[Laporan] #5BukuDalamHidupku, Hari Keempat Akan Membara, Hadiah Makin Banyak

Status

Tepuk tangan buat kita semua, karena hari pertengahan yang berat ini sudah kita lalui bersama!

Apa yang harus saya tulis untuk laporan hari ketiga? Masih sama seru dengan hari sebelumnya. Lebih panas dan deg-degan rasanya. Seperti biasa, banjir posting terjadi di menit-menit menjelang habis waktu. Kalian ini, bikin saya begadang aja! Tapi saya senang. Semua bisa semangat dan terus melanjutkan.

Masih ada 2 hari lagi. 2 Tulisan lagi. Dua hari yang tersisa ini mungkin akan lebih berat. Para blogger akan bingung mengeksekusi apa dua buku terakhir yang akan mereka pilih. Banyak yang lapor, mereka bingung memilih buku, lima terlalu sedikit, banyak buku yang harus dieliminasi. Tapi banyak juga yang buntu, apa lagi ya, apa lagi ya… Saya jawab aja, TERSERAH! Hahaha.

Hari ini makin beragam, terlihat beberapa orang memilih buku sesuai profesinya, dokter, pengacara memilih buku panduan penting bagi mereka. Ada juga yang mulai berani eksperimen, menulis sejam sebelum posting, dan ternyata ia bisa posting di H4-3 menit. Sial, saya yang deg-degan menunggunya.

Beberapa orang berguguran, tapi jumlahnya sangat sedikit. Ada yang berjanji akan tetap menulis dan naik kendaraan lain. Tentu kami yang melanjutkan perjalanan dengan senang hati mendukungnya.

Yang menarik, ada 3 tambahan hadiah hari ini. Hadiah pertama datang dari saya sendiri. Declare! Kamar Kerja Penerbit Jogja 1998-2007. Sebuah buku penting bagi saya yang merekam tumbuh dan rubuhnya penerbit di Jogja. Satu lagi hadiah #BeguruPadaPesohor, Panduan Wajib Menulis Resensi yang ditulis oleh Diana Sasa dan Muhidin M Dahlan, hadiah ini disumbangkan langsung oleh penulisnya @Dianasasa. Karena para blogger kebanyakan begadang, maka @dongengkopi prihatin dan ikut menyumbangkan 1 paket KOPI LUWAK ASLI untuk para blogger yang mungkin sudah mulai mabok darat.

Sebelumnya ada hadiah Inferno-Dan Brown dari @seratkata dan @arman_dhani, 5 buku pemenang sayembara dari @indiebookcorner dan Islam Tanpa Diskriminasi dari @lalumenghilang.

____

Sudah, begitu dulu aja laporannya. Saya mengantuk, saya capek begadang 3 hari ini. Mari kita sambut hari keempat dengan memilih 1 lagi buku yang mengubah hidup kita masing-masing. Terima kasih para blogger #5BukuDalamHidupku

 

Jogjakarta, 15 November 2013

Irwan Bajang, supir.

#5BukuDalamHidupku: Sebuah Cerpen yang Meledak dan Tokoh-Tokoh yang Tak Ingin Dikendalikan Penulisnya

sepotong_senja_untuk_pacarku

Bisakah kamu membayangkan ada tokoh yang kamu tulis, lalu tokoh itu hidup dan tidak bisa lagi kamu kendalikan? Lalu bagaimana kalau tokoh itu menghantui dan ingin membunuhmu? Ia tidak terima dengan takdirnya yang kamu permainkan.

Seorang remaja kelas dua SMA sedang kehabisan uang di jeda istirahat sekolahnya. Harusnya ia ke kantin, makan dan bercanda bersama temannya. Motor tua yang ia sayangi macet dan telah menguras uang sakunya ketika berangkat sekolah. Hari itu bisa saja ia nebeng makan pada teman yang lain, tapi tak enak rasanya menggangu. Ia tahu, uang jajan anak SMA paling-paling hanya cukup untuk makan mie rebus dan teh botol. Sisanya buat beli bensin satu liter.

Ia terdampar lagi di perpustakaan. Ia ikut lomba menulis cerpen yang entah diadakan oleh siapa sebulan sebelumnya. Guru bahasa meminta cerpennya untuk dikirim. Sudah sebulan, harusnya ia dapat kabar kemenangan seperti yang ia yakini. Tapi kabar itu sepertinya menjadi kabar yang hanya layak diimpikan. Sejuta tahun menunggu, kabar itu tak akan pernah datang. Cerpen dan tokoh-tokoh itu sudah hilang entah ke mana. Ia juga telah menghancurkan dunia yang ia bangun itu. Membunuh semua tokoh dan melupakannya.

Siang itu ia mencari sejenis buku yang ia harapkan,  Panduan Menulis Cerpen, sukur-sukur kalau ada Bagaimana Mahir Sehari Menulis Cerpen, atau Kiat Jitu Menang Lomba Menulis. Tapi apa lacur, perpustakaan SMA-nya bukan toko buku mewah di jantung ibukota, hanya ada buku pelajaran, beberapa ensiklopedia dan buku-buku sastra buluk yang terbit bahkan jauh sebelum ia lahir. Nama-nama yang itu-itu saja; Hamka, Navis, Tardji, Taufiq, Chairil Anwar dan teman-teman sepermainan mereka. Terkutuklah ia di perpustakaan itu, hasrat yang berlebihan tidak diizinkan tumbuh dari ruang perpustakaan yang jauh dari pulau Jawa. Ia hanya mendapatkan buku seadanya, buku-buku yang tertulis di pelajaran bahasa. Apa boleh buat, buku-buku itulah yang harus disikatnya.

Ia punya cita-cita. Ia ingin menulis cerpen atau novel, lalu menjadi penulis kaya yang terkenal. Kamu berlebihan, Anak Muda! Sana mandi dulu yang lama biar bangun!

Maka dapatlah ia sebuah buku panduan menulis cerpen, entah siapa pengarangnya. Ketika mengenang peristiwa itu, ia sudah berusia separuh abad, sudah satu dekade dari mimpi aneh memenangkan lomba menulis cerpen. Lanjutkan membaca

Laporan Hari Kedua dan Pembukaan Hari Ketiga #5BukuDalamHidupku

Status

Hari kedua sudah rampung, mari memasuki hari berikutnya.

Hari kedua ini menjadi hari yang lumayan melelahkan bagi saya. Tautan buku di hari kedua untuk program mudik bareng #5BukuDalamHidupku bermunculan di detik pertama setelah pukul 00.00. Luar biasa sekali semangat para blogger ini. Lalu tautan itu bagai hujan sepanjang hari, tak hentinya berduyun-duyun, menderas di lini kala twitter saya dan di dinding facebook, juga bunyi tang ting tang ting notifikasi di surel dan dashboar tumblr juga kompasiana. Ragam buku makin banyak, pagi hari diserang Dragonball, Conan, Doraemon, sebelumnya dini hari diserang naskah teater. Siang hari makin beragam, buku how to, buku agama, fiksi remaja semakin berhamburan tak terbendung. Sore hingga jelang usai hari, buku Goenawan Mohamad, John Steinbeck, Andrea Hirata, Seno Gumira dan kawanan fiksi lain, Djenar, Ayu Utami juga makin banyak dipilih.

Buku agama tulisan Yusuf Mansyur bahkan nongol di detik-detik awal hari kedua tadi. Penutupan ini banyak diisi buku-buku yang tidak saya kenal juga buku-buku yang sekilas saja saya tahu, ada Lupus, Raditya Dhika dan beberapa buku komedi juga masuk. Oh ya, buku pelajaran seperti kamus, RPUL, kamus kanji dan sebagainya juga sangat banyak. Termasuk juga buku berbahasa asing dan catatan perjalanan. Mengagetkannya lagi, BUKU NIKAH juga sudah mulai muncul. Hahaha.

Seperti hari pertama, ratusan tautan dan posting tentang buku sudah menyerang kotak-kotak komunikasi saya. Juga ada beberapa orang yang kecewa karena baru tahu infoproyek ini tadi. Bagaimanapun itu, hari ketiga tentu akan menjadi makin sulit bagi para blogger, mereka akan memilih lagi buku ketiga yang mereka tuliskan. Besok akan tersisa dua buku saja, buku yang tentu akan dipilih dengan sangat hati-hati, sebab dua hari ke depan, terutama hari terakhir adalah hari di mana posting harus dikunci dengan sempurna.

Saya sudah mengantuk, saya sudah membuat databased hari 1 dan hari 2. Mari kita mulai hari ketiga ini dengan harapan tetap sehat dan tetap ikut melaju ke terminal hari keempat dan menuju lokasi pulang dengan gembira. Eh, saya salah, sudah banyak yang memulai hari ketiganya sejak tadi. Laporan aja kalah, semangat betul! Hahaha

Beberapa orang gagal melanjutkan, jumlahnya sangat sedikit. Kebanyakan juga gagal karena gangguan teknis seperti internet mati, kuota habis, terjebak dimacet. Saya sebenarnya ingin berbaik hati, memberi toleransi dan mengajak tetap berjalan setelah kendala teknis itu selesai, tapi saya takut kawan-kawan lain, penumpanng lain. Hmmmm, bagaimanapun, saya salut sama kalian.

Mari persiapkan lebih matang, jangan posting di ujung-ujung waktu, kalau mati listrik? Kalau komputer kalian mati? Kalau kuota internet kalian habis? Kalau kalian tiba-tiba harus kencan atau menikah? Hayo…. hehe. Manfaatkan waktumu, anak muda. Mari kita songsong hari ketiga #5BukuDalamHidupku. Tepuk tangan buat kalian semua.

Salam, Irwan Bajang.

 

#5BukuDalamHidupku: Panglima Pembangkang dan Anak Kecil yang Membenci Pelajaran Sekolah

kapitan patimura

Gantung si  pembangkang itu alun-alun kota! Biarkan mayatnya menjadi debu. Ini pelajaran bagi masyarakat, siapa yang membangkang akan bernasib sama!

Menulis tokoh satu ini akan panjang bagi saya. Satu tokoh yang sudah saya kenal sejak sekolah dasar. Namanya asing, gelarnya asing, dan saya yang memang kerap tidak paham arah mata angin akan susah mendeteksi di mana tanah kelahirannya. Seram, di mana pulau Seram kelahiran tokoh ini? Guru Geografi juga mungkin tidak tahu, tapi mereka suka pura-pura tahu dan membohongi muridnya.

Sejak SD saya mengaguminya. Dan beruntunglah saya menjadi anak pemalas. Saya menunda-nunda mendaftar masuk sekolah menengah pertama sampai hari terakhir. Jumlah NEM yang lumayan tak mungkin akan membuat saya ditolak masuk SMP itu. Saya mendaftar di hari terakhir. Karena terlambat, saya terdampar di kelas sisa-sisa. Empat ruangan kelas satu sudah penuh, saya ditampung di pojok sekolahan dekat ruang paling seram; ruang Bimbingan Konseling. Ruang BK adalah ruangan neraka, di sana terarsip nama-nama tukang bolos, nama anak-anak bermasalah, nama anak-anak yang tidak akan naik kelas. Ketika kamu dipanggil ke ruangan itu, teman-teman sekelas akan mengejek dan menakutimu. Pernah teman saya ketahuan merokok, ketahuan pacar-pacaran terus, mereka dipanggil untuk menulis nama di Buku Hitam Bimbingan Konseling. Beruntung kelas saya bukan di neraka itu, saya di ruangan sebelahnya, ruangan sisa yang dibelah dua, sebagian jadi kelas, sisanya untuk menumpuk buku: Ruang Perpustakaan SMP 1 Sukamulia.

Bagi anak labil usia 11-12 tahun, berada di ruangan sempit itu adalah kesialan. Saya sial. Kami harus menunggu meja kursi yang baru dibelikan sekolah untuk menempati kelas ini. Saya sempat menyesal terlambat mendaftar.  Tapi enam tahun nanti, saya tahu, hari itu adalah hari yang mengubah seluruh pandangan saya akan sikap hidup. Sikap menghadapi masalah dan mempertahankan hak.

***

Kelas membosankan adalah kelas matematika, IPA dan semua yang berbau hitung-hitungan. Hitungan persentase laba rugi masih bisa saya hitung, tapi kalau diminta menghitung a dikurangi b sama dengan berapa, x bagi z sama dengan berapa, saya selalu memaki dalam hati: kenapa kalian nggak pakai angka aja biar jelas!  Harusnya siswa goblok hitungan seperti saya ini bahagia di pelajaran lain, mengarang misalnya, geografi atau sejarah, atau setidaknya PPKn yang hanya tinggal ngoceh lalu dapat nilai bagus. Matematika membunuhku hingga tamat SMA dengan sin cos tan dan aljabarnya yang sampai sekarang tidak pernah saya mengerti. PPKn membuat saya gila dan tidak bisa berpendapat selain sesuai Pancasila, hukum ditegakkan dan kembalilah ke UUD 45 dan GBHN.  Geografi yang harusnya berisi jalan-jalan asyik keliling dunia imajiner jadi pusat sumber stress karena saya harus menghapal jumlah provinsi, ibukota dan hal absurd lain yang harus dihapalkan. “Jumlah penduduk Indonesia pada sensus penduduk 1995 adalah___________ jiwa. Maaf Bu, saya nggak ikut saat sensus berlangsung!

Pelajaran sejarah membuat saya merasa sekolah menjadi tempat tersial di muka bumi karena saya harus menghapal tanggal, tahun dan nama tokoh! Saya membenci semua pelajaran di bangku SMP itu. Saya ingin segera kuliah, lari dari matematika, melepas seragam, tidak mencukur rambut dan melupakan tanggal-tanggal ulang tahun pahlawan-pahlawan yang bukan kerabat saya. Saya ingin segera kuliah, bisa bangun siang dan masuk kapan saja. Di tengah kebosanan itu saya mulai menghabiskan buku di kelas, kelas yang ditaruh begitu saja di ruangan perpustakaan. Tentu saya tidak akan meminjam resmi di petugas. Lha, buat apa? Kan bisa saya bawa pulang dan saya kembalikan sendiri kalau saya rampung. Lanjutkan membaca

#5BukuDalamHidupku | Hari Kedua

Akhirnya, rampung sudah hari ini. Hari yang melelahkan sekaligus menggembirakan.

Pukul 00.00, baru saja hari pertama mudik ke blog #5BukuDalamHidupku berakhir. Saya kaget dengan jumlah peserta yang ikut. Mungkin lebih dari 100 orang. Sepanjang hari tadi saya sibuk mengecek tumblr, twitter dan facebook, mengecek tautan para blogger yang bergabung dalam proyek ini. Banyak sekali. Saya akan punya banyak sekali tugas. Mengarispkan semua tautan, membacanya lalu memberinya penilaian. Serasa bekerja menjadi tukang arsip tautan terbaru yang datang seperti angin ribut. Berhamburan, terutama di ujung hari, menjelang waktu habis. Dasar blogger Indonesia!

Tapi ragam buku yang mereka pilih memang banyak sekali. Banyak sekali yang membuat saya merasa aneh dan asing. Lucu. Seorang penyair memilih Buku Kalkulus, seorang Cerpenis memilih buku Tauhid, ada yang memilih Primbon, cerita horror, cerita mesum. Ada yang mengawali kisah petualangannya di dunia buku dengan membaca buku tebal, Mahabarata dibaca anak SD, ada juga yang kocak sekali: RPUL, Pengantar Sosiologi dijadikan buku paling keren dalam hidupnya. Hahaha. Saya tak henti-hentinya tertawa. Ragam bacaan saya yang lebih banyak pada buku sosial politik, sejarah, sastra dan sedikit agama-filsafat rasanya sangat miskin bila dibandingkan peserta-peserta yang lain. Begitulah, tidak semua buku memang harus kita baca. Biarkan orang lain membacanya.

Lima Sekawan sepertinya menjadi bacaan yang paling banyak dipilih hari pertama, disusul Seno Gumira, Muhidin M Dahlan, Dewi Lestari, sisanya ada buku Andrea Hirata, Pram, 5 CM dan buku-buku yang sudah terkenal lainnya. Tapi ada juga yang memilih buku harian mereka zaman SD dulu, juga beberapa buku yang sangat asing bagi saya sendiri. Semuanya unik.

Baru saja, saya sedang cekikikan karena seorang penulis di pesan ponsel saya sedang memaki saya. Jancok!, katanya. Ia sedang berusaha mengalahkan dirinya untuk menulis dalam rentang hitungan mundur menuju ambang batas hari  pertama. Ada yang memaki saya karena internetnya mendadak lemot: asem, asu, kopet dan makian lainnya berdatangan. Hahaha. Saya hanya membalas dengan tertawa. Rasakan!, kalimat itu saja yang saya kirim.

Saya menganalogikan proyek ini sebagai proyek mudik para blogger ke blognya masing-masing. Yang tidak ikut hari ini, silakan mencari kendaraan lain jika ingin mudik di hari kedua. Saya merasa jadi kompor dalam dua hari ini, saya mengirim pesan, mengirim tautan ke banyak orang, menyalakan kompor di pantat mereka dan memaksa mereka menulis. Saya senang mengerjai mereka.

***

Ya udah deh, capek saya ngetik, saya masih ada satu hutang lagi untuk hari ini. Kerjaan saya double deh. Resiko, proyek ini mati kita jalankan bersama.

Bus mudik segera berangkat. Yang telat pasti akan kami tinggal. Kami bukan lion air atau PTKAI yang hobinya molor.

Selamat datang hari kedua!

 

#5BukuDalamHidupku | Sang Penyair: Cinta Monyet Saya dan Cita-Cita Kepenyairan

Sang Penyair Sampul Buku Sang Penyair
Mustafa Lutfi al Manfaluthi
Fiksi
Navila
2012
Paperback
315

81336Apa lagi dibicarakan anak berusia 16 tahun yang duduk di bangku sekolah menengah, rencana bolos, PR yang menjemukan, Pak Guru yang genit, Bu Guru Tua yang judes dan seorang gebetan yang berencana dipacari? Bisa jadi, les, ekskul, buku paket yang mahal juga bagian dari perbincangan, tapi cinta, kerap kali menjadi bahan dominan dalam obrolan rahasia di kalangan terbatas. Obrolan curhat. Saya pernah SMA, dan saya pernah berada di pusaran arus ragam perbincangan remaja itu. Saya laki-laki, di usia 16 tahun itu saya pernah jatuh cinta dan patah hati.

Seorang guru kelas empat SD pernah memuji karangan bebas saya tentang air dan manfaatnya. Saya menulis karangan pendek itu dengan cepat dan mencomot banyak sekali lirik lagu balada yang sering diputar ayah saya di rumah. Comot sana-sini itu berhasil membuat saya dipuji guru dan mendapat nilai yang bagus di pelajaran bahasa Indonesia. “tulisanmu kayak anak SMA, kelak kamu bisa jadi sastrawan,” ucap guru saya. Pak Kamarudin namanya. Anak SD kelas empat yang belum tumbuh jakunnya itu tersanjung, diam-diam dalam hati ia bercita-cita jadi sastrawan, sebuah cita-cita super absurd bagi seorang anak SD yang kelak ketika berusia dua puluhan tahun sadar betul, bahwa jalan menjadi sastrawan di Indonesia tak sama mulusnya dengan menjadi pekerja kantoran atau Pegawai Negeri Sipil. Sayalah bocah kecil itu. Bocah yang bahkan belum tahu bagaimana melipat dengan benar celana dalam saya.

***

Ketika guru bahasa memaksa kami yang kelas dua SMA membaca sebuah karya sastra lalu menceritakannya di depan kelas, entah kenapa saya mengambil buku ini di perpustakaan. Tangan dan mata saya memilih sebuah buku yang bisa jadi, dan benar-benar bisa mengubah banyak hal dalam diri saya. ­­Sebuah buku yang kelak akan sangat mempengaruhi hidup, karier, cita-cita, cinta dan menjadi sesuatu yang membuat saya bisa menjaga jarak dengan diri saya. Buku itu berjudul Sang Penyair, sebuah buku prancis yang disadur ke dalam bahasa arab oleh Mustafa Lutfi Al Manfaluthi, penulis Mesir spesialis penguras air mata. Lanjutkan membaca