Cerpen: Senin Selasa dan 5 Hari Setelahnya (Unduh Gratis PDF)

surealisUnduh gratis cerpen ini di sini

Senin. Ia menyiapkan segala yang harus ia bawa untuk berangkat sekolah. Seperti kamu juga menyiapkan semuanya. Pensil beserta rautnya. Kamu membawa rautan bundar dengan lubang pisau, ia membawa sebuah silet kecil dalam tasnya. Ia sudah memasukkan buku-buku yang tertera di jadwal pelajaran tembok kamarnya, juga tentu saja seragam yang sudah ia sertika tadi malam sebelum tidur. Ketika suara jam dinding berdetak kencang enam kali, ia ke dapur, sarapan dan segera keluar rumah. Kalian keluar rumah hampir bersamaan, kamu hanya mengangkat sedikit  kepala tanda sapaan. Ia tersenyum. Kamu membiarkannya jalan lebih dulu. Usai memasang sepatu, kamu menyusulnya dengan langkah lebih cepat.

Selasa. Lonceng berteriak tiga kali dari ruang guru yang menyatu  dengan ruang kepala sekolah. Di ruang itu jabatan hanya dibedakan dengan kursi dan meja. Kepala sekolah mejanya sendiri, kursinya berbusa lapis kulit sintesisi coklat. Meja guru agak panjang dan untuk dua orang, tempat duduknya kursi kayu semata.  Ia segera berlari ke kantin. Sebenarnya bukan kantin, melainkan sebuah pasar kecil yang dibangun di dalam sekolah. Para pedagangnya membayar sewa pada kepala sekolah setiap bulannya. Beberapa kali ketika ia keluar ke toilet di pojokan sekolah untuk kencing agak lama, sembari menghindari rasa bosan, ia sering melihat seorang lelaki pendek berjaket kulit coklat yang lusuh datang pada para pedagang. Lelaki itu memberikan kupon kuning, para pedagang mengeluarkan beberapa lembar uang. Kamu juga sering melihat kejadian itu. Kepala sekolah sering melihatnya juga. Suatu hari kamu bertanya pada kakak kelasmu. “Rentenir.” Jawabnya. Kamu ingin bertanya apa maskudnya, tapi kakak kelas itu sudah meninggalkanmu.

Usai jam istirahat—kalian biasa menyebutnya jam main—anak-anak lelaki temanmu biasanya berkeringat masuk kelas. Jam main biasa dipakai untuk main bola, main benteng atau bermain kejar-kejaran. Kamu bisanya tidak basah keringat. Kamu lebih suka jajan atau nongkrong dengan beberapa teman di bawah tiang bendera. Ia juga tak suka bermain yang membuat keringat. Sesekali kalian nongkrong bersama, atau, usai belanja ia masuk kelas lagi dan menggambar.

Rabu. Pelajaran mengarang selalu membuat ia gusar. Pak guru suka meminta kalian menulis sebuah karangan bebas. Misalnya tentang Air dan Manfaatnya, atau tentang Penghijauan di Desa. Tapi ia paling benci saat diminta menulis dengan tema Berlibur ke Rumah Nenek. Ia tak pernah berlibur, sebab nenek berada di rumahnya, tinggal bersama kedua orang tua dan adiknya. Kamu juga demikian, kamu benci mengarang Berlibur ke Desa. Kamu tinggal di desa, nenekmu sudah meninggal sebelum kamu dilahirkan. Ibumu ke Saudi dan ayahmu ke Malaysia. Ketika tiba giliran membaca, ia gusar, ia benci namanya yang berawalan huruf A. Sementara kamu benci kalau absen dimulai dari huruf paling tengah. Namamu dimulai dengan huruf M, nomer absenmu persis berada di tengah. Nomer 17.

Biasanya kamu membuat seadanya. Kamu tahu ia juga berbohong dengan karangannya yang jeleknya minta ampun. Teman-temanmu juga menulis sama buruknya. Dalam satu kelas, kalian tinggal di desa. Semua bertetangga dan tak ada yang berlibur di rumah nenek. Pak Guru juga tetanggamu, dia tahu kamu tak pernah berlibur. Kamu tak tahu kenapa dia selalu meminta tema yang sama. Sesekali kamu ingin bercerita tentang pengalaman berkelahi, tapi kamu takut. Pak Guru tidak akan suka dan nilaimu pasti disunatnya.

Kamis. Ia pura-pura sakit di pagi hari. Ia benci pelajaran matematika di jam pertama. Semalam ia begadang bersama ayahnya nonton bola. Dan di pagi yang ngantuk, ia ingat pekerjaan rumah yang tak bisa ia selesaikan. “Aku pusing,” katanya. Lalu ia meminta ayahnya menulis surat buat bu guru yang disiplin itu. Anakda sedang tidak enak badan dan tidak bisa mengikuti pelajaran seperti sedia kala. Kamu tahu ia berbohong. Seperti kamu tahu teman-teman dan dirimu juga kerap berbohong. Kamu sering sengaja sakit, ketika rumah sepi, kamu bangun dan nonton film kartun. Biasanya kamu minta pamanmu datang ke sekolah memintakan izin. Pamanmu tak bisa membaca, kamu juga tak pandai menulis surat izin sakit.

Jumat. Sekolah selesai lebih awal. Masih ada waktu untuk mandi di kali sebelum ke Masjid. Keluar sekolah ia memilih pulang lewat perkebunan warga dan mencuri nanas yang baru saja setengah matang. Biasanya ia membawa silet kecil dari rumah untuk mengupasnya di tempat yang sepi. Kamu tak punya silet, kamu memilih mengantamkan nanas itu di atas batu sampai pecah. Kamu mencucinya di telaga dan membuang kulitnya ke tengah kebun. Ketika khatib naik ke atas mimbar, kamu melihatnya teman sekelasmu itu tidur di bersandar di bawah pilar. Tasbinya menggantung lunglai, sarungnya sobek sedikit di bagian lutut. Kamu menghayal suatu saat akan menjadi sarjana agama. Ketika solat akan dimulai, kamu melihat ia berlari, ia kelihatan kesusahan karena sarungnya kebesaran. Kamu merasa kamu sedikit lebih alim darinya.

Sabtu. Pak Guru tidak masuk dan kamu senang bukan kepayang. Ia terlihat kesal. Ia menggambar sendiri di bukunya, sementara teman-teman wanita berkumpul di sudut belakang kelas membaca majalah sambil makan jajan bersama. Kamu senang karena kamu tak bisa menggambar. Kamu tak punya beban untuk menyelesaikan menggambar pohon.

Kamu tahu, kamu sangat payah dalam menggambar. Kamu tak bisa membuat gambar sebagus teman-temanmu. Apalagi sebagus ia. Kau selalu merasa kalah dan gagal. Kamu tak bisa membuat dua gunung yang ditusuk jalan raya yang menjulang dan mengecil makin mengecil di ujungnya. Kamu bahkan tak bisa membuat garislurus batas cakrawala pantai. Apalagi membuat seorang nelayan tua yang sedang memancing sambil duduk di atas batu. Kamu tak bisa, tapi ia bisa. Kau sering membayangkan menjadi dirinya, memiliki isi kepala seluas semesta. Ketika teman di kelas menggambar gunung dan jalan raya yang begitu-begitu saja, ia bahkan bisa menggambar sebuah hutan lebat yang di sampingnya ada danau. Di danau ada bebek-bebek berenang sementara di pinggirnya ada singa jantan dan betina sedang berkelahi.

Kamu berhayal ingin pintar menggambar, misalnya bisa membuat wajah teman sekelasmu yang paling cantik itu. Atau, paling tidak membuat tiruan karikatur yang tak terlalu mirip, yang penting bisa dikenal. Tapi kamu telah kalah, ia telah menjadi idola para siswi yang antre digambar wajahnya satu-satu. Kau bahkan payah di matematika, ilmu alam, dan kewarganegaraan. Kamu hanya pintar jadi penendang bola, tapi tentu tak ada sisiwi yang suka menonton kamu bermain, mereka memilih ngerumpi aatau antre untuk digambar.

Di luar jendela, pohon kelapa menjatuhkan satu buahnya yang sudah tua dan keriput. Suaranya berdebum keras jatuh di telaga tempat ikan-ikan milik sekolah hidup dan berkembang biak. “Kelapa jatuh, ooooi… kelapa jatuh!” Beberapa orang temanmu berlari, dan kau hanya duduk saja dalam kelas. Kamu mulai menulis cerita-cerita horror. Sebenarnya kamu ingin membacakan cerita jenis itu di depan kelas. Tapi tak pernah ada pelajaran membuat cerita horror. Kamu menyimpan sendiri lusinan cerita mengerikan yang kamu tulis; cerita pocong yang mukanya meleleh sebab ketika mati kepalanya dilindas truk. Kamu menulis pocong itu sering mengintip lewat jendela kelas saat pelajaran menggambar. Kamu juga menulis cerita kuntilanak yang suka bergelayutan di pohon mangga depan rumah tetanggamu. Kamu suka menakuti orang-orang dan ingin jadi juru dongeng cerita-cerita hantu. Kamu mengutuk diri, seandainya kamu bisa menggambar, kamu akan menggambar hantu-hantu menakutkan dalam ceritamu.

Minggu. Hari ini ia bangun lebih pagi. Biasanya anak-anak lain keluar rumah lebih siang dari biasanya. Beberapa orang menghabiskan menonton film kartun sampai jam sepuluh, lalu bermain apa saja. Tapi ia bangun lebih awal. Meski lelaki, ia menyapu halaman dan menyiram bunga. Kamu, tetangga depan rumahnya bahkan masih sibuk mengganti-ganti saluran televisi dan menonton beberapa film kartun. Setiap ada iklan, kamu menggantinya dan berharap saluran satunya sedang tak beriklan.

Malam hari kamu duduk di depan teras dan ia melintas.  “Dari mana?” Tanyamu. Kamu seharusnya tidak bertanya. Kamu tahu ia pakai kopiah dan sarung. Jam delapan malam biasanya anak-anak pulang mengaji. “Kamu nggak ngaji?” Ia bertanya. “Malas. Pamanku tidak di rumah.” Kau tersenyum. Ia tertawa.

Kamu mengajaknya duduk di depan rumah. Kamu bercerita tentang hantu-hantu yang kamu tuliskan. Kamu tambahkan lagi hantu yang kakinya patah dan perutnya terburai. Itu manusia yang dirampok di jalan, katamu.

Besok kalian akan masuk sekolah lagi. Apel pagi, lalu olah raga dan pelajaran yang sama melulu. Kamu bosan dan ia juga bosan.

“Guru kita galak, ya?”

“Iya, aku tidak suka dia.”

“Besok bolos saja. Pura-pura sakit.”

“Ah, aku sudah izin Kamis kemarin. Jangalah.”

“Ah…. ya sudah. Kamu kan suka gambar. Ayo gambar hantu, aku ingin lihat imajinasimu!”

Kalian sepakat, ia lari ke dalam rumah dan keluar membawa buku gambar dan pensil. Ia memamerkan gambar-gambarnya. Ada si cantik yang kamu taksir, gambarnya belum jadi. Ada juga gambar Pak Guru.

“Aku sebenarnya mau menghadiahkan gambar ini buat Pak Guru. Besok dia ulang tahun..”

“Tapi dia galak. Cuma suka sama cewek-cewek. Tidak perlu! Bagaimana kalau kamu gambar saja Pak Guru jadi hantu?”

“Aku mau gambar hantu rentenir, hantu kepala sekolah, hantu ketua kelas, hantu pohon kelapa, hantu kebun nanas…” Kalian tertawa.

Senin. Semalam kamu tak bisa tidur, kamu melihat wajah Pak Guru yang rusak berkelebat dari balik jendela.  Kamu ketakutan membayangkan gambar yang kalian buat tadi malam. Kamu bahkan mimpi buruk; dihantui Pak Guru.

Kamu bolos hari ini. Jam di ruang tamu berdentang delapan kali. Dari balik jendela kamu melihatnya pulang dari sekolah. Kamu membuka jendela segera dan memanggilnya.

“Pak Guru meninggal. Tadi dia ditabrak truk, kepalanya pecah, kakinya patah.”

Kamu melihat mukanya pucat. Tangannya yang mengapit buku gambar terlihat gemetar. Angin pagi bertiup dari lubang jendela menyentuh tengkukmu.[]

Unduh gratis cerpen ini di sini

Comments

Komentar

  1. Harry berkata:

    setelah baca cerpen ini, setidaknya saya percaya, nama-nama tokoh itu tidak perlu-perlu amat. karna bikin nama itu susah. :)

    1. irwanbajang berkata:

      gak perlu nama tokoh, gak perlu dialog, gak perlu setting, bahkan nggak perlu konflik juga nggak apa-apa. suka suka aja. hahaha

  2. Huda berkata:

    Jadi senyum-senyum sendiri bacanya (kecuali bagian endingnya). tapi masih banyak yang salah ketik

    1. irwanbajang berkata:

      salah salah ketiknya sudah diperbaiki. Hehe. Sebelumnya pas jadi langsung posting soalnya :))

      1. Anonim berkata:

        masih kececer beberapa, tapi gapapalah :))