Kecemasan yang Menulis Dirinya Sendiri

Ia tidak sedang ingin menulis untuk siapa-siapa. Termasuk untuk dirinya sendiri. Kata-kata telah berubah menjadi sesuatu yang berkuasa. Mendesak jarinya untuk mengetik segera. Sekali lagi bukan untuk siapa-siapa. Bukan pula untuk dirinya.

Maka di tengah deru abu gunung Kelud yang sampai di kota Jogja jarinya mengetik sendiri tanpa ia kuasai: Kalimat-kalimat berloncatan, rencana-rencana dalam kepala luber seniri ke papan ketiknya. Bermuara menjadi genangan kata-kata. Jemarinya bergerak bebas, ia tak kuasa menghalanginya.

Sebenarnya ia ingin menyelesaikan sesuatu. Sebuah kisah pelarian orang yang kecewa. Sebuah kisah tentang pindah rumah, menjadi orang asing baru, menjadi manusia baru dan asing kembali dari awal. Ia ingin menyelesaikannya, mencoba berkejaran dengan kalender, mencoba mengejutkan dirinya sendiri dengan sebuah kedisiplinan yang selalu susah ia lakoni. Tapi akhirnya, ia segera sadar. Ia terlalu banyak menunda. Terlalu sibuk pada hal-hal kecil yang kadang menyita banyak waktu. Dan ia sadar. Ia sedang menunda banyak pekerjaan, seperti menuda apa saja sejak dulu.

Di sudut, baju-baju kotor teronggok. Di lemari, baju bersih semakin berkurang. Dan ia tidak menemukan botol minuman di dekat laptop merah sahabatnya. Sudah dini hari, malam itu, ia tidur dengan berbantal seribu gelisah.

Jogjakarta, 21 Februari 2012

Comments

Home

Komentar

  1. tente merah berkata:

    Galau ya dek? Main aja ama tante yuk.. :P

    1. irwanbajang berkata:

      lagi nggak nulis panjang, makanya stress. hehe