Desember dan Sebuah Sungai Hangat dalam Dadaku

GERIMIS. Desember mengalir di dinding bangunan kota ini. Kalender dalam ruang-ruang kerja luruh bersamanya. Aku menunggumu di sini. Singgah di halte ini. Halte yang setia menyaksikan persinggahan dan kepergian banyak manusia. Halte yang sering memaksa melepaskan genggaman tangan dalam tangan orang-orang yang menunggu. Di sini, mungkin sudah banyak perpisahan yang terburu-buru, perpisahan dengan duka, atau perpisahan yang biasa aja. Dan malam ini, kita sudah pasti adalah salah satu dari mereka.

Malam sudah akan segera berakhir. Bulan di atas kepala kita telah menua. Bulan tua di ujung tahun yang basah. Malam ini, sesungguhnya tak ada yang meminta semuanya terjadi tergesa-gesa. Tak juga halte ini. Kitalah. Ya, kitalah yang harus menentukan waktu segera. Memaksa diri masing-masing untuk tabah menerima. Mau tidak mau bersepakat untuk dua buah kata: jarak dan sunyi. Dua pasangan anak muda di ujung seberang jalan sepertinya sedang bertengkar. Lelakinya membanting helm ke aspal, sang perempuan menangis melihat dirinya ditinggalkan. Gerimis masih turun. Gadis itu menangis, dan lelakinya menyalakan bara dalam dadanya. Memacu kendaraan secepat yang ia bisa.

“Bagaimana?”
“Apa? Aku belum mengerti.”

Sunyi bergerak bebas begitu saja. Keluar dari saku celanaku, merambat ke dadaku dan menusuknya perlahan. Hangat, kurasakan. Sepi mungkin serupa bara api yang baru saja akan jadi. Api belum masuk dan membakarnya, tapi bakal panas yang kelak akan menyiksa sudah mulai terasa. Aku menggenggam tanganmu lagi. Tak ada yang bisa diobrolkan. Mata kita biarkan berlarian sendiri. Menembus ujung-ujung jalan yang menghilangkan mobil, angkutan dan motor-motor yang melaju terburu-buru.

“Maukah kau bercerita tentang kekasihmu?”
“Siapa? Yang mana?”
“Terserah. Siapa saja. Aku ingin mendengarmu bercerita.”
“Ah. Jangan. Malam segera habis. Besok kita akan kembali ke dunia masing-masing. Aku akan pergi. Ada banyak hal yang harusnya bisa kita obrolkan.” Kau diam. Aku diam. Gerimis makin deras. Kita tak bisa beranjak lagi. Jam tangan di lengan kiriku seperti bom waktu. Gerak detiknya kentara terasa, suara tik tik tiknya seolah terdengar dalam telinga. Aku mulai takut. Mungkin kau juga.
“Kamu masih menulis puisi?”
“Tidak. Tak ada yang bisa ditulis lagi. Aku lelah menulis sajak-sajak patah hati.”
“Haha. Siapa yang tak pernah patah hati di dunia ini?”
“Sebab semua mengalaminya. Tak perlulah aku ceritakan semuanya pada dunia.”
“Tidak semua puisimu harus patah hati, kan? Masih membaca?”
“Tidak. Aku bosan.”
“Kalau aku jadi kekasihmu, mungkin kau juga akan segera bosan.”
“Hahaha.”
“Kau juga mungkin begitu.”
“Semua orang begitu.”
“Ya. Semua manusia pembosan. Tuhan juga.”
“Lalu kenapa kita harus berusaha selalu bersama?”

Aku diam. Susah sekali menjawab pertanyaanmu itu. Kenapa harus obrolan semacam ini yang harus kita bicarakan? Kenapa kita tidak bercerita tentang rencana-rencana. Kapan kita akan berjumpa misalnya. Atau di mana dan apa yang akan kita lakukan. Aku ingin membicarakan itu, mungkin kamu juga ingin. Tapi kenapa tidak segera kita bicarakan?
Beberapa tawa dalam jeda bicara kita terasa omong kosong belaka. Kepura-puraan. Puluhan tentara kesedihan mengintip kita. Dan kita tahu, semua alasan mereka datang sungguh benar adanya.
Lampu merah di perempatan itu masih menyala bergantian. Beberapa orang mengikutinya. Beberapa yang lainnya menerobos begitu saja, setelah menoleh kiri-kanan seperti kucing mencuri ikan majikannya. Dan semua yang kita khawatirkan akhirnya terjadi. Oh, bukan, bukan kita. Mungkin hanya aku yang khawatir. Tapi aku yakin, kau juga menghawatirkannya.

“Baiklah. Kita tunggu tumpangan tercepat. Kita pulang.”
Kau mengangguk. Aku lihat kau seperti menggerakkan batu yang berat. Mengangkatnya sebentar lalu menurunkannya lagi. Sebuah taksi menyilaukan mata datang dari balik tikungan. Mendekat ke arah kita. Kulambaikan tangan. Dan ketika rem diinjak sopirnya, ketika taksi berhenti di hadapan kita, maka kita segera sadar, perpisahan berbanding lurus dengan kesendirian dan kesepian adalah anak kandungnya. Inilah waktunya.
“Kita berpisah di sini?”
“Mau di mana lagi?”

Tiba-tiba aku menjadi penakut. Semua harusnya berakhir tengah malam ini. Kita harusnya berpisah di pintu taksi. Tapi…

“Aku ikut mengantarmu!
“Kita berbeda arah. Jangan gila. Rumahku jauh.”
Segerombolan sunyi yang dari tadi singgah di dalam jantungku memanggil kembali pasukan tambahan. Mereka menabuh rasa cemas. Menabuhnya keras, membuat rasa nyeri segera menyerang rasa khawatirku. Aku mengumpat dalam hati!
“Tidak. Kita harus bersama! Aku belum siap.
“Kau selalu keras kepala!”
“Untukmu. Kali ini, keras kepalaku akan berguna.”
Kulihat wajahmu ragu. Kau menarikku masuk bersama. Sebuah keputusan penting diambil dengan tergesa-gesa. Aku masih ingin memelukmu.

Dalam taksi kau memeluk tanganku. Menyandarkan kepalamu di bahuku.

“Ada yang ingin kau sampaikan?”
“Sebenarnya aku tak ingin berpisah.”
“Tapi?”
“Dunia bukan milik kita. Waktu dan ruang tak kita miliki seutuhnya.”
“Peluk aku!”

Kau memelukku. Dalam sekali. Aku merasakan detak jantungmu. Kau mungkin mencium aroma leherku. Taksi berkelok, ngebut di jalan kota yang mulai lengang. Tiba-tiba, aku mengharapkan lampu merah di perempatan saat kita berehenti itu merah menyala selamanya. Lalu taksi dengan supir yang taat akan berhenti dan tak mau melanggar. Aku berharap ia sadar perasaan kita berdua. Lampu merah menyala abadi dan kita abadi dalam pelukan.
“Tiga menit lagi kita sampai.”
Sial. Aku makin gemetar dan ketakutan. Aku menggenggam tanganmu kuat, kau membalasnya lebih kuat lagi. Kurasakan tanganmu berkeringat. Tanganku juga.

“Bagaiman kalau kita bersama sampai pagi?”
“Jangan kekanak-kanakan!”

Polisi-polisi tidur mengguncang badan kita, kita telah masuk gang besar menuju gang rumahmu. Singkat sekali, taksi sudah berhenti. Apa kalimat terakhir paling penting yang harus kamu atau aku ucapkan? Kembali tangan kita saling menggenggam lebih kuat. Kau bahkan membuat tanganku terasa sakit.
“Turunlah,” ucapku lirih, kau menatapku “ini waktunya.” Kulihat wajahmu murung. Sendu. Tak mungkin berlama-lama dan membiarkan supir di depan menggerutu. Begitu pintu taksi kau tutup, paripurnalah perpisahan itu.

Aku menunggu di stasiun tua itu. Orang-orang berlalu-lalang. Dalam kepalaku tak ada apa-apa lagi. Sudah lima jam dan aku bersiap meninggalkan kota ini ke tempat yang jauh. Sekarang, aku telah siap.
Sebuah getaran di saku kiri celana membuat sedikit kaget. Kubuka pesan itu;

Selalu ada yang mengalir hangat di dadaku, ketika pelukan kau renggangkan dan jemariku kau lepaskan. Gerimis di persimpangan itu. Halte-halte sepi itu. Malam yang kian sunyi. Lalu wajahmu yang makin mengantuk. Suhu pipimu makin hangat. Kita akan segera berpisah, ujarku. Kau mengangguk. Kita telah berjalan menyusuri lorong yang grimis. Malam menggaruk pelan kulit tanganku. Kau akan segera menghilang di sudut gang.

Selalu ada yang mengalir hangat di dadaku, ketika pelukan kau renggangkan dan jemariku kau lepaskan. Hangat tawamu, obrolan-obrolan itu, detik jam yang makin terasa cepat, tajam menusuk telinga. Kita akan segera berpisah, ujarmu. Aku mengangguk. Lalu kita bergandengan kembali. Menunggu angkutan celaka yang akan memisahkan kita kembali. Dingin AC dalam taksi itu menggaruk kulit tangaku perlahan. Kau turun, menutup pintu. Dan aku menjauh darimu, terbawa taksi yang segera akan hilang di ujung gang.

Selalu ada yang mengalir hangat di dadaku, ketika pelukan kau renggangkan dan jemariku kau lepaskan. Kaca jendela taksi yang lembab, membasahi sebagian mata salah satu di antara kita.

Bagaima aku harus membalasnya. Surat singkatmu dingin bagai udara pagi ini. Lebih dingin lagi. Seperti naga yang marah, aku ingin berteriak, mengeluarkan api dalam tubuhku. Berteriak dan menjerit. Membiarkan semua orang yang datang melihatku. Mendengar dan mungkin menertawakanku.

Kuketuk pintu empat kali. Suaramu mengantuk memintaku menunggu. Dan ketika pintu terbuka, kulihat kau dengan wajah kusut setengah kaget.
“Hei! Apa ini? Harusnya kamu pu…”
“Tidak jadi. Aku kembali.”
“Kau gila. Aku harus berangkat sebentar lagi. Ke luar kota dan agak lama.
“Harusnya aku yang menulis puisi yang kau kirim tadi.”
“Ah! Lupakan itu. Aku suka puisi, tetapi aku tidak suka penyair!* ”
“Kutipan yang bagus, tapi kau bukan Marilyn Monroe!”
Kau mendorong dadaku pelan sambil tersenyum.
“Aku masuk sebentar. Boleh?”
“Kau selalu susah dicegah.”

Kuhirup udara hangat di ruang tengahmu yang sempit. Beberapa buku teronggok berantakan di meja. Ada bekas kopi mulai mengering di bibir cangkir putih dekat vas bunga.
“Aku menyusul suamiku dua jam lagi. Semua barang dan tiket sudah siap.”
Aku hanya tersenyum.
“Jangan cengengesan. Apa rencanamu? Gila!”
“Buatkan aku secangkir teh dan setelah itu kau boleh menentukan; menyusul suamimu atau….”
“…membiarkanku menginap di rumah ini…?”
“…dan melupakan suamimu.”
Aku tersenyum. Kau mencubit pinggangku.[]

Jogjakarta, 18 Desember 2013


*Diambil dari kutipan; “Saya suka laki-laki yang di dalam dirinya ada puisi, tetapi saya tidak suka penyair.” Marilyn Monroe (1956)

**Cerpen ini pernah memenangkan sebuah lomba penulisan cerpen.

Comments