[Surat] Yogyakarta, Tahun 2050

rain-in-december_smKekasihku, hujan asam turun lagi di kotamu. Di kota, di mana masa lalu kini menjadi kenangan dan hadir dalam malam-malam ganjil tidurku. Hujan menderas menampar-nampar kaca jendela, dan di dalam rumah, secangkir teh berusaha menyelamatkanku dari kemalangan masa tua yang sendiri.

Apa yang sedang kau lakukan di sana? Hujan asamkah di atap rumahmu? Atau angin Februari sama sekali berbeda antara dua kota terpisah ini. Apa pun yang terjadi, aku ingin kau bahagia. Meski kutahu, encok barangkali telah memangsa sendi-sendimu. Pegal telah menggerogoti otot-ototmu. Aku tahu, usia seperti ini tak mungkin lagi berharap kesehatan yang lebih. Kantuk bisa datang sesuka hatinya. Gigil, ngilu dan pening juga bisa saja memasuki tubuh kita tanpa mengetuk pintu raga.

Malam ini aku sendirian, Kekasihku. Seperti beribu-ribu malam sebelumnya. Pintu rumah telah kututup, jendela telah aku kunci, sementara lampu belum mau aku matikan. Aku masih mengingatmu, seperti juga mengingatmu lebih dari empat belas ribu hari sejak pertemuan kita dulu.

Masihkah kau ingat masa remaja kita? Masa di mana kita masih kuat mengayuh sepeda, malam Minggu menuju pusat Kota Yogya. Masa di mana kita masih kuat begadang minum kopi hingga subuh hari. Aku tahu, otak kita mulai usang dimakan usia, tapi aku juga sangat tahu, ingatan tak bisa ditukar waktu atau ragam peristiwa yang datang setelahnya. Ingatkah kau akanku? Aku yang mengayuh sepeda untukmu, aku yang menghadiahkan buku di belakang Taman Pintar untukmu, aku yang mengajakmu menonton teater dan baca puisi di Taman Budaya, aku, lelaki yang mengajakmu begadang dan kelaparan, lalu memburu makanan sepanjang jalan Malioboro.

Aku ingat dirimu. Rambutmu yang harum, kulitmu yang hangat dan senyumanmu yang menggembirakan. Aku ingat bagaimana erat pelukanmu di atas kendaraan roda dua, bagaimana pejal perutmu saat memelukku. Aku mengingatmu, kau yang lebih suka memilih paha ayam daripada kepalanya, kau yang selalu minta nambah teh hangat manis di pojok Alun-Alun Keraton Yogya. Kau yang gembira mendapatkan kacang rebus atau jagung bakar. Aku mengingatmu, mengingat semua masa remaja kita yang bagiku tak pernah sia-sia. Masa remaja yang gembira, masa remaja yang penuh kenangan waktu di Yogya.

Bagaimana kabarmu di sana? Apakah kota yang kau tinggali sekarang sama manisnya dengan kota kelahiranmu, dengan kota Yogya yang memberikan udara dan air untuk separuh usiamu? Apakah kota itu sama ramahnya seperti manusia Yogya? Aku sebenarnya ingin menghabiskan masa muda, tua, dan seluruh usia denganmu. Tapi kau meninggalkan Yogya, meninggalkan aku menjadi manusia lata, meninggalkan aku, menikmati masa tua yang merana.

Kadang, aku menyesal kenapa manusia harus tua. Aku masih ingin memberikanmu bunga, mengajakmu minum kopi di Code, mengajakmu merenung di Tugu, masuk melihat sepur yang entah dari mana dan ke mana tujuannya. Aku ingin tetap muda, tetap ingin bersamamu ke Yogya, mendatangi pameran-pameran buku dan lukisan, menonton lawakan, berburu barang bekas di klitikan. Lalu mencari sudut kota yang sepi untuk mengambil foto, dan sesekali berciuman jika tak ada orang.

Aku ingin memesankan lagu untukmu pada pengamen-pengamen Malioboro, duduk di Prada, atau sesekali naik ke Kaliurang, atau turun ke Pantai Selatan, sekadar menyendiri, memandang langit memerah kala senja. Atau sekadar mencari waktu yang manis untuk bersama.

Aku ingin muda selalu, menghabiskan sisa belanja bulanan untuk membeli film bajakan di Jalan Mataram. Memburu buku puisi di pasar-pasar buku murah di Yogyakarta. Aku ingin segalanya kuhabiskan bersamamu. Aku juga ingin mengajakmu melihat Yogya yang makin renta dan tua. Raja-raja tak lagi sama, tukang becak, ojek, dan taksi juga tak lagi sama. Jalan kota makin penuh, Alun-Alun malih rupa. Aku menyaksikannya sendiri, sementara kamu tak ada.

Datanglah kembali ke kotamu. Pulanglah kembali ke Yogya. Kota di mana kamu dilahirkan, kota di mana kita dipertemukan. Lalu kita habiskan masa tua bersama, sembari membuka album foto masa remaja kita. Mengingat kembali wajah Keraton puluhan tahun lalu, wajah Malioboro, wajah Benteng, wajah jalan-jalan kota, juga wajah manusia-manusia yang kini telah tak ada. Wajah-wajah yang selalu datang dan pergi.

Datanglah. Pulanglah ke Yogya. Sembari menunggu habis usia kita. Dan salah satu dari kita akan menangis kehilangan di satu pagi. Kembalilah, pulanglah kau, Kekasihku. Aku dan Yogyakarta merindukanmu.

Yogyakarta,  18 Februari, 2050.

Kekasihmu

Unduh gratis PDF Yogyakarta, Tahun 2050 di sini

Comments

Komentar

  1. Tante mengatakan:

    Kenapa kalo nulis puisi tak seindah ini?

    1. irwanbajang mengatakan:

      lah, puisi yang mana? kurang kece apa coba? hehehe

      1. tata mengatakan:

        jatuh cinta, semenjak dibacakan dismas di samudra kata semalam di dongeng kopi

        1. irwanbajang mengatakan:

          keren ya… hahahaha