#5BukuDalamHidupku: Dunia Buku, Perjumpaan Penulis Pertama dan Penulis Kedua

OLYMPUS DIGITAL CAMERASurat Kepada Penulis Petama

Kenapa kau harus menulis buku itu? Menghadirkan seorang tokoh celaka yang bahkan tewas mengenaskan di awal cerita: ditabrak bus, mati miskin dalam sunyi tak terperi. Apa kau membayangkan tokohmu seorang demonstran itu? Lelaki mati yang ditabrak dan dikenang lewat catatan hariannya. Kenapa juga kau tak menuliskannya sendiri? Dengan tokoh aku misalnya, dia, atau setidaknya memberi nama yang pantas. Jahat sekali. Kau bahkan menyuruh seorang tokoh lain menulis kisah tokohmu. Seorang aktivis wanita yang kau sengsarakan sejak memulai cerita. Dendamkah kau pada dirimu? Ingin larikah kau atau kau ingin menjadi tuhan yang kejam dengan mengutuk tokoh-tokohmu?

Kenapa tak kau lanjutkan saja mengajimu? Mengamini semua buku keras yang kau baca. Mengamini imammu. Memakai sorban lalu mengebom sebuah rumah ibadah umat lain. Kenapa kau harus ke Jogja. Kota yang jauh dari laut bacin yang nyaman dengan kemiskinan yang akrab sejak bocahmu. Kenapa kau datang ke ibukota buku ini. Kenapa juga anak kecil kumuh itu kau hidupkan dalam bukumu. Anak kecil miskin yang mati malu di hadapan mahasiswa KKN yang ingin segera jadi sarjana itu.  Kau menyiksa anak kecil itu hingga ujung cerita.

Dan makin ramai tokoh-tokohmu hidup di dalam buku. Kau buat mereka gundah menceritakan semua kemiskinan dan derita; honor yang telat dibayar, teman-teman yang berhianat, teman-teman yang mencuri.  Tak cukup, kau menambahkan seorang tokoh teman tokohmu, teman dekil yang mengajaknya ke pelukan pelacur belia; menjatuhkan Madilog Tan Malaka, melupakan ilmu dan ibadahnya. Tokohmu limbung; di sini idiologi terlalu tinggi dan agama terlalu suci. Kau sakiti tokohmu, kau siksa lagi. Kau buat dia jatuh cinta, kau buat dia bodoh dengan konyol membuat berlembar-lembar buletin untuk mengungkapkan cinta. Lalu kau tampar telak ia. Kau hadiahi ia sebuah penolakan yang membuat patah hatinya paripurna.

Tidakah kau sadar. Tokoh-tokohmu berkeliaran sendiri tanpa kau ketahui. Keluar dari buku itu lalu masuk di banyak kepala orang yang ingin mengikuti jalanmu, atau orang yang berniat menyitas jalan yang pernah kau seberangi.  Harusnya kau tak seceroboh itu.

Surat Kepada Penulis Kedua

Kau harus sadar segera. Kau telah dikutuk oleh pujian guru kelas empat SDmu itu. Aku memang tak bisa menyalahkanmu. Kau masih terlalu belia untuk tak besar kepala. Sebuah pujian untuk karangan bebas telah membuatmu memendam sebuah cita-cita. Menjadi penulis. Cita-cita yang tak pernah akan mulus. Terlalu asing dan sunyi bagi bocah seusiamu.

Lalu kenapa kau harus jatuh cinta. Membaca novel picisan, mengutip sana-sini lalu menempelnya di majalah dinding sekolah. Ikut lomba menulis. Gagal. Lalu menemukan banyak buku baru, bacaan baru yang terus mencambukmu. Kau mulai kena sindrom penulis pertama. Kau ingin membangun dunia dalam jilid kertas-kertas itu. Kau bahkan menambatkan cita-cita masa mudamu. Ingin hidup dari tokoh-tokoh itu.

Kenapa kau tak lulus segera. Lulus dengan nilai baik, tugas akhir yang baik. Lalu Jadi pembantu dosenmu. Sekolah lagi dengan beasiswa. Menikah segera. Hidup di kampung yang tak pernah meminta apa-apa dari kepalamu. Cukup dengan menghibahkan sedikit gaji ke masjid, menebar senyum ke tetangga, lalu  mencalonkan diri menjadi kepala desa di waktu yang tepat. Kenapa tak kau lakukan? Kenapa kau harus mendaftar jadi kuli di sebuah rumah buku itu. Belajar buku-buku, bertemu penulis-penulis baru, manusia-manusia baru. Lalu akhirnya kau kecewa. Buku bagus tak selalu bisa diterima dan diusahakan, kata majikanmu. Mereka menghitung banyak hal. Kau yang tak suka ilmu hitungan akan susah memahaminya. Kau berontak. Buku-buku dan tokoh-tokoh yang kau baca menguasaimu. Kau keluar dari rumah buku itu. Kau bikin rumahmu sendiri. Kau undang banyak orang. Kau undang banyak manusia yang kau lihat bagus tulisannya. Kau suruh mereka mengikuti keras kepalamu.  Kau memang pelupa. Kau lupa telah membaca sebuah buku dari tulisan seorang yang mengutuk tokoh utama di novelnya. Ia penulis pertama.

Harusnya kau ingat seksama nasib tokoh yang ia sikasa di bukunya itu. Kau setidaknya harus belajar agar tak didekati tokoh celaka itu. Tapi semua sudah terlambat. Kau dikutuk masuk karena ulahmu. Sekarang nikmati dan rasakanlah sendiri.

Narasi Tukang Cerita

Bertemulah penulis kedua dengan penulis pertama dalam sebuah buku. Buku bersampul merah yang dihadiahkan seorang perempuan padanya. Ini bukan sampul pertama. Sampul buku ini agak bergaya kekinian; seorang pemuda ngebut memacu sepedanya. Kelak ia akan tahu, sampul terbaik adalah sampul pertama, di mana seorang gondrong kerempeng membonceng buku di belakang sepedanya. Sangat pantas menggambarkan semua yang ada di dalam novel 368 halaman itu. Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta, judulnya. Dan ia juga akan dengan pasti mengiyakan bahwa sampul ketiga buku itu adalah sampul yang makin buruk, lebih buruk dari sampul kedua. Apalagi diperparah dengan perubahan judulnya. Baginya,  Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta ialah sebuah novel yang dibuat dengan judul yang benar-benar dipilih.

Ketika lembar pertama ia buka, tokoh utama dalam tulisan si penulis pertama meloncat. Berkeliaran ke sana kemari. Merusak mimpi banyak pembaca. Termasuk penulis kedua.

 

***

Awalnya penulis kedua membayangkan, jalan kepenulisan adalah jalan yang mulus. Ia hanya butuh tulisan bagus, lalu mengirimkannya penerbit, duduk manis menunggu royalti. Makan di kafe yang banyak dikunjungi anak muda. Bicara di depan para pembacanya. Membayari makan pacarnya, adiknya dan membeli rumah nyaman untuk menulis, menulis dan terus menulis. Tapi tokoh dalam buku itu telah merusak isi kepalanya. Dunia yang ia jalani tak semulus apa yang ia rencanakan.

Datang ke Jogja, tersesat di sebuah kampus berisi manusia-manusia yang lebih banyak tak mengenal makanan kering bernama buku. Ia terjebak di bacaan-bacaan politik, bacaan yang memperkaya isi kepalanya, tapi tak mengajarkan bagaimana diam, duduk sendiri dan mulai menulis yang sederhana. Ia ingin membangun tokoh yang luar biasa, tokoh pemberontak yang sempurna. Diasingkannya dirinya dari kuliah. Ditulisnya sebuah novel yang ia anggap magnum opus. Tapi anak muda itu terlalu terburu-buru. Ia kandas. Retur buku dari penerbit menumpuk di kamar kosnya.

Kembali ia baca buku itu. Buku yang ditulis dengan getir di sebuah tempat sunyi dalam kepala si penulis pertama. Mungkin juga sebagian kisah tokoh di novel itu adalah kisah hidup si penulis pertama. Ia tak mau menduga. Ia membiarkannya begitu saja.

Penulis kedua memang tak mengalami nasib seburuk tokoh dalam novel penulis pertama. Tokoh yang datang dari tanah yang jauh, mengadu isi kepalanya dengan dunia, dengan manusia-manusia yang tak bisa ditebak apa maunya. Ia tak separah kisah dalam cerita itu. Ia tak pernah menunggu honor dari koran, sebab ia hidup di era yang lebih baru. Ia menulis di blog, menulis di dinding sosial media.

Penulis kedua hidup tak murni dari tulisannya, tapi bakat yang lain. Membaca dan mengoreksi tulisan orang. Memproduksi dan menyebarkan, mengompori orang lain untuk tak patuh pada jalan yang ada. Kita harus berbeda, ucapnya pada dirinya dan generasinya.

Tapi begitulah, dunia tak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan, sebab tak ada makhluk terkejam di dunia selain ia yang bernama harapan. Ketika ia mencoba membuka sebuah rumah buku,  hasil kekecewaan dengan rumah buku sebelumnya, banyak orang berdatangan. Banyak orang yang dengan gembira ia ajak bersalaman dan jalan-jalan. Menjalani apa yang ia impikan. Sebuah kebebasan menulis dan menyebarkan gagasan, tanpa kompromi dengan keinginan kebanyakan orang.

Di rumah buku, ia harus bertaruh banyak hal. Berkenalan dengan banyak manusia, banyak sumber daya. Tapi dunia tak selalu baik-baik saja. Tokoh dalam buku penulis pertama menebar kutuk untuknya.

Tak semua orang yang diberi kebaikan selalu membawa kebaikan. Ada yang dengan gembira terus bekerjasama. Ada yang menjadi bagian tak terpisahkan dari apa yang direncanakan.  Tapi ada juga yang datang dengan membawa musibah. Membebaninya dengan tanggungan-tanggungan yang susah ia tunaikan sendiri. Mengambil buku yang mereka buat bersama, lalu menghilang begitu saja. Sebagian teman, sebagian orang yang sama sekali tak dikenal dan datang dengan muka manis memperkenalkan diri. Semua itu ada. Semua itu ada di dunia bernama buku. Di sebuah sistem bernama perbukuan.

***

Diingatnya bacaan pertamanya, sebuah buku yang tak pernah ia dapatkan sampai sekarang. Diingatnya kelas satu sekolah menengah pertamanya, terhimpit di ruangan perpustakaan karena kehabisan kelas. Diingatnya mading-madingnya, catatan-catatan hariannya. Lalu dipandanginya semua sudut di kamarnya. Semua penjuru dipenuhi buku-buku. Buku-buku.  Maka buku barang kali telah mengutuk dan mengikutinya. Ia berjumpa banyak orang, baik dan buruk dalam jumlah yang tak bisa rencanakan. Ia datang ke banyak tempat, untung dan celaka tak bisa diperhitungkan.

Maka ia kembali mencoba memahami segalanya, merenungkan lebih dalam dari yang ia bisa. Kini, mencoba memahami buku adalah sama rumitnya dengan memahami cinta;  sesekali membahagiakan, tapi tak jarang juga mengecewakan. Keduanya bahkan bisa datang dalam waktu yang bersamaan. Buku, demikian juga cinta, ia hanya butuh kesetiaan. Apa yang dimulai harus diselesaikan.

Penulis kedua berhenti membaca. Ia meletakkan buku itu kembali ke raknya. Dalam kepalanya, berloncatan banyak sekali kata-kata:

Dunia buku dan dunia menulis adalah dunia berkebun. Meyiapkan ladang yang baik, aliran air yang baik, lalu menyiapkan bibit bagus yang dipilih  dari buah terbaik. Tanamlah, peliharalah. Kelak, bukan penanam  saja yang bisa memanennya. Sekawanan burung mungkin ikut makan. Orang-orang yang melintas mungkin akan memanjatnya. Atau seorang pencuri bisa memanen dan menebangnya di tengah malam buta.

 

Jogjakarta, 16 November 2012.

Hari kelima, hari terakhir proyek #5BukuDamHidupku

Comments

Komentar

  1. Aku juga suka buku ini!! Tapi beda cover; putih orange :D

    1. irwanbajang berkata:

      saya juga punyanya yang itu.. yaaaah