Cerita Kenakalan di Hari Guru

  • Kelas 1 SMP, Pak Sahrudin (Guru BK yang dijuluki jari-jari malaikat) menampar saya dan 5 bocah nakal yang bolos dengan memanjat tembok sekolah. Saya gemetar sekali waktu itu. Saya masih siswa baru. Kami hanya bosan dengan makanan kantin, dan guru magang yang menunda jam istirahat. Karena buru-buru, saya ajak saja mereka panjat tembok untuk makan siang di warung luar sekolah. Apes. Salah satu di antara kami ada yang penakut dan tidak kunjung manjat. Ketahuanlah aksi brutal kami. Usai ditampar dan dicubit, saya menemukan beberapa titik air di celana pendek seragam itu. Pipi merah, dada memar kena cubit. Lain kali, kalian panjat aja pohon kelapa, kata Pak Guru. Waduh!
  • Kelas 5 SD, Pak Sudirman menempeleng saya di depan kelas. Disaksikan teman laki-laki yang gembira dan teman wanita yang terharu. Pasalnya, saya kencing di gelas dan menaburkan air kencing saya ke segala penjuru kelas. Saya lupa apa alasan saya kencing di gelas. Haha. Yang jelas waktu kencing di gelas itu saya bahagia sekali. Selalu ada anak baik yang melaporkan. Di situlah apesnya.

Guru-guru saya pasti sudah lupa kenakalan itu. Maklumlah, ada ratusan anak nakal dalam hidupnya. Saya tidak nakal, bahkan saat SD saya cenderung cengeng. Tapi memang melakukan hal aneh dan ekstrim adalah kesukaan saya sejak kecil. Beruntung ada guru yang galak dan sabar. Semuanya sekarang jadi kenangan.

Selamat hari guru. Jasamu tiada tara.

Comments

Komentar

  1. Kalau ngga ada kejadian itu.. Pastinya ngga ada cerita untuk dituliskan saat ini ya.. Seru juga.. Masa kecilnya…

    1. irwanbajang berkata:

      Betul, kak. Yang nakal nakal memang indah untuk dikenang. Wehehe