Badai Senjakala Media Cetak Memang Sudah Dekat, Kapten Bre Redana

Usai membaca Inikah Senjakala Kami… tulisan Bre Redana yang saya dapatkan dari tautan dinding facebook seorang teman, saya segera menjentikkan jari ke tombol share tulisan tersebut. Tak lupa saya sisipkan tulisan pendek untuk ngeksis sekaligus sebagai status facebook saya; “Ya gimana nggak ditinggalkan, esai di koran ini bahkan tidak ngomong apa-apa. Astaga! Bahkan di titik krusial ketika sedang membicarakan senjakala dan ketertinggalan dirinya sendiri. Parah.”

Tulisan pendek tersebut mungkin terkesan emosional. Dan saya akui memang iya. Meskipun sebenarnya status pendek itu lebih pantas saya klaim—karena itu tulisan saya sendiri—sebagai sebuah bentuk rasa heran dan ketidakpercayaan. Kok bisa tulisan seperti itu dimuat di kolom ‘khusus’ sebuah koran nasional dan di hari minggu pula. Hari di mana konon koran tidak selaku hari biasanya, sehingga koran minggu perlu ditambahkan rubrik sastra, rubrik hahahihi selebririti dan foto-foto yang aduhai jepretannya. Saya heran, di samping isi esainya yang menurut saya tidak berbicara secara tajam, tulisan ini ditulis oleh seorang seorang penulis cum jurnalis yang sudah malang melintang publikasi di koran cetak. Dan sialnya lagi, tulisan buruk ini ada di hari minggu. Hari di mana lebih enak bangun siang lalu sarapan yang enak dibanding baca koran. Apalagi kalau tidak langganan dan harus keluar ke perempatan.

Oh ya, kalau Anda belum tahu, saya baca tulisan ini di koran minggu edisi cetak yang didaringkan. Jadi bisa dibaca malam hari, sebab layar ponsel pintar tidak mungkin dijadikan bungkus pecel. Aha! Lanjutkan membaca

Bermain Layout Ebook

Belakangan saya rajin baca dan belanja ebook. Terutama di google play. Walaupun sehari-hari saya bekerja di dunia buku cetak, saya tidak bisa menolak bahwa memang ada beberapa hal yang ditawarkan ebook dan tidak saya dapatkan di buku cetak. Harga jauh lebih murah, bisa baca di mana saja dan kapan saja, kecuali saat renang dan berkubang, atau sudah terlelap tidur. Ada fitur pencarian kata atau bagian tertentu, bisa diubah warna kertasnya, bisa diubah ukuran fontnya dan masih banyak lagi kelebihan lain. Tentu sebaliknya, ada banyak hal dari buku cetak yang tak bisa digantikan ebook. Terutama bagi pembaca buku aliran ultraortodoks.

Belakangan, aktivitas membaca saya memang kerap terganggu. Bekerja di dunia buku membuat saya selalu cerewet bukan hanya pada konten, tapi juga penyajian. Bagaimana sampul, bagaimana layout dan apa font yang dipakai. Sial. Hal-hal ini tidak penting banget bagi pembaca sejenis saya 6 tahun yang lalu!

Setahun belakangan saya mulai bermain ebook. Sementara baru fokus di google play. Alasannya jelas. Upload naskah segampang posting blog, dan buku bisa dipasarkan berbarengan dengan semua aplikasi android. Jika ada orang mau mengunduh game Clash of Clan atau Duel Otak, si ebook bisa nyangkut dan siapa tahu bisa dibeli. Jadi kalau Anda sedang main di goole play, ketik saja nama saya dan beli bukunya. Hehehe. Lanjutkan membaca

Menyeberangi tiga samudera ia meninggalkanmu

Menyeberangi tiga samudera ia meninggalkanmu
Menyeberangi awan yang serupa kapas
ia pergi meninggalkanmu

Usia menua
Bisa saja ia lupa
Bumi menua
Tuhan tidak selalu
meberikan senyum pada nasibmu

Tiga samudera ia pergi
dan barangkali melupakanmu
Usia menua dan kau tak pernah tahu,
barangkali ia mencoba menghapus bekas pelukanmu
di dadanya

November 2015

KOMIK

Malam ini saya hadir dan ngisi diskusi di ulang tahun ke-11 Komik UPN. Tidak terasa sudah 11 tahun rupanya. Saya masuk di tahun kedua, bergabung atas ajakan Renggo Putro Widyarto dan Bambang Prasojo serta kawan-kawan lainnya, sepuluh tahun rupanya bukan waktu yang lama. Baru saja dan masih terasa semuanya.

Komik mungkin bukan organisasi yang ideal, tiap tahun semua orang di dalamnya akan bingung menyewa kontrakan, bingung membagi tugas, bingung apa yang harus segera dikerjakan dan dinomorsekiankan. Bikin majalah tapi tak taat deadline, bikin diskusi tapi molor, bikin evaluasi tapi itu-itu saja. Komik berisi kami dan kawan-kawan yang usianya sangat belia. Mudah marah, cepat tersinggung dan ngambeg. Suka memandang hitam putih masalah, suka ambil kebijakan terburu. Itu terjadi di era siapa saja. Di era kami bisa jadi lebih parah.

Tapi Komik tetap ada, kontrakan tetap ada, kawan-kawan tetap membaca, bertukar buku, nongkrong dan tidur bareng di alas yang sama leteknya. Sembari merencanakan mimpi-mimpi yang muluk dan menyesali sekaligus bersyukur memiliki kawan yang bisa diajak senang dan gelisah sekalian.

Mimpi kami terlalu besar, napas kami terlalu pendek dan sumbu semangat kami mudah habis. Tapi kami tahu, kami jatuh dan berusaha jalan terus. Merencanakan lagi, gagal lagi dan berusaha lagi.

Kami masing-masing tahu, harapan kami belum pasti terwujud. Tapi setidaknya kami nanti akan ingat, kami pernah punya kawan-kawan yang baik. Yang bisa memberi utangan dan teraktiran makan di tanggal yang bahkan belum tua-tua amat. Kami tahu, kawan kami selalu ingat dan khawatir tentang kesehatan kami, pekerjaan kami, asmara kami, kuliah kami dan kehidupan yang tak pernah bisa ditebak akan bagaimana nanti.

Di situlah saya merasa gembira. Pernah saling mencuri buku dan saling menipu. Pernah bertengkar dan saling menyalahkan. Pernah masuk ke UPN, bermain di Babarsari dan masih menjadi sahabat kalian.

Dirgahayu!

Editor Kami Menikah

Besok pagi salah satu Editor Indie Book Corner akan menempuh sebuah fase baru dan penting dalam hidupnya. Setelah seringkali curhat, baik secara langsung maupun lewat posting di blognya, alumnus Filsafat UGM ini akhirnya memilih jalan seperti jalan kebanyakan orang: Menikah.

Selamat merayakan hidup yang baru, Yovi Sudjarwo, tetaplah kepo dan tetaplah galak sebagai editor. Pesan kami, kalau suamimu salah bicara, jangan diedit langsung. Editing hanya berlaku pada naskah, bukan percakapan. Apalagi dengan suami. Selesaikanlah semuanya dengan cinta dan penuh mesra.

Kepo bolehlah, asal jangan suka intip isi dompet suami. Percayalah, ada tidak adanya fotomu di dompetnya, kamu ada di hatinya. Eaaaaa.