Kurban dan 2 Hal Lain yang Keren Dalam Islam

6279848391_b6d68323c2_b
Ada tiga hal yang paling saya sukai menjadi pemeluk agama islam. 1. Hari Raya Kurban, 2. Puasa Ramadhan, dan 3. Surat Al-Kafirun.

Pada Hari Raya Kurban, saya selalu merasa diajarkan berbagi, mengorbankan sesuatu yang kita miliki untuk orang-orang baik ataupun jahat di sekeliling kita. Saya suka sekali melihat orang berkumpul di Masjid, bekerjasama mengurus pangan lalu membaginya secara adil dan merata ke semua rumah di sekeliling Masjid itu. Tanpa terkecuali. Keyakinan dan kehidupan sosial, juga urusan perut dan keberlangsungan hidup terlihat membaur pada prosesi ini.

Kisah tentang Ibrahim dan Ismail yang tersohor itu merupakan salah satu kisah yang paling saya sukai, baik dalam kisah Quran, atau dibandingkan dengan kisah lain semacam dongeng, cerpen atau novel. Saya sering membayangkan diri saya sebagai Ibrahim, bapak baik yang suatu hari mendapat kejutan istimewa: Menyembelih anaknya sebagai bukti keimanan pada Tuhan yang saya yakini. Pada pemikiran rasional, dan jika saya berada di posisi itu, saya pasti akan menolak. Bagaimana mungkin saya harus menyembelih anak saya, ada banyak sapi, kambing atau unta yang bisa saya sembelih. Kenapa harus anak saya?

Saya akan bersikeras menolak perintah itu. Bagi saya, Tuhan tidak rasional. Adakah Tuhan yang meminta membunuh? Adakah Tuhan gila yang menguji keimanan dengan tantangan yang bahkan Ia sendiri tidak menyukainya? Tapi Ibrahim bukan saya, dan saya juga buka dia. Ibrahim yang tulus ikhlas menerima Tantangan itu. Ia menerima dan mempersembahkan anaknya ke hadirat Tuhan yang sama-sama ia sayangi.

Saya seringkali memikirkan ulang cerita Kurban ini, terlebih menjelang atau ketika hari raya begini. Saya kerap bertanya, inikah rasionalitas sesungguhnya yang sedang diajarkan Tuhan pada umat manusia? Barangkali Tuhan sedang ingin berkata: Hai Ibrahim, Aku tidak mungkin memintamu membunuh anakmu, itu tidak masuk akal. Aku hanya sedang memintamu mengorbankan hartamu untuk orang lain. Maka digantilah Ismail dengan domba dan menjadi cikal-bakal perayaan Hari Raya Kurban hingga saat ini. Penggantian ini juga sekaligus memutus sejarah banyak peradaban manusia yang mengorbankan darah dan atau jiwa manusia terhadap apa yang mereka puja. Ritual Kurban sebagaimana dilakukan banyak kepercaan purba berhasil diubah peristiwa ini menjadi ritual sosial. Kurban itu utuk diri dan masyarakat, bukan untuk sesuatu yang dipuja.

Mungkin Ibrahim waktu itu tidak berpikir ke arah demikian, atau ia tahu tapi ia tak bisa menolak dengan alasan keimanan. Mungkin juga ini adalah cerita yang ingin mengajarkan banyak hal pada kita. Bahwa setiap pemeluk yang taat, wajib menuruti perintah Tuhan yang ia junjung. Dalam kadar inilah, keimanan memang sesuatu hal yang kadang–menurut saya–memang tak perlu rasionalitas. Di sinilah rasionalitas dan spiritualitas kerap berjalan berbeda arah. Ada banyak hal dalam pilihan keyakinan tidak membutuhkan rasionalitas, kita yakin dan kita menunjukkan keyakinan itu dengan tindakan.

Pada Puasa, saya merasa masuk ke bagian paling dalam dari diri saya. Kejujuran. Saya merasa tak ada yang tahu saya puasa atau tidak, begitu juga tak ada yang bisa memaksa saya untuk berpuasa. Puasa adalah urusan paling pribadi, tidak bisa dibagi. Seseorang bisa saja bilang ia sedang berpuasa, tapi makan di warung yang agak jauh. Momentum sahur dan berbuka memiliki kenangan dan sentuhan spiritual yang sangat berbeda di bandingkan momentum-momentum lain dalam keseharian. Dua-duanya bisa dilaksanakan sendiri atau bersama-sama, dan keduanya juga punya rasa masing-masing.

Ibadah, ketuhanan dan agama memang sering menjadi ritual pilihan paling pribadi. Kita bisa beribadah ramai-ramai, kita bisa beribadah sendirian. Membangun sebuah hubungan paling pribadi dengan Yang Mahamengetahui.

Dan pada Surat Al-Kafirun, saya paham di mana posisi saya dan agama saya, di mana posisi agama lain, teman lain yang berbeda keyakinan. “Bagimu agamu, dan bagiku agamaku”. Bukankan dengan turunnya surat ini saja, kita sudah tahu di mana kita memposisikan diri, bagaimana juga kita berhubungan dengan banyak orang di sekeliling kita. Surat Al-Kafirun selalu menjadi surat terbaik dan surat pilihan bagi saya saat solat. Entah mengapa, mungkin karena surat ini surat pertama yang saya hafal dalam hidup saya, baik bahasa arab maupun terjemahan bahasa Indonesianya.

Saya suka tiga hal tersebut, dan saya rasa, masalah suka dan tidak suka memang kadang tak selalu butuh alasan.

Comments