Anomali Merdeka

Merdeka itu wajah sedih petani yang membuang tomatnya karena ongkos angkut ke pasar lebih mahal dari harga jualnya. Merdeka itu barisan konvoi Harley Davidson yang dikawal polisi untuk menerobos lampu merah. Merdeka itu kenaikan pajak buku di toko buku dan harga kertas yang tidak pernah stabil. Merdeka itu harga buku mahal yang membuat pembaca harus menambah anggaran untuk pintar dan bersenang-senang.

Merdeka itu harga rupiah yang terjun bebas dan harga dollar yang meroket mengencinginya. Merdeka itu Megawati pertama kali upacara di Istana negara setelah 10 tahun tidak mau memenuhi undangan SBY. Merdeka itu SBY bikin upacara sendiri dan membalas tidak hadir ke Istana.

Merdeka itu hotel-hotel di Jogja makin banyak dan sumur warga jadi kering. Merdeka itu boleh mengkafirkan orang dan memukulnya di jalan karena tidak sepaham. Merdeka itu seorang pendaki yang hilang di jalan usai mengibarkan bendera di puncak gunung. Merdeka itu barisan sendu anak-anak Porong upacara di genangan Lumpur Lapindo. Merdeka itu mahasiswa baru siap-siap Ospek dan dimarahi senior.

Merdeka itu upacara di bawah laut yang terumbu karangnya sering dibom. Merdeka itu orang hutan dibunuh dan kebun sawit makin luas. Merdeka itu bekas lubang tambang yang digali dan jadi tanah mati milik hantu-hantu. Merdeka itu Panitia Frankfurt Book Fair masih bingung mau undang siapa dan menolak siapa. Merdeka itu Saut Situmorang nggak diundang ke Jerman dan Goenawan Mohamad dapat penghargaan dari Jokowi. Merdeka itu Suharto dan Istri mau dijadikan pahlawan sementara Tan Malaka entah kabarnya bagaimana. Merdeka itu reklamasi Teluk Benoa di Bali yang pasirnya diimpor dari perluasan pelabuhan di Lombok. Merdeka itu media online berebut bikin berita dengan judul mencengangkan. Merdeka itu Telkomsel yang menerapkan tarif mahal untuk Indonesia di bagian timur.

Merdeka itu harga beras naik terus tapi panen petani tepok jidat. Merdeka itu sekilo kopi seharga dua puluh ribu di petani dan dua puluh lima ribu di kafe tongkronganmu. Merdeka itu ajakan berdoa untuk menguatkan harga rupiah. Merdeka itu siaran langsung kawinan dan lahiran anak artis di televisi. Merdeka itu Sitok tidak kunjung dipenjara karena memperkosa.

Merdeka itu saya capek ngetik posting ini dan silakan kamu lanjutkan.

Film Wajib Tonton Bagi Para Bikers Ngehek

Beberapa hari ini sosial media ribut kembali karena beredar foto dan video seorang penunggang sepeda yang menyetop rombongan konvoi Harley Davidson di Jogja. Sebal dengan ulah mereka yang main serobot lampu merah, Elanto Wijoyono, si penunggang sepeda menunjukkan aksinya. Elanto mewakili pendapat ribuan orang yang tak setuju bahwa pengendara moge mendapat perlakuan khusus. Elanto menegur polisi, menanyakan berapa mereka dibayar untuk mengawal konvoi. Elanto mengajari polisi dan para peserta konvoi, bahwa merah itu artinya stop, hijau artinya boleh jalan. Sebuah pelajaran gampang yang bahkan tak perlu diajarkan di sekolah.

Memang benar bahwa para peserta konvoi membayar pajak yang besar. Lha wong motor mereka harganya mahal! Jelas mereka harus mengeluarkan pajak yang lebih mahal ketimbang motor matic atau bebek. Mereka datang ke Jogja dan memberi sumbangan banyak, jelas betul. Mereka menginap di hotel, belanja oleh-oleh, dan lain sebagainya, memang membuat pemasukan daerah bertambah drastis. Tapi apakah dengan demikian mereka lalu seenaknya saja memakai jalan? Apakah penunggang sepeda, penyeberang jalan, pengguna jalan lain tidak bayar pajak? Kalau semua orang ingin perlakuan khsusus, kita akan punya seribu alasan untuk menerobos jalan: saya telat sekolah, saya mau pacaran, nanti pacar saya ngambeg, saya kebelet eek, nanti eek di celana. Saya mau masuk FPI, kalau terlambat nanti saya jadi murtad. Eh, saya nggak bisa stop di lampu merah, gas lengket dan rem saya nggak ada. Modiar! Lanjutkan membaca

Desember dan Sebuah Sungai Hangat dalam Dadaku

GERIMIS. Desember mengalir di dinding bangunan kota ini. Kalender dalam ruang-ruang kerja luruh bersamanya. Aku menunggumu di sini. Singgah di halte ini. Halte yang setia menyaksikan persinggahan dan kepergian banyak manusia. Halte yang sering memaksa melepaskan genggaman tangan dalam tangan orang-orang yang menunggu. Di sini, mungkin sudah banyak perpisahan yang terburu-buru, perpisahan dengan duka, atau perpisahan yang biasa aja. Dan malam ini, kita sudah pasti adalah salah satu dari mereka.

Malam sudah akan segera berakhir. Bulan di atas kepala kita telah menua. Bulan tua di ujung tahun yang basah. Malam ini, sesungguhnya tak ada yang meminta semuanya terjadi tergesa-gesa. Tak juga halte ini. Kitalah. Ya, kitalah yang harus menentukan waktu segera. Memaksa diri masing-masing untuk tabah menerima. Mau tidak mau bersepakat untuk dua buah kata: jarak dan sunyi. Dua pasangan anak muda di ujung seberang jalan sepertinya sedang bertengkar. Lelakinya membanting helm ke aspal, sang perempuan menangis melihat dirinya ditinggalkan. Gerimis masih turun. Gadis itu menangis, dan lelakinya menyalakan bara dalam dadanya. Memacu kendaraan secepat yang ia bisa.

“Bagaimana?”
“Apa? Aku belum mengerti.” Lanjutkan membaca