Dari Atas Jembatan Penyeberangan

Dari atas jembatan penyeberangan
Kita melihat wajah kota yang tergesa-gesa.
Orang-orang menyeret kakinya dengan buru-buru
Seolah harimau waktu menguntit dan ingin memangsanya.

Dari atas jembatan penyeberangan
Aku ingin merapatkan segala yang berjauhan
Menggandeng tanganmu,

lalu bercerita masing-masing, tentang buku-buku yang tak habis kita baca.
Atau tentang orang-orang yang lalu lalang dalam kepala dan hari-hari kita

Dari atas jembatan penyeberangan
Aku ingin menatap matamu yang dalam
Menyaksikan bagaimana kura-kura waktu berenang pelan
Mencegah senja datang terburu-buru
Menutup hidung dari aroma perpisahan yang makin mengental

“Boleh kugandeng tanganmu,” ucapku lirih menatap matamu.
“Kenapa harus bertanya, gandeng saja!”
Lalu kita terdiam,
Dan sadar, percakapan itu hanya ada dalam hati.

Di simpang antrean panjang itu kita berbalik arah. Aku menyentuh bahumu, lalu dari bahumu mengalir sungai panjang, menghanyutkanku menuju rumah. Jauh di kota yang dihantar kereta senja.

Aku pulang, sembari mengenang ‘berapa lama kita diam-diam menyesapi kenangan’ dan mengingat kita yang beberapa kali duduk berhadapan

sembari menyadari ‘mata kaki kita yang sering beradu pandang’

Selamat jalan. Aku pamit pulang

Jakarta, 24 April 2013

Comments