Tikungan, Ruang Transit Komunitas Literasi

“Rumah baca tak harus hanya identik dengan meminjam dan mengembalikan buku. Lebih dari itu, Tikungan dibuat untuk ruang belajar bersama, diskusi, publikasi, pameran, pemetaan komunitas, pembangunan jaringan sekaligus ruang transit bagi penulis, seniman dan komunitas di seluruh Indonesia.”

tikungan 2Jika kamu seorang penulis, seniman, grup band atau pelukis, maka datanglah ke Rumah Baca Tikungan di Jember. Datanglah dan buat acara di sana! Rumah baca ini tidak seperti rumah baca kebanyakan. Banyak aktivitas sosial yang berlangsung di dalamnya. Tikungan ingin menghapus mitos bahwa rumah baca adalah tempat yang membosankan, berisi banyak buku yang hanya pasrah untuk dibaca dan dikembalikan ke raknya jika sudah selesai dibaca.

Mulai membangun dan menjaga hidup sebuah komunitas literasi di sebuah daerah tentu bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Apalagi komunitas ini dihuni beragam kepala di dalamnya. “Selalu ada sebuah titik temu jika kita mau berpikir dan bekerjasama”, selogan semacam inilah yang menjadi titik awal keberangkatan beberapa anak muda di Jember Jawa Timur melakukan kegiatannya. Titik temu itu adalah buku dan ilmu pengetahuan. Dari dua titik ini mereka berangkat, membangun sebuah ruang yang mereka beri nama Tikungan, lengkapnya Kelompok Belajar Tikungan. Dari kelompok belajar itu kemudian dibentuk lagi sebuah ruang lain yang lebih fokus pada pendidikan, komunitas ini bernama Rumah Baca Tikungan.

“Kelompok Belajar Tikungan adalah kelompok yang ingin mempopulerkan budaya literasi di Kabupaten Jember.” ucap Arys Aditya, salah satu pentolan Tikungan.

Dalam komunitas ini, para anggota tidak terikat dengan mekanisme struktur yang baku. Komunitas dijalankan secara egaliter tanpa struktur, seperti ketua, wakil lengkap dengan divisi-divisinya. Komunitas hanya diisi beberapa koordinator kelompok studi. Mirip dengan ruang kuliah yang banyak belajar disiplin ilmu, Tikungan menjalankan program studi dengan cakupan yang beragam. Kelompok studi dipilah sesuai minat dan kecenderungan dari para awaknya. Ada  Studi Sastra, Teologi, Seni Pertunjukan, Filsafat Politik, Kedaulatan Ekonomi, Linguistik dan Bahasa, Perubahan Sosial, serta Lingkungan Hidup. Tentu saja studinya tidak terlalu formal dengan jadwal dan dosen yang tetap. Masing masing koordinator mencari pemateri, mencari data, riset dengan tim dan menentukan waktu serta ruang yang pas untuk kegiatannya. Intinya adalah belajar bersama.

“Kami sering bekerjasama dengan penerbit dalam penulisan buku, juga dengan penulis untuk melakukan bedah buku,” sambung Arys Aditya yang juga baru menerbitkan buku pada bulan Juli 2013 lalu. Selain rutin memublikasikan media, buletin, mereka juga kerap mengadakan kerjasama dengan beberapa penulis atau sastrawan. Berada di sebuah daerah geografis “Tapal Kuda” Jawa Timur, Tikungan menjadi semacam tempat transit bagi banyak komunitas. Komunitas sastra, musik, seni rupa dan lain sebagainya di seluruh Indonesia kerap datang dan difasilitasi penuh oleh Tikungan. Sebagai wadah literasi, Tikungan pun kerap menyusun agenda yang bisa dikerjakan bersama, seperti bedah buku, pameran, seni musik, seni tradisi dan lain sebagainya.

“Agenda terakhir kemarin adalah bedah buku penulis dari Tikungan dan penulis dari Jogja. Sebelum-sebelumnya, banyak juga penulis yang transit di sini dan berdiskusi,” sambung Arys. “Selanjutnya akan jalan lagi agenda lain seperti pemutaran film, pameran foto, grafis, kelas cerpen, essai, puisi dan usaha residensi.”

Irwan Bajang

*Arsip Tulisan. Rumah Baca Tikungan, Jember. eyd.magz #4 September 2013

Tikungan: Tak Harus Lurus “Rumah Baca Tak Biasa Anak-Anak Muda Jember”

tikungan 1 Tak harus lurus! Itulah semboyan yang dipakai sekumpulan anak muda Jember Jawa Timur  ketika membangun sebuah rumah baca di daerah mereka. Rumah baca yang tak biasa.

Bermula dari percakapan di warung kopi; saling berbagi informasi buku dan saling pinjam buku, muncul niatan untuk membuat sebuah rumah baca sederhana yang dapat diakses dengan mekanisme lebih terbuka dan leluasa. Niatan ini mendapatkan muaranya ketika di sela-sela rehat Konsolidasi Nasional Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Universitas Sunan Ampel, Surabaya, Junuari 2009, Eri Irawan, yang juga alumni Pers Mahasiswa Jember memberikan sejumlah masukan dan tawaran terkait pendirian rumah baca. Pulang dari Surabaya, mereka berkumpul dan segera mendeklarasikan berdirinya Tikungan.

Kebanyakan Anggota yang terlibat memang pengurus PPMI. Selain aktif di dunia jurnalistik, para pendirinya juga kerap melakukan usaha pembacaan ulang terhadap budaya literasi di Jember. “Jadi pas. Rumah baca jadi semakin penting.” Ujar Arys Aditya, salah satu anggota aktif Tikungan.

Koleksi buku pertama dikirim sendiri oleh Eri Irawan (dan masih berlajut hingga kini). Jumlahnya memang tak terlampau banyak, tetapi sudah cukup untuk memulai sebuah rumah baca sederhana. Selain sumbangan anggota, buku-buku juga mulai berdatangan dari jaringan lain dan para donatur buku. Buku-buku tersebut dibuatkan rak yang bebas diakses banyak orang. Termasuk penduduk sekitar, termasuk anak-anak yang bermain setiap hari di sana.

Pada perkembangan berikutnya, Tikungan tak lagi dihuni hanya oleh kelompok jurnalis kampus semata. Ada banyak kepala lain yang mulai bergabung, lintas jurusan, lintas latar belakang. Dengan beragamnya manusia di sana, beragam juga hal yang bisa dilakukan.

Tak mudah mendirikan sebuah rumah baca yang memberikan garansi bahwa di dalamnya ada proses pertukaran gagasan, ada pencarian bersama dan sebagainya, yang tidak sekadar proses meminjam dan mengembalikan buku. Kiranya itulah yang membedakan rumah baca dengan, perpustakaan kampus atau tempat penyewaaan komik dan novel kebanyakan. Buku-buku dicari bersama, dibaca bersama, diulas bersama, juga dirawat bersama. Niatan menjadi rumah baca yang berbeda, “tak harus lurus” seperti selogan mereka inilah yang pada akhirnya membawa Tikungan menjadi rumah baca yang lain. Diskusi, riset, belajar, bedah buku, penerbitan, pameran, dokumentasi dan studi-studi kecil sudah mulai berjalan dari komunitas ini. Mereka juga membangun jaringan kuat dengan komunitas lain di seluruh Indonesia.

Irwan Bajang

* Arsip Tulisan. Rumah Baca Tikungan, Jember. eyd.magz #4 September 2013

Djali Gafur: Ulang Tahun Hanyalah Sepotong Kue Bolu

Hari ini kawan saya berulang tahun. Saya tidak akan menulis sebuah memoar ini jika dia bukan kawan baik saya. Saya tak terbiasa memberi hadiah pada siapapun di hari ulang tahunnya. Begitu juga hari ini. Saya tidak memberikannya hadiah apapun. Ketika tulisan ini saya ketik, saya bahkan sedang membujuknya belanja ikan laut besok pagi. Saya akan menyajikan sebuah masakan yang enak dan pedas! Tentu saja saya tak ingin kawan saya ini masak untuk saya. Saya tahu selera kulinernya agak menyedihkan. Kalau tidak dibilang buruk.

Namanya Djali. Nama yang aneh bagi seorang yang datang dari pulau yang jauh di ujung timur Indonesia. Djali Gafur, lahir dan besar di Ambon. Tentu saja dia tidak bisa bernyanyi, tidak bisa main alat musik. Dia juga sama sekali tidak modis parlente a la Nyong Ambon umumnya. Djali berbeda. Ia sepertinya memang anak Ambon. Tapi Ambon yang tak beribukota Maluku. Duh.

Malam ini dia menolak belanja ikan dan masak untuk esok pagi. Nggak ada duit. Malas. Begitu katanya. Lalu ia bercerita tentang ulang tahun pertamanya yang dirayakan.

Djali kecil baru saja pulang dari acara ulang tahun teman sepermainannya. Ada balon, dan pesta, ada acara nyanyi-nyanyi dan tentu saja ada kue. “Aku makan kue tart hari itu. Kue itu kue paling enak yang pernah aku makan dalam hidupku.” Begitu Djali bercerita dengan nada yang memelas dan raut muka yang tak meyakinkan. Pulang dari acara pesta ulang tahun, Djali kecil punya satu tekad dan cita-cita. Ia akan minta ibunya membuatkan kue yang serupa. Kue tart paling enak di dunia. “Mama, kalau aku ulang tahun. Aku mau kue yang enak.” Ibunya hanya terdiam. Jangan bayangkan ibunya terharu dan memeluk anaknya. Tidak! Ini bukan sinetron. Ini kisah nyata.

Tak ada tradisi ulang tahun bagi warga kampung. Apalagi Djali Adalah anak gunung. Konon ia tinggal di dataran tinggi. Sekeliling rumahnya adalah perkebunan cengkeh yang luas. Di sana ia bermain. Sesekali buang tinja kalau kebelet dan jauh dari sungai. Ulang tahun adalah mimpi semua televisi. Anak kampung tak punya tradisi mewah seperti itu.

djaliTadi malam kami tertawa sampai sakit perut. Tertawa entah karena apa. Begitulah, dalam hidup saya—selama mengenal anak ini—Djali dan saya lebih banyak tertawa daripada ngobrol serius. Sebuah kebiasaan yang aneh.

Pernah satu kali kami makan di sebuah rumah makan di Bali. Rumah makan Ayam Taliwang. Kami makan masing-masing satu porsi ayam kampung utuh, ditambah es teh dan tentu saja pelecing kangkung khas makanan Lombok. Enak. Begitu kami sepakat. Warung itu kecil dan berada di sebuah pojok. Sambil makan, kami menebak harganya dalam hati. Tentu harganya masih bisa kami prediski. Di Jogja, tahun 2009, harga ayam bakar masih lima ribu rupiah. Itu sudah termasuk es teh dan nasi yang bisa diambil sendiri, sepuasnya, sampai kenyang.

Maka tibalah kami di acara puncak makan di warung: membayar.

“Berapa, Bu?” Tanya saya.
“Dipisah atau digabung?”
“Pisah aja, Bu.” Saya menimpali tanpa meminta persetujuan Djali.
Sejenak sang penjaga menghitung. Apa yang kami makan, sembari bertanya, apakah pakai krupuk atau ada tambahan lain. Setelah kami menggeleng, sang ibu segera memencet angka ‘sama dengan’ di kalkulator hitungannya. Dengan tegas sang penjual menjawab, “Enam puluh ribu!” Kami berpandangan tanpa ekspersi. Kami tidak memikirkan apapun. Selain mengeluarkan dompet segera dan membayar.

Keluar warung. Djali mulai tertawa bebas. Seolah sedang berada di perkebunan cengkeh dekat rumahnya. Seolah tidak ada orang. Saya ikut tertawa. Tertawa sampai motor yang kami naiki terguncang dan orang-orang memperhatikan kami dengan tatapan yang aneh. Kami tertawa sepuasnya. Entah apa yang kami tertawakan. Kami tak merasa menyesal makan enak di warung itu. Harganya juga cukup kami bayar dengan uang yang ada di dompet kami. Tidak mahal-mahal amat sampai kami harus miskin mendadak. Tapi kami tak tahu kenapa kami harus tertawa. Lebih dari delapan kilo meter kami tertawa. Bahkan keesokan hari dan bertahun-tahun setelahnya, kami tertawa kalau melihat ayam bakar. Terutama Ayam Bakar Taliwang.

Malam tadi saya kelaparan, dan Djali sepertinya tahu. Ia membawakan saya dua bungkus nasi. Ketika nasi saya buka, saya kaget. “Ayam Taliwang?” Saya bertanya dengan nada dan maksud tidak bertanya. Djali tertawa lagi, dan saya ikut tertawa. Entah apa yang saya tertawakan, saya tidak paham. Yang jelas, kami membutuhkan hampir setengah jam untuk meredakan tawa dan sakit perut kami sebelum bisa makan yang enak. Di tengah acara makan, kami tertawa sedikit sambil keseleg karena makanan salah masuk ke tenggorokan.

Itu hanyalah contoh kecil tertawa yang dibuat Djali. Ada seribu satu cara tertawa. Dan kami tak butuh satupun alasan untuk itu. Kami bisa tertawa saat habis cukur kumis, atau tertawa saat membaca sesuatu. Atau bahkan tertawa tanpa alasan. Kapanpun, di manapun. Kami berjumpa dan kami tertawa. Djali potong rambut, saya tertawa. Dia sedang tidur, saya tendang dan saya tertawa. Atau saya sedang baca buku, dia bisa datang dan tertawa. Begitulah. Susah memang menjelaskan arti tawa di antara kami. Kami tertawa tanpa tahu kenapa kami harus tertawa.

Oh ya, hampir lupa. Setiap Djali belanja baju atau datang dengan baju baru, saya tertawa. Kebiasaan tertawa ini menjalar, menular dan menjadi penyakit bersama yang melekat di kawan-kawan kami yang lain. Ada Djali, tak ada alasan apapun, kami semua bisa tertawa. Absurd!

Eh, satu lagi. Setelah kuliah tujuh tahun dan datang waktunya wisuda, saya adalah wisudawan yang datang paling terlambat. Rektor sudah datang, semua wisudawan sudah duduk. Waktu turun dari kendaraan, saya setengah berlari. Tapi ternyata, ada satu manusia di belakang saya, ia sedang diomeli ibunya. Dia adalah Djali. Dan kami tertawa ngakak sampai hampir gila.

Djali kecil pulang sekolah suatu siang, sepekan setelah menghadiri ulang tahunnya. Sepekan juga setelah ibunya kaget, kenapa anaknya tiba-tiba minta kue saat ulang tahun. Pulang sekolah, Djali menemukan kue berjejer rapi di atas meja makan. Ibunya sedang mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Djali yang bingung tentu tidak berani makan kue yang ada di meja. Meskipun ilernya sudah menetes ke lantai dan ia seperti anak kecil yang kesurupan. Ia masih punya urat sopan santun. Mungkin ada pesta, atau mungkin ada tamu ayahnya datang dari kota yang jauh. Begitu ia pikir dalam hati. Tapi hasratnya tak terpendam. Djali kecil bertanya pada ibunya. “Mama, kenapa ada banyak kue di meja?” Mamanya tersenyum (kali ini saya fiksikan biar kaya sinetron). “Itu kue untuk merayakan ulang tahunmu.” Djali tersenyum dan berlari segera ke meja. Ia mengambil kue di meja itu. Kue kecil dan ia telan segera. Enaaaaaak sekali katanya. Itu bukan kue tart. Itu hanyalah kue bolu. Ibunya baru saja mencoba resep masak kue bolu.

Konon sejak itu sampai sekarang ketika usianya sudah tak muda lagi, Djali tak mau merayakan ulang tahun. Sebab baginya, ulang tahun hanyalah sepotong kue bolu. Mungkin Djali tidak sedang ingin merusak ingatan kanak-kanaknya.

Jogjakarta, 11 Januari 2014

*silakan memutar lagu 11 Januari–Gigi lalu membaca ulang tulisan ini dari awal.

Denny JA, King Maker yang Tak Pernah Salah

denny jaSeno Gumira Ajidarma adalah seorang cerpenis dan jurnalis. Ia pernah menerbitkan buku Ketika Jurnalistime Dibungkam, Sastra Harus Bicara.  Di buku itu, Seno sedang ingin memberi sebuah solusi, bahwa sastra bisa menjadi cara ungkap akan fakta yang ada, fakta yang tabu disampaikan secara jurnalistik di era Orde Baru. Orde Baru menekan jurnalis dan media dengan represi. Jika mengancam, tangkap jurnalisnya, bubarkan medianya. Maka selain menampung kegelisahan para jurnalis, Seno ingin bilang bahwa sastra bisa menjadi solusi yang aman, sebab sastra—dengan caranya sendiri—lebih bisa menyentuh dan memperingati. Atau dengan alasan yang gampang, jika Suharto marah, seorang bisa berlindung dengan berujar, ini kan fiksi, Jendral.

Tentu saja maksud saya tak sesederhana itu. Ada banyak dimensi lain dalam dunia sastra yang bisa dipakai untuk membuat sebuah kritik. Memuat sebuah keluh kesah dan protes sekaligus. Jurus yang ditawarkan Seno tak semuanya terbukti aman. Dengan menulis fiksi satire, meskipun fiksi, seorang sastrawan bisa tetap diciduk, dibuang dan dipenjarakan. Sastra adalah cara lain berbicara tentang fakta. Di antara garis batas fakta dan fiksi itulah sastra bermain dengan cara yang unik. Dengan cara sastra.

Meskipun menulis cerpen dan lebih banyak berangkat dari temuan kerja jurnalistiknya di lapangan, cerpen Seno tetap tidak bisa disebut “Cerpen Jurnalistik”. Kumpulan cerpen Saksi Mata, Penembak Misterius tetaplah kumpulan cerpen, bukan kumpulan cerpen jurnalistik. Jurnalistik tetaplah jurnalistik dan cerpen tetaplah cerpen. Setahu saya, belum ada juga kritikus yang melakukan percobaan kritik dan menghasilkan sebuah genre “sastra baru” dari dua obyek tulisan tersebut. Dan saya rasa memang tak perlu ada. Karena Seno adalah cerpenis ketika menulis cerpen, dan ia adalah jurnalis ketika membuat tulisan jurnalistik. Kedua identitas itu berbeda dan tak bisa disatukan.

Hal ini senada dengan kemunculan dan populernya jurnalisme sastrawai. Juranlisme ini tak bisa disebut sastra, meskipun ia mengombinasikan tulisan jurnalistik dengan gaya penulisan sastra. Dua hal ini tidak sama. Kecuali kita membuat generalisasi ngawur tentang jurnalisme campur sastra, seperti kita mencampur bensin dengan oli, lalu memberi label baru “bensin oplosan”. Lanjutkan membaca

Lupakan Orang Tua yang Miskin, Bodoh dan Sombong Itu

Ada banyak cara untuk memaki, sebagaimana banyak alasan mengapa kita harus memaki.

Di suatu peradaban yang menjengkelkan, kita bisa muak pada siapa saja: Pada manusia-manusia munafik, pemusik yang bermusik buruk dan hanya joged-joged di tv. Mereka memainkan lagu yang hanya ingin didengarkan, meskipun mereka tak ingin menciptakannya, apalagi menyanyikan.

Kita bisa memaki pada badut-badut politik yang kerjanya korupsi dan main kelamin, kita bisa juga mengacungkan jari tengah ke presiden yang tiap hari seperti orang menstruasi. Atau pada manusia sok suci yang meneriakkan nama tuhan pada siapa yang tidak bayar setoran pada mereka.

Kita bisa memaki pada tukang parkir yang lagaknya seperti preman. Tidak menjaga apapun, tidak menjamin helm hilang atau motor dibawa kabur siapapun. Atau kalau mau agak kritis, kita bisa menyalahkan negara yang tak pernah bisa membuat lapangan pekerjaan yang cukup bagi mereka.

Kita bisa memaki karena omongan anak kemarin sore hanya dianggap iri dengki bagi manusia dekaden yang sudah mapan di kursi malas mereka, sembari menunggu ajal datang menjemput. Mungkin ia akan segera dijebloskannya ke neraka tergelap yang sudah disiapkan bagi manusia tua yang mengalami degradasi dalam segala bidang: tua, miskin bodoh, munafik dan sudah pasti lemah syahwatnya.

Kita bisa memaki pada siapa saja. Pada mini market yang sengaja memakai kelipatan harga 50 rupiah, padahal mereka mustahil punya uang kembalian. Atau kadang-kadang mereka menawarkan kita menyumbang, padahal di pengumuman donatur nanti, uang kita atas nama mereka. Atas nama kepedulian mereka pada kemanusiaan.

Kita bisa memaki pada siapa saja. Juga pada sastrawan tua, miskin, bodoh dan tak punya cara lain selain melacurkan diri.

Kita bisa memakinya dengan cara yang baik, cara yang buruk dan jauh lebih bodoh. Sebab ada seribu satu cara untuk memaki, sebagaimana banyak alasan kenapa kita harus memaki. Atau kita bisa membiarkannya saja. Menganggap mereka tak pernah ada.

Weslah. Gitu aja.

Jogjakarta, 4 Januari 2013.

*Maaf, tak ada estetika dari kalimat-kalimat ini. Saya sedang tidak peduli.

Hei Penulis, Akun Twittermu Bukan Nama Penamu!

Twitter-writerPada situasi politik yang mencekam, memakai namamu sendiri untuk mengkritik lalimnya sebuah kekuasaan bukanlah cara yang bijaksana. Tindakan cerobohmu itu adalah jalan bebas hambatan menuju  bunuh diri yang sia-sia. Mata-mata segera melaporkanmu. Pasukan khusus menculikmu. Lalu selesailah. Namamu hanya diingat orang-orang terdekat. Kekasihmu, teman kontrakanmu atau teman berbagi bau napas di pangkal corong megaphone-mu. Dalam tradisi pemberontakan, penyaruan selalu dan sangat penting. Maka dalam tradisi ‘media perlawanan bawah tanah’, nama pena menjadi hukum wajib bagimu. Nasibmu ditentukan oleh kelihaianmu membelah diri.

Di era Suharto, kau mungkin tak banyak tahu, penulis-penulis Indonesia mana saja yang menyembunyikan identitasnya. Maka kepopuleran dan nama yang harum bukan target utama mereka. Karya dibaca, gagasan ditimbang dan diperhatikan adalah tujuan utamanya.

Dalam dunia seni dan sastra atau penulisan kreatif lainnya, mereka bisa menggunakan berbagai nama untuk genre atau gaya menulis yang berbeda. Tiap-tiap karya ditandai dengan nama yang berbeda pula. Saat menulis, mereka seolah memecah diri menjadi beberapa manusia. Diri yang lain menulis puisi, diri yang lain lagi menulis tentang tuhan, filsafat dan agama. Sementara alter ego menulis novel mesum atau bacaan liar berbeda.

Mungkin kau tak tahu siapa Yapi Tambayong, Dova Zila, Alif Danya Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel,  nama-nama itu adalah nama samaran, seorang penulis bernama Yapi Panda Abdiel Tambayong. Seorang penulis lintas genre yang sampai sekarang paling dikenal dengan nama; Remy Silado, bukan nama aslinya. Bukan nama pemberian bapak ibunya. Lanjutkan membaca