Review #KepulanganKelima oleh Vira Cla

kepulangan kelima

Vira Cla, menulis sebuah review album puisi, musik dan ilustrasi #KepulanganKelima di Goodreads. Berikut reviewnya, silakan dibaca.

Saya jarang mengulas buku secara mendalam (ulasan berikut juga tak dalam-dalam amat sih), apalagi untuk sebuah buku puisi. Karena saya masih mengganggap puisi itu suatu karya yang kompleks, rumit untuk dipahami, dan diinterpretasi. Khusus Kepulangan Kelima ini, saya akan mencoba mengulas buku puisi (kalau kata penyairnya Irwan Bajang, dari sudut pandang saya sebagai prosais. Halah! Hahaha..)

Mungkin ada satu hal yang harus saya pikir ulang. Mungkin puisi itu memang tidak untuk dipahami. Tapi, tentu saya harus mendapatkan sesuatu dari puisi, bukan? Atau, puisi itu hanya untuk dibaca-baca, dinikmati untaian baris kata-katanya? Kalaupun memang begitu, ya saya tak mau begitu saja. Setidaknya, saya ingin tahu pesan apa yang dicoba disampaikan penyairnya. Untuk itu saya harus bisa menerjemahkan puisi yang berbahasa penyair menjadi berbahasa saya. Dari 30 karya puisi dalam buku Kepulangan Kelima ini–kalau tak salah hitung–tak ada yang terlalu sulit dicerna (mengingat betapa paranoid saya dengan puisi, takut tak mengerti). Boleh saya bilang kalau puisi-puisi Irwan Bajang adalah puisi-puisi yang bercerita. Saya suka cerita. Dan ternyata lebih menyenangkan membaca puisi yang bercerita ketimbang cerita yang terlalu puitis. Sungguh! Mungkin semua puisi memang bercerita, tapi demikianlah kesimpulan saya yang jarang baca puisi (pengakuan dosa!)

Mungkin tak ada satu pun karya di dunia ini yang luput dari persoalan cinta. Mungkin lho ya! Begitu pula dengan Kepulangan Kelima. Dan soal cinta, tentu tak harus selalu bermanis-manis kata. Ada cinta yang mengobarkan amarah. Ada cinta yang melahirkan keputusasaan, ketidakadilan. Puisi “biar kutitipkan kau pada semesta” salah satunya; puisi yang bercerita tentang ibu yang “menitipkan bayinya pada semesta” (saya dan anda bebas menginterpretasinya) untuk kemudian menjadi pelacur. Cintanya pada suaminya yang tewas dihakimi massa telah menjelma keputusasaan. Sebentuk kritik sosial? Mungkin. Begitu pula yang saya tangkap dari beberapa puisi lain, seperti “kepulangan kelima”, begini penggalan puisinya:

“Di tanah kelahiran
kepulangan dari rantau, hanya mengajakku terheran-heran
Masjid-masjid yang besar, kebun tebu tetangga yang kian kering
rumah-rumah penduduk dengan listrik yang selalu padam
pukul enam petang” (Dear, PLN! Kenapa di daerah masih sering listrik padam hah?)

Lalu puisi “rumah yang terbakar” dan “rudi ingin bermain, tapi di luar sedang hujan”, tampaknya membicarakan tentang dampak industri. Bahkan puisi pendek “pada resepsi pernikahan itu” bisa dibilang ada kritik sosialnya juga, kenapa perempuan kekasihnya menikah saat “buncit lima bulan”? Dengan pria lain pula? Nah, lho?!

Selebihnya, puisi-puisi bercerita tentang cinta yang lebih intim. Kalau tak pasangan kekasih, ya cinta pada Pencipta atau hal-hal lainnya. Sesuai dengan judul bukunya, beberapa puisi juga menggambarkan kecintaan seorang perantau pada kampung halamannya. Tentang seorang yang ingin pulang. Puisi soal itu yang paling berkesan buat saya adalah “tak ada jalan menuju rumah”.

“Aku tak bisa pulang lagi, Ayah, kuda ini telah menambatkan hatiku di pelananya.” (tak ada jalan menuju rumah)

Saya tak mau bilang jelek pada suatu karya. Begitu pula pada puisi “mereka tak mengenalku lagi”. Terus kenapa memangnya kalau mereka tak mengenalmu lagi? Kalau anak gaul bilang, masalah buat gue? Hehehe… Puisi ini tidak jelek. Tapi, saya tak suka saja. Lalu, pada puisi “reinkarnasi” yang saya suka tapi ada yang mengganjal dalam interpretasi saya terhadap puisi ini. Saya mengira ‘aku’ adalah Adam manusia pertama, tapi kenapa dia bilang ‘sejak kakek buyutku berkali-kali menjelma puisi’? Ah, mungkin saya melihat dari kacamata prosais/novelis/cerpenis: cerita itu harus logis.

Buku Kepulangan Kelima ini adalah sepaket puisi; teks, musik dan ilustrasi. Dan bagi saya, puisi-puisi tersebut adalah cerita. Cerita yang akan diterjemahkan beda lagi oleh saya saat membaca ulang nanti. Untuk sekali baca ini, saya terkesan. Karena saya tak dibikin pusing oleh karya Irwan Bajang. Jadi, kalau saya bilang buku ini layak masuk nominasi KLA 2013, akan sangat subjektif.

Comments

Komentar

  1. Romahfud berkata:

    Hmmmee..
    Pengen baca juga…

  2. irwanbajang berkata:

    Pesan aja Kepulangan Kelima ke http://bukuindie.com/book/kepulangankelima/ bukunya tinggal beberapa eksemplar aja. Udah mau habis :)