Memilih Menikah–Pengantar “Malam Tanpa Ujung”

Saya terima nikahnya Anindra Saraswati binti Indro Sulistyo dengan mas kawin 1. Sebuah buku berjudul “Malam Tanpa Ujung”, 2. Kitab Suci Al-Quran dan seperangkat pakaian solat, 3. Perhiasan emas seberat 9,4 gram dibayar TUNAI!

–Masjid Al Mujahidin, Selong 14 Juni 2014. 

07S_ (70)

Kadang saya berpikir saya orang yang tangguh. Saya tak suka mengeluh dan mengajak orang ikut bersusah dengan apa yang sedang saya susahkan. Saya tak suka curhat dan suka hidup sendirian. Tapi sebagai manusia yang tak kuat pendirian, kerap kali saya menolak sendiri dan menghancurkan pikiran saya itu. Saya orang yang lemah dan suka murung. Setidaknya jika menghadapi masalah yang benar-benar menghantam ketangguhan saya. Saya tak suka berbagi kegelisahan, tapi toh akhirnya saya juga sering merasa; tak selamanya ego seperti ini penting. Manusia sering sekali sombong dan tak suka mengaku kalah.

Sejak kecil saya tidak suka menceritakan masalah apapun yang saya hadapi pada orang lain. Saya cenderung memendam sendiri lalu menyelesaikannya dengan cara yang saya pilih sendiri. Tapi benarkah saya kuat? Di titik-titik krusial ketika saya merasa kalah, saya menangis sendirian tanpa suara di dalam kamar. Saya tahu, saya tak bisa hidup sendiri.

Sekarang, saya memilih sebuah keputusan yang penting dalam kehidupan saya: menikah. Tentu saja pilihan ini pilihan yang biasa. Hampir semua orang di dunia memilihnya. Bisa jadi memilih tidak menikah adalah pilihan yang jauh lebih keren. Tidak mainstream dan tidak seperti orang kebanyakan. Tapi toh saya mengikuti pilihan banyak orang ini. Memilih membagi kehidupan dan segala yang ada di hidup saya berdua bersama pasangan saya.

Menikah bagi saya adalah kelahiran kembali. Saya akan lahir kembali di usia saya yang 27 tahun ini. Usia yang bagi banyak orang adalah usia yang penting. Tentu kita ingat banyak orang memilih keputusan besar di usia 27 tahun. Ada klub 27 dengan daftar nama-nama orang yang barangkali bagi sebagian kita keren. Saya tak mau keren. Saya tidak sedang ingin sentimentil atas usia 27 ini. Bagi saya semuanya biasa saja. Saya memilih menikah dengan Anindra Saraswati dengan tak ada alasan, selain saya percaya bahwa saya harus menikahinya. Saya percaya inilah jalan yang telah disiapkan Tuhan untuk kami berdua.
Pada usia 22, saya mengambil satu keputusan yang tak kalah penting dengan keputusan ini. Saya memutuskan tidak akan bekerja. Saya akan hidup biasa saja dan bergembira. Saya memilih menekuni pilihan saya sebagai penulis dan Yayas mengiyakannya. Ketika ia lulus kuliah—jauh lebih awal dari saya—ia memutuskan untuk tidak melamar pekerjaan ke mana pun. Tentu saja saat itu saya merasa berdosa memengaruhinya. Keputusan ini bukanlah keputusan yang bijak. Kami terlalu berani dan kami masih sangat muda.

Saya menerbitkan buku pertama saya di usia 20 tahun. Berhasil atau tidaknya saya di awal karier itu, saya tak peduli. Saya hanya ingat; Yayas orang pertama yang membaca draft naskah saya. Ia yang pertama kali menemani saya ke penerbit. Ia yang datang di acara launching buku saya. Ia juga yang menenangkan saya saat jalan kehidupan sebagai penulis tak semulus yang saya bayangkan. Ia yang memegang tangan saya saat semua goyah; kuliah saya tak kunjung usai, karier penulisan saya sama saja. Juga isi kantong masa muda yang begitu-begitu saja. Ia memilih mendampingi saya. Ia menolak bekerja tidak dengan saya. Ia percaya bahwa kehidupan yang tak selalu manis ini bisa kami selesaikan bersama.

Kami memutuskan menjalankan aktivitas yang bisa menghibur kami, menulis, mengajak teman-teman menerbitkan bukunya. Lalu bersama mendistribusikannya. Tak ada modal sepeser pun selain usaha menyenangkan diri, menyenangkan orang lain. Kalaupun dipaksa menjelaskan dari mana kami memulai, kami memulainya dari komputer masing-masing yang dibelikan orang tua. Sisanya hanya renik-renik ilmu dari buku-buku yang kami beli dengan menyisihkan uang belanja. Selebihnya, semua hanya uji coba dan spekulasi. Dan saya lagi-lagi merasa bersalah, mengajaknya percaya pada mimpi-mimpi absurd yang mejebak kami pada sesuatu yang akhirnya pasti berat. Tapi toh semua sedang kami jalani. Dan kami makin percaya pada kekuatan diri yang kami satukan.

Tentu kami pernah bertengkar. Kami pernah saling menyalahkan. Berpisah dalam waktu yang singkat dan dalam waktu yang lama. Kami pernah ingin mengandaskan semua yang pernah kami bangun. Tapi toh kami kembali bertahan. Dan kini kami yakin kami ingin berjalan bersama. Seperti keyakinan-keyakinan dulu yang pernah kandas dan karam. Hidup tak semudah kata-kata bijak dan peribahasa, hidup tak seindah yang kita bayangkan. Saya memilih menjalankan bersamanya.

Kami diperkenalkan dengan buku. Dan saya tahu, kelak saya akan memilih istri dari perempuan yang pintar. Sebab mustahil bagi saya melanjutkan kehidupan dengan orang yang tak terbuka pikirannya, tidak mau belajar. Kami berbagi buku. Membacanya bersama, bertukar gagasan, canda tawa. Kami menjadi tokoh-tokoh yang ditulisakan dalam buku. Berkelana masing-masing dalam samudra fiksi hidup yang kerap kali tak sesuai dengan gagasan yang kita rencanakan. Kami menyandarkan kehidupan pada aktivitas buku dan perbukuan.
“kelak, kita tidak akan membeli buku sendiri-sendiri lagi. sebab di rakmu yang berdebu, bukumu dan bukuku berimpitan, seperti eratnya tangan kita yang bergandengan.”

Saya teledor, suka meletakkan barang tidak pada tempatnya semula. Saya susah mencari kunci motor saat saya akan bepergian. Saya sering menghilangkan KTP, kartu ATM atau apa saja yang saya miliki. Maka beruntunglah saya jika ada yang akan mengatur dan memperingatkan saya. Saya memang kurang ajar, kerap kali saya marah dan tak mau disalahkan. Namun dalam diam sendiri saya sering merasa bersalah menjadi orang yang keras kepala. Sungguh saya tidak tahu, permasalahan yang sepele demikian, tentu sangat berat dijalankan olehnya yang menginginkan saya hidup lebih teratur.

Saya sering terlambat makan, saya susah ber­disiplin untuk apa saja. Saya tak menaruh baju kotor pada tempatnya, saya tak mencuci tepat waktu. Saya baru sadar bahwa saya kehabisan pakaian atau celana dalam setelah semuanya tak bisa lagi dipakai. Maka mungkinkah saya akan bertahan dengan cara seperti ini? Tentu terlalu egois jika hal ini menjadi alasan untuk saya menikah. Bukan, bukan itu alasan saya. Istri tak mungkin jadi pembantu, dan tak akan pernah jadi pembantu bagi suaminya. Tapi saya tahu saya lemah, saya tahu saya kerap salah. Salahkah saya jika saya menjadi lelaki yang membutuhkan wanita lain untuk menyempurnakan semua keburukan saya?

Yayas sering emosi. Seperti laiknya perempuan, ia sering gugup pada banyak hal. Sering menangis untuk sesuatu yang kadang tidak perlu. Saya sering menyalahkannya. Padahal begitulah ia, begitulah wanita. Saya selalu sering memilih untuk tenang dan percaya semua masalah selalu ada jalan keluarnya, meskipun tak harus saat itu juga. Yayas sebaliknya. Maka bukan alasan itu yang membuat kami tak seharusnya bersama. Maka semua kekurangan dan keburukan saya mestinya bisa lebih baik dengan adanya ia. Begitupun sebaliknya.

Saya memikirkan panjang rencana untuk menikah. Mungkin saya berlebihan, sebab banyak orang, banyak teman yang menikah tanpa harus berpikir panjang. Mungkin akan sederhana jika kita berpikir ‘ia jodohku, ia diciptakan Tuhan untuk menikah denganku’. Tentu saya tak merasa ini jadi beban, saya bahagia, saya sadar dan saya memilih sepenuh hati untuk menikah. Tapi jika ditanya apa alasannya, saya tak akan pernah bisa menjawab. Jika dipaksa menjawab, saya akan menjawab; saya menikah hanya dengan satu alasan, saya mencintainya.

Maka, mari kita menikah tanpa syarat dan beban-beban dalam kepala.

Dengan buku ini aku ingin melamarmu, manisku. Aku tak bisa apapun. Badanku ringkih, napasku pendek. Tapi aku selalu belajar menulis lebih baik, aku menjadikan menulis sebagai semua yang penting dalam hidupku. Kupersembahkan tulisan ini, seluruh hidupku. Sebaik yang aku mampu. Untukmu. Terimalah aku.

Akan kucoba kuat membahagiakanmu. Menemani derita, sakit, sedih dan marahmu. Terimalah segala miskin dan kayaku. Segala baik dan burukku.
Tuhan tahu, aku mencintaimu.

Juni, 2014

____

Post Scriptum:  Tulisan ini adalah pengantar buku “sebuah malam tanpa ujung: sebuah hadiah pernikahan”, ditulis, didesain, dicetak dan didistribusikan oleh Irwan Bajang dalam rangka pernikahannya dengan Anindra Saraswati. Lombok, 14 Juni 2014.  “VERSI LENGKAP HANYA DICETAK SATU BUKU SEBAGAI MAHAR PERNIKAHAN”
Versi kecil dijadikan kado bahagia dan ucapan terima kasih kami untuk tamu undangan.

Comments

Komentar

  1. lutfiretno mengatakan:

    Hal pertama yang aku lakukan setelah baca ini adalah memfoward ke seseorang :D

    Semoga langgeng dan bahagia selalu ya? :)

    1. yenni mengatakan:

      apiiik Mas. (pasti sudah banyak yang komentar kayak gini). Lho, mas usianya 27 tahun ya? Kok sama :)

      1. irwanbajang mengatakan:

        hehe. terima kasih ya sudah membaca…. sama 27 ya? semoga sehat terus deh kalau gitu

    2. irwanbajang mengatakan:

      aku mutar2 mencari kosmu, mbak. nggak ketemu, aku mau antar undangan…
      dirimu nggak datang deh

      1. lutfiretno mengatakan:

        Iya. Padahal aku pengen bukunya. Masih ada g? Si mas habis baca tadi bilang kok kaya baca buku harian sendiri :D

        Btw: Makasih sudah meyakinkan kalo keputusanku buat keluar kerja benar.

  2. yenni mengatakan:

    eh satu lagi, Mas. Setelah membaca ini, saya memutuskan untuk enggak ikut cpns tahun ini. (sampai detik ini masih berpikir demikian, entah esok). Nuwun

    1. irwanbajang mengatakan:

      hehehe, hati-hati lo, nanti malah susah sendiri. jangan kuti ajaran sesat :P

  3. biya mengatakan:

    ini kalo bisa aku cc-in ke patjar, aku cc juga nih! hehe
    selamat mas, aku baru baca :p
    salam kenal :)