Tikungan: Tak Harus Lurus “Rumah Baca Tak Biasa Anak-Anak Muda Jember”

tikungan 1 Tak harus lurus! Itulah semboyan yang dipakai sekumpulan anak muda Jember Jawa Timur  ketika membangun sebuah rumah baca di daerah mereka. Rumah baca yang tak biasa.

Bermula dari percakapan di warung kopi; saling berbagi informasi buku dan saling pinjam buku, muncul niatan untuk membuat sebuah rumah baca sederhana yang dapat diakses dengan mekanisme lebih terbuka dan leluasa. Niatan ini mendapatkan muaranya ketika di sela-sela rehat Konsolidasi Nasional Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Universitas Sunan Ampel, Surabaya, Junuari 2009, Eri Irawan, yang juga alumni Pers Mahasiswa Jember memberikan sejumlah masukan dan tawaran terkait pendirian rumah baca. Pulang dari Surabaya, mereka berkumpul dan segera mendeklarasikan berdirinya Tikungan.

Kebanyakan Anggota yang terlibat memang pengurus PPMI. Selain aktif di dunia jurnalistik, para pendirinya juga kerap melakukan usaha pembacaan ulang terhadap budaya literasi di Jember. “Jadi pas. Rumah baca jadi semakin penting.” Ujar Arys Aditya, salah satu anggota aktif Tikungan.

Koleksi buku pertama dikirim sendiri oleh Eri Irawan (dan masih berlajut hingga kini). Jumlahnya memang tak terlampau banyak, tetapi sudah cukup untuk memulai sebuah rumah baca sederhana. Selain sumbangan anggota, buku-buku juga mulai berdatangan dari jaringan lain dan para donatur buku. Buku-buku tersebut dibuatkan rak yang bebas diakses banyak orang. Termasuk penduduk sekitar, termasuk anak-anak yang bermain setiap hari di sana.

Pada perkembangan berikutnya, Tikungan tak lagi dihuni hanya oleh kelompok jurnalis kampus semata. Ada banyak kepala lain yang mulai bergabung, lintas jurusan, lintas latar belakang. Dengan beragamnya manusia di sana, beragam juga hal yang bisa dilakukan.

Tak mudah mendirikan sebuah rumah baca yang memberikan garansi bahwa di dalamnya ada proses pertukaran gagasan, ada pencarian bersama dan sebagainya, yang tidak sekadar proses meminjam dan mengembalikan buku. Kiranya itulah yang membedakan rumah baca dengan, perpustakaan kampus atau tempat penyewaaan komik dan novel kebanyakan. Buku-buku dicari bersama, dibaca bersama, diulas bersama, juga dirawat bersama. Niatan menjadi rumah baca yang berbeda, “tak harus lurus” seperti selogan mereka inilah yang pada akhirnya membawa Tikungan menjadi rumah baca yang lain. Diskusi, riset, belajar, bedah buku, penerbitan, pameran, dokumentasi dan studi-studi kecil sudah mulai berjalan dari komunitas ini. Mereka juga membangun jaringan kuat dengan komunitas lain di seluruh Indonesia.

Irwan Bajang

* Arsip Tulisan. Rumah Baca Tikungan, Jember. eyd.magz #4 September 2013

Comments