Impresi (Sebuah Puisi untuk Ibu)

Duduk di bawah jam dinding yang berdetak
ada suara yang masuk melesat
kemudian menabuh gendang-gendang telingaku semaunya
Ia kukuh membawaku pada masa silam
Tanpa peringatan,
menerobos dan mengintimidasi
Dipaksanya aku percaya, bahwa ia dan akulah pemilik suara itu

Di luar, hujan gerimis menderai halus pada daun dan cabang pohon
merembes lewat kaca jendela
bersama sisa semilir dan dingin angin
Sementara bulan yang merah muda
menyinar ke dalam kamar, membias gerimis
mencipta melakolia yang durhaka

Aku tak bisa menyaksikan apa-apa
setelah luka yang lama
dalam perjalanan rantau yang juga lama
Setelah batu yang beku
tak lagi bisa kutafsirkan sebagai obat waktu

Aku menutup luka yang ngalir
meraba dada yang bata
panas terbakar api berlama-lama

Ketika jam dinding mulai terdengar berdetak
menepikan sepi, dingin, gerimis dan angin malam-malamku
Tiba-tiba kutemukan lagi suara itu
kini mengalir lunglai perlahan
meminggirkan aku, menepikan bisu
suara yang semakin tabuh dan makin riak meliat dalam telinga
yang belakang aku tahu
: suara ibu dan masa kecilku

Jogjakarta, Juli 2010

*Puisi ini dimuat di Album Puisi, Musik, dan Ilustrasi Kepulangan Kelima. Pernah juga dimuat di Antologi 100 penyair Indonesia “Karena Aku Tak Lahir Dari Batu (Sastrawelang, 2010)

*Pembaca puisi di Soundcloud adalah Halim Bahriz. Diambil dari Kepulangan Kelima hal. 65.

Comments