Gumaman Pemilu

FOBIAS-EXTRAÑAS

Pemilu Presiden kali ini bisa jadi pemilu yang paling seru bagi masyarakat Indonesia. Beragamnya isu, kuatnya masing-masing kandidat, massifnya para pendukung, perang kebaikan dan keburukan yang intens antara kedua belah pihak, membuat banyak orang mau tidak mau terlibat secara emosional. Di mana saja dan kapan saja kita terlalu mudah mencari orang berdebat. Di warung kopi, di berita televisi, di linikala dunia maya, bahkan orang apatis dan golput saja bisa saling mendebat satu sama lain. Mirip perang antara atheis dan orang beragama. Orang atheis merasa terganggu dengan agama, sementara orang beragama merasakan hal yang sama. Beberapa orang yang mengaku tak ambil pusing juga ikut berdebat dan pusing. Padahal, mungkin dengan sama-sama diam, segalanya akan baik-baik saja.

Pemilu kali ini memang sederhana. Pilihannya hanya dua, idolamu atau idolaku. Semua hal—sebenarnya—jadi sangat sederhana. Sebab lawannya sudah jelas, setiap kelompok bisa lebih fokus pada usaha untuk menjadi pemenang. Sederhana, pilihannya hanya menang atau kalah, bukan kalah lalu koalisi lagi, negosiasi lagi, tidak. Yang kalah akan kalah, menang akan senang. Harusnya semuanya sederhana. Termasuk bagi para penggembira yang mejeng ikut seolah loyal dan seolah berkonflik dengan kubu yang lain.

Tapi seperti halnya perdebatan orang beragama dan atheis, pemilu dan politik tidak pernah mudah, sebab bagaimanapun peristiwa ini akan berimbas pada banyak hal. Perubahan struktur pemerintah mau tak mau mengubah banyak hal, meskipun toh hanya dalam sekala makro. Di desa-desa yang mati lampu, di balik hutan yang sepi, di beranda bapak-bapak petani tua yang selalu bahagia menjadi petani, semua tetap baik baik saja. Masyarakat masih begitu-begitu saja. Hidup dari jerih payahnya sendiri. Tanpa negara. Tanpa tahu apa dampak pemilu dan keberadaan negara bagi mereka.

Jelas ini juga tidak sederhana, tak ada yang tidak berpengaruh apa-apa di dunia. Seperti halnya kepak kupu-kupu bisa menerbangkan serbuk sari ke putik dan mengubah taman bunga, ekosistem dan spesias lain di taman itu, megubah yang lain, dan selanjutnya dan selanjutnya. Tapi saya tentu tak ingin mengurai hal itu dengan teliti. Tidak ada untungnya bagi saya. Yang jelas, ketika dipikirkan secara sederhana, di kalangan rakyat bawah semua biasa saja. Tak ada keistimewaan setiap harinya. Berubah atau tetapnya sebuah rezim tak mengubah apa-apa. Memang ada perubahan atas penerapan sebuah kebijakan pemerintah, tapi toh banyak masyarakat kita yang sudah kebal dan menganggap fenomena itu adalah fenomena biasa. Cabut subsidi, ya siapkan dana tambahan, konfersi minyak tanah ke gas, ya sudah tinggal beli kompor gas. Mereka tidak buta politik, mereka tahu banyak yang tak adil. Tapi banyak orang mulai bosan.

Saya cenderung memilih diam di antara bisingnya informasi yang berputar di sekeliling saya. Alasan saya tidak terlalu idiologis. Saya sedang sibuk dengan banyak hal. Itu saja. Jadi saya hampir tak ada waktu mengurus banyak hal yang tak berimbas langsung pada diri saya. Saya membaca berita, melihat lini kala, sesekali nonton televisi, tapi nyaris tak ingin berdiskusi atau mengubah informasi itu menjadi sesuatu yang enak diperdebatkan, menjadi sesuatu yang meyakinkan atau memuakkan bagi orang lain yang saya harus pengaruhi. Saya membiarkannya menguap. Begitu saja.

Ketika beberapa teman mengajak berdebat, membicarakan kelebihan dan kekurangan capres A capres B, toh saya hanya ngangguk, senyum atau nyeletuk sesekali saja. Saya tahu berdebat atau berdiskusi sesuatu yang “kekinian” itu mengasikkan dan bikin ketagihan. Lihatlah, bagaimana orang ramai dan gembira berbicara bola saat piala dunia tiba, ramai bicara capres di kondisi panas ini, atau nanti juga akan ramai kalau ada fenomena lain, BBM naik misalnya, atau ada artis yang ketahuan main bokep (lagi) dan videonya tersebar. Tak ikut nimbrung itu tak seru. Serasa jadi alien dari planet ke tujuh belas setelah Pluto.

Saya tahu, dalam kondisi buruk seperti ini seseorang harus berpihak dan bersikap. Saya selalu meyakini itu seperti saya selalu mengiyakan ucapan Dante: Tempat tergelap di neraka dipersiapkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di tengah krisis moral. Tapi apakah keberpihakan itu selalu harus identik dengan jalur politik formal semacam pemilu? Apakah keberpihak itu harus selalu ditunjukkan, disiarkan? Padahal tidak ada jaminan 100 persen orang setuju ketika kita bisa dengan secara cerdik cerdas menyampaikan gagasan yang keren tentang sesuatu yang salah. Sejak dulu saya tak pernah ingin yakin pada sebuah jalan. Bahwa jalan perubahan tak selalu satu. Ia berkelok, banyak cabang dan bisa jadi tujuannya tak sama, meskipun ada beberapa rasa yang mirip atau hampir serupa. Bukan berarti saya menolak kerja kelompok untuk melakukan perubahan. Berkelompok sangat penting, tapi sekala kerja menentukan besaran kelompok yang kita butuhkan. Selain itu, saya meyakini bahwa kebahagian dan kesejahteraan masing-masing orang tak pernah sama.

Sebenarnya memilih salah satu kandidat ini agak susah bagi saya, sebab bagaimanapun tak ada informasi yang jelas akurat bagi saya. Bagi kita. Televisi dan media berbicara atas dasar dukungan dan kerjasamanya dengan yang lain. Berita dari satu narasumber bisa menjadi makna berbeda karena media yang memuatnya berbeda. Kemampuan analisa saya tak canggih-canggih amat, sebab rekan ngobrol saya juga tak selalu sepemikiran dan sejalur. Wajar, semua orang punya kepentingan, saya sadar itu. Sederhana memang. Kita berada dalam situasi yang benar-benar chaos, segala sesuatu bertubrukan sana sini. Beberapa orang—tepatnya kebanyakan orang—merasa penting untuk ikut berembus ke sana sini, seliweran, bertubrukan dan melakukan kontak dengan yang sepemahaman dan bentrok dengan yang tidak sepemahaman. Itu pilihan, tak ada yang perlu keberatan. Demikian juga dengan saya.

Melihat situasi begini, mau tak mau saya tergerus juga. Dalam kondisi chaos yang parah, kecenderungan dasar dalam diri, pengalaman pribadi dan hal-hal kecil lainnya akan bisa mempengaruhi kita cenderung pada salah satu pihak.

Ketika orang-orang bertanya apa pilihan politik saya. Saya hanya tersenyum. Sesekali saya menyebut, sesekali saya bilang mungkin saya golput, sesekali juga saya menyebut mengungkapkan penolakan pada salah satu kandidat yang tidak saya sukai.

Saya punya pilihan dalam pilpres ini. Tapi saya hanya berkomunikasi dengan orang yang paham dan sepemahaman dengan saya. Mungkin terkesan cari aman. Tidak apa-apa, saya tak masalah dituduh bagaimanapun. Hanya sedang malas berdebat, masih sibuk mengurus diri sendiri dan yang jelas karena saya juga bukan Jurkam. Saya malas menghadapi perdebatan yang menjurus ke arah saling membantah dan menghancurkan. Sebab dialog yang dimulai dengan permusuhan dan ketidaksepahaman mustahil akan berujung pada kesepakatan dan penerimaan. Jadi ya sudah jalan masing-masing saja.

Bagi saya, memilih atau tidak memilih, politis atau apatis, diam atau cerewet itu sama-sama sikap politik. Sama halnya seperti pemilih kandidat A atau B. Selalu ada pengaruhnya. Tidak ada tindakan yang tidak berimbas apa-apa. Tentu golput atau memilih tak sesimpel itu. Akan gampang jika kita diam dan memilih sendiri-sendiri. Tapi tetap tidak bisa, manusia terlalu terbiasa hidup bersama, berkomunikasi dan selalu punya ambis mempengaruhi orang lain dan setuju padanya.

Baiklah. Saya merasa tulisan saya ini semakin ngawur, sebab sebenarnya saya tak punya niat apa-apa untuk menulis hal ini. Sebagai manusia yang hidup bertetangga, berteman dan berkomunikasi dengan orang lain, saya hanya berharap semoga semuanya baik-baik saja.

Entah karena apa, belakangan ini saya sering bermimpi yang aneh-aneh tentang sesuatu yang tidak mengenakkan: Rumah yang terbakar, orang yang berkerumun dan saling menjahati. Dan sesekali saya melihat beberapa tokoh yang bisa kita lihat di media ada di kerumunan itu. Saya bukan cenayang. Jadi jangan percaya dengan itu semua. Saya hanya gelisah dan sesekali memikirkannya, sebab perasaan takut dan mimpi ini jadi sering datang dan mengganggu. Tapi lupakan saja, hal ini tidak masuk akan dan tak bisa jadi bahan diskusi. Saya bukan cenayang dan tak punya indera keenam. Mungkin hanya fobia atau sejenis stress melihat dan mendengar distorsi informasi yang berseliweran tiap harinya.

Tapi jika diamati, bisa jadi ada  peluang chaos yang lebih besar. Lihatlah bagaimana dua kubu saling menyerang, membenarkan diri dan menyalahkan yang lain. Semoga tak ada kejadian yang parah. Mungkin firasat atau mimpi saya ini hanya karena terlalu banyak yang bising di sekitar kita. []

Comments

Home