Musyawarah Agung Buku Indie

Dengan hormat, Radio Buku bersama Indonesia Buku, Warung Arsip, dan para penggerak festival literasi akan menghelat Booklovers Festival pada 23 April–23 Mei 2014. Sehubungan dengan acara tersebut, kami mengundang saudara/i untuk berpartisipasi dalam Musyawarah Agung Buku Indie, sebagai rangkaian Booklovers Festival, yang akan dilaksanakan pada:

  • Hari, tanggal: Sabtu, 17 Mei 2014
  • Waktu: Pukul 14.00–17.30 WIB
  • Tempat: Bale Black Box, Jl. Sewon Indah No. 1 (pojok barat perpustakaan kampus Institut Seni Indonesia)

Bersama ini kami lampirkan peta lokasi acara, poster dan beberapa hal lain untuk memudahkan Anda berpartisipasi. Demikian surat undangan ini kami sampaikan, atas perhatian dan partisipasi, kami sampaikan terima kasih.

Sewon, 21 April 2014

Hormat kami,

Fairuzul Mumtaz, Ketua Pelaksana

TOR: MUSYAWARAH AGUNG BUKU INDIE

Runtuhnya rezim diktator totalitarian Suharto bersama Orde Barunya telah menjadi pembuka keran kebebasan dalam segala hal. Media-media baru muncul dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya. Mereka muncul dari sekelompok aktivis pers yang selama ini takut bersuara, dibungkam dan disingkirkan kekuasaan. Wacana apa saja bergulir semaunya, deras, sekehendak siapa saja orang-orang yang berada di belakang media tersebut. Wacana-wacana yang selama Orba dianggap tabu dan susah mendapat tempat untuk dibicarakan segera hadir memenuhi ruang publik, menjadi perbicangan yang intens bagi orang-orang yang tertarik di bidangnya.  Peralihan orde ini berimbas pada kemunculan kelompok diskusi, partai politik baru, radio, televisi dan salah satunya adalah penerbitan buku. Lanjutkan membaca

Tidak Ditemukan Bidang.

Cerpen: Senin Selasa dan 5 Hari Setelahnya (Unduh Gratis PDF)

surealisUnduh gratis cerpen ini di sini

Senin. Ia menyiapkan segala yang harus ia bawa untuk berangkat sekolah. Seperti kamu juga menyiapkan semuanya. Pensil beserta rautnya. Kamu membawa rautan bundar dengan lubang pisau, ia membawa sebuah silet kecil dalam tasnya. Ia sudah memasukkan buku-buku yang tertera di jadwal pelajaran tembok kamarnya, juga tentu saja seragam yang sudah ia sertika tadi malam sebelum tidur. Ketika suara jam dinding berdetak kencang enam kali, ia ke dapur, sarapan dan segera keluar rumah. Kalian keluar rumah hampir bersamaan, kamu hanya mengangkat sedikit  kepala tanda sapaan. Ia tersenyum. Kamu membiarkannya jalan lebih dulu. Usai memasang sepatu, kamu menyusulnya dengan langkah lebih cepat.

Selasa. Lonceng berteriak tiga kali dari ruang guru yang menyatu  dengan ruang kepala sekolah. Di ruang itu jabatan hanya dibedakan dengan kursi dan meja. Kepala sekolah mejanya sendiri, kursinya berbusa lapis kulit sintesisi coklat. Meja guru agak panjang dan untuk dua orang, tempat duduknya kursi kayu semata.  Ia segera berlari ke kantin. Sebenarnya bukan kantin, melainkan sebuah pasar kecil yang dibangun di dalam sekolah. Para pedagangnya membayar sewa pada kepala sekolah setiap bulannya. Beberapa kali ketika ia keluar ke toilet di pojokan sekolah untuk kencing agak lama, sembari menghindari rasa bosan, ia sering melihat seorang lelaki pendek berjaket kulit coklat yang lusuh datang pada para pedagang. Lelaki itu memberikan kupon kuning, para pedagang mengeluarkan beberapa lembar uang. Kamu juga sering melihat kejadian itu. Kepala sekolah sering melihatnya juga. Suatu hari kamu bertanya pada kakak kelasmu. “Rentenir.” Jawabnya. Kamu ingin bertanya apa maskudnya, tapi kakak kelas itu sudah meninggalkanmu. Lanjutkan membaca

Menulis Fiksi: Permainan 10 Kata Pertama

Ada kalanya kita bingung harus memulai menulis dari mana. Tidak peduli penulis pemula atau penulis profesional yang bahkan telah melakukan kegiatan menulis secara rutin setiap hari. Bagi penulis fiksi, baik itu cerpen, maupun novel, menemukan ide cerita belumlah cukup sebagai modal menulis. Kadangkala penulis fiksi sudah mendapatkan ide, plot dan siapa saja tokoh yang akan ia mainkan dalam tulisannya. Namun, kerap kali penulis bingung harus memulai dari mana. Dari awal, akhir, atau tengah-tengah. Mau menyuguhkan narasai dulu, dialog, konflik atau bahkan menempatkan penutup di awal cerita.

Kebuntuan semacam ini bisa jadi sangat mengganggu. Seorang penulis bisa diam di tempat, menatap layar komputer yang kosong, menggerakkan jemarinya yang sudah mulai gatal, tapi tak ada satu kata pun yang berhasil diketik. Bisa jadi ini ciri awal munculnya penyakit penulis yang bisa disebut writers block. Lanjutkan membaca

Tidak Ditemukan Bidang.