Memilih Menikah–Pengantar “Malam Tanpa Ujung”

Saya terima nikahnya Anindra Saraswati binti Indro Sulistyo dengan mas kawin 1. Sebuah buku berjudul “Malam Tanpa Ujung”, 2. Kitab Suci Al-Quran dan seperangkat pakaian solat, 3. Perhiasan emas seberat 9,4 gram dibayar TUNAI!

–Masjid Al Mujahidin, Selong 14 Juni 2014. 

07S_ (70)

Kadang saya berpikir saya orang yang tangguh. Saya tak suka mengeluh dan mengajak orang ikut bersusah dengan apa yang sedang saya susahkan. Saya tak suka curhat dan suka hidup sendirian. Tapi sebagai manusia yang tak kuat pendirian, kerap kali saya menolak sendiri dan menghancurkan pikiran saya itu. Saya orang yang lemah dan suka murung. Setidaknya jika menghadapi masalah yang benar-benar menghantam ketangguhan saya. Saya tak suka berbagi kegelisahan, tapi toh akhirnya saya juga sering merasa; tak selamanya ego seperti ini penting. Manusia sering sekali sombong dan tak suka mengaku kalah.

Sejak kecil saya tidak suka menceritakan masalah apapun yang saya hadapi pada orang lain. Saya cenderung memendam sendiri lalu menyelesaikannya dengan cara yang saya pilih sendiri. Tapi benarkah saya kuat? Di titik-titik krusial ketika saya merasa kalah, saya menangis sendirian tanpa suara di dalam kamar. Saya tahu, saya tak bisa hidup sendiri. Lanjutkan membaca

Gumaman Pemilu

FOBIAS-EXTRAÑAS

Pemilu Presiden kali ini bisa jadi pemilu yang paling seru bagi masyarakat Indonesia. Beragamnya isu, kuatnya masing-masing kandidat, massifnya para pendukung, perang kebaikan dan keburukan yang intens antara kedua belah pihak, membuat banyak orang mau tidak mau terlibat secara emosional. Di mana saja dan kapan saja kita terlalu mudah mencari orang berdebat. Di warung kopi, di berita televisi, di linikala dunia maya, bahkan orang apatis dan golput saja bisa saling mendebat satu sama lain. Mirip perang antara atheis dan orang beragama. Orang atheis merasa terganggu dengan agama, sementara orang beragama merasakan hal yang sama. Beberapa orang yang mengaku tak ambil pusing juga ikut berdebat dan pusing. Padahal, mungkin dengan sama-sama diam, segalanya akan baik-baik saja.

Pemilu kali ini memang sederhana. Pilihannya hanya dua, idolamu atau idolaku. Semua hal—sebenarnya—jadi sangat sederhana. Sebab lawannya sudah jelas, setiap kelompok bisa lebih fokus pada usaha untuk menjadi pemenang. Sederhana, pilihannya hanya menang atau kalah, bukan kalah lalu koalisi lagi, negosiasi lagi, tidak. Yang kalah akan kalah, menang akan senang. Harusnya semuanya sederhana. Termasuk bagi para penggembira yang mejeng ikut seolah loyal dan seolah berkonflik dengan kubu yang lain. Lanjutkan membaca