Denny JA, King Maker yang Tak Pernah Salah

denny jaSeno Gumira Ajidarma adalah seorang cerpenis dan jurnalis. Ia pernah menerbitkan buku Ketika Jurnalistime Dibungkam, Sastra Harus Bicara.  Di buku itu, Seno sedang ingin memberi sebuah solusi, bahwa sastra bisa menjadi cara ungkap akan fakta yang ada, fakta yang tabu disampaikan secara jurnalistik di era Orde Baru. Orde Baru menekan jurnalis dan media dengan represi. Jika mengancam, tangkap jurnalisnya, bubarkan medianya. Maka selain menampung kegelisahan para jurnalis, Seno ingin bilang bahwa sastra bisa menjadi solusi yang aman, sebab sastra—dengan caranya sendiri—lebih bisa menyentuh dan memperingati. Atau dengan alasan yang gampang, jika Suharto marah, seorang bisa berlindung dengan berujar, ini kan fiksi, Jendral.

Tentu saja maksud saya tak sesederhana itu. Ada banyak dimensi lain dalam dunia sastra yang bisa dipakai untuk membuat sebuah kritik. Memuat sebuah keluh kesah dan protes sekaligus. Jurus yang ditawarkan Seno tak semuanya terbukti aman. Dengan menulis fiksi satire, meskipun fiksi, seorang sastrawan bisa tetap diciduk, dibuang dan dipenjarakan. Sastra adalah cara lain berbicara tentang fakta. Di antara garis batas fakta dan fiksi itulah sastra bermain dengan cara yang unik. Dengan cara sastra.

Meskipun menulis cerpen dan lebih banyak berangkat dari temuan kerja jurnalistiknya di lapangan, cerpen Seno tetap tidak bisa disebut “Cerpen Jurnalistik”. Kumpulan cerpen Saksi Mata, Penembak Misterius tetaplah kumpulan cerpen, bukan kumpulan cerpen jurnalistik. Jurnalistik tetaplah jurnalistik dan cerpen tetaplah cerpen. Setahu saya, belum ada juga kritikus yang melakukan percobaan kritik dan menghasilkan sebuah genre “sastra baru” dari dua obyek tulisan tersebut. Dan saya rasa memang tak perlu ada. Karena Seno adalah cerpenis ketika menulis cerpen, dan ia adalah jurnalis ketika membuat tulisan jurnalistik. Kedua identitas itu berbeda dan tak bisa disatukan.

Hal ini senada dengan kemunculan dan populernya jurnalisme sastrawai. Juranlisme ini tak bisa disebut sastra, meskipun ia mengombinasikan tulisan jurnalistik dengan gaya penulisan sastra. Dua hal ini tidak sama. Kecuali kita membuat generalisasi ngawur tentang jurnalisme campur sastra, seperti kita mencampur bensin dengan oli, lalu memberi label baru “bensin oplosan”.

Penjelasan ini bagi saya cukup untuk menjelaskan di mana letak perbedaan karya nonsastra dan sastra. Termasuk esai dan puisi. Esai berjalan dengan caranya sendiri, ditulis dengan standar dan kaidah esai. Begitupula dengan puisi. Menggabungkan puisi dan esai bisa saja dilakukan. Namun , esai adalah esai, dan puisi adalah puisi.

Dalam karya sastra terdapat unsur fakta yang dibicarakan dengan cara fiksi, ini adalah kelebihan yang dimiliki sastra, sekaligus kekurangannya. Bagaimanapun sastra tak bisa dijadikan rujukan sahih atas sebuah fakta yang terjadi. Berbeda dengan karya jurnalistik, berbeda juga dengan karya esai yang cenderung beropini dengan menghadirkan rujukan referensi. Sekali lagi, puisi adalah puisi dan esai tetaplah esai. Fiksi sebagai landasan utama karya sastra tak lantas membuatnya hanya berisi imaji kosong yang datang tanpa alasan. Bukankah mustahil sebuah fiksi tak mungkin muncul begitu saja tanpa ada persentuhan si penulis dengan fakta di sekelilingnya?

Sutardji Calzoum Bachri memuji Denny JA dalam  satu tulisannya yang berjudul Satu Tulisan Pendek atas Lima Puisi Panjang.  Tulisan ini ia alamatkan pada buku Atas Nama Cinta yang menghimpun 5 “Puisi Esai” karya Denny JA . Bagi saya, puisi esai adalah puisi pintar. Yang dengan berbagai data, fakta, argumentasi, bisa memberikan kepintaran bagi pembacanya untuk memahami dan menghayati persoalan-personal yang terkait dengan masalah atau konflik sosial.”

Bukan hanya Sutardji yang membahas puisi esai dengan catatan yang panjang dan serius. Ada puluhan sastrawan—yang kalau bisa atau mau disebut senior—menulis untuk mengapresiasi tulisan Denny JA. Puluhan nama lain bisa kita temukan di lomba resensi yang digelar untuk buku ini. Beberapa tulisan tersebut juga dimuat di Jurnal Sajak yang terbit setiap setiap bulan, diasuh oleh para penyair Indonesia. Juga tentu saja banyak puisi esai ditulis di sana oleh penyair. Semua tulisan tersebut muncul dalam waktu yang sangat pendek. Tak lebih dari setahun.

Sapardi bahkan menulis, Dalam kelima sajak yang dimuat dalam buku ini, Denny mengklasifikasikan semua itu dalam masalah diskriminasi. Setidaknya, itulah yang menjadikan gagasan dan karangan yang diberinya label Puisi Esai penting untuk dicatat dalam perkembangan puisi kita.”  Sebuah pujian yang mengharukan sekaligus bombastis. Penggalan akhir kalimat ini terpampang di sampul depan buku Atas Nama Cinta. Dan dalam waktu yang singkat, dengan caranya, Denny sudah berhasil menjadi sorotan—setidaknya bagi yang mau menyorotnya—dan bukunya menjadi ramai dibicarakan.

Denny JA bukan penyair, bukan juga sastrawan yang lama berproses dan dikenal di wilayah sastra. Tapi respons yang muncul atas karyanya lahir begitu deras dari para ‘begawan’ sastra Indonesia. Denny JA adalah sebuah fenomena sastra.

Tidak alamiah. Oh, tentu saja.

Saya ingat, sekitar tahun 2009, ada seorang penulis muda yang menerbitkan buku dan dia ngotot ingin mendapat endorsment dari Sapardi dan Sujiwo Tejo. Hanya endosment  singkat. Mungkin satu dua kalimat pujian yang bisa ia taruh di sampul belakang puisinya sebagai alat promosi. Saya sudah bilang, mereka pasti sibuk dan tidak ada waktu untuk membaca puisi tersebut. Tapi karena kawan saya ini ngotot dan saya diminta membantu, maka saya harus memenuhinya. Sekaligus saya ingin membuktikan omongan saya. Saya penuhi permintaan  kawan saya ini. Saya kirim pesan di facebook untuk Sapardi dan pesan singkat dari ponsel saya ke Sujiwo. Diawali dengan perkenalan diri dan menawarkan puisi kawan saya itu, saya meminta kesediaan Sapardi untuk membaca dan memberi komentar. Tebakan saya tidak meleset: maaf saya sedang sibuk banyak sekali pekerjaan. Sujiwo Tedjo? Tidak menjawab. Baiklah, terima kasih.

Dalam perkembangan sastra terbaru, setiap hari muncul banyak penulis baru, penulis yang bahkan sangat punya potensi untuk dibicarakan. Tapi fenomena sehat itu tak pernah terjadi. Dalam dunia puisi misalnya, ada Indrian Koto, Thendra BP, Ragil Sukriwul, Dea Anugrah, Rozi Kembara, Halim Bahriz,  Mario Lawi (dan beberapa deret nama yang saya tahu lainnya). Mereka menulis dengan ciri dan gaya masing-masing dan punya kecendrungan kuat. Kenapa karya mereka tidak diulas sedemikian rupa? Tidak diperhatikan banyak orang seperti memperhatikan Denny JA yang baru saja muncul? Sehebat apa tulisan Denny JA ini, tiba-tiba muncul dan mendapat tempat, dibicarakan dan bahkan mendapat legitimasi genre baru sastra Indonesia dari banyak pihak?

Dalam kariernya, Denny JA polpuler karena seringkali berhasil memprediksi kemenangan calon pemimpin dalam pilkada atau atau pemilu, sejak 2004. Ia adalah orang yang berani mengiklankan prediksinya di media nasional, bahkan 10 hari menjelang pencoblosan.  Denny JA diberi label King Maker oleh banyak media. Ia membantu kemenangan presiden dua kali (2004, 2009), 23 gubernur dari 33 propinsi seluruh Indonesia dan 51 bupati/walikota.  Ia memenangkan semua pemilu presiden langsung yang pernah ada di Indonesia ini. Ia memenangkan lebih dari 60% gubernur seluruh Indonesia. Melalui enterpreneurshipnya, ia membuat pekerjaan “konsultan politik” menjadi profesi baru yang sangat berpengaruh bagi politik nasional. Dengan prestasi prestisiusnya ini, hampir  semua partai politik besar memakai jasa survei opini publik untuk hasil pemilihan yang maksimal.

Untuk apa Denny JA masuk ke ranah sastra? Kenapa Denny tidak hanya menjadi orang yang—misalnya—membuat penghargaan sastra, bikin perhelatan sastra yang besar dan acara lain yang bisa membuat banyak orang sastra berterimakasih padanya? Bukankah Denny adalah entrepreneur sukses selain juga adalah pesohor politik? Kekayaannya tidak akan habis hanya gara-gara mendanai acara semacam itu.  Jaringan politisi dan bisnisnya tentu juga akan banyak mendukung kegiatan itu jika Denny mau.

Kenapa Denny JA harus masuk di ranah penciptaan? Penciptaan sebuah karya. Apa pentingnya? Untuk apa Denny menjadi penyair, masih kurangkah jumlah penyair di Indonesia? Mungkin Denny sedang bermain di wilayah bisnis dan politik. Mungkin sastra hanyalah jalan. Dalam karier dan bergaining possision  di dunia poiltik plus entrepreneurship, hal ini sangat penting bagi Denny JA.

Denny JA seperti pengakuannya dalam sebuah tulisan di Jurnal Sajak—di mana Acep Zamzam Noor menjadi Editornya—ia sedang melakukan branding. Membuat sebuah alamat bagi karyanya. Ia mengadakan survei terhadap puisi-puisi yang tayang di koran nasional, sample penelitainnya adalah orang-orang yang diminta membaca dan menilai puisi Indonesia. Hasilnya, puisi Indonesia susah dipahami, terlalu tinggi di awang-awang. Lalu Denny membuat genre baru, persis di dunia bisnis; mencari differesiasi produk, promosi dan marketting adalah ujung tombaknya. Ia memilih banyak nama yang bisa memacu majunya sebuah brand yang ia luncurkan. Produk barunya adalah Puisi Esai.

Jika iklan sampo antiketombe dibintangi oleh gadis terkenal di tv, cantik dan berambut indah, maka iklan rokok diwakilkan pada lelaki petualang yang perkasa. Karena Denny JA memiliki produk puisi/sastra, maka ia juga harus mencari artis-artis yang tepat; penyair terkenal, dramawan, sutradara, penyair, kritikus. Merekalah yang harus dijadikan simbol dan brand ambassador.Tak lupa juga alih media menuju film, teater, lukisan, dan tentu saja dengan artis yang berbeda. Ini adalah cara bisnis dan promosi produk yang tepat.

Hasilnya? Tentu saja sangat memuaskan. Denny adalah businessman yang tangguh. Sepuluh bulan sejak 7 Januari 2013, sejak diluncurkannya, www.puisi-esai.com telah diklik lebih dari 7 juta kali. Tentu saja ini bisa menjadi catatan “kuantitatif”—meminjam bahasa survei dan penelitian—berapa jumlah manusia yang berkunjung dan datang membaca sajaknya. Tidak alamiah? Tentu saja! Dengan membeli sebuah akun sajak dengan follower lebih dari satu juta, Denny JA mendekatkan karyanya kepada generasi paling terbaru, dengan cara yang sangat baru. Ia memperkenalkan karyanya lewat twitter, langsung dari genggaman tangan hampir semua manusia dan remaja kelas menengah Indonesia. Kemudahan akses untuk membaca puisi itu melalui jaringan twitter, ponsel pintar dan internet adalah langkah pengenalan produk yang paling banyak dipakai para pengusaha di dunia.

Didukung popularitas seperti itu, tak heran jika banyak orang berlomba mengikuti sayembara yang dia adakan. Honor 50 juta adalah angka yang mencengangkan.

Seorang peresensi buku di koran membutuhkan lebih dari 100 kali dimuat untuk memperoleh honor sebesar hadiah lomba itu. Artinya, si tukang resensi tersebut harus membaca dan menulis lebih dari 100 buku dan dimuat lebih dari dua tahun tanpa bolong di rubrik resensi sebuah koran. Itupun kalau dimuat dan tidak ada saingan yang berarti. Itupun kalau koran tidak sedang punya berita atau iklan penting lain dan tidak menggusur rubriknya. Seperti nasib puisi, cerpen yang bisa tiba-tiba kosong karena digusur konten lain secara mendesak.  50 juta adalah angka yang menggiurkan bagi para peresensi. Maka ramailah hajatan itu.

Selain itu, karya Denny JA dibuat dalam bentuk film, puisi-puisi esai karya Denny JA dalam buku Atas Nama Cinta juga dibuatkan video pembacaan puisi, video klip yang melibatkan para sastrawan—dan budayawan—Putu Wijaya , Sutardji Calzoum Bachri, Niniek L Karim , Sujiwo Tejo, dan Fatin Hamama. Luar biasa. Tidak alamiah? Tentu saja. Mana ada dalah sejarah sastra Indonesia sebuah karya diapresiasi segegapgempita begini. Pernahkah karya Chairil Anwar, penyair paling populer di Indonesia diapresiasi sehebat dan sesemarak ini? Tidak mungkin. Untuk hajatan besar semacam ini, dibutuhkan banyak sekali dana. Tak ada orang yang mau gratis untuk membuat hajatan besar apresiasi seorang tokoh. Pun jika tokoh itu adalah tokoh pujaannya.

Kemunculan Buku 33 Tokoh Paling Sastra Berpengaruh di Indonesia dalam buku karya Jamal D Rahman dkk., ini menuai ribut dan polemik baru awal tahun. Denny JA melalui pengaruh Puisi Esainya masuk dan sejajar dengan nama-nama seperti Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Rendra, Taufiq Ismail dan nama lainnya. Jika salah satu kriterianya adalah berpengaruh—yang diartikan juga pada bagaimana respons publik akan sebuah karya/nama—maka Denny JA tentu bukan nama yang salah. Paparan kegiatan yang diadakan untuk karya Denny ini sudah lebih dari sebuah kata berpengaruh. Denny JA sangat berpengaruh bahkan melebihi semua sastrawan yang pernah ada di Indonesia, jika tolok ukur ini dilihat dari jumlah buku yang terbit, ulasan, resensi dan kritik yang timbul karenanya. Pengaruhnya sangat besar sehingga membuat nama-nama di atas menyiapkan panggung, memberi ulasan dan dibaptis memilik sebuah genre khusus dalam dunia sastra paling kontemporrer; Puisi Esai. Ini baru namanya pencapain!

Denny JA sebagai entrepreneur telah berhasil dan sukses memperkenalkan produknya. Maka mari kita ingat dan kembalikan, di mata Denny JA, sastra bukan lagi hal suci seperti yang dibayangkan oleh banyak sastrawan yang bergiat di dalamnya. Bukan tempat para pemikir berhati lembut yang peka situasi sosial lalu menulisnya dengan cerpen, puisi atau novel yang layak didiskusikan. Sastra juga bukan pula jurnalis yang tak bisa menulis berbeda dengan ideologi media tempat ia bekerja. Bukan. Sama sekali bukan. Sastra bukan cara yang paling pas untuk membedah karut-marut kondisi sosial negeri ini. Bukan, bukan sama sekali.  Sastra bagi Denny JA adalah panggung hiburan.  Meja bisnis. Siapa saja bisa ia minta jadi brand ambasador produk Puisi Esai yang ia luncurkan. Ia bisa memilih siapa saja, mendepak kapan saja, seperti kapan saja iklan provider seluler bisa mengganti artisnya dengan yang paling populer.

Denny tidak sedang menjual apapun. Tidak pula berbisnis di dunia perbukuan yang kasian dan kacau. Ia tidak mengharapkan uang dari jualan bukunya, bahkan Denny tak punya targetan mega best seller, biaya promosi yang ia keluarkan sudah sangat berlebihan. Tidak mungkin mengejar break even point dalam satu atau dua tahun. Denny mempromosikan buku puisi, bukan tutorial lolos UAN atau ujian STAN. Belum ada sejarah buku puisi melampaui buku-buku populer tersebut. Saya tahu Denny JA juga paham akan hal itu. Ia tidak berjualan buku. Ia sedang berjualan produk lain di balik bingkai Puisi Esainya.

Denny sedang membuat imej pada rekan bisnis dan klien perusahaan konsultaan politiknya. Mungkin ia hanya ingin bilang pada mereka: Hei, lihat, dunia sastra, kebudayaan, film dan puisi aja udah bisa kumasukin dalam waktu sekejap. Masih ragu bekerja sama dengan saya?

Kenapa ramai orang menyalahkan Denny JA? Ia hanyalah seorang yang sedang berbisnis. Itu haknya. Ia businessman, ia konsultan politik dan produknya adalah jualanan jasa. Mari kita anggap para punggawa sastra kita tak lebih dari sekadar artis iklan minuman kesehatan. Denny JA punya produk yang menjanjikan dan artis kita mungkin sedang butuh uang.

 

Jogjakarta, 6 Januari 2014

Irwan Bajang, Blogger, Pemimpin Redaksi Indie Book Corner.

Comments

Komentar

  1. Aminisme berkata:

    WOW! Keren tulisannya Bang Irwan

    1. irwanbajang berkata:

      selamat membaca…. monggo

  2. janda Unyu berkata:

    mas bajang masih jomblo gak sih, kita diskusi sambil ngobrol2 di penginapan yuk :-p

    1. irwanbajang berkata:

      penginapan mana, Indrian Koto..
      Janda Unyu ini link websitenya adalah: http://indriankoto.blogspot.com/

      Ketahuan ngibulnya

  3. idrus bin harun berkata:

    apa sih yang tidak bisa dibeli dengan uang? Denny tau benar, ketika semua alat bayar ia himpun, ia tidak lagi harus bercapekcapek mengikuti proses bersastra layaknya mereka tak bermodal finansial. ini zaman kita diimami uang. sastra dengan nilai ekonomis mendepak nilai2 lain yang diperjuangkan secara susah payah oleh beberapa orang yang masih waras.

    1. irwanbajang berkata:

      anak muda dan orang tua miskin jadi kasihan ya… hehe

  4. Sastranesia berkata:

    Seperti biasa, tulisan kritik Mas Irwan Bajang selalu lembut dan indah dilihat, tapi… :)

    1. irwanbajang berkata:

      sarkasme aduhai. hehe

  5. M. Faizi berkata:

    saya kagum terhadap tulisan ini, sangat panjang dan memulai ualasan dari sisi yang sangat jauh dan lebar. Seperti mundur beberapa langkah lebih dulu untuik meloimpat sangat jauh. Terima kasih sudah memberikan kritik dan masukan. Namun saya tidak bisa memberikan karena belum membaca aturan main yang ditetapkan untuk menilai keberpengaruahn nama-nama yang disebutkan itu.

    Dulu, Arswendo Atmowiloto membuat penelitian, sejenis jajak pendapat, tentang nama orang paling populer menurut pembaca tabloid yang dipimpinnya. Sesuai dengan aturan main, berdasarkan pembaca tertentu, hasilnya, Nabi Muhammad berada diututan puluhan, lagi-lagi di bawah namanya.

    1. irwanbajang berkata:

      kalau pakai survei kayak arswendo itu nggak apa-apa… heheh, ada parameternya, kalau ini kan kata berpengaruh sama sekali nggak bisa dijadikan alat ukur. pengaruh pada siapa, pada apa, kapan pengaruhnya, sampai kapan. susah, kan? makanya sudah salah sejak awal

  6. Gilang Occe berkata:

    sedaaaps, masboooy!

  7. Ade a berkata:

    Makelar, calo… yg lagi laris, duit berlimpah, lalu bayar seniman… senimanya mau… hmmm republik apa ini?

  8. herman syahara berkata:

    Makin banyak orang mengulas buku "33", makin "kasihan" saya sama seorang novelis yang karyanya sudah kurang lebih 5-8 buku. Sudah difilmkan. Sudah dipanggungkan. Sudah diterjemahkan ke beberapa bahasa. Orang-orang terinspirasi. Bahkan karyanya mampu memengaruhi kebijakan pembangunan Pemda di daerah yang menjadi setting novelnya. Dialah Andrea "Laskar Pelangi" Hirata. Saya tak faham kalau dewan juri "33" lebih memilih karya Denny JA ketimbang karya-karyanya Andrea Hirata. Apakah Denny JA lebih "tokoh yang nyastra" ketimbang Andrea? Pasti ada penjelasan untuk ini.

  9. Anonim berkata:

    Aih! Membuka mata.

  10. Bang, jadi sastra itu produk bisnis ya? Nanti di masa depan saya harus bilang ke anak-cucu saya kalau mau bisnis yang menjanjikan coba bikin karya sastra aneh begitu? Terima kasih atas tulisannya yang membuka mata tapi sekaligus membuat saya menutup mata.

    1. irwanbajang berkata:

      hahahaha… begitulah

  11. luckty berkata:

    Gyahahaha…aku dulunya malah gak mudeng blas sapa itu Denny JA, taunya karena sering banyak mention 'nyampah' yang nyuruh promote follow dia demi selembar dua lembar hadiah kuis yang diadain di akunnya, ampun deh… x)

    1. irwanbajang berkata:

      ampun kakaaaaa

  12. hoeda berkata:

    Ulasan yang sangat bagus, Mas Irwan.

    Sejujurnya saya juga sangat heran campur prihatin dengan sosok Denny JA ini. Saya mulai memperhatikan kiprahnya sejak muncul isu dia membeli akun Twitter yang telah memiliki 1 juta follower, kemudian membangun web, hingga menerbitkan buku yang disebutnya "Puisi Esai". Saya sempat membaca sekilas beberapa puisinya, dan–dengan segala ketidaktahuan saya terhadap sastra–saya tidak bisa menilai puisi-puisi itu bagus. Setidaknya, saya tidak bisa mendapatkan nilai keindahan bahasa atau estetik apa pun dari puisi-puisinya sebagaimana yang biasa saya dapatkan ketika menikmati puisi atau karya sastra.

    Yang membuat "takjub", buku Puisi-Esai itu mendapatkan endorsement (dan pujian setinggi langit) dari orang-orang yang saya kagumi, yang namanya sangat tersohor dan terhormat di dunia sastra. Ketika mendapati hal itu, saya benar-benar tercengang sekaligus miris. Tanpa bermaksud buruk sangka, saya tidak bisa menemukan alasan lain selain bahwa uanglah yang telah mendorong "orang-orang hebat" itu mau menuliskan pujian mereka. Kenyataan itu sangat menampar kesadaran saya (dan mungkin kita semua) bahwa ternyata "orang-orang terhormat" itu pun bisa dibeli.

    Denny JA, dan segala kiprahnya di dunia sastra saat ini, memang layak dipermasalahkan, karena ia telah "merusak" tatanan sastra yang luhur, dan mengubahnya menjadi hanya barang jualan yang murahan. Terbitnya buku "33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh", yang di dalamnya ada dirinya, semakin tegas menunjukkan bahwa dunia sastra di Indonesia sedang dihinggapi masalah. Sayangnya, beberapa tokoh dan sastrawan yang seharusnya menempatkan dirinya di tempat terhormat justru merelakan diri untuk dibeli.

    1. irwanbajang berkata:

      masalahnya dari dulu banyak, dan ini seperti puncak di mana orang terang-terangan dan tidak punya rasa malu melakukan apapun

  13. pegawainegri berkata:

    mungkin sudah saatnya sastra kembali ke jalur bawah tanah yang sunyi dari hingar bingar. Supaya tetap suci nan jernih.

  14. jusuf berkata:

    tulisan om ganteng ini maknyus. lebih mengena dan bermakna bagi pembaca ketimbang misuh-misuh di FB. :)

  15. […] ini adalah salin-tempel dari tulisan yang terbit pada 6 Januari 2014 di blog pribadi Irwan Bajang, irwanbajang.com. Irwan Bajang adalah seorang penulis, blogger, dan Pemimpin Redaksi Indie Book Corner, Yogyakarta. […]

  16. […] tahun baru 2016, Denny JA, King Maker yang tak pernah salah. Anda mungkin tidak sempat membaca tulisan dan ucapan selamat dari saya ini. Tidak mengapa, […]