Hikayat Penunggang Kuda dan Bocah Kecil yang Tersedu (Unduh Gratis)

white_hors_by_kruffka

 

Love of my life, you’ve hurt me / You’ve broken my heart and now you leave me / Love of my life, can’t you see? *

Tidakkah kau lihat. Bagaimana luka ini kau hadirkan sebab sebuah kepergian? Kau menyuruhku pulang. Tapi telah kau siapkan bagiku sebuah cara yang sakit untuk sebuah kematian.

Ketika aku mengendarai sepeda motor, aku selalu membayangkan menunggang kuda. Melintasi jalan-jalan berumput kering, belok kiri di sebuah jalan penuh semak. Turun naik pada bukit-bukit berbatu. Lalu di bukit ketujuh, aku akan melihat rumahmu di bukit seberang. Di sanalah aku akan datang. Di sana kau tinggal dengan anjing kecilmu. Kau hidup di sana, bersama sebuah sumur di belakang rumah yang setia, sebuah pancuran, dan sebuah kolam berisi anak-anak ikan emas yang manis.

Aku membayangkan diriku si penunggang kuda dari desa yang jauh. Hanya berbekal keinginan dan kerinduan, aku mendatangimu.

Lalu aku membayangkan kau keluar. Menatapku dari balik jendelamu. Kau mengganti pakaian, mengenakan pakaian terbaikmu. Mengikat rambut, lalu menutupnya dengan selendang tenun warisan ibumu. Kau berias sebisa kau mampu. Sebentar lagi kudaku akan tiba. Dan demi mendengar derap kudaku datang dari kejauhan, kau akan keluar. Menyiapkan pelukan terhangat untukku.

***

Ketika aku mengendarai sepeda motor menuju rumahmu, aku membayangkan diriku sebagai seorang penunggang kuda. Sebuah kuda kecil dari Sumbawa. Kuda ini kecil, tapi tak ada yang mengalahkannya mendaki bukit berbatu seberang rumahmu. Ya. Aku membayangkan aku naik kuda. Mengganti toko-toko di jalan raya menjadi rumah-rumah penduduk yang aku lalui. Mengganti lampu merah menjadi sebuah sungai pemberhentian untuk minum kuda dan mencuci kakiku. Aku naik kuda! Membayangkan lampu-lampu jalan menjadi pohon kelapa. Membayangkan perempatan menjadi persimpangan-persimpangan penuh kerikil dan mengganti arah dengan ragu.

Tapi malam ini aku naik sepeda motor, Kekasihku. Malam Rabu yang gerimis, aku mendatangimu. Mengunjungimu. Sebab esok lusa aku harus kembali ke kota. Menuntaskan apa yang disebut manusia sebagai pekerjaan. Menyelesaikan apa yang majikan rencanakan.

Malam ini aku mendatangimu. Berbelok di sebuah lampu merah, masuk ke gang sebelah kiri masjid, lalu berhenti di depan halaman rumah di antara guguran daun mangga.

Aku masuk ke halamanmu. Tapi apa yang kau ajak aku saksikan? Kau kaget dan melepaskan tangan lelaki di sebelahmu.

Lampu teras tiba-tiba terasa benderang. Wajahmu menjadi wajah hantu, pucat menyala.

“Siapa dia?” ucapku. Lalu laki-laki itu berdiri. Berjalan ke arahku yang belum naik ke teras. Kulihat bibirmu bergetar menyiapkan jawaban. 

Bring it back, bring it back,  don’t take it away from me because you don’t know what it means to me…

Pekerjaan di kantor ini tak ubahnya menebang pohon bagiku. Membabat hutan tanpa sisa. Memotongnya menjadi beberapa bagian yang serupa. Memastikan semuanya cocok disatukan. Mengumpulkan sisa potongan dan gergaji untuk diolah kembali. Tak ada yang boleh tersisa. Tak ada yang boleh dibuang percuma.

Aku duduk di depan komputer. Menghitung semua uang yang tak pernah aku lihat jumlahnya. Memastikan nama-nama yang pas. Mengirim dan menerima lalu mencatatnya. Tak boleh ada yang salah. Setiap akhir pekan aku harus membuat laporan. Melaporkan dengan saksama. Memastikan tak ada satu rupiah pun yang tercecer di dalam kolom-kolom angka. Memastikan segala nota dan kuitansi disertakan dengan benar. Beginilah aku bekerja. Sebuah foto kita di pinggir pantai kala senja yang biasanya di sudut meja kini telah tiada. Ia dan piguranya sudah pindah tempat di tong sampah.

Tak bisa lagi aku menyimpan gambarmu. Tak bisa lagi aku membiarkan wajahmu tertawa di atas meja. Malam itu membuat aku sengsara. Aku kembali  dari rumahmu. Berbelok di delapan belas tikungan jalan. Menyebrangi toko-toko yang sudah akan segera tutup. Aku terluka. Sebuah pisau tajam kau tancapkan di pinggangku.

Maka seperti penunggang kuda dari desa yang jauh, aku kembali dengan luka pinggang yang menganga. Kaki kudaku terluka. Aku terseok di antara pohon-pohon untuk kembali ke desa. Tersungkur jatuh di sungai kecil yang biasanya tak pernah keruh. Kudaku menggotong tubuhku dengan luka yang menganga.

Lalu aku yang lemas sampai akhirnya ke perkampungan. Orang-orang masih menebang pohon, membabat hutan, dan membuat segalanya tak tersisa. Mereka tak pernah peduli dengan lukaku. Mereka tak pernah ingin tahu.

Di kantor inilah aku bekerja. Di jeda siang, aku ke kantin. Menghabiskan makanan cepat saji. Mengisap beberapa batang rokok dan sesekali tersenyum pada orang-orang yang melintas. Di kantor ini aku menimbun cita-cita. Berharap tabunganku genap adanya. Merencanakan pernikahan yang meriah. Menyiapkan nama anak-anak kami. Merencanakan sekolah dan masa depan mereka.

Love of my life don’t leave me/ You’ve taken my love and now desert me /Love of my life, can’t you see? / Bring it back, bring it back, don’t take it away from me because you don’t know what it means to me…

Tak cukup menusukku dengan senjata runcing tepat di perut dan melukai ususku. Kau, atau mungkin kekasihmu, kalian berdua menusuk-nusuk lagi segala yang ada di tubuhku. Jeda perpisahan yang lama tak bisa mengobati semua luka. Kau menambahkannya. Kau menambahkannya.

“Ia akan menikah segera. Apa yang ingin kau lakukan?”

Aku hanya diam mendengarkan ucapan sahabatmu itu. Apa yang harus kulakukan. Haruskah aku menghunus pedangku. Membabat hutan dan mengamuk menyanyikan puisi sedih? Haruskah kudatang di pesta pernikahanmu, lalu mengamuk sejadinya? Menebas dengan pedang semua orang yang datang dan bahagia? Menebas semuanya menjadi mayat yang bergelimpangan usai pertempuran di Palagan. Seperti Gajah Mada menghabisi gerombolan Pitaloka di Padang Bubat? Katakan. Katakan bagaimana luka ini aku balas?

“Cinta itu harus diperjuangkan. Gagalkanlah, gagalkan pernikahan kekasihmu itu!”

Kembali aku terdiam. Lalu bayangan masa lalu seperti segerombolan ninja datang menyerbu kepalaku. Melemparkan pisau, menusuk punggung, mengepung, lalu mereka menghilang meninggalkan rasa sakit. Mereka berteriak semaunya. Sementara aku makin limbung dan ingin segera roboh. Terkutuklah kejadian ini. Terkutuklah cinta ini. Terkutuklah semua pertemuan kita, semua masa lalu, dan keceriaan yang pernah ada. Semuanya menjadi kenangan menyakitkan yang memilukan.

Aku terkapar lagi. Hari pernikahanmu akan segera tiba. Sepuluh hari lagi dan aku masih belum tahu harus berbuat apa.

Di hari kesembilan sebelum semuanya akan benar-benar terjadi, sebuah telepon aku terima darimu. Jauh di luar sana kau terisak. Kau menangis dan tak bisa berkata-kata. Entah sudah berapa ribu pulsa kau habiskan. Kau tak kunjung buka suara.

“Maafkan aku. Culiklah aku…”

Jeda makin lama. Pulsa semakin menetes di antara gua jeda dialog kita.

“Kau kenapa? Aku tidak mengerti.”

“Culik aku, Kekasihku. Kamu masih punya waktu sembilan hari. Setahun tak bisa menghapus kenangan kita. Culik aku dan selamatkan aku. Aku mohon.”

Aku mematikan telepon. Aku tidak bisa menjawab apa-apa.

Bisa saja aku melakukannya. Lalu kami membina hubungan yang manis. Melupakan segala luka dan memulainya dengan biasa. Melupakan semuanya. Menganggap dunia dilahirkan kembali untuk kita berdua. Lalu hidup baik-baik saja sebagai orang yang baru jumpa kembali. Memperolehmu lagi mungkin bisa jadi obat bagiku. Menjadikan aku baik-baik kembali. Menutup luka yang pernah kalian tusukkan.

Bisa saja. Bisa saja. Ajakanmu mulai menggodaku.

Atau, bisa saja kita lari ke gunung. Menembus hutan pinus bersama. Naik melewati kabut. Lalu berciuman yang lama. Berciuman yang sangat lama. Bercinta, telanjang, lalu memutuskan melompat ke sungai sambil bergandengan. Menenteramkan diri di arusnya yang teduh, melepas semua dendam dan derita. Membiarkan diri hanyut entah ke mana.

Atau, bisa saja aku mengajakmu pergi yang jauh. mengambil stasiun kereta terdekat. Memesan tiket tercepat, lalu pergi yang jauh. Menuju desa yang jauh. Bergenggaman tangan sambil melihat bantaran sawah hijau sepanjang jalan, menghirup aroma pagi. Lalu bibir hangatmu akan mendarat di pipiku. Aku tersenyum, menggenggam jemarimu lebih erat lagi. Lalu kita pergi. Kita pergi yang jauh. Yang jauh. Meninggalkan identitas. Hidup di desa dan menjadi manusia baru.

Di kepalaku berlarian banyak rencana. Aku bertanya kau di mana. Dan kau bilang kau menungguku di atas bukit itu. Kau sudah mengemasi barang dan siap menunggu kudaku.

“Datanglah secepatnya!”

***

Aku menyiapkan semua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Aku telah berkemas. Menyiapkan senjata jiwa dan raga. Segera akan memacu kudaku kembali. Menelusuri jalan terjal berbatu dan berdebu. Menyeberangi sungai dan menembus hutan belantara menuju bukit seberang rumahmu. Kau bilang kau menungguku di sana. Aku berkemas. Benar-benar bersiap dan berkemas.

You’ll remember when this is blown over / and everything’s all by the way / When I grow older, I will be there at your side to remind you / how I still love you, I still love you…

Mungkin cinta memang seperti manusia. Ia butuh waktu untuk tumbuh dan menjadi dewasa. Ia butuh asupan gizi untuk menjadi sehat dan berguna. Dan ia juga butuh pengalaman dan pelajaran untuk matang sempurna.

Aku menunggang kuda sendirian menembus hutan pinus dan pohon-pohon cemara. Mencari sebuah tempat yang nyaman untuk diriku sendiri. Di atas batu besar, aku duduk memandang perkampungan. Di sana kulihat orang orang kecil. Jauh dan kecil. Berjalan bagai semut, lamban menuju rumah, menuju masjid, menuju pasar, pulang sekolah, bermain bola, duduk membakar rokok. Jauh sekali mereka. Dan aku sendirian duduk di sini.

“Kita tak bisa bersama. Lanjutkan pernikahanmu.”

Suara itu. Suaraku, masih jelas terngiang. Kau terisak menangis.

“Kenapa, kenapa?” tanyamu, “kenapa kau datang hanya untuk menolakku?” Aku bahkan bingung dengan keputusanku sendiri. Kenapa di sepanjang jalan dendam menguasaiku.

“Seseorang harus memanen apa yang ia tanam,” jahat sekali jawabanku. Lalu aku pergi. Menunda tawa dan tangis yang berkejaran. Sebuah keputusan ternyata bisa berubah hanya dalam jeda perjalanan. Aku sebenarnya menyesal. Kuseka air mata sembari memacu kudaku pergi. Aku tahu, di belakang kau menangis memandangi punggungku. Mungkin aku gila. Aku mulai menikmati rasa sakit dan ingin membagikannya. Terkutuklah aku. Terkutuklah cinta ini.

Tiba-tiba aku merasa seorang bocah kecil keluar dari punggungku. Anak kecil itu berjalan lamban naik ke puncak batu besar di seberang tempat dudukku. Ia merangkak pelan, kesusahan menaikinya. Kubuka sakuku, kubakar rokok, dan kubiarkan bocah kecil itu duduk sendirian memandangku. Ia memandangku seperti orang yang kasihan. Menatap sayu diriku yang tak peduli padanya. Aku membakar rokok, menghabiskannya, membakar lagi, mengisap, meniup, lalu membakarnya lagi.

Kabut turun merambati punggung gunung di belakangku. Angin membelah rumpun daun cemara. Meniup asap rokokku, menyentuh pelan dingin di pipiku. Bocah di seberangku masih menatap ke arahku. Wajahnya muram, tangis yang ia tahan dari tadi telah menguasainya. Seperti anak kecil yang sedih ditinggal mati orang tuanya, ia terisak, sesenggukan. Punggungnya turun naik, tapi ia tetap menatapku, membiarkan hidungnya basah, membiarkan pipinya basah. Air matanya mengalir, mengalir terus, perlahan, bagai kabut dingin yang turun merambati punggung gunung. Ia sesenggukan, menangis menatapku. Aku menatap matanya, ia menatapku.

Tiba tiba, kurasakan tanganku dirintiki air hangat. Tubuhku menggigil. Dingin. Air mataku membasahi baju. Aku menangis, terisak bersama bocah kecil yang keluar dari punggungku. Kami menangis bersama.

Kabut semakin deras. Malam segera menjelang. Dari kejauhan orang-orang beranjak masuk rumah. Anak kecil itu menghilang, ia telah masuk, menangis dalam dadaku. Air matanya makin deras keluar dari mataku.

Please bring me back home to me, because you don’t know what it means to me

*Love of My Life, lirik lagu Queen.

Lombok Timur, Agustus 2013

_______________________

Silakan unduh versi pdf cerpen Hikayat Penunggang Kuda dan Bocah Kecil yang Tersedu di sini

Comments