Menulis Fiksi: Permainan 10 Kata Pertama

Ada kalanya kita bingung harus memulai menulis dari mana. Tidak peduli penulis pemula atau penulis profesional yang bahkan telah melakukan kegiatan menulis secara rutin setiap hari. Bagi penulis fiksi, baik itu cerpen, maupun novel, menemukan ide cerita belumlah cukup sebagai modal menulis. Kadangkala penulis fiksi sudah mendapatkan ide, plot dan siapa saja tokoh yang akan ia mainkan dalam tulisannya. Namun, kerap kali penulis bingung harus memulai dari mana. Dari awal, akhir, atau tengah-tengah. Mau menyuguhkan narasai dulu, dialog, konflik atau bahkan menempatkan penutup di awal cerita.

Kebuntuan semacam ini bisa jadi sangat mengganggu. Seorang penulis bisa diam di tempat, menatap layar komputer yang kosong, menggerakkan jemarinya yang sudah mulai gatal, tapi tak ada satu kata pun yang berhasil diketik. Bisa jadi ini ciri awal munculnya penyakit penulis yang bisa disebut writers block.

Beberapa penulis memang sering kali terjebak di kalimat pertama atau paragraf pertama. Kita kadang lupa, bahwa rumus menulis paling sederhana dan manjur adalah menulis apa saja sampai selesai! Kita juga kerap lupa bahwa ketika tulisan rampung di kalimat penutup,  tulisan itu belumlah sempurna. Ada kerja berikutnya, editing atau penyuntingan. Semua penulis harusnya tahu itu, tapi kita memang kerap lupa dan terlalu terobsesi untuk menulis sempurna sedari awal.

Menulis sejatinya adalah mengumpukan kata-kata yang berlintasan di kepala. Menangkap mereka, lalu menyusunnya menjadi kalimat-kalimat yang kemudian secara alamiah akan menjadi paragraf-paragraf hingga menjadi tulisan yang utuh. Jika kita menganalogikannya dengan sederhana seperti itu, maka sebenarnya tugas kita adalah mengumpulkan kata-kata tersebut, mengandangkannya, menjejerkannya menjadi kalimat.

Saya ingin menawarkan sebuah cara. Anggap saja kita ingin membangun sebuah barisan kata-kata, tapi kata-kata yang ingin kita bariskan sedang berkeliaran semaunya dalam kepala. Mari kita mencoba menangkap dan mengandangkannya. Setelah tertangkap dan jinak, kita paksa mereka berjejer rapi menjadi kalimat yang utuh. Membentuk paragraf utuh, hingga rampung menjadi tulisan. Sebenarnya cara ini bisa dibilang sebuah permainan. Saya ingin mengajak pembaca sekalian bermain-main dengan sepuluh kata saja. Sepuluh kata ini akan kita jejer menjadi kalimat dan paragraf.

Langkah Pertama: Pikirkan ide yang ingin Anda tulis. Sebagai contoh, anggap saja kita akan menulis sebuah cerita dengan setting Pasar.

Langkah Kedua: Mari kita tangkap sepuluh kata yang berkeliaran dalam kepala. Sepuluh kata yang melintas ketika kita membayangkan pasar. Tulis dengan cepat. Kandangkan sepuluh kata itu! Contoh1. Pasar, 2. Pedagang, 3. Buah, 4. Berjualan, 5.Becek, 6.Sayur, 7.Ikan, 8.Uang, 9.Orang, 10.Laris.

Langkah Ketiga: Mari kita coba menulis secara cepat dengan memasukkan sepuluh kata itu dalam kalimat-kalimat.

Ia datang di kota tua itu pada suatu sore yang muram. Di terminal bus antar kota ia melihat bus-bus kecil menurunkan penumpangnya di depan sebuah pasar. Ia tak tahu pasar apa itu. Plang nama pasar sudah luntur dimakan cuaca. Sore hari, seharusnya pasar sepi, tapi ia masih melihat beberapa orang pedagang masih menggelar barang-barangnya. Ia yang baru saja turun dari gunung ingin segera menuju penginapan di tengah kota, sebelum esok hari pagi beranjak pulang ke kota lainnya. Penasaran dengan pedagang yang masih berjualan, ia melangkah, melintasi jalan menuju pasar seberang. Bersama para pembeli lain, ia masuk, melewati beberapa genangan air becek sehabis hujan, melewati pedagang sayur di pintu masuk, pedagang ikan di sebelahnya, dan menuju los buah-buahan. Di ujung los kedua yang mulai gelap, ia berbelok. Setelah bertanya, ia akhirnya menemukan lapak penjual buah yang ia cari; pisang. Ia suka sekali pisang. Kebetulan perutnya kosong sejak naik bus tadi siang. “Laris, Bu?” tanyanya berbasa-basi sebelum menawar. Sang pedagang hanya tersenyum kecil usai menghitung uang dan memasukkannya di dalam saku baju yang terlihat mengembung…..

 

Sepuluh kata tadi sudah saya coba tulis dengan cepat. Tanpa berpikir panjang. Bagus atau tidaknya susunan kalimat, logika  cerita dan beberapa unsur pendukung lainnya akan saya pikirkan setelah rampung. Setidaknya saya sudah bisa memulai sebuah paragraf tanpa terganggu pikiran-pikiran dan pertanyaan; apa yang harus saya tulis pertama?

Setelah menulis kalimat pertama, biasanya kalimat berikutnya akan ikut mengalir dengan deras. Begitupun dengan paragraf berikutnya. Jika masih mandeg di paragraf kedua, kenapa tak coba menangkap sepuluh kata baru lagi? Selamat mencoba!

Irwan Bajang | @irwanbajang

 

Comments

Home

Komentar