Kisah Laptop Tercinta

Alkisah, beberapa hari belakangan ini laptop saya tercinta mulai bertingkah. Berkali-kali mati sendiri, dan nyala lagi diselingi tampilan blue screen. Hal ini membuat saya panik. Beberapa kerjaan tertunda. Mood sering berubah lantaran lagi asik pakai laptop, cusssss, mati. Jujur saya sedih dan khawatir.

Laptop ini merknya HP, seri Pavilion g6. Seri ini lumayan dahsyat kalau sekadar untuk main game, desain, layout, nonton film, apalagi hanya mengetik dan menyunting naskah. Sudah lebih dari cukup bagi saya yang nggak neko-neko main aplikasi aneh. Saya cukup punya corel, indesign, sotosop dan ms office. Sempurna sudah.
Laptop ini berjasa banyak sekali, skripsi saya rampung di laptop ini. 1 buku puisi yang cukup saya sukai, 1 naskah souvenir perkawinan, 1 naskah mahar nikah saya rampungkan, sunting, layout dan desain di laptop ini. Juga 1 naskah buku di mana saya jadi co-writer. Sisanya pekerjaan harian penerbitan, draft naskah, tulisan untuk antologi, dan postingan di blog. Jasa laptop ini tiada tara, semua biaya hidup saya 3 tahun belakangan saya dapatkan lewat layarnya.

Laptop dengan warna merah kesukaan saya ini saya dapatkan dari adik saya. Dia beli sewaktu membawakan saya hadiah Kindle sepulang dari kerjanya di kapal pesiar. Ketika akan balik ke Amerika, saya minta laptopnya. Kegedean buatmu, bro. Buatku aja. Tak bayar deh. Dia setuju. Lalu laptopnya saya bayar usai mampir di ATM ketika akan mengantarnya ke badara. Saya bayar tunai. Sebagai kakak yang baik dan tersayang, laptop ini cukup saya bayar seperempat harga saja. Haha.

Skripsi rampung, semua rampung. Saya makin sayang laptop ini. Layarnya lebar, ramnya besar. Kalau saya keluarkan di depan teman, mereka selalu bilang latop saya besar sekali. Saya balas, laptop ini enak buat kerja,terutama layout buku.

Barusan laptop ini mati lagi. Kerjaan saya tertunda lagi. Sebagai orang yang setia, susah bagi saya untuk nyaman memakai perangkat yang lain. Saya agak susah menyesuaikan diri, saya nggak suka ganti barang kalau nggak butuh sekali. Saya belum tahu harus bagaimana, saya nggak berniat menjual latop ini dan mengganti dengan yang lain. Selain belum ada anggaran, saya juga masih ragu dan malas berkenalan dengan perangkat baru lagi.
Kalau ada teman yang tahu solusi mengobati laptop ini, saya mohon sarannya. Saya sudah bawa ke 3 tukang servis, mereka bilang gak ada masalah. Saya bawa ke servis resmi, hasilnya juga sama.

Kalau pun nanti mentok tak ada jalan keluar, mungkin saya akan cari pengganti laptop baru, lalu membiarkan laptop tercinta ini jadi barang museum di ruang kerja saya.

Duh!

Comments

Komentar

  1. kornelius berkata:

    Saya doakan si mas cepat mendapatkan laptop baru ya.. Amin :)

    1. irwanbajang berkata:

      Amin. Trims ya :D

  2. Sasa berkata:

    Hari gene masih pake laptop? Hellooo anda tinggal dimana ya? Saya ngetik pakai evernote. Kalau perlu ribet dikit pakai polaris office. Design pakai picsarts, edit foto pake snapsheed, film pake kinemaster, tranlsate ada, tesaurus ada, catat keuangan ada, berita online ada,streaming, bahkan blogging. Lain2 di bawah kerumitan palikasi itu pasti ada juga. Semua cukup dari ujung jempol. Laptop sudah lama pensiun. Kepakai hanya untuk presentasi. Setelah ada remote slide presentation kayanya dia terancam pensiun total. Dinia sudah dilipat lipat lebih kecil. Jangan manja ah. Romantisme bisa jadi mengukung. Sok teu… he heh heh

    1. irwanbajang berkata:

      Iya sih, sekarang juga sudah mulai nulis di gadget, ngenet dan ngeblog juga. Cuma ya kalau mau desain cover buku, layout buku, kan nggak mungkin dari hp atau tablet mbakyu :P