Sebuah Cara Menjadi Hantu

Harusnya aku tidak datang di acara ini. Kedatangan ini melanggar kode etik. Melanggar janji, juga menghianati nurani. Seharusnya aku menolak. Mengabaikan segala janji dan usahanya membujukku.

Acara dimulai, aku segera sadar telah melakukan kekeliruan fatal. Seandainya bisa, aku ingin kabur, mematikan ponsel, lalu memesan tiket kereta pertama yang kutemui. Atau lari ke terminal dan melemparkan tubuhku di kursi pojok dekat jendela. Membiarkan supir membawaku pergi ke pemberhentian terjauh. Tak menghiraukan orang-orang yang duduk di sekelilingku. Tapi semua sudah terjadi. Sebuah acara kebohongan harus segera dimulai.

Dari kursi paling belakang aku menyeret kaki yang berat untuk untuk duduk di kursi depan. Kursi di belakang meja yang menghadap ke barisan manusia seisi ruangan. Namaku dipanggil, aku akan tampil. Aku merasakan padangan-pandangan mereka mengikuti. Memperhatikan kemeja, celana jeans baru, sepatu kesayangan, dan arloji mewah yang menempel di sekujur tubuhku. Mereka menatapku. Sebagian mungkin kagum, sebagian bertanya dalam hati, sebagian menebak-nebak. Pendingin ruangan seperti tak berfungsi. Ada buliran keringat kurasakan membasahi punggungku.

Nama telah disebut, gelar telah disematkan, mikrofon sudah di tangan, dan pertanyaan sudah mulai dilemparkan. Aku harus menjawab dengan cara yang meyakinkan. Kulihat seorang laki-laki jangkung di ujung kanan kursi paling depan bersidekap tangan menatapku. Pandangannya mengingatkanku pada bulu babi yang kuinjak sewaktu bermain di pantai saat air mulai surut. Bulu babi yang menyengat dan membuat bengkak kaki bocahku, dua puluh satu tahun yang lalu. Matanya tajam, lurus, menusuk dan beracun. Tapi aku tak menangkap pesan apapun dari matanya. Ia memang tak ingin berpesan apa-apa lagi. Aku tahu itu. Tapi mata itu. Oh, mata itu. Beracun. Mata yang tak berbicara apapun tapi terasa membakar dadaku. Aku tahu apa yang kamu mau, ya, aku tahu. Ucapku dalam hati.

“Buku ini bagus…” ucapku sebagai kalimat pembuka. Lalu menyebutkan puluhan lagi daftar kelebihan buku di tanganku itu. Aku mendaftarnya dalam ingatan, mengurainya dengan cara meyakinkan seperti seorang pedagang mangga di pasar. Buku ini bagus, penulisannya rapi, gaya bahasaya menarik, penceritaannya lancar. Dan tak lupa kuselipkan beberapa kalimat di ujung perbincangan. Buku ini penting, sebab menulis rekam jejak orang yang penting. Orang yang layak dijadikan contoh dalam banyak hal.
Begitulah, kuselesaikan semua tugas yang direncanakan dan dibebankan padaku. Kutuntaskan keharusan yang seharunya tak aku sanggupi. Tak aku penuhi. Sebab membicarakan buku ini sudah melapaui tugasku.

***

Aku melihatnya. Melihat manusia yang tadi duduk di sebelah kanan si laki-laki jangkung pemilik mata beracun itu. Sekarang orang-orang mengerumuninya. Mengular di hadapanya, seperti naga Cina meliukkan ekornya. Sementara di muka antrean ia bergantian bertanya. “Buat siapa? Atas nama siapa?” ketika mereka menjawab, ia menuliskan nama, membubuhkan sebaris kata lalu dengan cepat ia menyelesaikan tanda tangannya. Ia mendadak jadi ramah, mengucapkan terima kasih sudah datang, dan selamat membaca. Keramahan yang langka bagiku. Ia panik dan pemarah seminggu lalu dan selama enam puluh hari sebelum-sebelumnya. Aku mendengus. Menarik napas yang dalam. Ada beberapa kalimat yang hanya menggema dalam rongga dadaku.

Aku memilih keluar. Menyusuri lorong penghubung, mengambil toilet terjauh dari ruangan itu. Meninggalkan ruangan bersama poster-poster buku dan penulisnya. Sendiri, melangkah usai membalas senyum pada beberapa orang yang sudah keluar ruangan. Ya, senyum basa-basi. Senyum tiada arti dan tanpa alasan.

****

Sebuah pesan pendek masuk. Kubuka segera. Transaksi perbankan rupanya. Debit bertambah. Bonus dari obral pujianku di ruangan tadi. Lalu sebuah sms dengan cepat menyusup melanjutkan pesan operator bank tadi. “Cek saldomu. Kerjamu bagus. Terima kasih sudah menulis yang bagus dan berbicara yang tak kalah bagus. Nanti malam jumpa di tempat biasa.” Hanya kubalas emoticon senyum dan OK.

Kubasuh lagi wajahku, menunduk di wastafel. Setelah merasa segar aku mendongakkan wajah. Wajahku lurus ke arah cermin di hadapanku. Aku melihat wajah yang biasa, wajahku yang begitu-begitu saja. Butiran air masih melekat dan merambat pelan-pelan jatuh dari wajahku. Kuingat lagi satu pujian tiga bulan lalu, sebuah sms yang masuk dari si lelaki jangkung mata beracun. “You are the real ghost!”

Aku tersenyum. Lalu tiba-tiba wajah di dalam cermin memucat. Meleleh dan berantakan. Aku sudah menjadi hantu. Bertualang terlalu jauh.

Membaca Heri Latief dari Dua Sisi

cover heri latief_kecilsemakin lama jadi orang asing,

sampai dia lupa pulang.

padahal, dingin makin menggigit tulang

apa yang dicari selama ini?

merantau, untuk melupakan jalan pulang?

—Jalan Pulang

 

ketidakadilan merajalela, bung

yang miskin makin sengsara

yang kaya membeli perkara

tikus rakus komplotan gayus

jual beli bisnis negeri kasus

—Bisnis Kasus

Seperti dua puisi yang ditulis dengan gaya dan nada yang berbeda di atas, membaca tulisan Heri Latief dalam buku ini, saya seolah dihadapkan pada dua sisi yang berbeda dari sang Penulis. Puisi-puisinya—seperti puisi-puisi Heri Latief yang dulu—berbicara dengan cara yang lugas, kadang keras, mengutuk ketidakadilan, korupsi, pelanggaran hak, orang yang dihilangkan penguasa, kemiskinan dan kerakusan negara. Cap gaya menulis semacam ini sudah menjadi ciri Heri Latief sejak awal kemunculan puisinya di dunia internet. Tapi bukan hanya lantang protes, dalam beberapa puisi, salah satunya Jalan Pulang di atas, juga beberapa puisi lain, Heri Latief memunculkan sisi lain dari diri dan puisi-puisinya. Lebih lembut dan kadang sendu. Selain menulis tentang isu-isu sosial di puisinya, Heri Latief menulis juga puisi kerinduan, cinta, pulang, dan tema sejenis yang kebanyakan ia arahkan juga pada kerinduan akan kampung halamannya.

Di bagian kedua, dalam catatan atau eseinya, Heri Latief jauh lebih berbeda lagi. Kalimat-kalimat dan paragraf yang pendek dan lugas terasa jauh lebih lembut lagi ketimbang puisi-puisinya. Selingan humor sesekali membuat geli, membacanya membuat senyum sendiri. Tapi, selain gaya ungkap, sesungguhnya tak ada yang berbeda antara puisi dan esei Heri, ia tetap saja sosok penulis yang murung, khawatir, dan selalu ingin ambil bagian dalam situasi sosial. Kecenderungan menulis seperti itu tak pernah bisa ia  bendung.

Menghadapi tulisan ini, saya dihadapkan pada dua sisi sang Penulis. Membaca puisi (yang ia sebut puisi berlawan), saya jadi membayangkan Heri Latief memegang megaphone di jalanan terik nan panas. Ia berteriak dengan puisi-puisinya yang siap merangsek masuk ke jantung kekuasaan lalim yang ia kritisi dengan keras. Ia memiliki suara lantang, keras, dan memekik ke telinga dengan sajak-sajak potes sosialnya.  Sementara membaca eseinya, saya merasa seperti diundang bertandang ke beranda rumahnya. Di sana Heri menyuguhkan kue dan teh manis, sembari bercerita tentang bagaimana kampung rantau, keindahan, kebersihan, keteraturan dan segala yang ia ingat. Namun dalam cerita manis itu, ia juga menceritakan kisah-kisah ironi. Misalnya, bagaimana Belanda yang maju, bersih dengan sistem politik yang cenderung stabil, juga memiliki permasalahan menumpuk; kekurangan tempat tinggal penduduk, para bajingan pemabuk yang bersembunyi di bawah gereja dan para gerilyawan yang bergentayangan di malam hari menduduki bangunan-bangunan kosong untuk mereka tinggali bersama gerombolan miskin lainnya.

Heri Latief bercerita tentang kanal sungai yang rapi, kereta yang cepat di Belanda, tapi juga kisah manusia yang tak pernah usai memperjuangkan haknya. Di beranda eseinya ini, Heri lebih lembut bercakap-cakap, tidak garang seperti kebanyakan puisinya. Tapi, sekali lagi, ada yang tetap tidak bisa ia sembunyikan, aura protes yang tak bisa ia pendam. Lanjutkan membaca