Film Wajib Tonton Bagi Para Bikers Ngehek

Beberapa hari ini sosial media ribut kembali karena beredar foto dan video seorang penunggang sepeda yang menyetop rombongan konvoi Harley Davidson di Jogja. Sebal dengan ulah mereka yang main serobot lampu merah, Elanto Wijoyono, si penunggang sepeda menunjukkan aksinya. Elanto mewakili pendapat ribuan orang yang tak setuju bahwa pengendara moge mendapat perlakuan khusus. Elanto menegur polisi, menanyakan berapa mereka dibayar untuk mengawal konvoi. Elanto mengajari polisi dan para peserta konvoi, bahwa merah itu artinya stop, hijau artinya boleh jalan. Sebuah pelajaran gampang yang bahkan tak perlu diajarkan di sekolah.

Memang benar bahwa para peserta konvoi membayar pajak yang besar. Lha wong motor mereka harganya mahal! Jelas mereka harus mengeluarkan pajak yang lebih mahal ketimbang motor matic atau bebek. Mereka datang ke Jogja dan memberi sumbangan banyak, jelas betul. Mereka menginap di hotel, belanja oleh-oleh, dan lain sebagainya, memang membuat pemasukan daerah bertambah drastis. Tapi apakah dengan demikian mereka lalu seenaknya saja memakai jalan? Apakah penunggang sepeda, penyeberang jalan, pengguna jalan lain tidak bayar pajak? Kalau semua orang ingin perlakuan khsusus, kita akan punya seribu alasan untuk menerobos jalan: saya telat sekolah, saya mau pacaran, nanti pacar saya ngambeg, saya kebelet eek, nanti eek di celana. Saya mau masuk FPI, kalau terlambat nanti saya jadi murtad. Eh, saya nggak bisa stop di lampu merah, gas lengket dan rem saya nggak ada. Modiar!

*

Ada lebih dari 100 film tentang para penunggang motor atau bikers, Mabel at the Wheel (1914) yang diperankan Charlie Chaplin, Motorcycle Diaries (2004) yang mengisahkan perjalanan Che Guevara Muda, Riding Solo to the Top of the World (2006), Ghost Rider (2007) sampai yang terbaru Mad Max Fury Road (2015).Tapi kali ini saya ingin merekomendasikan sebuah film kocak: Wild Hoghs. Film ini dibintangi Tim Allen (Doug Madsen) John Travolta (Woody Stevens), Martin Lawrence (Bobby Davis) William H. Macy (Dudley Frank). Sebab ini bukan resensi film, jadi saya tidak meresensinya ya. Hehe.

Para penunggang moge harusnya nonton film ini. Wild Hogs, kisah 4 orang lelaki nggak jelas yang memutuskan tour sebagai bikers sejati, lepas dari semua masalah mereka; dimarahi mertua, dilawan anak, ditinggal selingkuh oleh istri, jomblo tak berkesudahan, enjakulasi dini, dipecat dari pekerjaan dan ragam hal menyebalkan lainnya. Banyaknya permasalahan hidup lelaki dewasa membuat mereka sepakat untuk melakukan perjalanan jauh, menghibur diri, meresapi makna jalanan yang sepi. Berpetualang bersama kawan-kawan tercinta.

Di jalanan–tentu saja tanpa dikawal polisi– alih-alih bahagia dan lepas dari masalah, keempat kawan baik ini malah menemukan kesialan tiada henti. Motor rusak gara-gara tos sok gentle, kena eek burung di perjalanan, dipatuk burung gagak, bensin habis, digoda polisi homo, sampai harus mempertaruhkan nyawa berhadapan dengan sebuah Geng Moge arogan yang secara tak sengaja mereka bakar bengkelnya. Kesialan tak kunjung henti menjadikan film ini menjadi film kocak yang memaksa kita tertawa terus menerus.

Wild Hoghs ini dipenuh anomali penunggang motor gede. Tidak semua penunggang motor dan bikers sejantan pakaian yang mereka kenakan. Jaket kulit hitam, sepatu boots tinggi hanyalah tampilan, bisa jadi banyak pengecut, banyak penakut menutupi kekurangan mereka dengan gaya semata. Mereka juga tidak selalu sesangar geberan gas dan suara knalpot yang bikin telinga bising. Di film ini, semua tokok mewakili karakter-karakter spesifik dengan tingkat menyebalkan masing-masing.

Bagi Anda para penunggang moge yang sedang bikin bising Jogja, sedang dikawal polisi, melanggar lampu merah, saya persilakan menonton film kocak ini. Yah, setidaknya Anda tahu perlu tahu saja, kalau naik moge, apalagi HD, idealnya sih nunggang dari rumah, menempuh ratusan kilo meter ke lokasi. Bukan malah naik pesawat ke Jogja, sementara motor dikirim bolak-balik pakai jasa pengiriman moge. Kan ngehek itu namanya. Oh ya, film ini diangkat dari kisah nyata, lho.

Salam.

Comments