Lupakan Orang Tua yang Miskin, Bodoh dan Sombong Itu

Ada banyak cara untuk memaki, sebagaimana banyak alasan mengapa kita harus memaki.

Di suatu peradaban yang menjengkelkan, kita bisa muak pada siapa saja: Pada manusia-manusia munafik, pemusik yang bermusik buruk dan hanya joged-joged di tv. Mereka memainkan lagu yang hanya ingin didengarkan, meskipun mereka tak ingin menciptakannya, apalagi menyanyikan.

Kita bisa memaki pada badut-badut politik yang kerjanya korupsi dan main kelamin, kita bisa juga mengacungkan jari tengah ke presiden yang tiap hari seperti orang menstruasi. Atau pada manusia sok suci yang meneriakkan nama tuhan pada siapa yang tidak bayar setoran pada mereka.

Kita bisa memaki pada tukang parkir yang lagaknya seperti preman. Tidak menjaga apapun, tidak menjamin helm hilang atau motor dibawa kabur siapapun. Atau kalau mau agak kritis, kita bisa menyalahkan negara yang tak pernah bisa membuat lapangan pekerjaan yang cukup bagi mereka.

Kita bisa memaki karena omongan anak kemarin sore hanya dianggap iri dengki bagi manusia dekaden yang sudah mapan di kursi malas mereka, sembari menunggu ajal datang menjemput. Mungkin ia akan segera dijebloskannya ke neraka tergelap yang sudah disiapkan bagi manusia tua yang mengalami degradasi dalam segala bidang: tua, miskin bodoh, munafik dan sudah pasti lemah syahwatnya.

Kita bisa memaki pada siapa saja. Pada mini market yang sengaja memakai kelipatan harga 50 rupiah, padahal mereka mustahil punya uang kembalian. Atau kadang-kadang mereka menawarkan kita menyumbang, padahal di pengumuman donatur nanti, uang kita atas nama mereka. Atas nama kepedulian mereka pada kemanusiaan.

Kita bisa memaki pada siapa saja. Juga pada sastrawan tua, miskin, bodoh dan tak punya cara lain selain melacurkan diri.

Kita bisa memakinya dengan cara yang baik, cara yang buruk dan jauh lebih bodoh. Sebab ada seribu satu cara untuk memaki, sebagaimana banyak alasan kenapa kita harus memaki. Atau kita bisa membiarkannya saja. Menganggap mereka tak pernah ada.

Weslah. Gitu aja.

Jogjakarta, 4 Januari 2013.

*Maaf, tak ada estetika dari kalimat-kalimat ini. Saya sedang tidak peduli.

Comments

Komentar

  1. janda Unyu mengatakan:

    opo le, le..