pusaran arus ragam perbincangan remaja itu. Saya laki-laki, di usia 16 tahun itu saya pernah jatuh cinta dan patah hati.

Seorang guru kelas empat SD pernah memuji karangan bebas saya tentang air dan manfaatnya. Saya menulis karangan pendek itu dengan cepat dan mencomot banyak sekali lirik lagu balada yang sering diputar ayah saya di rumah. Comot sana-sini itu berhasil membuat saya dipuji guru dan mendapat nilai yang bagus di pelajaran bahasa Indonesia. “tulisanmu kayak anak SMA, kelak kamu bisa jadi sastrawan,” ucap guru saya. Pak Kamarudin namanya. Anak SD kelas empat yang belum tumbuh jakunnya itu tersanjung, diam-diam dalam hati ia bercita-cita jadi sastrawan, sebuah cita-cita super absurd bagi seorang anak SD yang kelak ketika berusia dua puluhan tahun sadar betul, bahwa jalan menjadi sastrawan di Indonesia tak sama mulusnya dengan menjadi pekerja kantoran atau Pegawai Negeri Sipil. Sayalah bocah kecil itu. Bocah yang bahkan belum tahu bagaimana melipat dengan benar celana dalam saya.

***

Ketika guru bahasa memaksa kami yang kelas dua SMA membaca sebuah karya sastra lalu menceritakannya di depan kelas, entah kenapa saya mengambil buku ini di perpustakaan. Tangan dan mata saya memilih sebuah buku yang bisa jadi, dan benar-benar bisa mengubah banyak hal dalam diri saya. ­­Sebuah buku yang kelak akan sangat mempengaruhi hidup, karier, cita-cita, cinta dan menjadi sesuatu yang membuat saya bisa menjaga jarak dengan diri saya. Buku itu berjudul Sang Penyair, sebuah buku prancis yang disadur ke dalam bahasa arab oleh Mustafa Lutfi Al Manfaluthi, penulis Mesir spesialis penguras air mata.

Buku setebal 300 halaman lebih ini saya baca sekilas, cepat saja. Mungkin hanya dalam dua hari, saya agak lupa, peristiwa itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Saya menemukan banyak kutipan bagus yang bisa saya curi untuk menulis sebuah puisi cinta di catatan harian saya, sesekali menempelnya di mading, atau mengirimkannya buat pacar saya waktu SMA dulu. Pacar monyet tentu saja. Hehe.

Buku ini adalah buku terjemahan, diterbitkan oleh Navila, mungkin Navila menjadi satu-satunya penerbit yang saya hapal pertama kali dalam hidup saya. Sang Penyair dibuka dengan puitis, adegan sebuah kehidupan di bar pada abad ke-16 di sebuah sudut kota Prancis. Di bar itu berkumpul banyak manusia, seniman, sastrawan, aktor, pengemis, pencopet, gelandangan sampai bangsawan. Mereka berkumpul untuk menyaksikan sebuah acara teater. Acara teater digelar di bar karena memang belum ada gedung teater di Prancis pada waktu itu. Tentu saja ini referensi dari novel itu, saya belum pernah mengecek keabsahannya. Oh ya, saya ingat betul judul pertama bab dalam novel itu; Bar Borjuis.

Seorang pemuda desa bernama Christian, tampan, rapi dan pemalu datang jauh dari desa ke Paris dan terdampar di bar itu. Ia ingin bergabung menjadi prajurit kerajaan dan ikut berperang. Ia juga ingin bisa masuk bar tanpa karcis, seperti yang dilakukan banyak prajurit tengil malam itu. Sebuah drama pertama membawanya menjadi pemuda yang mabuk kepayang; malam itu semua mata tertuju pada seorang tamu paling cantik: Rokisan, wanita anggun yang akan mengisi banyak sekali lembar dalam novel ini. Christian jatuh cinta, tapi si tampan ini rupanya pemalu, cupu. Rokisan datang dengan Viskot de Jais, Panglima tentara Prancis. Drama-drama lain bertaburan di tubuh novel setelah adegan pembuka itu.

***

Panggung teater dibubarkan oleh Sereno de Borjok, seorang penyair yang dicintai rakyat, ahli pedang dan punya banyak sekali kawan. Ia membubarkan pentas buruk yang ditonton banyak borjuis, menantang orang-orang berkelahi sambil membaca puisi. Adegan ini selalu terekam bagus dalam kepala saya. Betapa kerennya Sereno menarikan pedangnya, sambil membaca sajak yang ia hapal di luar kepalanya. Ia melantunkan sajak-sajak kematian, pujian pada pedang dan membuat hampir mati lawannya, bahkan sebelum pedang ia tusuk dan tebaskan.

Sebuah penyelamatan dari kematian atas Christian yang cemburu pada Viskot de Jais membuat Sereno dan Christian bersahabat. Rokisan adalah sepupu Sereno, ia akan melakukan apa saja, termasuk membiarkan Rokisan menyerahkan hatinya untuk Christian yang baginya sangat payah sebab tak bisa menulis sajak. Pada suatu malam, sebuah pristiwa fatal terjadi. Sereno membantu Christian menyampaikan perasaannya pada Rokisan lewat puisi. Peristiwa ini menjebak Sang Penyair pada duka yang tak berkesudahan.

Ketika berangkat perang, Christian gugur. Ia ingin menulis sebuah surat buat Rokisan, tapi ia tak bisa. Maka dengan sisa permohonan yang bisa ia ucapkan, ia meminta Sereno menuliskan. Demi Rokisan, demi sahabat barunya Christian, sekali lagi Sereno yang malang memenuhi. Ia menulis surat dari hatinya, mewakili hati Christian untuk seorang yang sama-sama mereka cintai. Surat ini yang akan membuat sedih Rokisan, 15 tahun kemudian Rokisan masih meyimpan surat ini dan berkabung sepanjang hidupnya. Malang betul!

***

Sang Penyair, adalah buku yang pertama kali saya baca secara serius. Maksudnya, buku inilah yang saya baca, lalu saya suka dan saya baca lagi waktu SMA. Saya ingat, saya mengutip banyak sekali kalimat puitis dalam buku ini, lalu menulisnya di binder. Sejak menyelesaikan buku ini, saya ingat kembali cita-cita saya waktu kelas empat SD dulu. Cita-cita yang diajurkan Pak Guru. Tapi sejak itu, saya mengerucutkan cita-cita saya; saya ingin jadi penyair. Haha.

Menulis puisi bagi saya menjadi sebuah aktivitas sehari-hari waktu SMA. Peritiwa jatuh cinta, suka pada adik kelas, bertengkar dengan teman, cekcok dengan saudara atau berselisih paham dengan orang tua, renungan mentah tentang agama dan kehidupan saya tulis menjadi puisi di usia-usia itu. Mungkin itu usia paling produktif saya menulis. Saya ingat saya punya 3 isi binder yang isinya penuh puisi. Tentu saja kualitas puisinya standar. Tidak pernah berlajar serius, dan tidak pernah membaca sambil meneliti lebih dalam bacaan puisi.

Buku ini membuat saya menyikat nyaris semua buku puisi di perpustakaan, saya membaca Taufiq Ismail, Sapardi, Sutardji, Chairil, Subagyo dan buku puisi lain di perpustakaan. Buku-buku puisi yang dikanonkan pemerintah dan wajib ada di perpustakaan. Sereno de Borjok membuat saya rajin memasuki diri, menulis apa saja yang saya rasakan, mungkin juga mengajari saya bagaimana cara menggombal yang keren ala anak SMA.

***

Sepeninggal Christian, Sereno menghibur Rokisan dengan membacakannya puisi setiap hari sabtu. Sereno ingin menghibur Rokisan. Rokisan kini terjebak dalam asmara buta, mencintai secara utuh lelaki yang sering menghadiahinya puisi. Sereno dalangnya, ia membuat drama melankoli hidupnya dan hidup kekasih hatinya sampai akhir hayat.

Suatu hari Sereno datang terlambat menemui Rokisan. Hari itu adalah hari pertama ia terlambat dalam 15 tahun. Dan Rokisan masih menantinya sambil menyulam. Sereno yang marah pada dirinya ingin mati dalam peperangan, ia membenci dirinya yang jago pedang dan selalu mengalahkan musuh. Beberapa hari sebelum menemui Rokisan, ia mengamuk sendiri, membabat apa saja sambil menyanyikan puisi kematian. Kepalnya berdarah membentur pohon besar, ia melarikan diri dari perawatan di hari sabtu terakhir itu. Hari di mana ia tahu Rokisan masih menyimpan surat Christian, surat yang tanpa sadar ia hapal dan bacakan di telinga Rokisan. Ketika Rokisan tahu, Sereno yang menulis surat itu, Sang Penyair Pedang sudah mengamuk, ia menantang malaikat maut datang dengan pedangnya. Ia mengamuk, kehabisan tenaga dan mati di pangkuan Rokisan. Ah! Tragis.

***

2 orang sahabat saya, Irsad Zaki dan Titin membaca juga buku ini, dan mereka mengaguminya. Saya tidak tahu apa yang mereka rasakan saat membacanya. Yang saya tahu, Titin kemudian menulis banyak puisi juga di kelas 3 Bahasa waktu itu. Dan Zaki, ia secara tidak sadar telah membuat saya iri dengan puisi bagus yang ia tulis sejak SMA, dan bahkan sampai saat ini. Mungkin sebabnya bukan karena buku ini, tapi saya yakin, Zaki terkesan, sesekali ia menyebut Sereno dalam beberap obrolan.

Sang Penyair, membuat saya akrab dengan puisi. Kisah tragis, melankolis dan picisan dalam novel ini selalu terkenang sampai sekarang. Saya tahu saya berlebihan. Buku ini banyak sekali kekurangannya, dan ini bukan buku terbaik yang pernah saya baca. Ketika saya baca kembali, beberapa logika dalam novel ini memang tak bagus. Tapi buku ini selalu menarik.  Menarik sampai sekarang.

Ketika membaca ulang novel ini, di usia (yang agak dewasa) saya kembali menyelami banyak hal dalam diri saya. Bagaimana penyair menjaga puisinya sendiri. Sereno menghapal puisi-puisinya, dan saya masih tetap punya obsesi menghapalkan apa yang pernah saya tulis. Sehingga tak ada lagi sekat antara saya dengan puisi. Saya tak perlu grogi membaca puisi di mana saja, saya tap perlu bilang “maaf saya nggak bawa puisi” dalam sebuah acara di mana “palak tampil membaca” sering diadakan.

Dalam rentang usia saya yang baru setengah abad ini, saya memang tidak pernah mengalami kisah cinta dramatis, sedramatis kisah dalam novel ini. Dan saya rasa tidak perlu. Tapi membaca kembali novel ini membuat saya kerap berpikir lebih jauh tentang relasi dua manusia. Benarkah kisah cinta itu harus berakhir dengan indah? Atau seseorang bisa datang kapan saja dan pergi begitu saja? Atau seperti Christian, banyak orang gila demi cintanya, memaksa dirinya bisa memakai kata sakti untuk sang kekasih padah ia tak bisa? Menipu diri sendiri dengan apa yang ia bisa dan tidak bisa? Saya rasa semua orang akan bisa memilih peran. Siapa saja bisa menjadi siapa dan apa saja. Termasuk saya.

Saya tak perlu memilih buku lain yang bagus dan ditulis penulis hebat untuk meletakkan buku ini menjadi buku paling berpengaruh dalam hidup saya. Saya cukup dengan semua capaiannya. Saya ingin menjadi pembaca yang awam lagi. Membaca ulang buku ini sembari mengenang bagaimana saya masuk perpustakaan, membacanya, membawanya pulang, dan menceritakannya kembali di depan kelas 2 SMA dulu. Terima kasih Mustafa Lutifi al Manfaluthi, terima kasih Navila, dan terima kasih Sang Penyair Sereno de Borjok!

Buku ini saya dapatkan kembali di sebuah toko loak di Gondomanan Jogja. Saya tanpa ragu membelinya, meskipun buku ini sudah terpisah dengan sampulnya. Saya tidak ragu untuk menaruh dan merawatnya di rak buku saya.

Jogjakarta, 12 November 2013.

 

—————

Tahun 2010 buku ini saya lihat di sebuah toko buku. Cetakan ulang dengan cover yang tidak sebagus versi sebelumnya. 

Comments

Komentar

  1. "Apa lagi dibicarakan anak berusia 16 tahun yang duduk di bangku sekolah menengah, rencana bolos, PR yang menjemukan, Pak Guru yang genit, Bu Guru Tua yang judes dan seorang gebetan yang berencana dipacari? Bisa jadi, les, ekskul, buku paket yang mahal juga bagian dari perbincangan, tapi cinta, kerap kali menjadi bahan dominan dalam obrolan rahasia di kalangan terbatas."

    –>> oh, untung gak ada yang gosipin pustakawan sekolah :))

  2. darara berkata:

    "Anak SD kelas empat yang belum tumbuh jakunnya itu tersanjung, diam-diam dalam hati ia bercita-cita jadi sastrawan, sebuah cita-cita super absurd bagi seorang anak SD yang kelak ketika berusia dua puluhan tahun sadar betul, bahwa jalan menjadi sastrawan di Indonesia tak sama mulusnya dengan menjadi pekerja kantoran atau Pegawai Negeri Sipil. "

    tapi jalan sastrawan masih lebih hiruk-pikuk lah. minimal dapet penggemar yang rahasia dan yang terang-terangan ;)

    1. irwanbajang berkata:

      hmmmm…. bisa jadi sih. tapi kalau di Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta, hal ini nyaris tidak ada. hehe

  3. Fajar Ramayel berkata:

    Dulu pas saya sekolah di SMUN 54, buku ini ada di perpustakaan, saya dan sahabat membacanya dan sangat mengagumi isinya, kami lalu berdiskusi panjang lebar tentang novel ini, ah masa2 SMA yang indah :)

    mungkin satu2nya novel bergaya puitis yang pernah saya baca, hehe
    Kalau boleh tau, judul asli novel ini apa yah? trims

    1. irwanbajang berkata:

      Kalau nggak salah Asyiar, judul bahasa arabnya. saya baca terjemahan bahasa indonesia :)

  4. tianklangit berkata:

    ada yang bisa bantu saya mendapatkan novel ini gak yah ~_~"

    1. irwanbajang berkata:

      agak susah sih, coba lihat web penerbit navila, kayaknya sudah cetak ulang