Tokoh-Tokoh Fiksi dan Anugerah Mimpi-Mimpi

absurd mimpiSaya selalu merasa beruntung karena sering memiliki mimpi yang menarik, aneh, absurd dan beraneka ragam. Kadang saya juga didatangi mimpi seram dan menakutkan. Semua mimpi tersebut bagi saya selalu indah. Bukankah tak semua yang ada di mimpi selalu ada dalam dunia sesungguhnya? Saya bahkan kadang tak bisa berimajinasi lebih liar seperti fiksi-fiksi yang hadir tanpa diminta dalam mimpi.

Tadi malam misalnya. Saya berimpi menjadi seorang penggembala, lalu di tengah hutan yang sepi saya dikagetkan oleh datangnya seekor binatang aneh berwarna-warni dan bersinar. Binatang ini tidak bisa saya definisikan sebagai binatang normal yang ada di kehidupan nyata, ia mirip biawak, tapi ukurannya jauh lebih besar, bukan komodo, bukan dinosaurus dan bukan juga buaya. Ia bahkan tak memangsa hewan yang saya gembalakan. Saya memeganya, bermain bersamanya di sungai. Dan saya melihat diri saya menjadi bocah kecil jenaka yang telanjang dada dan kaki di hutan bersungai jernih.

Saya terbelalak saat bangun pagi ini. Saya menganggap ini adalah anugerah. Bagaimana tidak, saya dihadiahi sebuah pengalaman fantasi yang sangat luar biasa, bahkan pengalaman ini tak bisa saya dapatkan dalam bacaan-bacaan fiksi fantasi atau film-film absurd yang kadang menghadirkan binatang aneh, buas dan tak ada dalam dunia nyata.

Selain itu, suatu saat ketika saya dalam bus perjalanan dari Banyuwangi menuju Jogjakarta sekitar tahun 2006 lalu, saya tertidur dan bermimpi didatangi seorang nenek tua. Ia tiba-tiba muncul dengan cara yang mengagetkan di hadapan saya, membangunkan saya yang sedang tidur dalam bus tersebut. “Selamatkan saya, Nak.” Ujar si nenek tua keriput yang sama sekali tak saya kenal. Lalu saya yang bingung segera digandengnya, diajaknya berlari, bertualang melewati sawah, sungai dan hutan yang lebat. Kami dikejar seorang raksasa gundul berkumis lebat yang ukuran badannya sangat besar. Dalam mimpi tersebut, saya bisa memiliki kekuatan lari cepat seperti ajian saipi angin milik Arya Kamandanu dalam serial epik Tutur Tinular. Saya memiliki ajian sakti yang bisa menghancurkan batu dan mantera-mantera ajaib yang bisa saya pakai untuk menyerang musuh.

Saya berhasil menyelamatkan nenek tua itu. Ia mengajak saya masuk sebuah istana putih bersih dan bercahaya, namun saya menolaknya. Ketika terbangun, bus sudah sampai di Klaten, beberapa menit lagi saya akan sampai Jogja. Ini mimpi yang panjang, petualangan yang panjang, sebab saya tertidur sekitar 8 jam perjalanan. Kapan lagi saya akan bisa menjadi orang sakti, menyelamatkan seseorang, membunuh raksasa. Saya rasa sebuah taman bermain bahkan belum punya fantasi atau alat hibur secanggih mimpi saya ini.

Mimpi yang lain misalnya, saya dapat nobel sastra, dan usia saya sudah 60 tahun. Saya membacakan pidato kemenangan, saya melihat diri saya sudah keriput, tak lagi muda, namun masih bisa berpidato dengan lantang. Bagaimana bisa saya membuat film untuk diri saya sendiri? Berapa uang yang harus saya keluarkan untuk kenarsisan ini; datang ke Swedia bersama istri, lalu menghadirkan banyak orang untuk bertepuk tangan. Haha.

Sigmun Freud memakai hipnotis dan analisa mimpi untuk menyembuhkan pasiennya yang sakit. Bagi Freud, mimpi merupakan pesan alam bawah sadar yang abstrak terhadap alam sadar, pesan-pesan ini berisi keinginan, ketakutan dan berbagai macam aktivitas emosi lain, hingga aktivitas emosi yang sama sekali tidak disadari. Metode Analisis Mimpi dapat digunakan untuk mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam seseorang, baik berupa hasrat, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan yang tidak disadari. Ketika hal masalah-masalah alam bawah sadar ini telah berhasil diungkap, maka untuk penyelesaian selanjutnya akan lebih mudah dilakukan.

Saya mungkin adalah salah satu penggemar Freud, saya menyukai analisa-analisanya tentang alam bawah sadar manusia. Tapi dalam beberapa hal, saya ingin mengabaikannya. Memang beberapa mimipi menakutkan/menjengkelkan kadang kerap datang. Misalnya saat dikejar deadline, atau ketika tidur tidak efektif karena harus bangun sangat pagi untuk sebuah kerjaan atau perjalanan. Saya lebih suka mengabaikan itu semua. Saya masih merasa beruntung sebab dalam tidur, saya bisa menonton sesuatu, semacam film yang kadang tokohnya adalah diri saya sendiri.

Selain mimpi menakjubkan, saya juga pernah mengalami mimpi paling buruk. Waktu itu saya bermimpi seseorang mencuri motor saya, ketika saya mengejarnya, saya tersesat di sebuah pantai sepi, kotor dan panas. Saya masuk ke sebuah rumah tua, dalam rumah tua itu ada hidangan makananan, ketika saya buka sebuah mangkuk, hidangan itu berisi lidah manusia dengan kuah darah dan nanah. Saya hampir muntah, ketika saya berlari keluar, saya menemukan barisan pelacur-pelacur yang tersenyum pada saya. Saya melihat mereka tersenyum dalam kemurungan, dan yang paling menyebalkan, mereka semua adalah keluarga, tetangga dan teman-teman perempuan saya. Malam itu saya menjerit bangun dan mendapati diri saya menangis sampai tak bisa berkata-kata. Kontrakan tempat saya tinggal juga sepi, tak ada siapapun di sana. Saya khawatir sesuatu pada keluarga saya terjadi, ketika saya menelpon, pulsa saya habis. Sialnya, mimpi ini membuat saya sakit hampir seminggu, saya tidak nafsu makan, karena ketika makan saya ingat kembali hidangan lidah manusia dan darah itu.

Saya pernah bermimpi punya peliharaan macan putih besar, punya ular cobra, atau saya bermimpi berjumpa kawan-kawan masa kecil yang lama tak saya jumpai. Kerap kali saya berjumpa perempuan sangat cantik yang tidak saya kenal, dan ketika terbangun, saya hanya tahu ia cantik, tapi tak tahu bagaimana saya mengidentifikasi siapa dia, dan seberapa cantik dia.

Konon, seseorang tak bisa mengingat lebih dari separuh mimpinya saat bangun tidur. Konon juga ada orang yang hanya bisa bermimpi hitam dan putih, tak bisa melihat warna, atau tak ada dialog. Saya pastinya beruntung, mimpi saya berwarna-warni, ada dialog yang jelas, ada wajah banyak manusia dan karakter lain.

Jika Freud menganggap mimpi adalah tekanan alam bawah sadar dan merupakan kode-kode untuk analisa penyakit manusia, kali ini saya ingin melupakannya.

Bagi saya mimpi bukan hanya bunga tidur sebagaimana pepatah lama yang banyak kita kenal. Bagi saya, mimpi adalah anugerah indah, sebuah film fantasi yang saya sendiri bahkan tak pernah minta siapa tokohnya, bagaimana plotnya, berapa lama durasinya dan kapan tayangnya. Mimpi mendatangi saya dengan cara yang ajaib, tak tentu waktunya dan berisi kejutan-kejutan yang membuat kita tersenyum atau menangis, bahkan terbelalak saat terbangun. Semua orang mungkin juga punya pengalaman mimpi-mimpi fiksi absurd seperti mimpi saya.

Selamat menikmati mimpi Anda.

Jogjakarta, 5 Maret 2014

sumber foto di sini

Comments

Home